Selasa, 20 Juli 2004,
Pilpres dan Kekalahan Nurani

Oleh Djoko Susilo *
Minggu lalu, koran ini memuat dua tulisan yang mengulas sebab-musabab
kekalahan pasangan capres dan cawapres Amien Rais-Siswono Judo Husodo atau
terkenal dengan singkatan Arsis. Tidak jelas benar, mengapa yang diulas
pasangan tersebut, bukan yang lain. Dengan demikian, kiranya, kedua tulisan
itu patut ditanggapi secara sungguh-sungguh.

Pertama, tulisan Denny J.A. yang berjudul Mengapa Amien Rais Kalah? (koran
ini, 15 Juli 2004) yang isinya berargumentasi bahwa calon PAN tersebut kalah
karena telah menyempitkan segmentasi dukungan pemilihnya. Kedua, tulisan
Abdul Rohim Ghazali yang berjudul: Barang Bagus Dikemas Buruk (koran ini, 17
Juli). Tulisan itu, intinya, menyalahkan tim kampanye Amien Rais for
President (AFP) karena gagal menjual sang tokoh dengan nilai yang tinggi.

Menurut hemat saya, kedua penulis tersebut tidak mampu menjawab pertanyaan
yang mereka ajukan sendiri: mengapa Amien Rais kalah? Itu disebabkan
ketidakmengertian mereka tentang sang tokoh maupun pemilih Indonesia
sendiri. Amien tidak gagal karena persoalan segmentasi yang oleh Denny
dikatakan makin menyempit.

Atau, seperti ditulis Ghazali, Amien kalah karena tim AFP tidak mampu
menjualnya dengan baik karena mengemasnya dengan buruk. Tuduhan Ghazali
bahwa kinerja aktivis PAN tidak prima atau kalah moncer dibandingkan dengan
masyarakat proreformasi (MPR) pimpinan Din Syamsudin juga tidak sesuai
dengan fakta di lapangan.

Baik Denny maupun Ghazali gagal melihat perilaku pemilih di Indonesia:
nurani dikalahkan pragmatisme dan kepentingan jangka pendek. Secara khusus,
Denny merupakan contoh sikap pragmatisme politik seorang intelektual di
Indonesia. Di satu sisi, dia mengaku sebagai pengamat independen. Namun,
pada waktu yang sama, dia diduga menjadi partisan politik yang mendukung
capres dan cawapres SBY-Kalla.

Sebenarnya, seorang intelektual boleh saja berpolitik, tetapi harus jelas
garis dan warnanya, tak membungkus dirinya sebagai pengamat independen.
Memang, menjadi seorang intelektual sejati tidak mudah. Sebab, keyakinan dan
kejujuran sering mudah dikalahkan oleh kepentingan sesaat.

Dalam sejarah perjuangan Indonesia, tidak semua kaum terpelajar sadar untuk
memperjuangkan kepentingan bangsa. Sebagai contoh, pada awal 1920- an,
terdapat tidak kurang dari 6 ribu pelajar Indonesia di Belanda. Tetapi, yang
bergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia pimpinan Mohamad Hatta tidak
lebih dari 200-an mahasiswa.

Artinya, hanya sekitar 5 persen di antara mereka yang berkeinginan
memperjuangkan kemajuan dan kemerdekaan bangsanya. Lebih banyak kaum
terpelajar yang hanya siap mengabdi pemerintah kolonial daripada demi
bangsanya.

Dalam konteks pemilu presiden pertama yang baru saja berlalu, memang,
demokrasi telah menang. Tetapi, nurani dan kejujuran telah dikalahkan.
Benar, di antara seluruh suara yang masuk, pasangan Arsis menempati urutan
keempat dan pasangan SBY-Kalla menempati posisi pertama dengan suara lebih
dari 33 persen. Suara terbesar memang tidak dicapai Arsis dan itu sudah
kehendak pemilih. Hal tersebut harus dihargai.

