makasih banget postingannya....

mungkin bagi yang cuma membaca, ada sedikit rasa masa sih atau bener 
gak sih...
dulu pun saya memikirkan hal yang sm 'kayaknya gak mungkin deh'

tp setelah saya belajar di KL, malay untuk satu tahun, cukup banyak 
pengalaman yang mebuat saya berpikir 'kenapa harus ada diskriminasi, 
bukan saya yang minta untuk dilahirkan sebagai seorang yg 
berkebangsaan indonesia, atau pun apa anda lebih baik dr saya??'
pikiran itu yang ada di benak saya ketika mendapat perlakuan gak 
enak dr orang malay, dan yg menyedihkan, dr sesama bangsa sendiri '
pramugari merpati'

ketika saya belajar bahasa jepang, dan juga science untuk persiapan 
ujian masuk di univ jepang, ada satu sensei(guru) yang berkebangsaan 
malaysia, tetapi keturunan china. Ketika itu ada soal matrix yg 
diberikan, pd saat itu saya hanya mencoba untuk menjawab soal itu, 
tetpi entah kenapa tiba2 pandangannya tajam dan bicara 'this is the 
easiest one, you will find the hardest one later'
ups....mungkin cara saya menjawab soal itu salah. dan pada akhirnya 
saya biasakan untuk menyimpan jawaban saya sendiri.
tetapi di saat saya tidak menjawab, dan ada seorang teman yg 
berkebangsaan thailand keturunan china menjawab sang sensei 
berkata 'hey, you are great, you are so clever'...
and then i just wondered 'hey, what does it mean???' 
gak bisa ngapa2in...cuma berusaha untuk menyelesaikan soal2 yg 
diberikan sensei secara cepat, dan pasang tampang saya sudah 
selese...
karena saya orang yg cukup frontal, dan berani menentang even he is 
my sensei...(gawat juga sih sebenernya di jepang skr ini, soalnya 
sensei dianggap tuhan :(( )
(red - ga ada maksud untuk mendiskreditkan satu suku atau ras 
tertentu, mohon maaf)

pengalaman yg kedua, ketika hendak kembali ke tanah air pada saat 
liburan
naik merpati, dan ketika di atas pesawat, tanpa ada  basa basi, sang 
pramugari berkata 'ada ringgit, tuker donk.punya berapa??'
apakah kata2 ini pantas terlontar dari mulut seorang pramugari yang 
terlihat cantik, yang profesionalismenya dilihat dr cara mereka 
meberi pelayanan kepada penumpang
saya pikir TIDAK sama sekali...
kalo sang pramugari berpikir saya adalah seorang pembantu rumah 
tangga yg hendak pulang ke tanah air bertemu keluarga, tetap itu 
tidak pantas diucapkan.
biar bagaimana pun juga, gaji dia adalah penumpang yang bayar...
tidak ada hak dia untuk memperlakukan penumpang, walaupun TKI 
sekalipun dengan perlakuan seperti itu......

mustinya dikirim ke customer service nya merpati ya....

itu aja pengalaman dari saya...
semoga saja semua manusia di dunia ini semakin mengerti tentang hak 
asasi manusia
semua manusia adalah sama, yang berbeda adalah amalnya di mata 
Tuhan..
:))

regards, uy
 

--- In [EMAIL PROTECTED], Nurina Tri Cahyanti <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> 
> 
> Note: forwarded message attached.
> 
> 
> ---------------------------------
>   Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends 
today! Download Messenger Now
> Ternyata, Diskriminasi itu ada dimana-mana 
> 
> Oleh Suraiya Kamaruzzaman 
> 
> 13 Juli 2004. Ani menemui seorang teller di counter HSBC, Hongkong.
> Buruh migran Indonesia (BMI) yang bekerja di Hongkong itu 
bermaksud 
> membuka
> sebuah joint account. "Are you domestic helper?" tanya pegawai 
itu, 
> yang
> dijawab dengan anggukan kepala Ani. Kalimat berikutnya sungguh 
> mengejutkan.
> "Pembantu rumah tangga tidak bisa membuka rekening di HSBC," tutur 
> pegawai
> bank itu. Tidak ingin menyerah, Ani menjelaskan bahwa rekening itu 
akan
> dibuka bersama rekannya yang bukan pembantu rumah tangga.
> 
> Tapi, persoalan belum selesai dan si petugas meminta Ani menunggu, 
> sampai
> saya hadir bersama seorang rekan dari negara lain. Setelah 
mendapat 
> beberapa
> penjelasan, ia mengatakan kami bisa membuka rekening dimaksud. Ia 
> melayani
> dengan ramah, cepat tanpa lupa memberikan advis yang menyenangkan.
> Pelayanannya membuat teman saya memutuskan untuk membuka satu 
rekening 
> bank
> pribadi di HSBC. Sesaat kemudian, ia beranjak untuk berbicara 
dengan
> managernya. "Kalian warga negara mana?" tanyanya kepada kami 
sebelum ia
> melangkah.
> 
> Tak lama kemudian ia kembali. "Maaf, menurut peraturan bank ini, 
semua 
> warga
> negara Indonesia tidak bisa membuka rekening di HSBC," katanya.
> Pernyataan itu tentu saja membuat kami heran. Kenapa? Karena kami 
warga
> Indonesia, katanya! "Ini diskriminasi!" saya berdiri dan menyergah 
> dengan
> nada tinggi. Tapi, si pegawai memang hanya menjalankan kebijakan 
bank. 
> "I am
> sorry, this is our bank policy"
> katanya
> 
> Menurutnya, peraturan tersebut berlaku sejak dua atau tiga tahun 
lalu.
> Dia tidak ingat pasti. Padahal, sejak mulai kuliah di Hongkong 1,5 
> tahun
> lalu, saya mempunyai rekening di HSBC. Juga Ani. Tapi, si pegawai 
tidak
> bereaksi apapun ketika kami menunjukkan buku rekening kami di depan
> hidungnya. Hari itu juga saya mengirim surat pembaca ke South 
China 
> Morning
> Post dengan tembusan ke Jakarta Post.
> 
> 20 Juli 1004. Saya menemani seorang BMI ke kantor Marriage 
Register.
> Kon! on, di kantor itu berlaku juga perlakuan diskriminatif dan 
> melecehkan.
> Kalau ada BMI yang menikah dengan penduduk lokal, pasangan itu 
sering
> ditanyai hal sangat pribadi dalam ruang yang saling terpisah. 
Misalnya,
> warna celana dalam favorit pasangan, berapa kali having sex dalam 
> seminggu,
> dimana calon pengantin diwawancarai dalam ruangan berbeda. Ini 
> bullshit.
> Bagaimana mereka merasa mempunyai hak untuk mengorek-ngorek 
persoalan 
> sangat
> personal? Melanggar hak asasi manusia, juga melanggar nilai-nilai
> kepercayaan yang dianut oleh masyarakat tertentu, tidak boleh 
melakukan
> kontak seksual sebelum menikah. Katanya pemerintah Hongkong 
khawatir, 
> buruh
> migran menikah dengan warga lokal hanya sebagai cara untuk mendapat
> permanent resident. Bukan karena cinta. So what? Sejak kapan pula 
> pemerintah
> Hongkong disibukkan mengurus cinta rakyatnya? Atau ini 
diskriminasi 
> karena
> Indonesia dan Hongkong mempunyai situasi ekonomi berbeda?
> 
> Begitu kami menghadap, petugas pendaftaran menyap! a, "'Tell me, 
which 
> one
> domestic helper?". Saya kaget dengan pertanyaan itu. Apa bedanya?
> Toh peraturan tertulis tentang perkawinan di kantor ini, sama bagi 
> semua
> orang. Bisa dipahami, jika pertanyaan itu diajukan di kantor 
imigrasi.
> Karena mereka mengurus status berbeda, misalnya perpanjang visa 
turis,
> perpanjangan kontrak domestic helper, untuk ngurus permanent 
residen, 
> dan
> lainnya, dimana semuanya mempunyai persyaratan dan formulir 
berbeda.
> 
> Masih ada cerita lain dari seorang teman BMI dari Yogya. Beberapa 
tahun
> lalu, tuturnya, setiap makan malam, Dia di suruh pindah oleh 
majikannya
> (warga lokal). "Kamu pergi dari depan meja, kami tidak sanggup 
menelan
> makanan karena kulitmu hitam sekali". Ini betul-betul penghinaan. 
> Padahal
> yang dimakannya masakan si 'Hitam" tadi, yang sebenarnya berkulit 
sawo
> matang dan berparas cantik.
> 
> Perlakuan diskriminatif dan tidak menyenangkan terhadap warga 
Indonesia 
> di
> Hong Kong, khususnya yang bekerja sebagai pembantu rumah ! tangga,
> samasekali bukan hal baru. Apalagi langka. Dan lebih dari itu, 
besarnya
> jumlah WNI yang bekerja sebagai domestic helper di Hongkong juga
> menghidupkan "kebiasaan" membentak atau merendahkah siapapun, 
asalkan 
> dia
> berkulit dan berwajah Indonesia. Pengalaman saya berikut mungkin 
bisa 
> jadi
> contoh.
> 
> Pulang dari kantor imigrasi, di Lamma Island akhir tahun lalu, 
saya 
> berjalan
> sambil setengah melamun ketika di depan saya ada seorang bocah 3,5 
> tahun
> yang naik sepeda kecil. Rupanya tanpa disengaja, setang sepeda 
mengenai
> tangan seorang ibu-ibu sekitar 60-an tahun.
> Tidak ada luka, bahkan mungkin tekanan sepeda kecil itu tidak 
terasa.
> Tapi si bocah turun dari sepedanya. "I am so sorry, Madam" katanya 
> dengan
> santun.
> 
> Pemandangan itu sungguh membuat saya terkesan dan menghentikan 
langkah.
> Tanpa saya duga, tiba-tiba si ibu berambut pirang dan berkulit 
putih 
> itu
> melotot ke arah saya dan membentak "Lain kali hati-hati kalau 
bekerja!.
> Sepersekian detik saya tertegun, seb! elum saya sadar bahwa ada 
tak 
> kurang
> 83.000 perempuan Indonesia, rekan saya yang mencari sesuap nasi di 
> negeri
> ini. Jadi pembantu rumah tangga, menjadi pengasuh anak. Saya 
pandangi 
> si Ibu
> dengan dingin, tanpa berkata sepatahpun. Dari sorot matanya, saya 
tahu 
> dia
> menyadari kekeliruannya. Tapi, tidak ada permintaan maaf 
sedikitpun 
> keluar
> dari mulutnya. Ia mundur selangkah, membalikkan badan, dan pergi. 
> Anggapan
> sebagai pembantu tidak membuat saya kecewa, tetapi memperlakukan 
orang
> berbeda karena jenis pekerjaannya yang membuat saya terluka.
> 
> Minggu lalu, seorang teman BMI dari Jawa Timur bercerita, Dia 
pernah
> diberhentikan majikan semena-mena. Empat bulan bekerja, tak pernah
> sepatahpun mendapat protes. Baik dari segi kebersihan rumah, 
kepintaran
> masak ataupun kemampuannya berbahasa Kanton. Suatu malam, tiba-
tiba 
> Majikan
> mengatakan "Kamu saya berhentikan, orang Indonesia itu, hitam, 
kotor, 
> dan
> bau". Badannya gemetar menahan marah. "Kalau aku dibilangnya 
kotor, 
> kerja
> tidak beres, ! bisa kuterima. Tapi Dia menyebutnya orang Indonesia 
> hitam dan
> bau, untuk sebuah kesalahan yang tak kumengerti," suara serak
> 
> Tak jarang di mall atau supermaket, saya perhatikan rekan senegara
> dibentak-bentak majikan di depan umum, "Dasar Kamu orang 
Indonesia, 
> bodoh!
> Tolol semuanya!" Makian semacam itu bertaburan, untuk seluruh orang
> Indonesia, hanya untuk hal sederhana, misalnya anak asuhan merajuk.
> Orang-orang lalu lalang melirik sejenak, dan meneruskan 
aktifitasnya
> masing-masing. Saya marah, maju selangkah dan ingin menegur si 
majikan, 
> agar
> hati-hati kalau bicara. Tapi pandangan memelas dan mata berkaca 
dari 
> rekan
> yang saya tidak tahu nama, dan datang dari Indonesia belahan mana, 
> membuat
> langkah saya surut.
> Mungkin ia khawatir protes saya hanya akan membuatnya kehilangan 
> pekerjaan.
> 
> Sejak di Hongkong, beberapa kali saya menelpon KBRI tanpa menyebut 
> identitas
> pribadi; menanyakan perpanjangan paspor atau bertanya tentang 
pemilu.
> Walaupun informasinya tidak cukup le! ngkap, nada suara cukup 
ramah dan
> bersahabat. Pernah juga disarankan untuk datang kekedutaan 
langsung. 
> Ketika
> datang untuk bertanya hasil pemilu 5 Mei, saya mendapat pelayanan 
> sangat
> baik, juga informasi lengkap. Padahal saya melihat di ruang pojok 
kiri
> lantai dasar gedung Kedubes, seorang BMI kena bentak gara-gara 
belum
> melampirkan surat izin orang tua untuk kepentingan pernikahannya
> 
> Dua hari lalu, saya menelpon bagian Konsuler di KBRI untuk 
menanyakan
> peraturan kontrak baru bagi BMI tanpa bantuan agen. Mungkin karena 
saya
> bertanya soal kontrak, nada suara di ujung sana menjadi tak ramah, 
> "Kamu
> datang saja ke Kedutaan!". Sepotong informasipun tidak saya dapat, 
> kecuali
> berkamu-kamu dengan kesan tertangkap secara gamblang. Bahkan nama 
> penerima
> telepon saya saja tidak saya dapat "Kamu datang saja kebagian 
> konsuler!"
> katanya sambil menutup telpon.
> Dari suaranya, saya tahu ia perempuan.
> 
> Lima hari sebelumnya, seorang teman BMI lebih memilih pulang ke 
> Indonesia
> dari pada! membuka jilbab untuk mendapatkan majikan.
> Padahal, sudah beberapa tahun, ia tidak pernah menemui masalah 
> jilbabnya,
> bahkan ketika ia tengah bekerja di rumah majikannya sekalipun! 
Tetapi
> baru-baru ini nenek yang diasuhnya meninggal, sehingga kontraknya 
tidak
> diperpanjang. Tidak ada lagi tugas yang harus dilaksanakan. Tidak 
ada
> permintaan/paksaan dari agen untuk membuka jilbab (kecuali bagi 
yang 
> baru
> datang dan kontrak pertama sekali). Tapi berhari-hari menunggu, 
tidak 
> ada
> satu majikanpun yang ditawarkan agen padanya. Pernah Ia mencoba 
mencari
> sendiri, tapi majikan keberatan dengan shalat yang 5 kali sehari 
itu. 
> "Kamu
> mau kerja apa mau sembahyang," katanya ketus.
> 
> Fragmen di atas hanyalah sebagian dari kisah mengenaskan perempuan 
> Indonesia
> di Hongkong, atau mungkin juga di negara-negara lain. Mereka 
mengalami
> diskriminasi berlapis dari berbagai pihak. Karena kebangsaannya, 
warna
> kulit, pilihan agama, sampai kepada jenis pekerjaannya. Bukan 
hanya 
> dari
> majikan, tapi juga dari ag! en, petugas bank, atau pegawai kantor 
> lainnya,
> dari warga negara asing lainnya yang berada di Hongkong, sampai ke 
KJRI
> sendiri.
> 
> Saya tidak tahu bagaimana mereka bisa merasa "lebih manusia" 
daripada 
> yang
> lain. Saya juga tidak tahu apakah mereka faham bahwa perbedaan 
warna 
> kulit,
> kebangsaan, bahasa, penampilan fisik, agama dan keyakinan atau 
apapun
> lainnya tidak pernah menjadikan seseorang "lebih manusia"
> daripada yang lain.
> 
> Kowloon Tong, 22 Juli 04 
> 
> 
> Suraiya Kamaruzzaman,adalah adalah Academic Visitor Southeast Asia 
> Research
> Centre, City University of Hong Kong. Artikel ini pernah dimuat di 
> Medium
> edisi 36/II/2004.
> 
> 
>               
> ---------------------------------
>  ALL-NEW Yahoo! Messenger - all new features - even more fun!  
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/4tWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk 
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, 
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke