Note: forwarded message attached.


Do you Yahoo!?
Vote for the stars of Yahoo!'s next ad campaign!

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

--- Begin Message ---
---------- Forwarded Message -----------
From: vie mary <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wed, 21 Jul 2004 20:05:50 -0700 (PDT)
Subject: Fwd: Jodoh dan Kedewasaan Kita

Note: forwarded message attached.

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Vote for the stars of Yahoo!'s next ad campaign!
------- End of Forwarded Message -------


Linda Erna Susanti
PT. Smessindo Sakti Mandraguna
Laboratory Division
Jl. Diponegoro KM 40 No. 62 Tambun-Bekasi 17510
Phone.62-21 8808619/20 
Fax. 62-21-88354786


Note: forwarded message attached.


Do you Yahoo!?
Vote for the stars of Yahoo!'s next ad campaign!
--- Begin Message ---

--- End Message ---
 




Hakekat Perkawinan - Sekedar Kutipan:


 
Untuk Suami & Istri
 
Pernikahan ataupun Perkawinan Membuka Tabir Rahasia
 
Suami yang menikahi kamu,
Tidaklah Semulia Muhammad,
Tidaklah Setakwa Ibrahim,
Pun Tidak Setabah Ayub,
Ataupun Segagah Musa,
Apalagi Setampan Yusuf,
Justru Suamimu
Hanyalah Pria Akhir Zaman 
Yang Punya Cita-Cita
Membangun keturunan yang soleh
 
Pernikahan ataupun Perkawinan Mengajari Kita Kewajiban Bersama
 
Suami Menjadi Pelindung, Istri penghuninya
Suami Nahkoda kapal, Istri Navigatornya
Jika Suami balita yang nakal, maka Istrilah penuntun kenakalannya
Saat Suami menjadi Raja, Istri menikmati Anggur Singgasananya
Seandainya Suami masinis yang lancang, Sabarlah memperingatkannya,
 
Pernikahan ataupun Perkawinan mengajarkan kita perlunya Iman dan Takwa
 
Untuk belajar meniti Sabar & Ridho
Karena memiliki Suami yang tak segagah mana
Ataupun Istri yang tak secantik siapa
Justru kau akan tersentak dari Alpa
 
Istri yang kau nikahi 
Bukanlah Khadijah yang begitu sempurna didalam menjaga
Pun Bukanlah Hajar yang begitu setia dalam sengsara
Istri yang kau nikahi
Cuma Wanita akhir zaman yang berusaha menjadi soleh....
 

Jodoh dan Kedewasaan Kita 

Jodoh adalah problema serius, terutama bagi para 
Muslimah. Kemana pun mereka melangkah, 
pertanyaan-pertanyaan "kreatif" tiada henti 
membayangi. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang 
pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda 
menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku 
jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau 
jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil? 

Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita. 
Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu 
bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan 
rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius 
tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala 
sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada 
mulanya, kriteria calon hanya menjadi 'bagian 
masalah', namun kemudian justru menjadi inti 
permasalahan itu sendiri. 

Di sini orang berlomba mengajukan "standardisasi" 
calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan 
luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang 
keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan. 


Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan, 
 "Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?" Memang, ada 
juga jawaban lain, "Saya tidak pernah menuntut. Yang 
penting bagi saya calon yang shalih saja." Sayangnya, 
jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai 
menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar 
senyum pun mahal. 

Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih 
cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat 
superior (serbaunggul). Memperhitungkan kriteria calon 
memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah 
menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah. 
Pengalaman riil di lapangan kerap kali 
menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama 
ini. 

Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung 
pada kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu, 
menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus 
menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka 
hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan 
untuk menjemput kehidupan rumah tangga. 

Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah, 
bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang 
India, Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa 
kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku 
dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang 
kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap 
menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri 
untuk berletih-letih membina keluarga. 

Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan 
individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih 
berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai 
penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa 
yang dia impikan? 

Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi 
muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka 
sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan 
yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk 
meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus 
ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya. 
Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan 
itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari 
siapa pun. 

Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, 
jika kita tidak pernah siap untuk itu? "Tidaklah Allah 
membebani seseorang melainkan sekadar sesuai 
kesanggupannya." (QS Al Baqarah, 286). Di balik 
fenomena "telat nikah" sebenarnya ada bukti-bukti 
kasih sayang Allah SWT. 

Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu 
akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati 
seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita 
kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan 
lapang dada. 

Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun 
bertanyalah, sudah dewasakah aku? 

Wallahu a'lam bisshawaab. 



Title: Jodoh dan Kedewasaan Kita
 

Hakekat Perkawinan - Sekedar Kutipan:

 
Untuk Suami & Istri
 
Pernikahan ataupun Perkawinan Membuka Tabir Rahasia
 
Suami yang menikahi kamu,
Tidaklah Semulia Muhammad,
Tidaklah Setakwa Ibrahim,
Pun Tidak Setabah Ayub,
Ataupun Segagah Musa,
Apalagi Setampan Yusuf,
Justru Suamimu
Hanyalah Pria Akhir Zaman
Yang Punya Cita-Cita
Membangun keturunan yang soleh
 
Pernikahan ataupun Perkawinan Mengajari Kita Kewajiban Bersama
 
Suami Menjadi Pelindung, Istri penghuninya
Suami Nahkoda kapal, Istri Navigatornya
Jika Suami balita yang nakal, maka Istrilah penuntun kenakalannya
Saat Suami menjadi Raja, Istri menikmati Anggur Singgasananya
Seandainya Suami masinis yang lancang, Sabarlah memperingatkannya,
 
Pernikahan ataupun Perkawinan mengajarkan kita perlunya Iman dan Takwa
 
Untuk belajar meniti Sabar & Ridho
Karena memiliki Suami yang tak segagah mana
Ataupun Istri yang tak secantik siapa
Justru kau akan tersentak dari Alpa
 
Istri yang kau nikahi
Bukanlah Khadijah yang begitu sempurna didalam menjaga
Pun Bukanlah Hajar yang begitu setia dalam sengsara
Istri yang kau nikahi
Cuma Wanita akhir zaman yang berusaha menjadi soleh....
 
Jodoh dan Kedewasaan Kita

Jodoh adalah problema serius, terutama bagi para
Muslimah. Kemana pun mereka melangkah,
pertanyaan-pertanyaan "kreatif" tiada henti
membayangi. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang
pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda
menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku
jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau
jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil?

Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita.
Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu
bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan
rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius
tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala
sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada
mulanya, kriteria calon hanya menjadi 'bagian
masalah', namun kemudian justru menjadi inti
permasalahan itu sendiri.

Di sini orang berlomba mengajukan "standardisasi"
calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan
luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang
keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan.


Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan,
 "Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?" Memang, ada
juga jawaban lain, "Saya tidak pernah menuntut. Yang
penting bagi saya calon yang shalih saja." Sayangnya,
jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai
menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar
senyum pun mahal.

Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih
cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat
superior (serbaunggul). Memperhitungkan kriteria calon
memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah
menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah.
Pengalaman riil di lapangan kerap kali
menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama
ini.

Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung
pada kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu,
menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus
menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka
hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan
untuk menjemput kehidupan rumah tangga.

Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah,
bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang
India, Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa
kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku
dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang
kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap
menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri
untuk berletih-letih membina keluarga.

Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan
individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih
berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai
penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa
yang dia impikan?

Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi
muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka
sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan
yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk
meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus
ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya.
Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan
itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari
siapa pun.

Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh,
jika kita tidak pernah siap untuk itu? "Tidaklah Allah
membebani seseorang melainkan sekadar sesuai
kesanggupannya." (QS Al Baqarah, 286). Di balik
fenomena "telat nikah" sebenarnya ada bukti-bukti
kasih sayang Allah SWT.

Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu
akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati
seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita
kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan
lapang dada.

Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun
bertanyalah, sudah dewasakah aku?

Wallahu a'lam bisshawaab.



--- End Message ---

Kirim email ke