Tetapi, di sinilah ironi terjadi. Konon, masyarakat mendambakan pemimpin
yang jujur, bersih, cerdas, dan tidak korup. Ternyata, semua itu tidak
sesuai dengan realita. Jelas sekali, Amien-Siswono adalah pasangan yang
dikenal jujur, bersih, cerdas, dan tidak korup. Tidak usah dikemas dengan
iklan yang paling indah pun, keunggulan pasangan itu sudah dikenal
masyarakat luas.

Tetapi, memang masyarakat tidak terlalu peduli dengan kejujuran, sikap
bersih, kecerdasan, dan korupsi. Mereka terjebak pada pragmatisme, siapa
yang paling bisa memberi (tidak peduli asal dananya), dialah yang akan
diberi suara.

Pengalaman saya sendiri selama kampanye legislatif mendukung kenyataan itu.
Berkali-kali, saya menerima berbagai kelompok masyarakat yang mengajukan
proposal bantuan dengan janji akan mengerahkan sekian ratus atau ribu orang
jika bantuan tersebut dipenuhi.

Mereka tidak peduli dengan voting records (catatan dukungan), kegiatan
pansus, atau public statement saya. Semua kegiatan parlemen saya selama
menjadi anggota DPR tidak terlalu penting jika saya tidak bisa memenuhi
permintaan sumbangan tersebut.

Saya khawatir, bangsa ini ternyata sangat menikmati korupsi dan membayangkan
bisa menikmati harta jarahan tersebut bersama sang koruptor.

Artinya, korupsi tidak boleh dilakukan kecuali oleh saudara atau temannya.
Sebab, jika itu dilakukan kerabat dan teman, saya pun akan bisa
menikmatinya. Tidak peduli, hal itu merugikan dan menghancurkan bangsa dan
negara. Yang penting bisa ikut mukti (menikmati), sekalipun itu hanya
sekadar selembar Rp 50 ribu dan lima kilogram beras menjelang hari
pencoblosan.

Dua puluh tahun lalu, almarhum Mohtar Lubis pernah menulis esai panjang yang
dibukukan dengan judul Manusia Indonesia. Salah satu kritik tajamnya adalah
manusia Indonesia suka bersikap munafik. Itu tidak berlebihan. Di satu sisi
menentang korupsi, tetapi dia tidak mendukung pemimpin yang bersih dan
antikorupsi. Di zaman Orde Lama pun, orang setulus dan seikhlas Bung Hatta
tidak laku. Begitu juga di zaman Orde Baru, tokoh jujur dan bersih seperti
mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Imam Santoso malahan dipinggirkan.

Dalam sejarah Indonesia, yang sering tampil sebagai pemimpin atau penguasa
adalah orang yang licik, preman, dan penuh tipu daya. Sejak zaman Ken Arok
hingga Mataram di zaman Sultan Agung, tipu muslihat lebih menonjol daripada
sikap jujur dan kesatria.

Pelajaran sejarah tersebut, bahkan sampai di masa modern ini, terus
berlanjut. Sejak awal, kehidupan manusia Indonesia sudah belajar untuk tidak
jujur dan korup, mulai dari yang sederhana seperti mencontek waktu ujian di
sekolah hingga nyogok untuk berbagai urusan.

Jadi, akhirnya, seperti terjadi pembenaran bahwa untuk menjadi manusia
sukses di Indonesia, janganlah menjadi orang yang jujur.

Pemilihan presiden, sebenarnya, merupakan deklarasi untuk mendukung atau
menentang korupsi, kejujuran, dan sikap hidup bersih. Kekalahan pasangan
Amien-Siswono yang dikenal bersih dan antikorupsi merupakan kekalahan
pilihan yang sesuai hati nurani. Ternyata, bersih, cerdas, jujur, religius,
dan antikorupsi saja belum cukup bisa diterima mayoritas pemilih. Juga,
teramat disesalkan bila kaum intelektual ikut mengalahkan hati nuraninya.
* Djoko Susilo, anggota Komisi I DPR

 
 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/4tWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk 
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, 
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke