|
Pipi..
Pa kabar??
Sekarang tinggal di mana??
Anakku sering maen ama neneknya ke rumah your
mother loh (kalo sedang arisan BS).
Hehehehe...:-D
Meilanie Sari
----- Original Message -----
Sent: Monday, June 27, 2005 2:17 PM
Subject: Re: [sma1bks] FW: Kehalalan
Gudeg Jogya
oh, begitu ya, pak! terima kasih bnyak infonya yah! biarpun saya jarang
makan gudeg tapi suami saya suka gudeg. tadinya ngeri juga tapi ternyata
penjelasannya sangat2 masuk di akal jadi....ayo rame2 lestarikan makanan
indonesia! Budi Santoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Maaf
agak telat... Saya teruskan email tentang gudeg....
Budi
Santoso Fis3
'94
================================================================
Subject:
[mus-lim] MEMBANTAH: Gudeg Gurih Karena Darah Date: Fri, 26 Jan 2001
12:01:30 -0600 From: "Anies Baswedan - MLST"
<[EMAIL PROTECTED]>Assalamu'alaikum.
Dibawah ini saya kirimkan
sebuah tulisan yang secara khusus menjelaskan cara memasak gudeg dan
sebuah komentar tentang profil singkat seorang pedagang
gudeg.
Tujuan tulisan pertama adalah membantah tulisan bahwa gudeg
itu gurih karena unsur darah ayam. Klarifikasi ini sangat penting agar
para pedagang gudeg --yang skala modalnya ribuan kali lebih kecil
daripada Dancow, Indomie dan Ajinomoto-- tidak "dijotos" secara kolosal
dan sembarangan oleh tuduhan-tuduhan yang tidak
mendasar.
Sementara komentar kedua memberikan profil singkat seorang
pedagang gudeg yang untuk mencapai lokasi penjualannya saja harus menyewa
taksi dan bukan diantar dengan mobilnya sendiri. Merekalah yang
akan menderita akibat tuduhan-tuduhan macam ini.
Karena itu, kalau
memang penulis ttg gudeg berunsur darah ini menyaksikan sendiri
penggunaan darah tsb, sebaiknya dituliskan lokasinya agar tidak terjadi
generalisasi. Generalisasi ini bisa sangat merugikan karena membantahnya
jauh lebih sulit daripada menyebarkannya apalagi ada ratusan bahkan
ribuan pedagang gudeg yang sumber ekonominya bisa ludes oleh generalisasi
macam ini. Meskipun --seperti akan dijelaskan oleh tulisan dibawah ini--
sinyalemen bawah gudeg itu berunsur darah adalah sinyalemen yang janggal
dan tidak logis dari sudut masak-memasak.
Wassalam, Anies
Baswedan
-------------------------------------------------------------------------------- Komentar
dari Rimawan (pengajar University of Limerick Irlandia)
Halal-haram
Gudeg Yogya; Tinjauan Metoda Masak-memasak
Tulisan ini
merupakan komentar terhadap tulisan 'Kehalalan Gudeg Yogya' yang
dikirimkan oleh Bapak Rusdi Suripno Siha, Jl. Wijaya Kusuma 95-A,
Situbondo.
Pada dasarnya beliau berkesimpulan bahwa gudeg Yogya
bisa dikatagorikan sebagai syubhat, bahkan haram. Hal ini didasarkan
pada pengalaman beliau yang saya kutipkan sebagai berikut:
'...
suatu hari, ketika sedang membeli di warung langganan saya, saya melihat
di tempayan (tempat gudeg diolah), ada kepala dan leher seekor ayam yang
masih utuh (tidak ada bekas sembelihan). Lalu saya tanya ke si penjual
gudeg, apakah ayamnya tidak disembelih? Dengan ringan si penjual menjawab
bahwa sudah biasa bagi penjual/bakul gudeg bahwa setiap ayam yang dimasak
untuk gudeg, ayam tersebut tidak disembelih, tetapi ditusuk dengan besi
di bagian lehernya. Sedang darah yang keluar ditampung dan nantinya
dicampur dengan santan untuk dicamput dengan gudeg itu. Dan justru darah
inilah yang memberi rasa gurih dan memberi warna kecoklat-coklatan
...'
Dalam tulisan berikut ini, saya hanya ingin mengomentari
tulisan diatas sesuai dengan pengalaman saya sebagai tukang masak selama
15 tahun baik di dalam maupun di luar negeri.
Terdapat dua macam
gudeg, yaitu gudeg yang manis dan gudeg gurih. Tidak banyak perbedaan
mendasar diantara keduanya, hanya versi pertama lebih manis dan tersaji
lebih kering. Untuk memasaknya kita harus memisahkan antara memasak gudeg
(nangka muda), memasak ayam (opor biasanya tapi agak manis), telur dan
areh (terbuat dari santan kental). Sejauh yang saya ketahui, saya belum
pernah menemui penjual memasak nangka muda dan ayam secara bersamaan.
Alasannya ... nangka muda dimasak dalam waktu lama dicampur dengan daun
jati sebagai bahan pewarna kecoklat-coklatan. selain daun jati bisa juga
dipakai daun jambu batu atau daun pisang (yang terakhir ini saya belum
pernah mencoba). Daun jambu batu agak riskan karena kadang menghasilkan
rasa 'sepet' kata orang jawa. Nangka muda dimasak dalam waktu yang
lama. Jika nangka muda dan ayam dicampur untuk dimasak bersamaan, maka
ayam akan hancur. Itulah sebabnya telur dan ayam biasanya tidak
dimasak bersamaan dengan gudeg. warna kecoklat-coklatan dari telur
disebabkan oleh penggunaan kecap. Kalau disimak lebih lanjut, semua gudeg
(nangka muda) disajikan dalam bentuk yang relatif kering dan terpisah
dari ayam. Nangka muda dimasak hingga airnya habis. Biasanya ayam
dimasak opor. Meski seringkali rasa opor bervariasi dari yang gurih
hingga yang agak manis. Dengan demikian tidak ada alasan bagi penjual
untuk memasak ayam dan nangka bersamaan.
Pada kutipan diatas
diungkapkan bahwa darah ayam dicampur dengan santan untuk dicampur dalam
gudeg. terlebih diungkapkan bahwa warna kecoklat-coklatan diperoleh dari
darah ayam tersebut.
Maaf jika saya agak skeptis dengan argumentasi
diatas. Warna kecoklatan diperoleh dari daun jati, daun jambu batu atau
daun pisang yang ikut direbus selama pembuatan gudeg yang lama itu.
Apakah darah membuat warna kecoklatan? Jawabannya adalah tidak sama
sekali. Jika darah di masak, maka akan mengental. Jika dicampur dengan
santan baru dimasak, tetap saja kita bisa menemukan kristal-kristal darah
dalam gudeg dengan mudah. Jangankan gumpalan darah, jika kita memasak
hati maka kaldu yang dihasilkan akan kotor oleh kristal-kristal
darah.. bagaimanapun bersihnya anda mencuci hati tersebut. Itulah
sebabnya di dunia masak memasak kita tidak direkomendasikan untuk
menggunakan kaldu dari hati atau ampela. Mengapa, selain masih terdapat
sisa darah, kaldu hati atau ampela berbau anyir (amis) dan tidak
jernih. Jika darah dicampurkan untuk memasak gudeg, maka butiran sisa
darah akan tersebar di seluruh gudeg. Ini berakibat warna gudeg tidak
bisa bersih. Darah menyebabkan gudeg menjadi kotor dengan
kristal-kristal darah dan warna gudeg menjadi kusam.
Hal lain
adalah bahwa rasa gudeg biasanya sangat manis, tapi tidak untuk rasa
ayam. Ini menunjukkan bahwa nangka muda dan ayam dimasak terpisah.
Karakter gudeg adalah manis. Artinya proporsi gula sangat besar ditambah
sedikit garam untuk penyeimbang. Sementara itu ayam di gudeg rasanya
gurih. Rasa gurih didapat dari campuran garam dan santan dengan sedikit
tambahan gula (garam lebih dominan di sini). Dengan demikian tidak ada
alasan bahwa ayam dan nangka dimasak bersamaan jika rasanya berlawanan
(karena komposisinya berlawanan pula). Teknik penggabungan gula dan garam
ini hanya kita temui pada masakan Indonesia. Hal inilah yang menyebabkan
harmonisasi rasa..
Lalu, apakah rasa daging lebih enak jika
binatangnya tidak disembelih tapi di tusuk? Menurut saya, ini hanyalah
'kepercayaan' yang salah kaprah. Justru daging dari binatang yang tidak
disembelih dan darah tidak keluar, kecenderungannya berwarna agak
kehitaman ketika dimasak. Tentunya, ini tidak akan mengundang selera
makan kita. Terlebih lagi, rasa enak atau tidak dalam suatu masakan lebih
ditentukan oleh komposisi bumbu dan teknik memasak yang
benar.
Saya mohon maaf jika dalam tulisan ini ada yang tidak berkenan
di hati Bapak-Ibu sekalian.
Rimawan
Pradiptyo
-------------------------------------------------------------------------------- Komentar
dari Walid (pengemudi taksi di Yogyakarta)
Saya rasa surat
dari Rusdi itu kasuistik. Dan tentu saja tidak bisa di generalisir.
Rusdi, tentu saja harus menunjukkan tempatnya di mana. Sebab kalau tidak
dia justeru menyebarkan fitnah.
Saya sudah sepuluh tahun berprofesi
sebagai driver taksi. Dan bahkan saya punya langganan tetap selepas
subuh. Namanya saya tidak tahu, tapi saya memanggil emak. Dia orangnya
sangat solihah. Setiap didalam mobil taksi selalu bertasbih (mungkin
melanjutkan tasbihnya setelah sholat subuh). Tinggalnya di Karangwuni
blok E-10. Anies boleh Chek. Dia jualan di di depan PKU (jalan KH A
Dahlan) agak ke barat sedikit. Kenalan bakul gudeg saya yang lain
kebanyakan juga muslimah.
Mungkin memang ada yang diceritakan oleh
Rusdi itu. Tapi sebenarnya nggak hanya gudeg. Semua sajian makanan yang
dijual di warung tidak ada yang menjamin halal atau haram. Bisa saja
misalnya soto pak X atau pecel pak Y Cara menyembelih ayam atau
kambingnya tidak pakai Bismillah. Yang mana menurut fiqih mazab Syafii
kan dianggap tidak halal.
Mohon disampaikan kepada Rusdi, gudeg
yang mana? Sebab jangan sampai jadi fitnah. kasihan orang-orang kecil
bakul gudeg. Sebab hal ini sangat
sensitif.
================================================================
On
6/11/05, Bayu Agus P. <[EMAIL PROTECTED]>wrote: > > Oom Aji,
kayanya isi imel ini daku pernah dapet deh > sekitar 2-3 tahun yang
lalu. Dan sudah ada bantahannya > tuh...... Cuma daku lupa filenya ada
dimana. Dan asal > artikel ini juga rasanya tidak ada di homepage
LPPOM > MUI. Kalo penasaran juga coba deh intip >
halal-baik-enak. > > Pokoke, gudeg mah enak dan halal
koq...... > > Tengkyu..... > > ( Bay ) >
> --- Noverto Aji Prasetyo <[EMAIL PROTECTED]> >
wrote: > > > waduh gawat juga nih klo emang > >
kayak gini cara masaknya..... > > > > Cheers > >
@ji > > > > > > Kehalalan Gudeg Jogya >
> > > dari homepage LPPOM-MUI > > > > Dengan
ringan si penjual menjawab bahwa sudah biasa > > bagi penjual/bakul
Gudeg Yogya bahwa setiap ayam > > yang > > dimasak untuk
gudeg, ayam tersebut tidak disembelih, > > tetapi ditusuk dengan
besi di bagian lehernya. > > Sedang > > darah yang keluar
ditampung dan nantinya dicampur > > dengan santan untuk dicampur
dengan gudek itu. > > > > Daerah Istimewa Yogyakarta,
selain terkenal dengan > > julukan kota pelajar, juga menyandang
berbagai > > julukan > > lain seperti kota seni dan
budaya, kota revolusi, > > kota > > sepeda, kota batik,
juga sebagai kotak gudeg serta > > julukan lain yang merupakan
cerminan dari hal-hal > > yang > > menonjol dari daerah
tersebut. Dan itu tidak hanya > > populer di dalam negeri, tapi
juga di manca negara. > > > > Akan halnya gudeg, lauk pauk
ini merupakan ciri khas > > kota tersebut. Bagi masyarakat Yogya
sendiri, gudeg > > merupakan lauk pauk sehari-hari yang
sulit > > ditinggalkan bersama nasi dan bubur. Sebenarnya >
> dilihat dari bahan-bahan pembuatnya, gudeg nampaknya > >
halal-halal saja. > > Bahan pokoknya adalah nangka muda (orang
Yogya > > menyebutnya ghori) yang > > direbus hingga
lunak, lalu diberi santan dan bumbu > > dapur tertentu > >
ditambah daun melinjo. > > > > Tetapi, pengalaman saya
membuktikan bahwa gudeg bisa > > dikategorikan jenis > >
makanan syubhat, bahkan haram. Saya berkenalan > > dengan lauk pauk
yang > > rasanya manis ini, antara tahun 1981-1987 ketika >
> saya berkuliah di salah > > satu perguruan tinggi negeri di
kota tersebut. Waktu > > itu saya kost hanya > > dengan
menyewa kamar dan makan di luar. Selama itu > > hampir tiap pagi
saya > > sarapan nasi gudeg. Selain manis, juga gurih, dan >
> tentu saja murah. > > Bahkan kalau pulang kampung, saya dan
teman-teman > > kadang membawa > > oleh-oleh gudeg yang
sudah dibuat tahan lama. > > > > Selama beberapa tahun,
saya menikmati gudeg tanpa > > ada > > rasa curiga atau
berprasangka buruk tentang > > kehalalannya. Namun, pada suatu
hari, ketika sedang > > membeli di warung langganan saya, saya
melihat di > > tempayan (tempat gudeg diolah), ada kepala dan
leher > > seekor ayam yang masih utuh (tidak ada bekas > >
sembelihan). Lalu saya tanya kepada si penjual > > gudeg, >
> apakah ayamnya tidak disembelih? > > > > Dengan
ringan si penjual menjawab bahwa sudah bisa > > bagi penjual/bakul
gudeg bahwa setiap ayam yang > > dimasak untuk gudeg, ayam tersebut
tidak disembelih, > > tetapi ditusuk dengan besi di bagian
lehernya. > > Sedang > > darah yang keluar ditampung dan
nantinya dicampur > > dengan santan untuk dicampur dengan gudeg
itu. Dan > > justru darah inilah yang memberi rasa gurih
dan > > meberi > > warna kecoklat-coklatan. Masya
Allah. > > > > Saya benar-benar terkejut, dan gudeg yang
saya beli > > pagi itupun segera saya tinggalkan. Saya
berusaha > > mencari informasi di tempat-tempat lain
tentang > > bahan-bahan dan cara pembuatannya. Ternyata
hampir > > semua jawaban sama, yaitu: ayamnya tidak
disembelih, > > tapi ditusuk, darah ayam ditampung, lalu
dimasukkan > > ke > > dalam gudegnya. > > >
> Pertanyaan kita, apakah semua penjual/pembuat gudeg > >
melakukan hal yang serupa? > > > > Wallaahua'lam. Dalam
masalah ini sebagai konsumen > > Muslim, yang diperlukan tentu saja
sikap jujur si > > penjual gudeg. Apakah ayamnya telah
disembelih > > secara > > Islami dan otomatis darahnya
tidak dicampurkan. Kita > > memang perlu bersikap hati-hati. Jangan
karena gudeg > > yang sudah merakyat, lalu kita seenaknya
saja > > mengikuti selera orang kebanyakan, padahal
Al-Qur'an > > jelas-jelas > > melarangnya: >
> > > Allah mengharamkan atas kamu (makan) bangkai, > >
darah,daging babi, dan apa yang disembelih dengan > > menyebut nama
selain Allah (QS Al-An'am: 145) > > > > >
> > > > > > > > > > Send
instant messages to your online friends
http://uk.messenger.yahoo.com > > > >
-------------------------------------------------- > Ikatan Alumni SMA
Negeri 1 Bekasi, forum untuk > menambah teman, saudara, sahabat, dan
[.....]. > > Jika ingin berhenti menerima email dari
sma1bks, > kirim email ke [EMAIL PROTECTED] >
> Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke >
[EMAIL PROTECTED] > Yahoo! Groups Links >
> > > > > > >
-- "My faith runs so very much faster than my reason that I
can challenge the whole world and say, 'God is, was and ever shall
be'." Mahatma
Gandhi
-------------------------------------------------- Ikatan
Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk menambah teman, saudara,
sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari
sma1bks, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin
menerima email dari sma1bks, kirim email
ke [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups
Links
<*> To visit your group on the web, go
to: http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/
<*> To
unsubscribe from this group, send an email
to: [EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of
Yahoo! Groups is subject
to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
Yahoo! Sports Rekindle
the Rivalries. Sign up for Fantasy Football
-------------------------------------------------- Ikatan
Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk menambah teman, saudara, sahabat,
dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, kirim
email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari
sma1bks, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
---- LSpots keywords ?>---- HM ADS ?>
--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
---- LSpots keywords ?>
---- HM ADS ?>
YAHOO! GROUPS LINKS
|