Note: forwarded message attached.


Do you Yahoo!?
Friends. Fun. Try the all-new Yahoo! Messenger

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

--- Begin Message ---


Note: forwarded message attached.


"If u wanna be what u wanna be, be what u wanna be. And if u wanna be what u wanna be, believe in what u wanna be!!"


Do you Yahoo!?
Friends. Fun. Try the all-new Yahoo! Messenger
--- Begin Message ---
----------  Original Message  ----------
Sender : LGEDI Budi Santoso SUPERVISOR([EMAIL PROTECTED], 82-54-470-2784)
Recipient : LGEDI Wahyu Agung K. SUPERVISOR([EMAIL PROTECTED],
62-21-8989-308)
Date : 04/5/28 8:26:35 AM
Subject : [survival7000] FW: Dari milis tetangga. (SKENARIO MEGAWATI
SOEKARNOPUTRI)



Assalamu'alaikum wr. wb.

Dari milis tetangga, kalau ini benar sebuah skenario yang
hebat.

Wassalamu'alaikum wr. wb.





SKENARIO MEGAWATI SOEKARNOPUTRI

Salah seorang petinggi PDIP yang kecewa karena gagal
menjadi anggota
DPR RI
bercerita panjang lebar soal skenario Mega. Berikut ini
penuturannya : Dalam
rapat DPP PDIP hampir semua peserta rapat tertawa
terbahak-bahak
ketika
membaca hasil survey LSI yang mengunggulkan SBY sampai
58%. Terlihat
tawa
bahagia disana ketika tahu scenario mengunggulkan SBY
dikerjakan
dengan baik
oleh LSI.

Kalau mau sedikit berpikir, memang aneh gerakan tim Mega
ini, walau
nampak
kasat mata, tapi tidak ada satupun media massa yang mau
memberitakan
betapa
Mega begitu piawai mengobok-obok konstelasi politik
dimana-mana.
Golkar
dibuat pecah berantakan dengan memunculkan faksi; AT,
faksi Kalla,
dan faksi
Palloh. Keluarga besar NU dibuat cerai berai dengan
munculnya kelompok
Hasyim, kelompok Gus Solah dan tentu saja the joker,
Abdurahman Wahid.

Kalau mengikuti Koran dan TV misalnya, hampir-hampir semua
pembicaraan
menguliti sepak terjang SBY, Wiranto dan AR. Banyak media
yang berubah
menjadi partisan, terutama TVRI. Tahu tidak, kalau
direktur TVRI
mendadak
diganti dengan orang Mega? Anehnya, tidak ada sedikitpun
yang mencoba
mengamati gerakan Mega. Padahal gerakan Mega, dirancang
oleh puluhan
akademisi dan purnawiraan militer.
Jauh sebelum Mega Presiden dibentuk, lembaga kajian untuk
memuluskan
Mega ke
Istana sudah dirancang rapi.
Kepala BIN, Hendropriyono, adalah komandan dibalik
scenario Mega.
Namanya
juga dinas intelejen negara, kekuatan dan keakuratan
datanya sungguh
luar
biasa. Memberikan rencana A sampai Z dengan segala
resikonya.
Hasilnya? Kita lihat saja paparan dibawah ini.

Menohok Pesaing Berat

Tim Mega yakin hanya Wiranto yang benar-benar penantang
terkuat,
sementara
AR gampang ditaklukan, sementara SBY hanya Koran dan media
massa saja
yang
membesar-besarkannya.
Coba diamati baik-baik, isu anti militerisme misalnya,
jelas-jelas
hanya
menyerang Wiranto. Padahal SBY juga militer, namun sama
sekali tidak
diungkit-ungkit oleh Mega. Sebab Mega memang yakin, SBY
masih dibawah
kendalinya. Bukankah Kalla, Yusril merupakan anak buahnya
yang paling
manis
di kabinet?
Kasus Yacob Nuwawea yang merancang ide demo misalnya, ini
memang
sengaja
dibocorkan. Sebab, Mega sedang memprovokasi Wiranto, untuk
jangan
macam-macam. Apalagi diketahui bahwa yang ikut rapat di
pihak Yacob
Nuwa Wea
ada pentolan-pentolan GMNU, Famred, Forkot dan Dita Indah
Sari.
Ada juga memang informasi yang menyatakan menyatakan bahwa
bocornya
ini
karena Wiranto memang seorang militer tangguh, sehingga
sudah biasa
mengendus gerakan musuh. Buktinya, dari yang hadir di
rapat, nomor
telephone-nya, sampai detil suasana rapat bisa diketahui
dengan pasti.
Sungguh, ini buah kerja inteljen yang luar biasa.
Mega tentu saja tidak tinggal diam, TPDI yang sudah lama
"tidur" tiba-
tiba
saja membawa kasus Wiranto soal 27 Juli dan kerusuhan Mei
98 ke
Mahkamah
Agung.
Belum cukup dengan itu, semua kepala daerah dan Gubenur
dikumpulkan
oleh
Mega untuk diberi wejangan khusus, mengamankan Mega ke RI
1.
Beritanya terbarunya, Mega memerintahkan Jaksa Agung M
Rahman untuk
kembali
membuka kasus BNI. Sebab Mega mempunyai kartu truf soal
keterlibatan
Wiranto
dengan kasus ini.

Mengobok-obok NU
Jangan dikira Hasyim Muzadi berani berseberangan dengan
Gus Dur sejak
sebelum pemilu legislative karena ingin memperjuangankan
NU agar
independen.
Sama sekali tidak. Hasyim memang sudah terikat kontrak
dengan Mega
sejak
setahun lampau. Makanya Gus Dur tiada henti menyuarakan
dimana-mana
kalau
Hasyim seorang "pembohong".
Siapa dibalik munculnya ide Golput PKB ini? Jawabnya
sebetulnya
gampang
ditebak, Arifin Junaedi dan AS Hikam. Kedua orang ini
berhasil
menyakinkan
GD untuk Golput. Dengan Golput, suara PKB yang 12 juta
dihanguskan.
Sebuah
scenario manis dari Mega. Sebab Mega yakin, tidak mungkin
pendukung
PKB
memiih dirinya. Daripada ke Wiranto, lebih baik
di'hanguskan" dengan
metode
canggih. Menyerukan golput. Coba tengok ke belakang,
bukankah GMNU
dan PMII
yang paling getol membela GD dengan senjata Golput?
Padahal ketua
umum kedua
organisasi itu adalah orang-orang Mega. Ketua GMNU
diketahui sering
berkunjung ke Yacob Nuwa Wea, sementara pengurus PMII
pusat sering
terlihat
bersama Taufik Kiemas.
Sayang scenario mega kali ini kena batunya. GD ternyata
Cuma
bersandiwara
ketika menyatakan bahwa tidak akan bekerjasama dengan
militer dan
ngotot
maju sebagai capres. GD yang terkenal licin tahu betul,
dengan
ngototnya dia
akan menaikkan nilai tawar PKB. Dan minimal 5 menteri dan
3 menko
akan jatuh
ke tangan PKB. Wiranto yang gelap mata, tentu oke-oke saja
menyetujui
yang
penting dia jadi presiden.
Apakah mega diam dengan pernyataan GD mendukung Wiranto?
Tentu tidak!
Setumpuk agenda baru sedang disiapkan untuk mematahkan
ini. Caranya?
Tim
Mega mulai aktif mendekati basis-basis NU yang membutuhkan
"bantuan".
Dengan
fasilitas uang negara yang dia punya, akan ada 1000 macam
agenda untuk
merayu kaum Nahdliyin. Sementara orang-orang Mega terus
memborbardir
arus
bawah NU akan "dosa-dosa" Golkar. 29 Mei 2004 akan
diadakan demo
besar-besaran menggoyang Golkar. Demo ini akan didukung
penuh oleh
LSM-LSM
dan mahasiswa nasionalis ini ditengarai sebagai warning
dan show of
force
kubu Mega untuk lawan-lawan politiknya.
Dengan scenario ini kubu Mega berharap, di putaran kedua
nanti jika
harus
ketemu Wiranto, Mega akan mendapat simpati dari masyarakat
karena dia-
lah
kini satu-satunya capres sipil!


Membombardir Golkar
Golkar juga tidak luput dari incaran scenario Mega. Suara
Golkar yang
24
juta, diporak porandakan dengan mengijinkan Kalla berduet
dengan SBY.
Orang
bodoh sekalipun pasti mafhum, bagaimana mungkin Kalla yang
ikut
konvensi
Golkar, yang didukung oleh Sultan HB 10, dan iramasuka
tiba-tiba saja
ke
SBY?
Hitung-hitungannya jelas. Kalla setidaknya akan
menggerogoti 5 juta
suara
Golkar dari Iramasuka. Modal SBY yang Cuma 7 juta suara
ditambah 5
juta
suara Kalla, jelas cukup mudah dikalahkan oleh Mega yang
sudah
mengantongi
23 juta suara solid! Ya, sementara kubu Islam dan kubu
Golkar
dikocar-kacirkan, kubu PDIP nampak utuh, solid dan
bersatu. 23 juta
ditambah
sedikit suara dari Hasyim cukuplah membuat Mega melenggang
dengan
gampang ke
putaran kedua.

Menciptakan capres boneka
Kubu Mega juga was-was dengan gerakan AR. Untuk
membuyarkan
berkumpulnya
kekuatan Islam non NU, Mega menyuruh Hamzah Haz maju ke
pilpres. Coba
buka
lagi Koran dan majalah, betapa Hamzah yang tadinya begitu
semangat
digaet
Mega, dibatalkan tiba-tiba. Ada apa? Karena Mega tahu,
dengan menggaet
Hamzah, percuma saja. Sebab dewan Syariah PPP sudah jelas
mengatakan
menolak
Mega. Dengan menyuruh Hamzah maju, Mega sedang
menghanguskan 7 juta
suara
PPP. Aneh kah, sebelum maju ke pilpres Hamzah dan Agum
(bukankah Agum
tim
Mega center?) meminta ijin ke Mega. Dan dikoran-koran pun
jelas
dimuat, di
putaran kedua, suara pemilih Hamzah akan di berikan ke
Mega. Sikap
Hamzah
ini yang kemudian membuat GPK yang underbow PPP memilih
mendukung AR.

Membingungkan pendukung AR
Modal AR yang Cuma 7 juta pemilih Pan sebenarnya tidaklah
membuat Mega
cemas. Tapi dengan berkumpulnya dengan PKS, setidaknya
membahayakan
Mega
seandainya AR mampu ke putaran kedua. Mega scenario
merekomendasikan
untuk
memilih bertemu Wiranto ke putaran kedua disbanding AR.
Lewat tangan Taufik Kiemas, Mega berhasil menyusup ke PKS
dengan
menggunakan
tangan Anis Matta dan Soeripto. Dengan alasan mendukung AR
berarti
membiarkan Mega dan SBY lolos keputaran kedua, dewan syuro
PKS "dipaksa"
merekomendasikan untuk mendukung Wiranto.
Aneh bukan, alasannya? Kenapa SBY yang bermodal 7 juta
dijadikan
alasan
untuk menolak mendukung AR? Jawabannya jelas, dengan PKS
mendukung
Wiranto,
berarti menghanguskan suara PKS. Sebab dengan mendukung
Wiranto suara
PKS
akan pecah. Sebagian akan mengikuti rekomendasi dewan
Syuro, sebagian
akan
ke AR. Dukungan sebagian PKS ke Wiranto bisa digantikan
oleh larinya
sebagian Golkar ke Kalla. Beda jauh efeknya kalau Syuro
PKS
merekomendasikan
AR. Suara PKS bisa jadi bulat. Pengikut PKS yang tanpa
berikir
panjang pasti
akan berbondong-bondong ke AR dan akibatnya bisa hebat.
Sebab akan
membuat
parpol-parpol gurem dan masyarakat muslim
berbondong-bondong
mendukung AR
akibat magnet suara PKS. Daripada AR, jelas Mega memilih
Wiranto untuk
bertarung di 5 September nanti.

Menonjolkan SBY
Skenario Mega yang paling sukses adalah dengan menonjolkan
SBY,
seakan-akan
pasti menang. Padahal kalau mau berpikir, sungguh aneh
kalau di
prediksi SBY
akan lolos ke putaran kedua. Modal suara yang cekak, 7
jutaan masih
teramat
jauh. Apalagi jelas-jelas kubu NU nggak bakalan ke SBY.
Kubu
Muhammadiyah
apalagi. Kubu nasionalis pasti ke Mega.
Coba tanyakan ini kemana saja. Apakah ada orang yang
mencoblos PAN
akan
memilih SBY? Apakah ada orang yang mencoblos PDIP akan
memilih SBY?
Apakah
ada orang yang mencoblos PKS akan memilih SBY? Jawabnya
gampang, amat
sangat
sedikit!
Biar tambah hebat, SBY di blow up sedemikian hebatnya,
padahal kalo
betul
hebat mustinya Demokrat bisa menang pemilu dong? Pilihan
presiden beda
dengan legislative? Betul, tapi gunakan logika sederhana,
basis massa
SBY
itu dari mana?
Kenapa SBY ditonjolkan? Sebab Mega ingin bertemu SBY di 5
September
nanti.
Dengan melawan SBY di final, peluang Mega jadi lebih
gampang.

Inti Skenario
Semua ini memang hanya berpusat pada kata akhir, Mega
lebih memilih
SBY
untuk berduel di 5 September. Kalaupun bukan SBY, Mega
lebih memilih
Wiranto
untuk berduel, dan menghindari AR.
Kenapa begitu? Dengan Wiranto, kubu Mega jelas memiliki
setumpuk
bahan untuk
meng-KO Wiranto di depan rakyat. Dari maslah pelanggaran
HAM sampai
masalah
bank BNI. Jangan lupa, kasus bobolnya BNI masih ditangan
Mega. Mega
punya
cukup bukti untuk menyeret Wiranto ke pengadilan.
Dengan SBY? Ini lebih gampang lagi. SBY dan partai
Demokratnya jelas
sudah
cacat di depan umat Islam. Latar belakang SBY yang
terungkap di media
massa
masih 30% saja yang dibeberkan. Kubu mega punya senjata
lebih ampuh
soal
siapa itu Sarwo Edi Wibowo, siapa itu Kristina, dan yang
jelas kubu
Mega
berhassil menelusuri aliran dana kubu SBY. Lewat James
Ryadi yang di
AS,
kubu Mega berhasil mengungkapkan betapa aliran dana SBY
begitu "hitam
pekat"
!
Kubu Mega juga yakin, di 5 September nanti kubu Islam akan
pikir-
pikir dan
mungkin akan Golput(nanti akan disebarkan data tentang SBY
yang
sungguh
seram, yang membuat pemilih Islam tidak punya pilihan
kecuali Golput),
sementara kubu NU pasti berbondong-bondong ke Mega karena
ada Hasyim.
Di
putaran kedua, meskipun 50 juta orang golput tidak akan
mempengaruhi
hasil
pemilu. Yang penting, siapapun yang unggul atas
pesaingnya, dialah
yang jadi
presiden.

Kalau ketemu AR? Ini yang membuat bingung. Mega kesulitan
menyerang AR
kecuali dengan serangan-serangan ringan semisal
mencla-mencle,
ambisius, dan
gemar bicara. Serangan seperti itu jelas tidak memadai
untuk
menghentikan AR
seandainya AR mampu ke putaran kedua. Satu-satunya jalan
memang harus
menghentikan AR di putaran pertama! Caranya? Ya seperti
yang
dipaparkan oleh
caleg PDIP diatas itu. Skenario cerdas bukan?







Yahoo! Groups Links












--- End Message ---

--- End Message ---

Kirim email ke