----- Original Message -----
Sent: Friday, October 29, 2004 11:09 AM
Subject: Kepemimpinan 'Partnership' Suami

Message
> sharing untuk kaum wanita karir....
>
>
> >
> > tulisan ini menurutku bagus...
> >
> > Kepemimpinan 'Partnership' Suami
> >
> > Selama juli kemarin, saya dan anak-anak empat kali ditinggal istri.
> Mula-mula ia pergi ke Singapura. dua hari disana. Senin berikutnya,
> ia terbang ke Kamboja dan baru pulang Jum'at malam. Seninnya lagi,
> ia
> berangkat
> > ke Srilangka.lagi-lagi pulang jumat. Dua hari kemudian ahad, ia
> terbang
ke
> > San Fransisco, hingga ahad berikutnya.
> >
> > Situasi itu tak lazim bagi kebanyakan keluarga kita. Bagi keluarga
> saya
> yang
> > demikian itu sudah semakin menjadi biasa. Ira istri saya, belakangan
> ini semakin sering pergi. Dalam sebulan, rata-rata ia tiga kali
> keluar
negeri.
> > terutama sejak ia ditunjuk sebagai manajer Divisi Vendor Compliance
untuk
> > wilaya Asia Tenggara.
> >
> > Tahun lalu Ira hanya menangani 80 pabrik di Indonesia. mulai dari
> Medan, Batam-Bintan hingga Pasuruan. Dengan pekerjaaanya itu, Ira
> harus
> memastikan
> > bahwa 80.000 buruh yang bekerja untuk pabrik-pabrik suplier
> > perusahaanya-sebuah industri garmen Amerika dan kini terbesar
> > sedunia-mendapat perlakuan secara memadai. Setidaknya agar mereka
> tidak diperas pabrik, mendapat haknya secara wajar, mendapat
> lingkungan kerja
> yang
> > memadai untuk ukuran industri, serta keselamatan kerjanya pun
> terjamin. Tahun ini jangkauan Ira diperluas. Kini ia harus
> bertanggung jawab atas kondisi pekerja sekitar 350 pabrik di Asia
> Tenggara. Indonesia tentu
saja
> > Singapura, Malaysia Kambojadan Brunei. Ia harus memonitor secara
> detil
> iklim
> > kerja diseluruh pabrik tersebut, sekaligus mempelajari undang-undang
> tentang
> > ketenagakerjaan setiap negara. Ia harus berdebat dan 'menaklukan'
> para pengusaha yang nakal, sekaligus meyakinkan kawannya dari divisi
> lain
yang
> > berkepentingan menjalin bisnis dengan pengusaha tersebut. Hampir
> semua mereka beretnis Tionghoa dari berbagai negara. Tak satupun
> Melayu. Saya Insya Allah, tidak terganggu sama sekali dengan
> kesibukan Ira yang
sangat
> > padat tersebut. Setidaknya sejak saya memutuskan untuk memperistri
> Ira,
> 1987
> > lalu. Sedari kecil ia bukan sosok yang "baik-baik" tinggal di rumah.
> Mungkin
> > karena kehilangan figur ayahnya yang meninggal , ia mencari lewat
berbagai
> > kegiatan. Drama di waktu SD, pramuka dan kegiatan Masjid di waktu
> SMP,
> serta
> > Osis (ia salah seorang ketua) di SMU.
> > Saat menikah, ia baru kuliah tingkat satu. Saya harus hijrah kembali
> ke Jakarta (dari Surabaya) sedangkan ia berada di Malang, sambil
> harus membesarkan anak seorang diri. Ira dapat menyelesaikan
> kuliahnya tepat
> waktu
> > di Universitas Brawijaya bahkan menjadi salah satu lulusan terbaik
> di fakultasnya.
> >
> > Kemudian, tujuh tahun digerakan konsumen memberinya akses yang luas
> pada jaringan Internasional. Para aktifis gerakana yang
> mempromosikan ASI-dan menentang penggunaan susu formula bagi
> bayi-dunia terutama dari kalangan IBFAN (International Baby Food
> Action Network) mengenalnya dengan baik. Desember lalu ia bahkan
> diminta oleh IBFAN untuk mewakili Asia-kemudian bahkan Dunia-untuk
> menerima penghargaan Right Liverhood Award yang di
> Swedia
> > diisitilahkan sebagai "Nobel Alternatif".
> > Ira di usianya kini 31 tahun-berpidato di depan parlemen Swedia.
> Lengkap dengan jilbabnya pula. Esoknya, fotonya pun muncul
> dibeberapa surat
kabar
> > setempat. Juli, di tahun yang sama Ira juga memberi pidato puncak
> pada sekitar 500-an manajer perusahaanya dari seluruh dunia di San
> Fransisco. "Dari sepuluh ribu karyawan di seluruh dunia, kurang dari
> sepuluh yang muslim. Itu pun hanya saya yang berjilab", katanya. Ia
> terpilih untuk mewakili sebagai Vendor Compliance Officer terbaik di
> seluruh dunia. Haruskan saya, sebagai pimpinan rumah tangga,
> membunuh seluruh potensi
itu
> > dengan memaksanya untuk tinggal di rumah? sedangkan ia terbukti
> mampu berbuat banyak untuk masyarakat, menyelamatkan banyak generasi
> mendatang dengan mempromosikan ASI, memperjuangkan nasib puluhan
> ribu buruh pabrik (termasuk memperjuangkan hak buruh-buruh etnis
> Champa untuk memperoleh Mushalla di Kamboja), juga menjadi "PR
> Islam" untuk lingkungannya, yakni bahwa seorang muslim, baik
> laki-laki atau perempuan dapat menjadi
seorang
> > yang terbaik, intelektualitas maupun profesionalitas.
> > Apakah dengan begitu kepemimpinan saya sebagai suami goyah?. Apakah
> saya
> tak
> > mampu menghidupi keluarga saya bila Ira menghentikan kariernya?
> Insya
> Allah
> > tidak. Saya tidak menyoal sama sekali ayat populer "Arrijalu
> qowwamuna' alannisa," meskipun banyak tafsir yang berkembang soal
> ayat itu.Saya bertanggung jawab sepenuhnya terhadap 'arah dan
> 'warna' keluarga saya.
> Hanya
> > barangkali pola kepemimpinan saya sedikit berbeda dengan pola
kepemimpinan
> > kebanyakan suami.
> > Sampai sekarang pun, jika mau saya dapat menggunakan otoritas saya
sebagai
> > pemimpin keluarga tanpa Ira dapat menolaknya. Tapi saya merasa ,
> cara kepemimpinan demikian tidaklah benar. Di masa sekarang, apalagi
mendatang,
> > gaya kepemimpinan 'partnership' lebih sesuai dibandingkan dengan
> gaya kepemimpinan 'otortier' (maaf sebenarnya ini bukan istilah yang
> tepat), dalam keluarga sekali pun. Dalam gaya kepemimpinan ini, yang
> menjadi
> > kunci bukan lagi dominasi sikap, pemikiran ataupun tindakan suami.
> Baik
> itu
> > disampaikan secara tegas, maupun dengan sangat halus dan lembut.
> Dalam kepemimpinan 'prtnership' yang
> > lebih diperlukan adalah diskusi, dialog untuk mendapatkan format
> yang terbaik dalam keluarga. Dialog tersebut harus terus
> dikembangkan karena setiap hari kita menghadapi situasi baru.
> Indikator sederhana tingkat
> dialog
> > tersebut adalah seberapa sering suami istri mendiskusikan situasi,
> keadaan,
> > pola, hingga posisi yang dikuasai masing-masing dalam berhubungan
> intim. Dengan pola kepemimpinan ini, pemimpin tidak menempatkan diri
> untuk "menggurui" atau mendikte. Walaupun dilakukan secara halus.
> Pemimpin
perlu
> > menempatkan diri sebagai moderator yang cerdas, yang mampu
mengeksplorasi
> > seluruh gagasan dan pikiran anggota keluarga, lalu membuat sintesa
> yang paling baik dan diterima semua pihak. Acapkali suami 'takut'
> untuk berdiskusi. Banyak suami tidak siap bila sang istri mengambil
> peran yang cukup besar di rumah tangga dan merasa "kehilangan harga
> diri". seolah
> tugas
> > suami selalu mencari nafkah, sedangkan adalah tugas istri adalah
menangani
> > seluruh tugas domestik atau pekerjaan rumah tangga.padahal cukup
> banyak variasi yang dimungkinkan dalam pola hubungan suami-istri.
> Semuanya tergantung dari karakter masing-masing pihak. Pola hubungan
> > Muhammad-Khadijah sangat berbeda dengan pola hubungan
> Muhammad-Aisyah. Karakter keluarga saya, kebetulan lebih dekat
> dengan pola pertama
> dibanding
> > kedua. Tanpa banyak diskusi, saya khawatir, kebahagiaan keluarga
> yang diidamkan hanya akan dicapai secara semu. Perempuan dan
> anak-anak akan cenderung menajdi 'korban'. Acapkali istri terpaksa
> menerima
'kodrat-nya',
> > mengubur dalam-dalam potensinya untuk dapat berperan langsung dalam
> masyarakat, sepenuhnya menjadi 'mahluk domestik', sekedar
> menjalankan
> fungsi
> > reproduksi (yang tidak mungkin tak merasakan kenikmatannya
> sebagaimana
> yang
> > dirasakan sang suami), serta kehilangan identitas dirinya karena ia
telah
> > menjadi "ummu....atau umminya..."
> >
> > Saya bukan penganjur wanita untuk berkarier dan saya juga bukan saya
juga
> > bukan penganjur wanita untuk dirumah saja...setiap orang punya
> kecenderungan
> > masing-masing. Biarkan kecenderungan itu tumbuh tanpa dipatahkan .
Tinggal
> > bagaimana mengelolanya secar baik, sesuai dengan keadaan
> masing-masing. Khadijah adalah insvestor bisnis perdagangan antar
> bangsa pada zamannya. Barangkali sekelas George Soros atau Rupert
> Murdoch sekarang. Sedangkan Aisyah mewarnai rumah tangga dengan
> > kemanjaannya. Muhammad saw tidak memukul rata mereka untuk menjadi
> seragam:
> > istri adalah penunggu dan pekerja domestik bagi suami dan anak-anak.
> >
> > Bagi suami dengan pola kepemimpinan 'partnership' istri di rumah
> atau berkarier sama baik. asalkan pilihan itu sudah dipertimbangkan
> secara cermatdan benar-benar menjadi pilihan hati sang istri.
> Pemaksaan apakah untuk tinggal di rumah atau untuk bekerja, pada
> dasarnya mengingkari
> prinsip
> > islam agar setiap umatnya kritis, berhati tulus dan berfikir merdeka
hanya
> > dengan mengilahkan-Nya. Sayang banyak suami yang lebih banyak
> mengikuti naluri primitifnya male chauvinistic ketimbang menengok
> > teladan Muhammad terutama dalam berkeluarga denagn ummul mukminin,
> Khadijah)
> > meskipun sambil mengutip hadits.
> >
> > Bisa saja pendapat saya ini keliru karena keterbatasan ilmu agama
> saya.
> tapi
> > saya berdoa, mudah-mudahan Allah memberi jalan yang baik bagi
> keluarga
> saya.
> > jalan baik itu , Insya Allah hanya akan diberikan bila suami istri
saling
> > respek. Secara lahiriah , itu kami wujudkan setiap habis sholat
> berjama'ah.
> > Ira selalu mencium tangan saya dan saya ganti mencium tangan Ira.
> Saya
> akan
> > memijat kaki Ira, bila ia capek. ia pun akan memijat kaki saya bila
> saya capek. bagi saya Ira bukan hanya istri, ia juga sahabat
> > terbaik saya.
> >
> > * Zaim Uchrowi
> > Pemred Tabloid Adil
> >

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke