buat yang dah punya anak.... beware

cheers
@ji




Mungkin bermanfaat---Maaf kalo sudah pernah terima

Waspada, Penculik Mengintai Anak Anda!

14/3/2005 03:16 - Sepertinya selain iklan Waspada Demam Berdarah
Mengintai Anak Anda juga harus disertai iklan Waspada Penculik
Mengintai Anak Anda. Sedikitnya sudah ada lima kasus penculikan dari
Januari hingga Februari 2005.

Liputan6.com, Jakarta: Rozak Trihartono Nugroho, delapan tahun, siang
itu tengah dalam perjalanan sepulang bermain sepak bola bersama
teman-teman sebayanya di kawasan Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
Keceriaan mereka dalam perjalanan pulang tiba-tiba terusik saat
seorang pemuda berbadan besar memanggil mereka.

Kedatangan pemuda tak dikenal itu membuat Rozak dan teman-temannya
ketakutan. Sontak, saat itu juga mereka berlarian terbirit-birit.
Malang nasib Rozak. Bocah berkulit gelap ini tersandung. Rozak
kemudian dengan mudah dibawa pemuda itu ke dalam mobil. Murid kelas
dua Sekolah Dasar Negeri Kebayoran Lama Utara 09 Pagi ini sempat
berontak. Tetapi sapu tangan berbius yang dibekapkan ke dalam hidung
membuat Rozak terkulai tak sadarkan diri.

Cerita semakin pahit ketika Rozak disekap di sebuah gudang bersama 20
bocah lainnya. Di tempat itu Rozak dan teman senasib lainnya diberi
latihan mengamen, mengemis serta menjadi joki three in one.

Pusat-pusat keramaian di Ibu Kota seperi Jatinegara, Senen, Monas
(Monumen Nasional), Bendungan Hilir (Benhil), Slipi, Blok M dan
Tanahabang akhirnya menadi tempat kegiatan Rozak sehari-hari. Bocah
dari pasangan Sikah Winarni dan Adi Suprayitno ini harus menyetor uang
antara Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu kepada pemuda botak dan beranting
ini setiap hari. Rozak memanggil pemuda itu dengan sebutan Om Botak.

Nasib baik masih memihak Rozak. Penderitaan sepertinya harus berakhir
dan cukup tersiksa hampir tiga bulan. Awal Februari silam, seorang
tetangga melihat Rozak sedang mengamen di sebuah halte bus di kawasan
Benhil, Jaksel. Setiba di rumahnya, tetangga itu kemudian
memberitahukan penemuannya itu kepada orang tua Rozak. Keesokan
harinya, Sikah dan Adi menjemput korban dengan menggunakan mobil
taksi. Rozak sempat berontak dan seakan tidak mengenali kedua orang
tuanya itu. Bocah ini baru sadar setelah mendapatkan pertolongan
seorang paranormal.

Rozak adalah satu dari sekian puluh bahkan mungkin sekian ratus anak
yang diculik dan dipaksa menjadi mesin uang bagi jaringan penculikan
anak di Jakarta. Rozak telah kembali. Namun, kembalinya Rozak harus
dibayar mahal. Kini Rozak harus berjuang melewati masa-masa trauma
psikologis pascapenculikan. Selama dalam penguasaan penculik Rozak
diajari kata-kata kotor sembari disiksa seperti disulut rokok.

Sikah memang harus lebih sabar dan meluangkan waktu lebih banyak untuk
anak ketiganya ini. Perilaku Rozak kini berubah total, lebih agresif.
Memori otaknya masih dibayang-bayangi teror yang menimpanya saat ia
dipaksa penculik menjadi anak jalanan. Misalnya, ketika diajak bermain
boneka, Rozak lebih memilih mobil, sepeda motor dan polisi-polisian.

Ketika permainan berganti, alam bawah sadar Rozak pun belum beralih
dari dunia kekerasan. Rozak memilih macan, harimau dan binatang buas
lainnya ketimbang mainan yang lucu. Bunga Koma, psikolog dari Sahabat
Peduli meyakini, memori Rozak masih dipenuhi indoktrinasi penjahat
yang menculiknya. "Temperamen dan sifatnya yang sangat berubah adalah
bagian pola kekerasan yang dialami selama penculikan," kata Bunga Koma.

Saat Tim Sigi SCTV mengajak Rozak dan ibunya berkeliling Jakarta,
ingatan bocah itu masih tajam. Rozak secara spontan menunjuk setiap
kali melewati tempat yang pernah disinggahinya. Saat melintas di
Monas, misalnya, Rozak menunjuk kolam yang biasa digunakan untuk mandi
bersama kawan-kawannya. Juga saat melewati Palmerah, Rozak menunjukkan
tempat yang digunakan untuk tidur di emper toko.

Menelusuri jalanan Ibu Kota dengan harapan bertemu sang penculik tak
lebih seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Ciri-ciri fisik
penculik yang diingat Rozak seperti berbadan besar, berkepala botak,
kulit berwarna gelap, berjenggot dan berkumis tipis ternyata tidak
cukup untuk menemukan sang penculik. Bahkan tak satu pun teman Rozak
ditemukan.

Berhari-hari berkeliling Jakarta ternyata tak mendatangkan hasil.
Kesulitan seperti ini mungkin yang membuat polisi hingga kini belum
juga dapat mengungkap jaringan penculik Rozak dan korban lainnya.

Penculikan yang dialami Rozak ternyata bukan yang pertama terjadi di
awal 2005 ini. Riset Tim Sigi menunjukkan, sepanjang Januari hingga
Februari tak kurang dari lima kasus penculikan anak terjadi di
Jakarta. Umumnya, modus penculikan anak terbagi dalam tiga kategori:
penculikan dengan modus pemerasan, modus menjadikan korban sebagai
pengamen maupun pengemis, serta penculikan bermotif dendam dan sakit
hati.

Penculikan bermodus pemerasan belum lama ini menimpa seorang anggota
keluarga kaya di Depok, Jawa Barat. Beruntung, korban akhirnya bisa
diselamatkan setelah pihak keluarga menebus uang puluhan juta rupiah.
Tetapi penculiknya hingga kini belum terendus.

Sementara itu, penculikan dengan modus menjadikan korban sebagai
pengamen seperti menimpa Rozak diduga juga menimpa Indra Pratama.
Bocah berusia tujuh tahun ini hilang awal Januari silam. Saat itu
Indra sedang bermain bersama kawan-kawannya tak jauh dari rumah di
Gang Ayat, Jalan Haji Samali, Kalibata, Jakarta Selatan. Kedua orang
tua korban, Agus Permana dan Yeni hingga kini masih belum mengetahui
motif di balik penculikan itu.

Ironisnya, sikap aparat penegak hukum dan negara hingga kini belum
menunjukkan keseriusan menangani kasus-kasus seperti dialami Rozak.
Maklum, Undang-undang Perlindungan Anak pun tidak menjamin keselamatan
korban jika bersaksi tentang penculikan yang dialaminya. Padahal,
penegak hukum baru bisa bergerak jika ada kesaksian korban. Kelemahan
ini diakui Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi. "Kami
mendesak semua pihak untuk melindungi anak-anak yang memang sangat
rentan menjadi korban penculikan," kata Seto Mulyadi.

Menurut Pasal 59 UU Perlindungan Anak, negara dan aparat pemerintah
wajib memberi perlindungan dan perlakuan khusus kepada para korban
seperti Rozak, Indra dan korban lainnya. Pascapenculikan nasib mereka
juga belum sepenuhnya aman karena para penculiknya masih berkeliaran.

Penculikan anak adalah bagian dari nasib anak jalanan yang hingga kini
belum terpecahkan. Menggelandang adalah bukan kemauan anak-anak.
Tetapi keadaanlah yang memaksa mereka meninggalkan masa-masa keceriaan
dan masa bermain.

Seorang pengamen bernama Danu menuturkan, tidak sedikit anak jalanan
yang terlibat tindak kriminal. Danu bahkan mengaku pernah direkrut
menjadi perampok dan terlibat dalam berbagai aksi perampokan. Namun
sebelum terjerumus lebih dalam, Danu akhirnya sadar dan memilih
menjadi pengamen.

Selain kriminalitas, narkoba juga menjadi dunia yang kerap diakrabi
anak-anak jalanan. Di kawasan Jakarta Timur, misalnya, Tim Sigi
melihat langsung dua anak jalanan tengah bertransaksi narkoba jenis
lexotan. Selain itu anak-anak jalanan juga akrab dengan istilah
ngelem, menghirup uap lem merek Aica Aibon.

Mabuk dan seks bebas juga menjadi kebiasaan anak-anak jalanan. Di
perempatan Grogol, Jakarta Barat, sedikitnya ditemukan 50 anak
jalanan. Setiap malam Ahad mereka berkumpul bersama anak jalanan
se-Jabotabek di pelataran parkir mal yang tak juah dari persimpangan
jalan. "Ada yang main bola ada yang pacaran ada yang ciuman ada yang
ngapain," tutur Mores.

Mores yang berusia remaja, misalnya, bila malam Ahad tiba lebih banyak
menghabiskan waktunya untuk bermain dan asoy geboy dengan pacarnya
sesama gelandangan, Yuyun. Sebelumnya, Mores menonton film dewasa
terlebih dahulu di kawasan Benhil di sebuah gedung bioskop tua dan
kumuh. Film itu benar-benar mengundang berahi yang banyak mengumbar
adegan ranjang.

Mores, sang pacar dan sesama gelandangan lainnya baru terkapar
kelelahan bila subuh menjelang. Pelataran mal menjadi tempat mereka
beristirahat, tidur dan mungkin bermimpi.

Sedikitnya ada sekitar 50 ribu anak jalanan di Indonesia. Bukan
mustahil, jika sebagian besar dari mereka ternyata bocah yang
dipekerjakan mafia penculikan anak. Respons yang cepat dari aparat
negara sangat dibutuhkan demi menyelamatkan mereka tanpa harus
menunggu korban yang lebih banyak.(YYT/Tim Sigi)
============


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/h8TXDC/6WnJAA/HwKMAA/4tWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk 
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, 
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke