Komitmen 
   
Lina tinggal di wilayah Bogor. Tapi dia bekerja di Jakarta Pusat.
Minimal dia harus menempuh perjalanan sekitar dua jam untuk sampai ke
kantor. Ketika pertama kali dia mengikuti wawancara kerja, manajer
sumber daya manusia sudah menanyakan apakah jarak dari rumah ke
kantor yang cukup jauh menjadi masalah baginya.
Lina menjawab bahwa hal itu bukan masalah. Tentu saja bukan masalah.
Waktu itu dia sedang sangat bersemangat karena akan diterima bekerja.
Dia bilang akan mengemudikan mobil sendiri ke kantor.

Tiba-tiba kini setelah dua tahun bekerja, Lina sering terlambat
datang ke kantor. Sudah dua minggu ini dia selalu terlambat. Kadang-
kadang sampai satu jam lebih, dia terlambat. Lina memang punya
masalah.

Karena rumahnya jauh, dia harus berangkat bersama tantenya. Lina
diantar sampai ke kantor. Lalu tantenya langsung ke kantornya
sendiri. Tantenya ini baru dua minggu pindah kerja. Masalahnya, di
kantor baru ini tantenya mulai bekerja jam sembilan pagi, sedangkan
Lina harus masuk kerja jam delapan.

Akhirnya manajer sumber daya manusia mengajaknya bicara. Lina
menjelaskan kondisinya dan kesulitan yang dialaminya. Lina
menjelaskan bahwa dia sebenarnya tidak mau terlambat, tapi tantenya
yang berangkat siang sehingga dia terpaksa ikut siang.

Tapi manajernya tidak banyak bicara. Dia hanya mengingatkan komitmen
Lina ketika pertama kali mulai bekerja dua tahun yang lalu. Dulu Lina
pernah mengatakan bahwa jarak antara rumahnya dengan kantor tidak
menjadi masalah. Kini dia bertanya kembali apakah Lina bisa berpegang
pada komitmen yang dulu pernah diucapkannya.

Setelah ditanya begitu, Lina berpikir kembali. Sebenarnya kalau dia
mau, dia bisa berangkat sendiri lebih pagi. Tidak perlu menunggu
tantenya. Memang lebih repot, karena dia harus mengemudikan mobil
sendiri dan harus berangkat lebih pagi. Kalau bersama tantenya kan
lebih enak. Tidak usah mengemudikan mobilnya sendiri. Berangkatnya
juga lebih siang, lebih santai.

Akhirnya Lina sadar bahwa sebenarnya masalah yang dihadapinya bukan
masalah berat. Dia sebenarnya hanya malas mengemudikan mobil sendiri
dan malas berangkat lebih pagi. Akhirnya Lina berjanji tidak akan
datang terlambat lagi.

Dalam hatinya sebenarnya Lina malu pada dirinya sendiri. Malu karena
dia ternyata memakai alasan harus berangkat bersama tantenya
sedangkan sebenarnya hanya untuk menutupi rasa malasnya sendiri.

Lina sadar. Betapa seringkali, pada saat dia bersemangat atau
menginginkan sesuatu, dia begitu gampang memberikan janji atau
komitmen. Dia ingat perasaannya sendiri dua tahun yang lalu waktu
mengatakan bahwa jarak jauh bukan masalah.

Dia ingat betapa bersemangatnya dia waktu mengatakan hal itu. Lina
ingat betapa yakinnya dia dulu waktu mengatakan akan mengemudikan
mobil sendiri. Tapi ketika tantenya menawarkan untuk berangkat sama-
sama, Lina senang sekali. Akhirnya dia lupa pada komitmennya yang
dulu.

Tinjau komitmen

Lina kemudian merenung. Dia ingin meninjau hatinya kembali. Dia juga
ingin meninjau kembali semua komitmen yang pernah dibuatnya. Dia
ingin tahu apakah semua komitmen itu sudah ditepati atau tidak.

Lina ingat dulu dia pernah berkata akan membantu Ruri temannya. Dua
bulan yang lalu Ruri diterima bekerja di bagian marketing seperti
Lina. Tapi Ruri belum punya pengalaman khusus menjual produk
perusahaan.

Dengan semangat Lina memotivasi Ruri agar lebih percaya diri. Bahkan
Lina berkata agar Ruri tidak usah kuatir karena Lina akan
membantunya, membimbingnya, dan juga mengajarkan hal-hal yang perlu
diketahui Ruri.

Tapi kemudian, Lina sangat sibuk. Untuk menyelesaikan tugasnya
sendiri saja dia harus sering lembur. Maka akhirnya dia melupakan
janji dan komitmennya pada Ruri. Pada mulanya, Lina berkata dalam
hati bahwa besok dia pasti akan membantu Ruri.

Tapi keesokan harinya ternyata tugas lain banyak sekali, sehingga
Lina menunda bantuannya. Tak terasa waktu berlalu. Sudah dua bulan
dan Ruri belum berprestasi. Lina baru sadar bahwa Ruri sudah hampir
tiga bulan bekerja. Kalau Ruri tidak berprestasi, bisa-bisa dia tidak
lolos masa percobaan. Bisa-bisa Ruri dipecat.

Lina sangat kaget. Segera dia berusaha bekerja lebih giat agar masih
bisa membantu Ruri. Dia melibatkan Ruri dalam pembuatan proposal.
Lina juga mengajak Ruri bertemu pelanggan dan memberikan presentasi
agar Ruri bisa lebih cepat belajar.

Lina tahu waktunya tinggal satu bulan untuk menebus kelalaiannya
selama ini. Karena itu Lina berusaha mati-matian. Ruri sendiri,
ketika dia melihat betapa bersemangatnya Lina membantunya, Ruri juga
semakin giat.

Semangatnya bangkit lagi. Alhasil, bisa ditebak bahwa Ruri akhirnya
lolos masa percobaan. Ruri akhirnya berhasil menunjukkan prestasinya.

Kini Lina berniat untuk selalu menepati kata-kata yang pernah
diucapkannya. Dia berusaha untuk menjaga komitmen yang pernah
dibuatnya. Dia hampir saja membiarkan Ruri gagal. Dia hampir saja
mencelakakan temannya sendiri. Keep your commitment! You will not
regret!.

Sumber: Potensi Diri - Komitmen oleh Lisa Nuryanti, Director Expands
Consulting & Training Specialist



--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke