VIRCAQUARTA DALAM MEMORI 2
Aku tahu kalau seharusnya aku tak mulai menulis cerita lagi. Dengan tenggat terjemahanku yang semakin dekat, itu sama saja seperti mau bunuh diri. Tapi kupikir daripada kusimpan dalam pikiranku dan membiarkannya mengganggu, lebih baik kukeluarkan saja. Toh hanya sedikit. Paling-paling hanya 3 sampai 4 halaman, tidak akan makan waktu lama.
So, setelah aku mempersiapkan segala sesuatu yang kuperlukan, aku bermaksud berangkat ke tempat janjianku dengan teman-teman, Hero. Kucari supir yang biasa mengantarku. Tapi ternyata dia pergi beli obat untuk klinik katanya. Otomatis aku bergegas menuju tikungan dan menaiki Koasi pertama yang kutemui.
Kupikir perjalanan akan cukup cepat. Tapi dasar nasib sedang sial. Si abang merasa perlu untuk ngetem. Semenit, dua menit berlalu. Aku sampai bertanya padanya sampai kapan dia mau mangkal di sana karena aku sedang terburu-buru. �Tidak lama, Neng,� jawabnya santai dan terus berhenti sekitar satu menit lagi. Ketika dia mulai berjalan, aku menghela nafas lega. Sayangnya si abang supir punya pemikiran lain lagi karena dia mengendarai mobil begitu lamban, sedepa, dua depa, mengangkut penumpang, dan berhenti di setiap tikungan yang ramai dilalui orang.
Oalah. Aku melirik jam tanganku. Rasanya tidak mungkin sampai tepat waktu. Segera kukirim sms ke Ledy, menanyakan padanya apa bisa aku bertemu dengannya dan yang lainnya di Alexindo saja mengingat aku kayaknya masih jauh banget dari tujuan. Tapi dia bilang sebaiknya aku menemui mereka di tempat kesepakatan semula agar bisa berangkat sama-sama.
Mobil yang kutumpangi berjalan merayap dan terjebak kemacetan. Sempat terpikir olehku untuk menumpang pengendara motor yang lewat, tapi kuurungkan niat karena entah kenapa keberanianku seperti menciut. Sebenarnya bisa saja aku mengambil ojek. Tapi aku rasa tarif yang dipasang pasti sekitar 15 ribu, sementara aku membawa uang yang sangat terbatas.
Maka kubiarkan diriku dibawa alur jalan yang seolah tak mau berhenti. Handyku beberapa kali berbunyi dan kuangkat. Sempat aku mengirim sms ke Yuni juga, menanyakan sekali lagi apa tidak sebaiknya bertemu di Alexindo saja. Tapi dia bilang dia tak tahu Alexindo di mana dan lebih baik berangkat bersama dari Hero.
Kugigit bibirku sendiri. Apa tidak kelamaan kalau ke Hero dulu? Sekali lagi aku bermaksud mengirim sms. Tapi o oh. Pulsaku habis dan handyku berbunyi tanda baterainya sudah menipis. Masih sempat aku menjawab sekilas telfon yang masuk dari Yoga, menanyakan arah jalan, sebelum akhirnya tututut...dia mati. Habislah aku. Sudah terjebak kemacetan, tidak bisa berkomunikasi, lapar berat, eh gak sampai-sampai juga. Terus terang, saat itu aku mulai merasa agak frustasi.
Sempat terpikir olehku untuk masuk wartel. Tapi dengan handy mati, siapa yang mau aku hubungi? Aku tak hafal nomor-nomor handy teman-teman. Handyku sendiri diutak-atik sedari tadi tak mau menyala juga.
Iseng-iseng aku mulai menghitung titik-titik kemacetan. Pertama di Bungur, lalu Pondok Ungu, Pasar Kranji, dan depan Mitra. Kemudian titik-titik mobil ngetem: di Nain, Paku, Naga, Pasar Kranji, dan GM. Dan di sela semua itu, Koasi-ku terus saja berhenti mengangkut penumpang. Setelah begadang semalaman buat mengerjakan pekerjaanku, kesabaranku benar-benar seperti diuji. Aku melirik jam, menatap langit, melirik jam lagi, dan akhirnya ketika aku melihat lampu merah menyetop kami lagi, aku turun dari mobil dan meminta ijin seorang
pengendara motor untuk ikut sampai Hero. Dia tidak keberatan dan mengantarku ke tempat yang kuinginkan.
Mengucap terima kasih berkali-kali aku menyeberang jalan dan menyusuri trotor mencari yang lain. Sayang nian. Tak seorang pun kelihatan. Aku menebak mereka sudah meninggalkan aku karena kelamaan.
Letih sendiri, kumasuki wartel terdekat. Sejuknya AC membuatku sedikit tenang. Mas-mas yang duduk di depan komputer berbaik hati meminjamkan aku pulpen dan kertas untuk menulis nomor telfon. Meskipun sebelumnya gagal berkali-kali, kupikir setelah beberapa menit mungkin aku akan cukup beruntung sehingga handyku menyala lagi sebentar dan membiarkan aku membuka buku telfonnya.
Alhamdulillah. Dia mau menyala. Beberapa sms baru tampak di inbox. Yah sesuai perkiraan, aku ditinggalkan. Ingat punya ingat, aku menelfon Yani yang katanya mau berangkat habis Dzuhur. Tapi handynya mati. Aku mencoba mengontak Elul, dia ternyata masih berada di Jakarta dan baru akan pergi lebih sore lagi. Beralih ke Yoga, katanya hari sudah terlalu siang dan Andre yang semula mau menyetir mobilnya harus pulang.
Lengkap sudah kesialanku. Agak menenangkan sebenarnya mendengar usul Andre agar pergi lagi serombongan minggu depan, akan tetapi aku tak tahu apakah memang itu yang ingin kulakukan. Aku tak biasa meninggalkan satu tujuan setengah-setengah. Terlintas dalam memoriku bagaimana dulu pun aku pernah sial ketika bermaksud datang ke pernikahan yang lain. Sudah berpakaian rapi-rapi, hujan deras mendadak turun. Ditemani dua orang temanku dengan naik motor, kami basah kuyup. Aku ingat bagaimana Eka, sahabat yang memboncengku, berteriak melawan hujan, �Apa elo yakin kita sebaiknya lanjut?� Lia pun berteriak menimpali, �Nih hujan rada-rada gila. Mata gue sepet, susah ngeliat nih.� Dan aku menjawab, �Bagaimana yah. Kita udah separuh jalan. Apa gak sayang balik lagi?�
Akhirnya kami tetap menembus hujan dan begitu sampai di gedung pernikahan sim salabim! hujan berhenti. Kalian mungkin tak bisa membayangkan penampilan kami. Aku rasa itu penampilan terparah yang pernah kualami. Selain mata perih, bajuku lepek dan kelunturan warna merah dari tas yang kusangkil. Aku merasa seolah-olah ada seseorang yang baru saja menceburkan kami ke dalam sungai dan dengan sebuah kait mengangkat kami keluar. Bagus seandainya ada yang bernasib sama dengan kami. Nyatanya, semua orang tetap tampak apik dan resik. Yah kurasa tak ada orang lain yang sekonyol kami naik motor di cuaca buruk seperti itu. Tapi siapa yang tahu kalau awan gelap
mendadak akan menggantikan matahari. Hujan itu di luar dugaan kami karena semula langit terlihat terang benderang.
Meskipun ada temanku yang ekstra keluar untuk mengantar kami bertemu dengan mempelai, kami tak jadi masuk. Bisa kulihat berada di luar saja, beberapa pasang mata sudah memandang ke arah kami dengan tatapan heran. Kumasukkan saja amplop yang sudah tak karuan dan langsung balik bersama teman-temanku.
