http://www.borneotribune.com/singkawang/trafficking-momok-menakutkan.html
*Trafficking Momok Menakutkan* "Bila keluarga dan masyarakat bahu membahu membahu untuk menghidarkan anak anak dari trafificking, maka seharusnya trafficking tidak harus ada," kata Manejer Wahana Visi Indonesia (WVI) Kota Singkawang, Thomas A. Setiyoso, saat dihubungi beberapa waktu yang lalu. Ketahanan keluarga yang menjadi penting karena orang tua harus menyadari bahwa anak itu bukan beban. Anak itu amanah untuk keluarga. Kesadaran itu yang harus dihidupkan dan harus dimiliki orang tua. "Sekarang memang dengan keadaan yang carut marut seperti ini, keluarga sepertinya menganggap anak itu beban. Sehingga anak anak kita terjebak dalam situasi situasi yang tidak memungkinkan," terang Thomas. Thomas menegaskan, trafficking sangat akrab dengan kemiskinan. Orang tua mudah sekali terbujuk oleh pihak pihak yang berjanji menyediakan uang berlimpah bagi anak anak yang mau dipekerjakan. Kemiskinana menjadi ladang subur bagi kasus-kasus trafficking. Kesulitan eknomi membuat mereka terjebak untuk berkeja keluar. Menurut Thomas, pada tahun 2004, pihaknya bersama semua organisasi yang konsen untuk memerangi trafficking pernah melakukan penjajakan. Dalam penjajakan itu ditemukan sekitar 41 sampai 60 lebih nama calok di Kota Singkawang yang bertujuan untuk mempekerjakan anak anak. "Semua orang bisa menyebut nama nama calo itu, namun tidak bisa menyebutkan alamat para calo tersebut," ujar Thomas. Terkait dengan penanganan trafficking, menurut Thomas perlu kerjasama antara pemerintah kota bersama lembaga-lembaga lainnya, termasuk media. Media-media di Kalimantan Barat saat ini, baik di Pontianak ataupun di Kota Singkawang sangat baik menyuarakan agar semua pihak peduli untuk bersama sama memberantas kegiatan trafficking. "Itu menjadi pembelajaran bagi mereka, terutama bagi masyarakat yang berada di kampung," ujar Thomas.
