http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=18071

Kamis, 30 April 2009 , 07:44:00
*25 Bayi dan 19 Ibu Hamil Singbebas Tertular AIDS*
<http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=18071#>

 SINGKAWANG--Dua puluh lima bayi asal Kota Singkawang, Kabupaten Bengkayang
dan Kabupaten Sambas (Singbebas) positif terinfeksi HIV/AIDS. Dari jumlah
itu, enam diantaranya telah meninggal dunia.“Kini ada 19 bayi positif
HIV/AIDS yang masih hidup,” kata Koordinator Klinik Mawar Kelompok Pokja
HIV/AIDS RSUD Abdul Aziz Singkawang Neni kepada Pontianak Post kemarin.

Dijelaskan Neni, dari jumlah 25 tersebut, sekitar sepuluhan bayi diantaranya
berasal dari Kota Singkawang. Menurut dia, bayi tersebut tertular HIV/AIDS
dari orangtuanya yang terlebih dahulu terinfeksi. “Kebanyakan adalah ibu
rumah tangga. Umumnya tertular dari prilaku seks suaminya. Ada juga ibunya
mantan PSK (Pekerja Seks Komersial), namun setelah menikah berubah kembali
hidup di jalan yang benar. Kan setiap orang juga ingin berubah baik,” kata
Neni.

Ia mengungkapkan, saat ini, diluar 19 bayi yang sudah terinfeksi HIV/AIDS,
juga ditangani sekitar 12 orang ibu hamil yang positif HIV/AIDS. Beberapa
diantaranya sudah melahirkan. “Diantaranya melahirkan dengan operasi cesar,
dan ada cara normal (tanpa melahirkan),” kata Neni. Ditambahkan Neni, dari
yang sudah melahirkan, didapati dua orang bayi negatif HIV/AIDS. Hal itu,
menurutnya, karena selama masa kehamilan mulai dari usia tujuh dan delapan
bulan, diberikan terapi Profilaxis ARV. Begitu juga dengan bayinya. “Setelah
dilahirkan bayinya juga kita terapi. Dua ini lolos dari HIV/AIDS dan tidak
positif,” ungkap Neni.

Dia menjelaskan, ada bayi yang belum diketahui apakah positif atau negatif
terinfeksi penyakit mematikan tersebut. “Nanti bisa diketahui setelah
usianya delapan belas bulan saat kita lakukan tes HIV ke anak tersebut.
Kalau sebelum delapan belas bulan, bayi masih diberi antibodi oleh ibunya.
Jadi belum dapat diketahui. Tapi begitu lahir kita berikan terapi Profilaxis
ARV,” jelas dia. Menurutnya, HIV/AIDS disebabkan hubungan seksual yang
beresiko, dan juga penggunaan jarum suntik mengkonsumsi narkoba. “Tapi
tingkat paling tinggi penyebarannya, karena prilaku hubungan seksual,”
tegasnya.

Dia menjelaskan, HIV/AIDS bergantung dari daya tahan tubuh seorang manusia.
Bisa saja tiga atau lima tahun. “Tergantung daya tahan tubuh. Kalau virus
sudah di dalam tubuh, terserang flu dalam enam bulan bisa tertular, apalagi
bagi yang melakoni hubungan beresiko,” katanya. Langkah pencegahan,
dijelaskan Neni, jika seseorang itu positif HIV/AIDS, maka seumur hidup
harus mengkonsumsi ARV. Kalau untuk anak-anak yang sudah terinfeksi, sambung
Neni, para orangtua terutama ibu-ibu harus memperhatikan tumbuhkembang sang
anak. “Yang penting tetap berprilaku hidup sehat,” katanya.

Tiap Hari Ada Pasien
Klinik Mawar Pokja HIV/AIDS RSUD Abdul Aziz Singkawang merupakan sebuah
ruangan khusus bagi orang yang ingin berkonsultasi, ataupun memeriksakan
dirinya untuk mengetahui tentang penyakit mematikan tersebut. Selain di
Klinik Mawar, di salah satu ruangan dibagian penyakit dalam, kata Neni, juga
bisa melakukan pemeriksaan. Neni menjelaskan, hampir setiap harinya selalu
ada pasien yang memeriksakan diri. “Rata-rata sehari tiga orang yang datang,
baik untuk konsultasi maupun memeriksakan diri (VCT),” kata dia.

Dijelaskan Neni, selain pasien kiriman dari dokter, juga ada yang datang
dengan kesadaran sendiri untuk melakukan pemeriksaan. “Mungkin mereka ini
mengetahui dari radio, televisi tentang penularan dan dampak dari HIV AIDS.
Umumnya mereka ini yang merasa berprilaku pola hidup beresiko,” ungkapnya.
Yang berkonsultasi di Klinik Mawar, kata Neni, sudah dianggap biasa. Karena,
ada ruangan tertutup yang sangat menjaga kerahasiaan identitas dari orang
yang datang tersebut. “Bahkan yang dirawat pun ada. Kita perlakukan sama.
Tidak ada perbedaan dan tidak perlu ditakutkan lagi, bagi yang sudah
mengerti cara penularan HIV AIDS,” katanya dengan tetap merahasiakan
identitas dan dimana pasien tersebut. “Sekarang ini diperlukan lagi
sosialisasi yang lebih banyak. Selain juga kesadaran masing-masing orang,”
tambahnya.

Sosialisasi dan Kondom
Anggota DPRD Kalbar daerah pemilihan Singkawang Bengkayang, Kenny Kumala
mengungkapkan perlu banyak melakukan sosialisasi terhadap bahaya dan
penularan serta pencegahan HIV/AIDS kepada masyarakat. “Terutama kepada
ibu-ibu dan anak-anak serta sekolah-sekolah,” kata Kenny kemarin di
Singkawang.
“Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan dan Dinas Pariwisata harus lebih
menggencarkan lagi sosialisasi. Mengingat kota ini juga sebagai kota tujuan
wisata,” tambahnya.
Membangdingkan dengan di luar negeri, ditegaskan Kenny yang pernah menetap
di Jerman ini, begitu AIDS pertama kali muncul, Walikota di Berlin Jerman
bersama kabinetnya turun ke jalan membagi-bagikan kondom dan memberitahukan
bahaya HIV/AIDS kepada masyarakat. “Di Indonesia ini masih tabu
membiacarakan masalah itu (kondom),” katanya.

Di Kuala Lumpur Malaysia, jelas Kenny, saat dirinya mengikuti pertemuan
dengan UNFPA diketahui justru yang paling rentan terjangkit HIV/AIDS adalah
ibu-ibu dan anak-anak. “Jadi disitu justru paling berbahaya adalah anak
sekolah,” katanya. “Sekarang jangankan anak sekolah, orang dewasa saja pergi
ke supermarket beli kondom saja malu. Apalagi anak-anak. Logikanya, prilaku
seks sekarang itu sudah umum. Kalau kita bilang seks di luar itu tidak ada,
itu tidak masuk akal. Tapi mereka tidak punya akses beli kondom dan masih
tabu (dengan kondom),” katanya.

Seperti dilansir Pontianak Post sebelumnya, Depertemen Kesehatan Republik
Indonesia saat ini terdapat 10 besar kota pengidap HIV/AIDS dengan jumlah
penderita sebanyak 16.110 orang. Bandung di puncak klasemen (1.856) dan
Singkawang di urutan 10 (348). Apabila dilihat dari presentasi penderita
HIV/AIDS dibandingkan dengan jumlah penduduk keseluruhan maka kota ini
berada di peringkat kedua setelah Irian.(ody)

Kirim email ke