Karena tidak adanya tim forensik di
Pontianak, maka keluarga mohon pemeriksaan dapat dilakukan oleh ahli
forensik yang bertugas di Jakarta, 
>>Sangat disayangkan, daerah kalbar masih belum mempunyai tim forensik.....

keluarga almahum menyanggupi semua
biaya otopsi dan biaya petugas yang mengantar;
>>dapat dibayangkan bagi yang keluarga menengah kebawah...
pasti gak bisa menyanggupi biaya2 nya, dan merelakan di perlakukan tidak adil

Semoga keadilan bisa di perjuangkan oleh keluarga chia rudiyanto

rgds,
dewi lilyana



--- On Fri, 7/3/09, Hidayat Boesran <[email protected]> wrote:

From: Hidayat Boesran <[email protected]>
Subject: Bls: [Singkawang] hasil otopsi RUDIYANTO
To: [email protected]
Date: Friday, July 3, 2009, 7:14 AM










        






jika benar yang dimaksud adalah hia Rudiyanto seperti alamat yang ada di bawah 
ini . . .
ada 2 artikel yang saya temukan pada Rakyat Borneo & W. Suwito SH & Associate.

14 Juni, 2009



Kematian Rudiyanto yang Misterius




Chia
Rudiyanto (23), warga Dusun Sumbawa RT 02 Rw 07, Desa Sungai Duri,
Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang menjadi perhatian
masyarakat.
Pemuda ini,  Sabtu 25 April lalu dilaporkan meninggal dengan cara gantung diri 
di tahanan Mapolsek Sui Duri.
Pria
ini berada di tahanan terkait dugaan kasus pelecehan seksual. Ia
ditangkap karena adanya laporan Abon, warga setempat yang tidak terima
anaknya, Teddy Wijaya, menjadi korban pelecehan kala itu.
Keluarga
almarhum Rudiyanto jelas menaruh curiga atas kematian ini. Mereka
menemukan beberapa kejanggalan. Saat itu, pihak kepolisian bersikukuh
tersangka meninggal gantung diri.
Kapolres Bengkayang, M. Nasir S,
dikonfirmasi saat itu mengungkapkan telah dilakukan visum sebanyak dua
kali, di Puskesmas Sui Duri dan Rumah Sakit Abdul Aziz Singkawang,
menyatakan korban positif gantung diri, dengan tanda-tanda bekas
jeratan baju di leher, serta dari kemaluannya mengeluarkan sperma.
Kapolres
juga mengakui kejadian ini merupakan kesalahan dua anggotanya yang
lalai menjalankan tugas piket untuk mengontrol tahanan. Untuk itu,
dirinya akan mengambil tindakan tegas dan sanksi kepada kedua petugas
tersebut, jika dinyatakan bersalah berdasarkan kode etik Polri. 
Namun,
keterangan tersebut tidaklah mampu menyakinkan pihak keluarga atas
kematian Rudiyanto. Pihak keluarga menemukan ketidakwajaran itu karena
ada tanda-tanda kekerasan di fisiknya.
Kebenaran kematian Rudiyanto
perlu diungkap. Penyebabnya terus menggelanyut dan menjadi pikiran.
Sebagai warga Negara yang sama derajatnya di mata hukum, jalan mencari
keadilan terbuka. Usaha-usaha membuka tabir gelap ini terus dilakukan.
Yang
salah memang harus dihukum. Hukuman yang diberikan juga harus dengan
cara-cara benar. Benar jelas sesuai dengan Undang-undang yang berlaku,
bukan dengan kekerasan apalagi hingga merenggut jiwa seseorang,
sementara kasusnya baru tingkat pengaduan belum dijatuhkan vonis
bersalah atau tidak.
Fakta penyebab kematian perlahan mulai terbuka.
Pernyataan karena gantung diri mulai terbantahkan. Pihak keluarga
almarhum Rudiyanto dengan merogoh kocek sendiri mendatangkan dokter tim
forensik, Abdul Muin Rasit.
Jumat (12/6) kemarin, dokter ini
mengotopsi jenazah Rudiyanto. Hasilnya? Ditemukan ada bekas pendarahan
di kepala bagian belakang korban. Kepala belakang korban retak 4 cm dan
pernah terjadi pendarahan di bagian otak, bagian kepala, perut dan juga
bekas lebam.
Untuk otopsi sendiri pihak keluarha mengikhlaskan makam
Rudiyanto di pemakaman yayasan Pasir Gunung, Desa Sungai Pangkalan Dua,
Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang dibongkar kembali.
Fakta
yang dibeberkan dokter forensic menegaskan telah terjadi kekerasan
terhadap almarhum sebelum meninggal? Lantas siapa yang begitu kecam
melakukan penganiyaan tersebut? Siapa di balik itu semua? Mengapa itu
dilakukan?. Kemudian bagaimana bila Rudiyanto tewas bukan karena
gantung diri? Bagaimana hasil dari 2 visum sebelumnya?
Tentu masih
banyak rantai pertanyaan yang menunggu jawaban. Ini semua menunggu
kejujuran untuk mengatakan yang fakta maupun kejadian yang sebenarnya.
Semoga ini kasus ini bisa menjadi pelajaran kita semua.

*Misteri Kematian Chia Rudiyanto di TahananKeluarga Mengadu ke Polda




di
 Jumat, Mei 01, 2009 




#yiv405787525 .fullpost{display:inline;}
MENCARI KEADILANKeluarga korban yang berupaya
mencari keadilan saat berada di Kantor W.Suwito,SH & Associates.
FOTO Andika Lay/Borneo Tribune

Andika LayBorneo Tribune, Pontianak
Kasus
kematian Chia Rudiyanto di tahanan Polsek Sungai Raya, beberapa waktu
lalu telah menyimpan duka keluarga. Kematian Rudiyanto yang menurut
versi Polsek Sungai Raya meninggal karena gantung diri di dalam jeruji
besi.Rudiyanto yang tinggal di Dusun Sumbawa, Desa Sungai Duri
RT.02/RW.07 Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang menjadi tahanan
Polsek Sungai Raya.
Penangkapan Rudiyanto
dilakukan oleh dua anggota Polsek Sungai Raya, dikarenakan adanya
laporan Abon warga setempat yang tidak terima anaknya Teddy Wijaya
menjadi korban pelecehan seksual oleh Rudiyanto.Keluarga korban, Kamis
(30/4) mendatangi Kantor W. Suwito,SH., MH., dan Associates
menyampailkan prihal permasalahan yang dihadapi keluarganya dan meminta
bantuan hukum dari advokat untuk mengadukan kasus itu ke Kapolda
Kalbar.Basuki Wilbertus, tokoh masyarakat yang mendampingin keluarga
korban menyatakan kedatangannya ke Pontianak untuk memenuhi tuntutan
masyarakat yang menghendaki kasus kematian di dalam tahanan Polsek
Sungai Raya diselesaikan secara tuntas tanpa ada diskriminasi.“Tindak
tegas aparat yang menyalahgunakan wewenang, oknum polisi yang terlibat
dalam kasus ini harus diadili, hukum harus ditegakkan, kami berharap
tidak diskriminasi dalam penyelesaian kasus ini, dan kasus ini harus
secepatnya dituntaskan tanpa membeda-bedakan,” ungkapnya.Dewi
Aripurnawati,SH, dari Kantor W. Suwito dan Associates yang ditunjuk Bun
Djung Khim membuat pengaduan resmi kepada Kapolda Kalbar yang intinya
mohon keadilan serta perlindungan hukum sehubungan dengan meninggalnya
anak kliennya.“Penangkapan yang dilakukan oleh Petugas Polsek Sungai
Raya dalam mengamankan Rudiyanto tidak dilengkapi surat tugas dan surat
perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh Polsek Sungai Raya,”
jelasnya.Menurutnya, kronologis kejadiannya adalah, walau tidak ada
surat perintah penangkapan, almarhum Rudiyanto bersedia ikut petugas ke
Polsek Sungai Raya, karena jaminan dari kepala kampung, Seniman dan
Ketua RT, bahwa korban akan diperiksa secara baik-baik.Setelah dijemput
oleh dua anggota, almarhum Rudiyanto yang baru saja selesai mandi dan
sebelum berangkat untuk dimintai keterangan di Polsek Sungai Raya,
korban meminta ijin kepada petugas untuk makan terlebih dahulu, namun
tidak diijinkan dan setelah itu almahum langsung dibawa petugas.“Karena
almahum saat dijemput belum makan, maka sekitar pukul 20.00, keluarga
mengantarkan makan dan air meneral untuk almahum, tapi tidak diijinkan
bertemu, dan hanya dapat menitipkan makanan dan air meneral untuk
anaknya yang ternyata sampai diberitahu sudah meninggal makanan dan
minumannya masih utuh,” jelasnya.Belum semalam ditangkap, dini hari jam
03.00, orang tua almahum diberitahu oleh Aliong dan temannya untuk
segera menjemput dan memakamkan jenazah almahum yang saat itu berada di
Puskesmas Sungai Duri.“Almahum meninggal malam hari saat ditangkap, dan
dilaporkan meninggal dunia pada 24/4 pukul 23.45 tergantung menggunakan
kemeja pendeknya yang seakan-akan sedikit dilipat kecil dan terikat
dijeruji ventilasi ruang tahanan,” ungkapnya.Saat almahum ditemukan
tergantung di ruang tahanan, orangtua almahum tidak pernah dihubungi
petugas Polsek Sungai Raya. Padahal, ketika almahum dijemput di
rumahnya oleh petugas, almahum dalam keadaan sehat dan petugas bertemu
dengan orang tua almahum.Saat berada di Puskesmas Sungai Duri besoknya,
orangtua almarhum, surat perintah penangkapan dan perintah penahanan
yang sudah ditandatangani dan sekaligus diberi cap jempol almarhum,
baru disampaikan oleh Ketua RT, Syamsudin kepadanya.“Karena banyak
kejanggalan yang terjadi pada jenazah almarhum, dan terlihat ada bukti
kekerasan fisik pada almahum, maka keluarganya meminta untuk dilakukan
otopsi terhadap jenazah almahum. Karena tidak adanya tim forensik di
Pontianak, maka keluarga mohon pemeriksaan dapat dilakukan oleh ahli
forensik yang bertugas di Jakarta, keluarga almahum menyanggupi semua
biaya otopsi dan biaya petugas yang mengantar,” jelasnya.Hal ini
dilakukan oleh keluarga, menurut Dwi, dikarenakan tubuh almarhum juga
ditemukan bengkak dan memar pada mata sebelah kiri, memar pada ulu
hati, dan tidak adanya pemberitahuan kepada keluarga ketika almarhum
diturunkan dari jeratan kemejanya.“Kami sangat mengharapkan, agar dapat
dilakukan penyidikan terhadap meninggalnya korban karena kami menduga
adanya tindak kekerasan dalam pemeriksaan di Polsek Sungai Raya,
berikut proses penyidikan, penangkapan dan penahanan yang dilakukan
secara melawan hukum terhadap korban,” kata Dewi.

Dari: Hidayat Boesran <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jumat, 3 Juli, 2009 20:52:37
Judul: Bls: [Singkawang] hasil otopsi RUDIYANTO










    
      
      apakah yang dimaksud adalah :
Chia Rudiyanto (23), warga Dusun Sumbawa RT 02 Rw 07, Desa Sungai Duri, 
Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang


Pa' Dhe.
Yogyakarta.

Dari: abuychang <abuych...@yahoo. co.id>
Kepada: singkaw...@yahoogro ups.com
Terkirim: Jumat, 3 Juli, 2009 20:19:09
Judul: [Singkawang] hasil otopsi RUDIYANTO










    
      
      kepada anggota milis ada yg tau gx hasil otopsi kematian RUDIYANTO ?




 

      


        
        

        Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman
Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!
 

      


        
        

        Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? 
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang!









    
    









      

Kirim email ke