Dear All,

Berikut ada satu kisah nyata mengenai makna" memberi = kemurahan hati "  saya 
kutip dari buku Everyday Greatness
karya David K. Hatch. Sisihkan waktu utk membaca sampai habis n semoga bisa 
menginspirasi n memotivasi kita semua dlm 
merintis Ikatan Alumni Tarsi.

Salam,

Jie Phin

SEORANG LELAKI DI KERETA API ( by Alex Haley )

Setiap kali aku, kakak dan adik sedang bersama-sama, mau tak mau kami selalu 
berbicara tentang Ayah. Berkat Ayahlah kami semua meraih sukses dlm hidup 
___dan berkat seorang lelaki misterius yg bertemu dengan ayah pada suatu malam 
di kereta api. 

Ayah kami, Simon Alexander Haley, lahir pd thn 1892 dan dibesarkan di sebuah 
kota pertanian kecil di Savannah, Tennese. Dia anak ke -8 dari Alec 
Haley--seorang mantan budak yg tangguh dan pantang menyerah yg juga seorang 
petani bagi hasil yg bekerja paruh waktu dan anak seorang wanita bernama Queen.

Walaupun sensitif dan emosional, nenekku juga dpt berkemauan keras, terutama 
menyangkut anak2nya. Salah satu ambisinya adalah agar ayahku menjadi orang 
terpelajar. 

Pada waktu itu di Savannah, seorang anak lelaki  dianggap "mubazir" jika tetap 
bersekolah padahal sudah cukup besar utk bekerja di lahan pertanian. Jadi 
ketika ayahku sudah duduk di kelas 6, Queen mulai merayu dan mengelus-elus ego 
Kakek.

"Karena kita memiliki 8 anak," begitu nenek beralasan, "bukankah akan sangat 
bergengsi kalau kita dengan sengaja melakukan hal yang mubajir
pada seorang anak kita dan membiarkannya terus sekolah?" Setelah berkali-kali 
tarik ulur, akhirnya Kakek mengizinkan Ayah menyelesaikan kelas 8.  Tetapi, 
Ayah tetap harus bekerja di ladang setelah pulang sekolah.

 

Namun, Queen masih belum puas.  Setelah kelas 8 selesai, dia mulai menanam 
benih, sambil berkata bahwa citra Kakek akan semakin hebat jika anak lelaki 
mereka meneruskan sekolah ke sekolah menengah.

 

Rayuan Nenek yang begitu gencar ternyata membuahkan hasil.  Alec Haley tua yang 
keras itu memberi Ayah 5 lembar uang 10 dolar hasil kerja kerasnya, dan berkata 
kepadanya untuk tidak minta uang lagi dan mengirimnya untuk bersekolah ke 
sekolah menengah. Dengan mula-mula naik kereta keledai, lalu kereta api - 
kereta api pertama yang pernah dilihatnya - Ayah akhirnya turun di Jackson, 
Tennesse.  Di kota itu dia mendaftarkan diri ke bagian matrikulasi di Lane 
College.  Sekolah Metodis bagi kaum berkulit hitam yang menawarkan kursus 
setingkat D2.

 

Uang 50 dolar yang dimiliki Ayah dengan segera habis, dan untuk melanjutkan 
sekolah, dia bekerja sebagai pelayan, tukang yang bekerja serabutan dan asisten 
di sekolah untuk anak-anak bandel.  Dan ketika musim dingin tiba, dia bangun 
jam  pagi, pergi ke rumah keluarga kulit putih yang kaya dan menyalakan 
perapian sehingga para penghuninya bisa bangun tidur dengan nyaman.

 

Simon yang miskin itu menjadi bahan ejekan di kampus karena hanya mempunyai 
sepasang celana dan sepatu, dan matanya selalu tambah kuyu.  Sering kali dia 
ditemukan tertidur dengan sebuah buku ajar yang jatuh ke pangkuannya.

 

Perjuangan keras untuk mendapatkan uang ternyata berdampak buruk.  Nilai 
pelajaran Ayah mulai merosot.  Tetapi, dia terus maju dan berhasil 
menyelesaikan sekolah menengah.  Kemudian dia mendaftar di A&T College di 
Greensboro, North Carolina, sekolah yang berdiri di atas tanah pinjaman 
pemerintah, dan dia bekerja keras sepanjang tahun di tingkat pertama dan kedua.

 

Pada suatu sore yang suram, menjelang berakhirnya tahun keduanya, Ayah 
dipanggil ke ruang dosen dan diberitahu bahwa dia tidak lulus dalam satu mata 
kuliah - kuliah yang membutuhkan buku ajar yang tak mampu dibelinya.

 

Perasaan kalah yang amat berat mengharu-haru perasaannya.  Selama 
bertahun-tahun dia telah memberikan yang terbaik dan sekarang dia merasa 
semuanya sia-sia.  Mungkin dia harus kembali ke rumah, ke takdir aslinya 
sebagai petani bagi hasil.

 

Namun, beberapa hari kemudian, tiba sepucuk surat dari Pullman Company yang 
mengatakan bahwa dia adalah salah satu dari dua puluh empat mahasiswa kulit 
hitam yang terpilih dari ratusan pelamar untuk bekerja di musim panas sebagai 
pelayan kereta api yang mempunyai fasilitas tempat tidur.  Ayah sangat gembira. 
 Ini sebuah kesempatan! Dengan penuh semangat, dia melapor untuk mulai bertugas 
dan ditugasi di kereta api jurusan Buffalo-Pittsburgh.

 

Kereta api itu sedang dalam perjalanan di suatu pagi sekitar jam 2 subuh ketika 
lonceng berbunyi untuk memanggil pelayan.  Ayah segera bangkit, mengenakan 
jaket putihnya, dan berjalan ke gerbong penumpang.  Tampak seorang lelaki 
berpenampilan rapi berkata bahwa dia dan istinya sulit tidur dan mereka berdua 
minta dibawakan dua gelas susu hangat.  Ayah membawakan susu dan serbet di atas 
nampan perak.  Lelaki itu menyodorkan segelas susu melalui tirai tempat tidur 
bahwa kepada istrinya.  Lalu sambil minum susu dari gelasnya sendiri, dia mulai 
mengobrol dengan Ayah.

 

Peraturan Pullman Company dengan tegas melarang percakapan apapun selain "Ya. 
Pak" atau "Tidak, Bu" tetapi penumpang ini terus saja mengajukan pertanyaan.  
Bahkan dia mengikuti Ayah ke dalam ruangan kecil yang diperuntukkan khusus bagi 
para pelayan.

 

"Dari mana asalmu?"

"Savannah, Tennessee, Pak"

"Cara bicaramu cukup baik'

"Terima kasih, Pak"

"Apa pekerjaanmu sebelum bekerja disini?"

"Mahasiswa di A&T College di Greensboro, Pak". Ayah merasa tidak perlu 
menambahkan bahwa dia sedang mempertimbangkan untuk pulang ke rumah untuk 
bertani.

 

Lelaki itu memandang Ayah dengan tajam, akhirnya mengucapkan salam dan semoga 
dia baik-baik saja, lalu kembali ke gerbongnya.

 

Keesokan paginya, kereta tiba di Pittsburg.  Pada masa ketika lima puluh sen 
adalah tip yang bagus, lelaki ini memberi uang lima puluh kepada Simon Haley, 
yang mengucapkan terima kasih dengan sangat gembira.  Sepanjang musim panas 
itu, dia menyimpan setiap tip yang diterimanya, dan ketika pekerjaannya 
akhirnya selesai, dia berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk membeli 
keledai dan bajak sendiri.  Namu, dia sadar bahwa uang tabungannya juga cukup 
untuk membayar biaya kuliah satu semester penuh di A&T tanpa harus bekerja 
serabutan.

 

Ayah memutuskan dirinya berhak untuk setidaknya kuliah satu semester lagi tanpa 
harus bekerja sampingan.  Hanya dengan cara itulah dia akan tahu nilai berapa 
yang sebenarnya bisa dicapainya.

 

Dia kembali ke Greensboro.  Tetapi, baru saja tiba di kampus, dia sudah 
dipanggil rektor.  Ayah merasa sangan khawatir saat dia duduk di depan sosok 
terhormat itu.

 

"Aku mendapat surat, Simon" kata sang rektor.

"Ya, Pak. "

"Kamu.bekerja sebagai pelayan di Pullman Company musim panas ini?"

"Apakah kamu bertemu dengan seorang penumpang lelaki pada suatu malam dan 
membawanya susu hangat?"

"Ya, Pak"

"Nama lelaki itu R.S.M. Boyce dan dia pensiunan pimpinan Curtis Publishing 
Company, yang menerbitkan koran The Saturday Evening Post.  Dia menyumbangkan 
dana lima ratus dollar untuk biaya asrama, uang kuliah dan buku untuk 
pendidikanmu sampai selesai".

 

Ayah terperangah.  Dana kejutan itu bukan saja membuatnya bisa menyelesaikan 
pendidikan di A&T, tetapi juga lulus dengan peringkat pertama di angkatannya.  
Dan prestasi itu membuatnya berhak mendapatkan beasiswa penuh untuk menempuh 
pendidikan di Cornell University di Ithaca, New York.

 

Pada tahun 1920, Ayah yang waktu itu baru menikah, pindah ke Ithaca bersama 
pengantinnya, Bertha.  Dia masuk Cornell untuk meraih gelar master, dan Ibu 
mendaftar di Ithaca Conservatory of Music untuk belajar piano. Aku lahir pada 
tahun berikutnya.

 

Pada suatu hari, beberapa puluh tahun kemudian, editor The Saturday Evening 
Post mengundangku ke kantor editorial mereka di New York untuk membicarakan 
pemadatan buku pertamaku, The Autobiography of Malcom . Aku begitu bangga, 
begitu bahagia, bisa duduk di kantor yang berdinding kayu di Lexington Avenue 
itu. Tiba-tiba aku teringat pada Tuan Boyce, dan bahwa semua ini adalah berkat 
kemurahan hatinya yang membuatku bisa berada di sini, di antara para editor 
itu, sebagai penulis.  Kemudian, aku mulai meneteskan air mata.  Aku tidak 
dapat menghentikannya.

 

Kami, anak-anak Simon Haley, sering mengenang Tuan Boyce dan dana yang 
diinvestasikannya kepada orang-orang yang kurang beruntung.  Sebagai reaksi 
beruntun dari kedermawaannya, kami juga ikut memetik keuntungan.  Kami 
dibesarkan tidak di sebuah pertanian bagi hasil, tetapi di sebuah rumah dengan 
orang tua terpelajar, deretan rak yang penuh buku, dan dengan kebanggaan dalam 
diri kami.  Kakakku George adalah pimpinan U.S. Postal Rate Commission, Julius 
seorang arsitek, Lois seorang guru musik dan aku seorang penulis.

 

Tuan R.S.M. Boyce muncul ibarat sebuah karunia dalam hidup Ayah.  Sesuatu, yang 
oleh sejumlah orang dipandang sebagai sebuah pertemuan yang sarat dengan 
peluang, di mataku adalah kiprah suatu kekuatan misterius yang menciptakan 
kebaikan.

 

Dan aku percaya bahwa setiap orang yang dikaruniai kesuksesan memiliki 
kewajiban untuk mengembalikan sebagian dari karunia tersebut.  Kita semua harus 
hidup dan bertindak seperti lelaki di kereta api tadi.



" Jangan pernah ragu2 melakukan perbuatan baik, dalam hal memberi dan kemurahan 
hati, sebab setiap perbuatan baik, sekecil apapun, akan

  memberi dampak yg  berkelanjutan. Lakukan yg anda bisa dan selebihnya biar 
Tuhan yg melakukan bagianNya."





PS: Saat ini kita mendapat kesempatan utk berbuat sesuatu utk para alumni, guru 
dan almamater melalui pembentukan Ikatan Alumni Tarsi,

      mari kita ambil peran aktif utk melakukan sesuatu yg diharapkan kelak 
akan memberi dampak positif yg berkelanjutan.

 

 

 

Kirim email ke