|
Mendidik Anak Perempuan Menabung Masa Depan
*** KEBERADAAN kaum perempuan yang memprihatinkan di negara-negara sedang berkembang sungguh menyentuh hati Dr Nils Daulaire ketika bersama anak perempuannya berusia 11 tahun berjalan-jalan di sebuah daerah pedesaan Nepal (kawasan Pegunungan Himalaya) pada suatu hari.
Sang ayah bersama putrinya itu berhenti sejenak untuk berbincang-bincang dengan dua anak laki-laki Nepal, yang kemudian dengan heran menatap si gadis Amerika berambut pirang yang jangkung itu.
Kedua anak lelaki itu mengira gadis yang bersama Daulaire itu adalah isterinya, tetapi setelah dijelaskan bahwa dia sebagai putrinya yang masih berstatus pelajar, kedua bocah itu menjadi bingung karena yang mereka ketahui selama ini ialah para gadis negeri itu tidak pernah mengenal pendidikan.
Seketika itu terjadilah percakapan singkat sebagai berikut:
"Bagaimana keadaan anak-anak perempuan di sekolahmu?" tanya gadis Amerika yang bisa berbahasa Nepal itu.
"Anak perempuan? Tidak ada anak perempuan di sekolah kami. Mengapa engkau bertanya pertanyaan semacam itu?" jawab kedua bocah Nepal itu.
Ternyata anak-anak perempuan di Nepal umumnya harus bekerja dan yang bersekolah hanyalah anak lelaki, sehingga gadis tadi bertanya kembali kepada kedua bocah itu, "Mengapa kalian tidak bekerja?" "Kami harus ke sekolah," jawab kedua anak putra itu.
*
Bagi Daulaire, yang juga sebagai penasihat senior pada Badan Pembangunan Internasional AS (USAID), ilustrasi di atas menunjukkan betapa sulitnya masyarakat di negara-negara sedang berkembang memahami pentingnya pendidikan bagi anak-anak perempuan.
Saat ini dua pertiga dari satu miliar manusia yang buta aksara di seluruh dunia adalah perempuan. Namun pernah dalam suatu konferensi di Washington, sekitar 500 pejabat kesehatan dan pendidikan dari seluruh dunia bertemu di bawah pengawasan USAID dengan para pejabat AS dan PBB guna bertukar pikiran tentang cara mengubah keadaan kaum wanita yang memprihatinkan itu.
Mengapa repot? Kaum perempuan berpendidikan cenderung lebih membatasi jumlah kelahiran, membentuk keluarga kecil, menjaga kelangsungan hidup dan dapat menndidik anak-anak mereka," kata Daulaire dalam suatu wawancara dengan kantor berita Reuter.
"Ternyata salah satu daya dorong yang kuat dalam pembangunan pada tingkat rumah tangga ialah pendidikan anak-anak perempuan pada khususnya dan wanita pada umumnya," katanya.
Menurut Daulaire, di manapun program pendidikan wanita ini dilakukan, hasilnya selalu memuaskan. Hasil yang diperoleh dari mendidik kaum wanita dalam hubungan kesehatan, kesuburan dan perkembangannya, jauh lebih baik dari pada yang berlaku bagi anak-anak pria.
Anak-anak pria memang memanfaatkan pendidikan mereka tetapi tidak diteruskan dalam seluruh keluarga seperti yang dilakukan anak-anak perempuan.
Di Nepal tempat Daulaire pernah bekerja di bidang kesehatan ibu dan anak, upaya pendidikan ini dapat meningkatkan hampir 50 persen wanita di sana bebas buta huruf.
Daulaire mengatakan, bahwa pada 1991, hanya 22 persen wanita di Nepal yang melek aksara. Tetapi hingga 1997 persentasenya meningkat menjadi 32 persen. Dan jumlah tersebut terus meningkat.
Melalui program pendidikan tersebut, para wanita di daerah-daerah pedesaan diajar membaca majalah-majalah bergambar dengan uraian sederhana tentang kesehatan, peternakan hewan, dan pengaturan ekonomi rumah tangga.
Karena para wanita itu bekerja di rumah-rumah tangga dan di ladang, pelajaran diberikan pada sore hari. Para guru orang Nepal asli yang sudah terlatih harus datang ke desa-desa dan mengajar kelompok-kelompok kecil wanita.
"Para wanita itu harus melakukan sesuatu yang biasa dan sederhana sesuai budaya tradisional Nepal. Tetapi mereka juga diajar hal-hal yang relevan dalam kehidupan sehari-hari, mudah diterima dan menyenangkan," kata Daulaire.
Ternyata separuh dari jutaan wanita di Nepal telah dilatih dengan cara seperti ini dan para suami mereka tidak berkeberatan dengan program tersebut.
Lebih ekonomis: "Salah satu hal yang kami dapati dalam progran pendidikan ini, walaupun kecil artinya dan tanpa gembar gembor, wanita dilibatkan dalam suatu situasi dimana mereka dapat menciptakan sesuatu yang baru secara lebih ekonomis," kata Daulaire.
Sekali mereka dapat melakukan penjumlahan sederhana dan cara pembukuan, mereka diajarkan membuat program simpan pinjam. Setiap kelompok masyarakat mempunyai perkumpulan simpan pinjam tersendiri dan dapat memberi pinjaman sampai US$500 atau lebih.
Setiap anggota yang mau meminjam harus diteliti oleh kelompoknya dan semua wanita dalam perkumpulannya sama-sama bertanggung jawab atas pinjaman tersebut.
Misalnya, bila seorang wanita diberi pinjaman untuk membeli sebuah mesin jahit, wanita tersebut harus benar-benar bisa menjahit untuk memperoleh uang. Jadi, menurut Daulaire, wanita yang memiliki pendidikan dasar dari suatu ketrampilan tertentu, pintu terbuka bagi dia untuk mencari uang.
Daulaire mengatakan, 98 persen dari uang yang dipinjamkan umumnya dapat dibayar kembali oleh si peminjam. Dan para wanita lainnya yang tertarik untuk berlangganan bahan-bahan bacaan yang menyangkut kehidupan mereka, cenderung dapat mengajarkannya lagi kepada para putri mereka.
USAID berharap, mengentaskan buta huruf di sejumlah negara dengan inisiatif pendidikan anak gadis dan wanita yang tujuan akhirnya menuju pada pendidikan menyeluruh.
"Kami bekerja sama dengan departemen pendidikan di banyak negara," kata Daulaire. Sebagian besar uang dari negara saya sekarang mengalir ke berbagai universitas dan mayoritas penduduk yang membutuhkannya, katanya.
"Hal yang jauh lebih penting dalam bidang pembangunan ialah mendirikan markas pendidikan yang pantas, karena sistem yang sedang diterapkan di sekolah-sekolah dasar sudah sekarat," kata Daulaire.
Menurut dia, apabila dalam suatu kelas terdapat 40 siswa dan hanya ada dua buku saja yang diajarkan, maka hal ini menjadi suatu pekerjaan berat bagi seorang guru untuk mendidik anak-anak itu.
Namun pendidikan yang bertujuan mengubah sikap seorang anak mempunyai pengaruh positif yang sangat dalam. Di Guatemala, misalnya, para guru didorong untuk mendidik dalam kelas yang hanya terdiri dari siswi saja.
"Anda boleh mengajar di satu kelas yang jumlah siswa dan siswinya sama tetapi anda tidak akan pernah membantu siswinya," kata Daulaire.
Tetapi ia mengatakan, cara pendekatan yang diterapkan pada organisasi pendidikan wanita di negara-negara sedang berkembang ialah bukannya menunjukan bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, tetapi menunjukan bagaimana melakukan dengan sebenarnya apa yang bisa mereka lakukan.
Pentingnya pendidikan bagi anak perempuan menurut Daulaire, adalah kunci bagi pembangunan suatu dunia yang moderen. (Anspek/O-1)
Sumber : media Indonesia online
|