--- Retno Haryanti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> To: [EMAIL PROTECTED]
> From: Retno Haryanti <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Sun, 26 Dec 2004 20:09:26 -0800 (PST)
> Subject: [gurupack_milis] Fwd: [cosmo] [artikel]
> Memenjarakan Anak dengan Kebebasan
> 
> Yang udah punya dan yang akan punya anak, ok juga
> buat renungan.
> 
> Note: forwarded message attached.
> 
>               
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
>  Send a seasonal email greeting and help others. Do
good.

> ATTACHMENT part 2 message/rfc822 
> To: "Listiyadhi" <[EMAIL PROTECTED]>,
>       "Muda Mudi Katolik"
> <[EMAIL PROTECTED]>,
>       <[EMAIL PROTECTED]>,
>       <[EMAIL PROTECTED]>
> From: "mingkylie" <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Fri, 10 Dec 2004 22:23:04 +0700
> Subject: [cosmo] [artikel] Memenjarakan Anak dengan
> Kebebasan
> 
> Memenjarakan Anak dengan Kebebasan
> 
> Oleh Mohammad Fauzil Adhim
> 
> Saya nyaris tak percaya ketika datang seorang anak
> yang wajahnya tampak linglung. Raut mukanya
> mengingatkan saya pada anak-anak yang idiot atau
> debil. Wajah yang tidak memancarkan semangat. Di
> matanya, yang ada hanya tatapan kosong tanpa
> cita-cita.
> 
> Rasanya sulit percaya bahwa anak itu hadir ketika
> saya baru saja menuliskan kata linglung untuk prolog
> buku "Menuju Kreativitas" karya sahabat  saya, Mas
> Wahyudin. Awalnya saya kira anak yang putih bersih
> itu, mengalami keterbelakangan mental bawaan sejenis
> idiot. Tetapi ketika melihat reaksi-reaksi di
> wajahnya, saya mulai menangkap bahwa anak ini
> sebenarnya normal. Pengasuhanlah yang telah membuat
> ia kehilangan kekayaan yang paling berharga: "jiwa
> yang sehat dan hidup".
> 
> Lalu, apa yang membuat anak itu sampai begitu
> mengenaskan jiwanya? Beban apa yang memberatkan
> dirinya sehingga ham pir-hampir tak sanggup lagi
> untuk berpikir?
> 
> Bukan kemiskinan yang membuat tatapan matanya kosong
> dan hampa. Bukan kesusahan yang menjadikan jiwanya
> penat dan lelah. Tetapi kebebasan untuk bermain
> game, kapan pun ia mau. Anak sekecil itu, di usianya
> yang baru berkisar 8-9 tahun, telah menghabiskan
> sepertiga dari usianya setiap hari untuk hanyut
> dalam permainan video-game yang menegangkan. Seluruh
>  energinya seakan telah habis untuk memelototkan di
> depan layar komputer, berpacu dengan suara
> perang-perangan yang mendebarkan.
> 
> Saya segera teringat dengan tulisan yang belum
> selesai saya ketik. Di prolog itu, sempat saya
> bercerita sejenak tentang Milton Chen. Dalam bukunya
> berjudul The Smart Parent's Guide to KIDS' TV, Chen
> menunjukkan bahwa waktu menonton yang cukup sehat
> adalah berkisar 8-10 jam seminggu. Dengan kata lain,
> lamanya waktu menonton sebaiknya berada pada rentang
> 1 jam 9 menit sampai dengan 1 jam 25 menit. Itu pun
> dengan catatan tayangannya masih cukup sehat. Jika
> tayangannya benar-benar sangat edukatif dan
> merangsang daya nalar anak, mereka bisa menonton
> maksimal 15 jam seminggu. Lebih dari itu sudah tidak
> sehat. Apalagi kalau acaranya banyak menayangkan
> kekerasan,jam menonton harus dipersingkat.
> 
> Banyak yang menarik dari buku Milton Chen. Tentang
> bagaimana tayangan kekerasan merangsang agresivitas
> anak, tentang bagaimana TV menumpulkan perasaan dan
> kasih-sayang kepada orang lain, atau tentang
> bagaimana TV merampas waktu anak yang paling
> berharga. Tetapi saya tidak ingin menyibukkan Anda
> dengan hasil-hasil penelitian itu. Cukuplah kita
> merenung sejenak tentang waktu yang kita berikan
> untuk anak-anak kita. Barangkali banyak di antara
> kita yang merasa aman dengan kebebasan yang kita
> berikan pada anak untuk menonton, padahal 4 jam
> sehari (28 jam seminggu) di depan TV ternyata sudah
> termasuk kategori membahayakan. Benar-benar
> mengancam mental dan kepribadian anak. Apalagi kalau
> tayangan itu berupa video-game yang dari detik ke
> detik hanya menyajikan kekerasan, keganasan dan cuma
> memancing reaksi impulsif anak.
> 
> Diam-diam saya merasa khawatir, jangan-jangan banyak
> di antara kaum muslimin -bahkan dari mereka yang
> punya komitmen dakwah-mengizinkan anaknya duduk
> manis di depan TV lebih dari 4 jam sehari. Kalau itu
> terjadi, akan lahir di sekeliling kita anak-anak
> yang tak punya inisiatif, tumpul otaknya dan mati
> gagasannya -meskipun IQ-nya sangat tinggi. Akan
> lahir anak-anak yang hatinya beku dan jiwanya mati,
> sementara syahwat besar berkobar-kobar. Mereka
> inilah yang bisa terkena robopath sebelum dewasa,
> semacam patologi jiwa yang membuat mereka seperti
> robot. Bertindak tanpa pikiran, bergerak tanpa jiwa.
> Yang ada hanya jebakan aktivitas yang membelenggu.
> 
> Dampak ini akan lebih terasa jika yang dipelototi
> anak bukan lagi TV, tetapi video-game berat. Anak
> yang hanyut dengan video-game sampai tingkat yang
> sangat menguras energi psikis, cenderung sangat
> pasif atau just ru sebaliknya amat agresif. Mereka
> bisa seperti orang linglung. Tak tahu apa yang harus
> dilakukan. Bisa juga sangat ganas. Mereka
> berperilaku sangat agresif karena pengaruh adegan
> yang disaksikan. Bukan karena dorongan kecerdasan.
> 
> Setiap kali memainkan video-game, anak juga
> terangsang bertindak impulsif.
> Kalau tidak ada kegiatan penyeimbang yang memadai,
> anak-anak itu bisa kehilangan kendali emosi. Mereka
> tidak mampu mengembangkan kecakapan emosi yang
> sehat, normal dan baik. Bahkan bisa terjadi,
> anak-anak itu mengalami cacat emosi (emotionally
> handicapped), meskipun pada awalnya normal. Anak
> yang saya ceritakan di awal tulisan ini merupakan
> contoh bagaimana video-game telah menjadikannya
> seperti anak idiot. Ia tidak nyaman berada di
> lingkungan yang tidak dikenal karena keterampilan
> emosi dan sosialnya telah rusak.
> 
> Bagaimana bisa demikian? Anak ini memelototi video
> game berat yang ada di komputernya rata-rata delapan
> jam sehari!!! Apalagi pada waktu libur, bisa lebih
> lama lagi. Kalau dihitung delapan jam saja, berarti
> lebih dari separo waktu jaganya digunakan untuk
> duduk terpaku. Ia hanya berinteraksi dengan
> kekerasan, gambar yang bergerak cepat, ancaman yang
> setiap detik selalu bertambah besar, serta dorongan
> untuk membunuh secepat-cepatnya. Anak mengembangkan
> naluri membunuh yang impulsif, sadis dan ngawur. Ia
> tekan  apa saja secara membabi-buta seraya
> memuntahkan serangan maya secepat mungkin.
> 
> Andaikan sesudah memelototi video-game otak anak
> bisa segar, delapan jam sehari sudah terlalu banyak.
> Jauh lebih banyak daripada titik bahaya nonton TV,
> yakni 4 jam sehari! Padahal, video game menyerap
> energi psikis anak lebih besar daripada TV. Beberapa
> jam sesudah memelototi TV, otak anak masih tetap
> dibebani oleh permainan yang ada di video game. Anak
> dikejar oleh bayang-bayang untuk menuntaskan
> permainan dan memenangkan pertarungan. 
> Praktis, anak tidak siap menerima rangsangan
> lainnya. Lebih-lebih rangsangan yang daya tariknya
> lemah dan tidak memberi aktivitas menantang, akan
> sulit menyentuh wilayah psikis anak. Nah, proses
> belajar akademis termasuk rangsangan yang cenderung
> tidak menantang, monoton dan lamban - dalam hal ini
> bagi anak-anak yang kecanduan video-game.
> 
> Kalau ini terjadi, mereka akan merasakan suasana
> kelas seperti penjara  bagi jiwanya. Tubuhnya ada di
> kelas, tetapi pikirannya, rasa penasarannya dan
> keinginannya ada di video-game. Ada suara-suara guru
> yang masuk ke  telinga, tetapi tak ada yang terekam.
> Ibarat komputer, registrynya sedang error. 
> Tampaknya sedang belajar, tetapi pikirannya sibuk
> mengolah bayang-bayang game yang mendebarkan. Inilah
> yang menyebabkan anak tidak bisa memproses pelajaran
> yang diberikan kepadanya. Sama seperti komputer,
> sistemnya macet (system halted). Hang. Tidak
> bekerja.
> 
> Apa yang bisa dilakukan jika akibatnya sudah separah
> itu? Terapi. Ini berarti orangtua tidak bisa
> melakukan sendiri, kecuali jika orangtua  adalah
> psikolog anak yang ber pengalaman. Bisa jadi proses
> terapinya tidak bisa dilakukan oleh satu orang.
> Harus melibatkan ahli-ahli lain untuk mengembalikan
> anak pada kondisi normal, bisa belajar berpikir
> dengan baik, mampu beradaptasi dengan lingkungan
> sosial dan sekolah, serta dapat mengikuti proses
> belajar-mengajar di sekolah dengan wajar. Terapi
> juga diarahkan agar anak bisa belajar mengelola
> emosinya, mampu menghidupkan perasaannya dengan baik
> dan sehat, serta belajar menumbuhkan inisiatif
> positif. Itu pun dengan catatan, proses terapi tidak
> bisa menjamin selalu berhasil dengan sempurna.
> Selalu ada kemungkinan proses terapi itu masih
> meninggalkan masalah, meskipun kecil, terutama jika
> orangtua tidak dapat diajak bekerjasama dengan baik.
> Tentu saja, sangat mungkin proses terapi akan mampu
> mengatasi masalah dengan sempurna. Tetapi
> berhati-hati agar tidak timbul persoalan yang berat,
> adalah jauh lebih baik.
> 
> Persoalannya, kenapa sebagian orangtua dengan mudah
> menyediakan alat-alat permainan sem acam itu? Banyak
> kemungkinan. Pertama, orangtua tidak mau repot
> dengan anak. Mereka belikan anak apa pun yang dapat
> membuatnya diam.Kadang tanpa sadar, orangtua
> melakukan dengan melemahkan rasa sayang anak pada
> orangtua. Ketika anak rewel, orangtua segera
> menyodorkan TV, VCD,video-game atau apa pun yang
> dapat membuat anak diam. Padahal cara ini bisa
> berdampak pada lemahnya keterampilan emosi anak.
> Mereka tidak belajar bagaimana mengelola keinginan
> atau mengambil pertimbangan.
> 
> Pada sebuah kasus, seorang anak mempunyai gejala
> persis seperti anak pengidap autisme. Setelah
> ditulusuri, anak ini ternyata pada dasarnya normal.
> Pola asuh orangtuanya yang membuat anak cacat emosi.
> Kedua orangtua bekerja dan begitu tiba di rumah,
> mereka sibuk melepas lelah dengan  menutup di kamar.
> Setiap anak rewel, orangtua menyodorkan
> tawaran-tawaran berupa VCD dan game. Tak ada
> sentuhan.
> 
> Kedua, orangtua tanpa orientasi pendidikan yang
> baik. Mereka memberikan mainan apa saja asalkan an
> ak senang. Mereka bisa terlibat dalam  permainan.
> Hanya saja mereka tidak memiliki arah, sehingga apa
> pun yang sedang trend akan diberikan kepada anak.
> Sedihnya, sekolah pun ternyata tak sedikit yang
> miskin orientasi.
> 
> Ketiga, semangat tanpa ilmu. Mereka belikan anak
> berbagai bentuk alat permainan, termasuk video game,
> karena menginginkan anaknya maju, modern dan
> kreatif. Mereka memberi alat permainan karena
> mendengar bahwa kegiatan bermain sangat penting
> untuk merangsang kecerdasan, kreativitas, inisiatif
> dan semangat anak. Sayangnya, mereka lupa bahwa alat
> permainan -atau yang dianggap sebagai alat
> permainan-tidak sama dengan bermain.
> 
> Kegiatan bermain akan menyegarkan pikiran anak,
> menyenangkan dan menggugah anak untuk lebih aktif.
> Tetapi alat permainan tidak selalu  positif.
> Sebagian alat permainan bisa berfungsi sebagai alat
> terapi atas berbagai jenis gangguan psikis anak.
> Sebagian justru bisa mengganggu.
> 
> Masalah ketiga ini agaknya perlu saya te kankan.
> Saya pernah merasa sangat sedih ketika suatu hari
> seorang guru mengajarkan tepuk sambal kepada anak.
> Atas nama kreativitas dan fun, guru mengajarkannya.
> Padahal dari segi isi kalimat maupun gerak, nyaris
> tak ada yang bisa dipetik.
> 
> Termasuk semangat tanpa ilmu adalah perkataan
> sebagian orangtua tentang kebebasan. Mereka pernah
> membaca tulisan yang cuma sekilas bahwa anak perlu
> diberi kebebasan agar anak cerdas, kreatif dan penuh
> inisiatif.
> Mereka akhirnya benar-benar belajar "menghargai"
> setiap keinginan dan pendapat anak. Tetapi rupanya
> menghargai dianggap sama dengan menuruti tanpa
> kendali.
> Walhasil, inginnya memberi kebebasan pada anak, yang
> terjadi justru memenjarakan anak dengan kebebasan.
> Bermula dari kebebasan tanpa arah, anak kehilangan
> saat berharga untuk belajar bersosialisasi. Anak tak
> punya kesempatan untuk belajar mengelola emosinya.
> 
> Agaknya, ada yang perlu kita renungkan tentang cara
> kita mendidik anak.
> 
> 
> 


=====
Bunga Triono
http://www.babiesonline.com/babies/u/umaira/


                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
The all-new My Yahoo! - What will yours do?
http://my.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/4tWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk 
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, 
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke