Akiong: Heri Bong Hanya Alat

SINGKAWANG-Ketua Majelis Tao Indonesia Cabang Singkawang, Chai Ket Khiong 
sangat prihatin den/gan pernyataan Heri Bong yang dimuat harian ini beberapa 
waktu lalu. Menurut Akiong, Heri Bong jangan sampai dijadikan alat untuk 
kepentingan orang lain. “Kita tahu, bukan Heri Bong yang ngomong kayak itu. 
Apalagi kapasitasnya tak jelas untuk mempersoalkan kita,” kata Akiong, kepada 
Pontianak Post, via ponselnya, kemarin. Menurut Akiong, Bong Heri taklah pantas 
mengomentari masalah altar. “Dia itu bukan Tao atau pun Tri Dharma. Ini 
menyangkut masalah kita,” kata Akiong. Kata Akiong, Heri Bong tak tahu apa-apa.

“Dia disetir oleh orang yang bersembunyi dibalik pernyataannya. Kita hanya 
prihatin sekali,” kata Akiong menambahkan. Akiong mengatakan, pendirian altar 
yang dibatasi tentulah menyalahi dan bertentangan dengan UUD 1945. Diakui 
Akiong, sejak dulu, zaman bupati Kabupaten Sambas ini hingga kepemimpinan Awang 
Ischak tidaklah pernah ada larangan apalagi harus mengeluarkan SK. “Apakah SK 
lebih tinggi dari UUD,” kata Akiong. Akiong sendiri sudah bertemu dengan istri 
Heri Bong dan menyatakan suaminya hanya diperalat oleh orang. “Yang 
mengherankan, bukan panitia yang mempersoalkan, tapi orang yang tak ada sangkut 
pautnya dengan pendirian altar tersebut. Perayaan cap go meh diartinya akan 
mengusir roh jahat dari jalanan kota. Artinya, altar itu harus dibikin 
dijalanan, bukan ditempat masing-masing,” kata Akiong meluruskan. Bila Satpol 
PP berani melakukan aksi pengrusakan altar yang dibangun, kata Akiong, tentu 
bukan hanya berhadapan dengan pihaknya dan pengikut Tao dan Tri Dharma, 
melainkan akan berhadapan dengan hukum.

“Kemana pun saya ladeni. Apakah penguasa dengan kekuasaannya lantas semberono 
melakukan aksi. Tentu Satpol PP akan berpikir seribu kali,” kata Akiong. 
Menurut Akiong, bila pendirian altar itu sesuai dengan keinginan semua umat, 
tentu tidak ada persoalan sebenarnya. “Mengherankan, mengapa kita dibatasi. Itu 
menjadi pertanyaan. Inikan menyangkut keyakinan,” kata dia. Selain itu, Akiong 
minta kepada umat Tao yang ingin menyumbang hendaknya ekstra hati-hati. “Para 
donatur yang berasal dari agama Tao hendaknya hati-hati memberi sumbangan. 
Hendaknya disampaikan kepada yang bersangkutan jangan menggunakan jasa kurir,” 
kata Akiong. Sejak beberapa tahun terakhir ini, pendirian altar menjadi polemik 
menjelang cap go meh berlangsung. Polemik tersebut terus bergulir tahun 2010 
ini. “Kita juga prihatin. Tapi, harus diselesaikan dengan kepala dingin. Urusan 
keyakinan, jangan sampai dibatasi,” kata salah satu warga Tionghoa kepada 
Pontianak Post, kemarin. (zrf) 


http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=29339

Kirim email ke