Barangkali secara fisik, pengalaman tadi lebih parah dari yang sekarang. Buktinya sehabis itu, aku masuk angin dan demam. Akan tetapi, karena aku melewatinya bersama beberapa sahabat terbaikku, aku baik-baik saja. Malah sepanjang jalan kami bertiga tertawa geli mengingat apa yang baru saja terjadi. Dan kami melanjutkannya dengan makan bakso hangat sambil membicarakan pernikahan Eka yang tinggal beberapa bulan lagi.
Untuk kali ini, kupikir cara termudah untuk menghilangkan penat adalah naik ojek. Tapi wow! Uangku hanya cukup untuk pulang dengan cara konvensional. Kunaiki Koasi dan membiarkan diriku dibawa pulang. Hanya saja ketika mobilku melintas di depan Rumah Sakit Ananda, kontan aku berteriak, �Berhenti, Bang!� dan melompat turun. Aku berjalan sedikit ke arah Alexindo dan mengamati sisi jalan di seberang. Sebuah janur kuning berdiri tegak di sana. Janur Dian, pikirku. Serta-merta aku menyeberang. Dan ciiit...! Sebuah mobil sedan menyenggol kaki kananku. Astaghfirullah. Ceroboh sekali. Gara-gara terpaku sama janur kuning, sampai tidak lihat kanan kiri.
Meskipun agak schock, kupercepat langkahku dan mencapai pelataran ojek. Di bawah janur terdapat tulisan: Dian dan Inug. Benar, janurnya Dian. Kuperhatikan mobil-mobil yang lewat. Harus naik 31A sekarang, aku mencoba mengingat-ingat. Kutanyakan kepada seorang ibu yang kebetulan sedang berdiri di sisiku bagaimana caranya sampai ke Taman Titian Indah. Dia bilang naik 31A. Berarti ingatanku benar. Akan tetapi, beberapa tukang becak yang mendengarnya memberitahu kalau tidak ada 31A yang lewat lagi. Ujung-ujungnya si ibu malah ribut dengan para tukang becak itu dan dia mengatakan padaku agar aku pulang saja ketimbang meneruskan perjalanan karena tempat yang kutuju masih cukup jauh.
Kuusap keningku dan memperhatikan Koasi yang lewat. Tak ada 31A yang melintas. Aku yakin ibu itulah yang benar, tapi rasa lelahku membuatku memutuskan untuk pulang. Seperti yang dikatakan Andre, aku bisa pergi minggu depan. Sekali lagi terjebak macet, akhirnya aku naik juga ojek pulang (seharusnya dari tadi-tadi, ya enggak?)
Begitu sampai, ojek itu dibayar oleh ayahku dan sambil jalan naik tangga aku diberitahu kalau sebetulnya motor kami ternyata tak dipakai beli obat, melainkan membeli sesuatu yang lain dekat rumah. Berita yang hebat. Melihat wajahku yang agak suntuk, ibuku bertanya apa yang sudah terjadi. Kuceritakan masalahnya dan mengatakan akan mengerjakan terjemahanku saja. Akan tetapi, ibuku tak mengijinkan. Katanya:
�Sayang, sekarang belum kesorean. Undangan itu bilang kalau resepsi masih sampai jam 5. Kamu masih sempat pergi ke sana.�
�Iya, tapi Ma...�
� Yang menikah Dian yang dulu sering kemari kan?�
�Iya�
�Dia salah seorang sahabatmu?�
�Iya�
�Dan kamu sayang padanya?�
�Tentu saja�
�Nah, kalau begitu kamu harus datang. Coba pikir, apa kamu tidak akan sedih seandainya teman-temanmu tidak datang di hari istimewamu?�
�Iya, tapi...�
Ibuku tak bisa dicegah lagi. Dia memanggil pengacara kami dan memintanya mengantarku ke rumah Dian.
Dan begitulah. Setelah shalat Dzuhur, aku sekali lagi bersiap pergi ke tempat Dian. Mas Priyo, sang pengacara, dengan bangga mengatakan, �Ini motor balap, pas buat ngebut.� Nyatanya, baru beberapa meter keluar dari pelataran rumah, motor itu mogok. Sekali, dua kali, tiga kali!
Aku tertawa geli. Seluruh kesalku rasanya lenyap seketika. Kalian tahu, ketika harimu sudah sedemikian kacau, satu kekacauan baru justru bisa membuat segalanya baik kembali. Itu seperti sebuah lelucon yang sengaja didesain untuk mengundang senyum atau tawa. Jadinya, sepanjang jalan aku senyum-senyum sendiri sambil terpukau mengamati tempat-tempat yang dulu pernah kukunjungi semasa aku SD dulu. Mas Priyo kebetulan mengambil jalur dalam, melewati Seroja, Harapan Jaya, SBS, yang telah belasan tahun tak pernah kulihat. Tak ada perubahan berarti dan bayang-bayang masa kecil melintas dalam pikiranku. Tentang lomba semaphore, gerak jalan, senam kesehatan jasmani, paduan suara, relly...seluruhnya memori yang dengan senang hati kuulangi kembali.
Tak perlu kuceritakan sisanya. Sampai bertepatan dengan kedatangan Elul dan Yani, aku bertemu Nurul dan anggota gank-ku. Kami saling berpelukan dan dengan seru menceritakan perkembangan masing-masing. Aku mengikuti seluruh kisah mereka dengan berbinar-binar. Jadi, Rina sudah kerja di Mitsui, punya pacar orang Jawa, jalan tahun ke empat. Terus Ririn belum lama balik dari Ujung Padang, sudah diterima kerja pula, punya pasangan, jalan tahun kedua, terlepas dari hambatan dan lika-liku cinta yang dihadapinya. Lalu Ledi sedang mengikuti kursus terjemahan, masih mengajar di Gandhi School, dan akhirnya punya gandengan yang tidak lain tetangganya sendiri.
Ada banyak hal yang kami bagi bersama, khususnya masalah-masalah yang mungkin selama ini kami pendam sendirian. Dan di sela-sela perbincangan, Ledy menunjukkan salah satu foto kami, tertanggal 11 Februari 1994. Tampak kami semua duduk di dipan dengan mengenakan baju olahraga.
Itu barangkali satu-satunya foto yang tersisa, yang diambil dengan dengan kamera Polaroid-ku ketika kami bertandang ke rumah Nonna. Ada perasaan haru, senang, sekaligus sedih yang berkecamuk di hati saat aku melihatnya. Di sinilah kami duduk, menatap sepotong kecil masa lalu yang takkan kembali lagi, suatu masa di mana kami masih mereka-reka seperti apa kami jadinya. Sifat kami sekarang tidak banyak berbeda dan perjalanan masih begitu jauh tampaknya. Menatap wajah-wajah yang telah lama kukenal itu, aku jadi sadar bahwa kami sebetulnya saling membutuhkan. Hanya saja, aku rasa seluruh aktifitas kami akan membuyarkan semua lagi. Dan kami mungkin akan kembali duduk di sana ketika salah seorang di antara kami memutuskan untuk menikah pula dengan jumlah yang semakin menyusut, dari 4
tinggal 3, kemudian 2, dan akhirnya seorang diri.
Vircaquarta dalam memori. Masih heboh, di jeda eksistensinya yang sudah memasuki tahun ke-11. Beruntung aku jadi datang, meskipun melalui rute yang sangat panjang dan sayangnya tak ada kamera yang mengabadikan kami selain kamera pernikahan Dian yang menjepret kami sebanyak empat kali, dua kali bersama Mas Inug dan dua kali kami berlima. Seandainya saja ada Nonna, pasti lebih ramai. Tapi berlima saja, untuk saat itu sudah cukup bagiku.
Di bawah derai air hujan, kami akhirnya bersalaman, mengucap perpisahan, dan kembali ke kehidupan masing-masing.
(Nadiah, 9 Januari 2005)
Do you Yahoo!?
All your favorites on one personal page � Try My Yahoo!
--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
| Yahoo! Groups Sponsor | |
|
|
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
