http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=123&kat_id1=415
Minggu, 30 September 2007 14:00:00

Assalamualaikum
Dokter Zubairi Yth,

Beberapa waktu lalu, saya ke rumah sakit menengok paman yang sedang
sakit ginjal dan sempat mengantar ke ruang cuci darah. Beliau
menjalani cuci darah tiga kali seminggu. Saya amat kaget melihat ruang
cuci darah yang semua tempat tidurnya penuh terisi pasien, tidak ada
satupun mesin cuci darah yang nganggur. Padahal, kata perawat di situ,
setiap mesin dipakai oleh dua orang, giliran pagi dan sore.

Menurut dokter yang merawat paman, hampir semua rumah sakit di
Indonesia yang mempunyai fasilitas cuci darah, selalu penuh pasien
yang antre untuk cuci darah. Terus terang saya takut juga,
jangan-jangan saya nanti memerlukan cuci darah juga.

Dok, apakah yang menyebabkan seseorang ginjalnya rusak? Apakah dapat
dicegah? Apakah saya mempunyai risiko sakit ginjal, untuk dokter
ketahui, usia saya 51 tahun, agak gemuk, sakit diabetes yang
terkontrol baik, gula darah puasa antara 90-100 mg% dan tekanan darah
tinggi ringan sekali, sekarang 130/90 mmHg.

Marno, Yogyakarta
Waalaikumussalam wr wb

Mas Marno yang baik,
Cuci darah atau hemodialisis (HD) merupakan upaya yang mutlak penting
untuk mempertahankan kehidupan bagi pasien dengan gagal ginjal
menahun. Ketika fungsi ginjal pasien makin memburuk, sehingga tidak
cukup untuk mempertahankan hidup, dan proses penyakitnya dikategorikan
tidak bisa pulih (irreversible), maka diperlukan cuci darah
(hemodialisis) atau cangkok ginjal.

Artinya, tanpa upaya tersebut, pasien gagal ginjal akan meninggal,
akibat keracunan darah (uremia), akibat sesak napas karena penimbunan
cairan, atau gangguan asam-basa di dalam darah ataupun karena gangguan
elektrolit.

Walaupun cuci darah menyelamatkan nyawa dan memperbaiki kualitas hidup
pasien, namun upaya ini tidak bisa memulihkan pasien kembali normal,
selain itu juga lumayan mahal.

Sesuai dengan pertanyaan Mas Marno, yang akan dibahas kali ini adalah
cuci darah dan bagaimana kiat mencegah agar kalau kita sakit ginjal
tidak memburuk yang akhirnya perlu cuci darah.

Sebetulnya, jumlah pasien cuci darah yang begitu banyak, yang Mas
Marno lihat dan dengar, ternyata juga dijumpai di semua rumah sakit
yang mempunyai fasilitas mesin hemodialisis di seluruh Indonesia. Yang
mengkhawatirkan, jumlah pasien cuci darah itu hanya mencerminkan
sebagian kecil dari anggota masyarakat Indonesia yang sakit ginjal
menahun. Untuk diketahui, gagal ginjal merupakan lanjutan, atau akibat
yang nyata dari penyakit ginjal menahun. Jumlah pasien dengan penyakit
ginjal menahun banyak sekali, ratusan ribu di seluruh Indonesia.


Masalahnya, pasien penyakit ginjal menahun yang belum masuk tahap
gagal ginjal yang biasa disebut sebagai tahap insufisiensi ginjal,
seringkali tanpa gejala (asimptomatik). Jadi, tantangan kita --
termasuk Mas Marno --, juga tantangan pemerintah adalah melaksanakan
program yang efektif untuk mencegah pasien penyakit ginjal menahun
agar tidak memburuk, agar tidak progresif menjadi tahap gagal ginjal
menahun yang memerlukan cuci darah.

Proses kerusakan ginjal biasanya makan waktu sepuluh tahun atau lebih.
Ada beberapa penyakit yang paling sering menyebabkan kerusakan ginjal
progresif, yaitu kencing manis (diabetes) dan tekanan darah tinggi.
Beberapa penyakit lain yang kemudian bisa berlanjut ke gagal ginjal
antara lain adalah penyakit ginjal polikistik, batu ginjal, infeksi
ginjal, glomerulonefritis, kelainan ginjal akibat obat analgesik dan
lupus ginjal.


Walaupun saat ini penyakit diabetes Mas Marno terkontrol baik, dan
tekanan darah tinggi juga ringan, ada baiknya hati-hati. Artinya,
jangan lupa minum obat yakni obat kencing manis dan obat tekanan darah
tinggi, mengonsumsi sayur dan buah setiap hari serta berolahraga
ringan atau berjalan cepat selama setengah jam setiap hari.

Saya amat menganjurkan Mas Marno kontrol teratur ke dokter, memeriksa
tekanan darah dan gula darah, creatinin serta urine secara teratur,
dua bulan sekali, misalnya. Peningkatan kadar creatinin darah dan
adanya protein dalam urine memudahkan komplikasi jantung, karena itu
perlu dipantau berkala. Jangan lupa, setiap kali ke dokter, tanyakan
perkembangan kesehatan Anda.

Dapat disimpulkan bahwa cuci darah dapat dicegah dengan beberapa
upaya, yaitu bila kita diketahui sakit ginjal, ya harus berobat
teratur, demikian pula bila sakit diabetes atau tekanan darah tinggi
selalu berobat teratur, melaksanakan diet sesuai nasihat dokter, cukup
sayur dan buah serta berolahraga ringan atau jalan cepat setengah jam
sehari.

Namun untuk yang sudah telanjur gagal ginjal, yang sedang menjalani
cuci darah, ya perlu dilanjutkan teratur, karena mutlak diperlukan
untuk menggantikan fungsi ginjal dan bermanfaat untuk bisa menjalankan
aktivitas sehari-hari.

Bila ingin mengetahui lebih dalam lagi, silakan menghubungi divisi
ginjal hipertensi departemen penyakit dalam di rumah sakit umum di
kota Anda. Untuk Mas Marno ya di RSU Dr Sardjito Yogyakarta.

=================================

Demikian informasinya semoga bermanfaat, mari kita jaga kesehatan dan
keseimbangan tubuh kita hanya dengan produk herbal alami Indonesia.
Salam Hangat,
Be Healthy With Herbs

Kirim email ke