Semoga bemanfaat…;-)
Best Regards,![]()
Lina Sri Rosmawan
`if best is
possible, then good is not enough`
From: maria.brigitta
Sent: Tuesday, October
19, 2004 11:33 AM
To:
Subject: Fwd: Telaga
Hati, Pohon Tua & Putri Qara
Nasehat yang baik.........
Telaga hati
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada
suatu pagi, datanglah
seorang anak muda yang sedang dirundung banyak
masalah. Langkahnya gontai
dan air muka yang ruwet. Pemuda itu, memang tampak
seperti orang yang tak
bahagia. Pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak
Tua yang bijak
mendengarkan dengan seksama. Beliau lalu mengambil
segenggam garam dan
segelas air. Dimasukkannya garam itu ke dalam gelas,
lalu diaduk perlahan.
"Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya," ujar
Pak tua itu.
"Asin. Asin sekali," jawab sang tamu, sambil meludah
kesamping.
Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Beliau
lalu mengajak sang
pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal Beliau.
Sesampai di tepi
telaga, Pak Tua menaburkan segenggam garam ke dalam
telaga itu. Dengan
sepotong kayu, diaduknya air telaga itu.
"Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah."
Saat pemuda itu selesai mereguk air itu, Beliau
bertanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar," sahut sang pemuda.
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?" tanya
Beliau lagi.
"Tidak," jawab si anak muda.
Dengan lembut Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak
muda. "Anak muda,
dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya
segenggam garam tadi, tak
lebih dan tak kurang. Jumlah garam yang kutaburkan
sama, tetapi rasa air yang
kau rasakan berbeda. Demikian pula kepahitan akan
kegagalan yang kita rasakan
dalam hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah
yang kita miliki.
Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat
kita meletakkan segalanya. Itu
semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu
merasakan kepahitan
dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang
bisa kamu lakukan.
Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah
hatimu untuk menampung
setiap kepahitan itu."
Beliau melanjutkan nasehatnya.
"Hatimu adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu.
Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.
Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah
laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu
dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."
=============================================
Pohon Tua
Suatu ketika, di sebuah padang,
tersebutlah sebatang
pohon rindang. Dahannya
rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang.
Akarnya, tampak menonjol
keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon itu, tampak
gagah di banding
dengan pohon-pohon lain di sekitarnya.
Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa
burung disana. Mereka membuat sarang, dan bergantung
hidup pada batang-batangnya. Burung-burung itu membuat
lubang, dan mengerami telur-telur mereka dalam
kebesaran pohon itu. Pohon itupun merasa senang,
mendapatkan teman, saat mengisi hari-harinya yang
panjang.
Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon
tersebut. Mereka kerap
singgah, dan berteduh pada kerindangan pohon itu.
Orang-orang itu sering
duduk, dan membuka bekal makan, di bawah naungan
dahan-dahan. "Pohon yang
sangat berguna," begitu ujar mereka setiap selesai
berteduh. Lagi-lagi, sang
pohon pun bangga mendengar perkataan tadi.
Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai
sakit-sakitan.
Daun-daunnya rontok, ranting-rantingnya pun mulai
berjatuhan. Tubuhnya, kini
mulai kurus dan pucat. Tak ada lagi kegagahan yang
dulu di milikinya.
Burung-burung pun mulai enggan bersarang disana. Orang
yang lewat, tak lagi
mau mampir dan singgah untuk berteduh.
Sang pohon pun bersedih. "Ya Tuhan, mengapa begitu
berat ujian yang Kau
berikan padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau
mendekatiku. Mengapa
Kau ambil semua kemuliaan yang pernah aku miliki?"
begitu ratap sang pohon,
hingga terdengar ke seluruh hutan. "Mengapa tak Kau
tumbangkan saja tubuhku,
agar aku tak perlu merasakan siksaan ini?" Sang pohon
terus menangis,
membasahi tubuhnya yang kering.
Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau
berubah. Sang pohon tetap
kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak
semakin kering. Ratap dan
tangis terus terdengar setiap malam, mengisi
malam-malam hening yang panjang.
Hingga pada saat pagi menjelang.
"Cittt...cericirit...cittt" Ah suara apa itu?
Ternyata, ada seekor anak burung
yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam
lamunannya.
"Cittt...cericirit...cittt," suara itu makin keras
melengking. Ada
lagi anak
burung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon
itu atas kelahiran
burung-burung baru. Satu... dua... tiga... dan empat
anak burung lahir ke
dunia. "Ah, doaku di jawab-Nya," begitu seru sang
pohon.
Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah
pohon itu. Mereka,
akan membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu
yang kering, mengundang
burung dengan jenis tertentu tertarik untuk mau
bersarang disana.
Burung-burung itu merasa lebih hangat berada di dalam
batang yang kering, ketimbang sebelumnya. Jumlahnya
pun lebih banyak dan lebih beragam. "Ah, kini hariku
makin cerah bersama burung-burung ini", gumam sang
pohon dengan berbinar.
Sang pohon pun kembali bergembira. Dan ketika
dilihatnya ke bawah, hatinya
kembali membuncah. Ada
sebatang tunas baru yang muncul
di dekat akarnya.
Sang Tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya, airmata sang
pohon tua itu,
membuahkan bibit baru yang akan melanjutkan
pengabdiannya pada alam.
***
Teman, begitulah. Adakah hikmah yang dapat kita petik
disana? Allah memang
selalu punya rencana-rencana rahasia buat kita. Allah,
dengan kuasa yang
Maha Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan
jawaban-jawaban buat kita.
Walaupun kadang penyelesaiannya tak selalu mudah di
tebak, namun, yakinlah,
Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.
Saat dititipkan-Nya cobaan buat kita, maka di saat
lain, diberikan-Nya kita
karunia yang berlimpah. Ujian yang sandingkan-Nya,
bukanlah harga mati.
Bukanlah suatu hal yang tak dapat disiasati. Saat
Allah memberikan cobaan
pada sang Pohon, maka, sesungguhnya Allah, sedang
MENUNDA memberikan
kemuliaan-Nya. Allah tidak memilih untuk
menumbangkannya, sebab, Dia
menyimpan sejumlah rahasia. Allah, sedang menguji
kesabaran yang dimiliki.
Teman, yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi,
adalah bagian dari
rangkaian kemuliaan yang sedang dipersiapkan-Nya buat
kita. Jangan putus asa,
jangan lemah hati. Allah, selalu bersama orang-orang
yang sabar.
==========================================
Putri Qara
Diceritakan bahwa Putri Qara adalah istri saudagar
kaya Amenhotep, berasal
dari keluarga sederhana, tapi pintar, bijaksana dan
berbudi pekerti yang
baik. Karena ia berasal dari keluarga yang lebih
miskin dibanding dengan
suaminya, ia sering diperlakukan dengan tidak
selayaknya, sampai suatu hari
ia dan suaminya pergi ke desa nelayan dan melihat ada
seorang nelayan yang
miskin dan istrinya. Nelayan tersebut sangat miskin
dan bahkan untuk
membeli jala yang baru untuk mengganti jalanya yang
robek pun ia tidak
mampu. Istri nelayan tersebut adalah orang yang
pemboros, malas dan suka
berjudi, seluruh penghasilan suaminya digunakannya
untuk berfoya-foya.
Melihat kenyataan seperti itu, Putri Qara berkata
kepada suaminya, bahwa
seharusnya istri nelayan tersebut membantu memperbaiki
jala suaminya.
Amenhotep, menentang pendapat istrinya, mereka
berdebat, sehingga Amenhotep
marah dan kemudian memanggil nelayan miskin tersebut.
Amenhotep menukarkan
Putri Qara dengan istri nelayan tersebut.
Putri Qara sedih karena terhina, suaminya
memperlakukan seolah-olah dia
adalah barang yang bisa dipertukarkan semaunya. Sang
nelayan tertegun dan
tidak berani membantah, karena Amenhotep terkenal
kejam dan sadis karena
kekayaannya.
Putri Qara rajin membantu suaminya yang baru dalam
bekerja. Karena kepandaian dan kebijaksanaan Putri
Qara, lambat laun sang nelayan menjadi kaya.
Sampai suatu ketika ada seorang tua dengan baju
compang-camping dan tidak
terurus datang ke rumah Putri Qara, pelayan dirumah
tersebut mengenalinya sebagai Amenhotep. Amenhotep
kemudian melepas terompahnya dan meletakkan di
meja kecil di sudut rumah Putri Qara. Oleh pelayan,
terompah tersebut diberikan pada Putri Qara dan
menceritakan kondisi pemiliknya, sang Putri mengenali
terompah tersebut dan memerintahkan pelayannya untuk
memberikan pada Amenhotep baju baru, terompah baru dan
3 keping uang emas ditambah pesan : aku tidak diwarisi
kekayaan tetapi budi pekerti, kebijaksanaa dan kemauan
untuk bekerja.
Amenhotep menerima pemberian itu dengan penyesalan
akan tindakannya di masa
lalu, karena egonya dia menukar istrinya yang baik dan
bijaksana dengan
seorang wanita yang hanya bisa menghamburkan harta
suaminya.
Cerita tersebut sederhana, tapi menyentuh karena
ternyata begitu besar
pengaruh seorang istri untuk suaminya.
Oleh karenanya, hai wanita dampingi dan dukunglah pria
dengan bijaksana,
dan hai pria perlakukanlah wanita dengan penuh kasih,
karena pada setiap pria yang sukses pasti terdapat
seorang wanita yang mendukungnya dengan bijaksana.
--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
| Yahoo! Groups Sponsor |
ADVERTISEMENT
![click here]() | |
![]() |
Yahoo! Groups Links
|