Jam dinding menunjukkan angka 23.53. Sebentar lagi
tahun baru, batinku. Entah apa yang seharusnya
kulakukan. Dalam ruang keluarga tempat aku sedang
duduk, tak seorang pun yang tersisa. Seluruh anggotaku
telah lelap dibuai mimpi. Ini berbeda sekali dengan
tahun-tahun sebelumnya. Biasanya kami duduk di depan
pemanggang barbeque, membuat burger atau aneka jenis
makanan yang lain untuk menghabiskan malam. Dan kami
akan duduk di atas kursi-kursi malas seperti di
pantai, membuat lingkaran sambil mengobrol ngalor
ngidul tentang sejuta hal. Beberapa teman pun biasanya
datang bergabung, menginap di balkon kami yang cukup
luas. Kami akan saling bercerita, tertawa, menantikan
pesta kembang api yang terlihat dari kejauhan.
Yah. Jika kupikir, tahun baru biasanya dihiasi
keindahan dan tawa. Tapi hari ini suasana sunyi
senyap, sepi seolah tak berjiwa. Hanya suara cicak
terdengar nyaring di telingaku, sementara belasan
nyamuk berebut menghisap darahku yang mungkin terasa
manis bagi mereka.
Ke manakah orang-orang? Apakah sesungguhnya esensi
dari tahun baru? Mengapa aku mesti merasa perlu
menantikannya?
Dilingkupi keheningan, aku jadi berpikir perihal
keistimewaan tahun baru. Sebenarnya tidak ada yang
luar biasa. Selain, angka 1-1, tahun baru hanyalah
hari yang normal seperti hari pada umumnya. Aku tidak
akan memperoleh hadiah khusus dengan tetap terjaga
sampai saatnya tiba, paling-paling hanya suguhan
makanan lezat di bawah langit berbintang.
Terganggu oleh pikiranku, aku menanyakan hal ini
kepada salah seorang sahabatku. Tanpa pikir panjang,
dia memberikan argumen: "Karena ketika tahun baru
datang, kita seperti memperoleh suatu kesempatan baru.
Detik itu seperti sebuah simbol, pertanda bahwa kita
bisa memperbaiki diri melebihi kehidupan kita
sebelumnya. Jika kita telah melakukan begitu banyak
kesalahan, maka tahun baru bisa memperteguh tekad
untuk tidak mengulanginya sekali lagi."
Dilihat dari sudut pandang seperti itu, tahun baru
berarti stimulan untuk menjadi manusia yang lebih
baik. Tapi, jika memang itu tujuannya, kenapa kita
acapkali menghabiskannya dengan bersenang-senang,
tertawa, berpesta dengan dandanan wah, makanan enak,
tiupan terompet, dan tawa? Tidakkah renungan lebih
tepat sebagai mengisi detik yang dinanti? Atau jika
memungkinkan, melakukan perbuatan khusus - mungkin
berkeliling kota dengan van sambil membagi-bagikan
makanan kepada yang membutuhkan - sebagai perwujudan
dari bentuk kepedulian kita terhadap eksistensi yang
diberikan Sang Pencipta kepada kita selama tahun-tahun
yang telah silam?
Sekilas menilik perjalananku sebagai manusia, bencana
menjadi salah satu santapan harian yang tanpa
malu-malu menampilkan wajahnya dengan seluruh
keasliannya. Aku tak perlu jauh-jauh pergi untuk
sekedar menyadari kehadirannya. Cukuplah kududuk dalam
ruangan kecilku, memandang pesawat televisi, dan ta
ta...terpampanglah dunia kehidupan nyata dengan
episode miris meregangnya puluhan ribu jiwa akibat
diterjang gelombang pasang laut Tsunami yang tengah
mengganas.
Menyadari waktu kemunculannya, mungkinkah ini satu
pertanda dari Yang Kuasa untuk menempatkan tahun baru
tepat pada proporsinya? Sebagai suatu dimensi alamiah
yang dimaksudkan untuk membuat kita waspada terhadap
segala ancaman yang mungkin dapat meraja?
Kita mungkin saja termasuk ke dalam sekian banyak
orang yang saat ini tergugah bersuara vokal dan
bertindak cepat menentang bencana seraya membantu
mereka yang tengah dilanda kesulitan. Akan tetapi,
kira-kira sampai kapan kita akan melakukannya?
Aku jadi teringat pada perbincanganku dengan sahabat
karibku di pelataran rumahnya sore kemarin. Kutanyakan
padanya, "Seandainya kau tahu ini hari terakhir kita
hidup di bumi. Apa yang bakal kau lakukan?" Dia
menatapku lekat kemudian menjawab, "Mungkin aku akan
tetap bertemu denganmu dan berbincang-bincang seperti
yang kita lakukan sekarang ini. Karena apalah artinya
berubah sehari, sementara berhari-hari sebelumnya tak
banyak kebaikan yang telah kita lakukan? Amalan akan
ditentukan oleh apa yang kita kerjakan dari awal
hingga akhir. Berbicara denganmu mungkin salah satu
amalanku juga."
Pernyataan sahabatku ini cukup menarik. Secara logis,
kedengarannya memang agak absurd dan tidak masuk akal.
Masa iya, kita akan melewati waktu seperti biasanya
ketika kita tahu bahwa kematian telah di ambang pintu?
Akan tetapi, pada kenyataannya, begitulah yang
biasanya terjadi. Meskipun sang maut telah memunculkan
bayangannya, kita tidak akan banyak berubah. Untuk
sekejap kita mungkin akan berdesah kalut, "oh sebentar
lagi Tuhan akan menjemputku", namun tak lama kemudian
kita pun lupa dan membiarkan kematian datang tanpa
perlawanan berarti.
Yah, begitulah manusia. Nudah lupa, bahkan terhadap
ketakutan terbesar yang menghinggapinya. Sisi baiknya,
dengan begitu kita bisa meneruskan hidup kita tanpa
beban setelah melewati beragam kesulitan saat umur
masih memungkinkan. Sisi buruknya, kita jadi mudah
pula alpa dan berbuat yang tidak-tidak. Layaknya
gelombang Tsunami yang membersihkan separuh pulau ke
dalam relung dalam perut lautnya, bersih pula pikiran
kita untuk terus menekuri segala ancaman, hikmah besar
di balik kemunculannya. Lupa kita bisa jadi baru
datang beberapa minggu lagi, tapi bisa juga hari ini,
seperti sifat lupa yang telah menutup pikiran sebagian
orang.
Buktinya sangat mudah dilihat. Ketika siang tadi aku
mampir ke mal sebentar, sekedar untuk bertemu salah
seorang sahabatku sebelum bertandang ke rumah teman
lain yang baru saja melahirkan, aku kesulitan bergerak
maju. Suasana mal benar-benar padat. Orang berjalan
beriringan, bahu bertemu bahu, bahkan tak jarang
sampai sikut-sikutan. Begitu penuh sesak keadaan.
Hampir seluruh jengkal ruangan dilalui orang.
Dalam benakku sempat terlintas: tidakkah mereka ingat
kepada saudara-saudara mereka yang saat ini kelaparan,
duduk di antara reruntuhan, dan bergelut dengan wabah
penyakit yang perlahan datang menyerang? Tidakkah ada
suatu kekhawatiran bahwa bencana yang sama bisa mampir
saat itu juga?
Sekejap pikiranku dipenuhi kesedihan. Bagaimanapun,aku
sama sekali tidak menyalahkan Selain karena aku sadar
bahwa motivasi orang datang ke mal sangat beragam,
alasan yang lain adalah karena aku tak jauh berbeda.
Nyatanya aku berada di sana, di tengah mereka semua.
Mungkin dalam beberapa hari lagi, masalah Aceh dan
lainnya lenyap dari ingatanku juga.
Tapi, tidak. Seandainya bisa, ingin tetap kusimpan
dalam akalku seluruh derita yang dihadapi oleh mereka
yang tengah didera ujian berat oleh Yang Maha Pencipta
agar aku tidak lalai dan selalu berusaha memberikan
yang terbaik dalam diriku. Aku tahu bahwa dalam setiap
detik tentu ada seseorang yang diliputi lara. Tapi,
peristiwa sebesar Tsunami melebihi guncangan lain yang
pernah kurasa. Gambaran wajah-wajah ketakutan,
kesedihan, kuharap terus terpatri sebagai pengingat
sekaligus penyabar di saat ini dan untuk selamanya.
Maka, memasuki tahun baru 2005 ini, ingin kuhaturkan
doa untuk mereka yang tersisih, terluka, sendirian,
ataupun terhina. Doa tulus pula kupanjatkan bagi
mereka yang tengah menolong sesamanya maupun dirinya
sendiri, entah secara fisik ataupun spiritual. Semoga
saja kita semua selamat dalam segala cobaan dan
menjadi orang yang senantiasa ingat untuk berbenah
diri sebelum habis waktu kita. Amin
(Nadiah Abidin, 01-01-2005)
PS: Buat semua salam sayang dan kangen. Maaf yah kalo
tulisanku agak kurang baik susunannya. Sudah lama
nggak nulis nih. Jadi agak kaku. Apalagi, bikinnya di
warnet sini juga and nggak pake ngedit
lagi.Mudah-mudahan ada hikmahnya
__________________________________
Do you Yahoo!?
Send holiday email and support a worthy cause. Do good.
http://celebrity.mail.yahoo.com
--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/