SUSU FORMULA: MAHAL BUKAN BERARTI
PALING BAGUS
/center>A SI memang merupakan
makanan terbaik untuk bayi. Tapi jika tak memungkinkan, susu formula terpaksa
jadi solusi.
Apakah semua susu
formula bisa untuk bayi? Kandungan apa pula yang mesti diperhatikan saat memilih
susu formula?
D ibandingkan dengan
susu formula termahal atau yang diklaim terbaik sekalipun, kualitas ASI takkan
pernah tertandingi. Ada begitu banyak kandungan zat-zat bermanfaat sekaligus
sangat dibutuhkan bayi untuk proses tumbuh kembang maupun penunjang
kecerdasannya yang tak dimiliki susu formula. Tak heran bila Departemen
Kesehatan maupun WHO (World Health Organization) menegaskan pentingnya pemberian
ASI eksklusif pada anak, minimal 6 bulan pertama.
Sayangnya, tak semua
ibu bisa mewujudkan keinginannya. Entah ASI-nya yang kurang memadai meski sudah
dipancing dengan berbagai cara, atau karena si ibu tengah sakit serius sehingga
harus mengonsumsi obat-obatan yang diduga mempengaruhi produksi ASI. Dalam
kondisi seperti ini tak ada pilihan lain kecuali memberi si kecil susu formula.
Akan tetapi memilihkan susu formula seperti apa yang harus diberikan kepada bayi
juga bukan perkara mudah. Soalnya, di pasaran beredar sekian banyak merek susu
formula khusus bayi yang mengklaim dirinya sebagai susu terbaik.
Menghadapi
persaingan pasar semacam itu Dr. Soenanto
Roewijoko, MS, Sp.A., mengingatkan para orang tua untuk tidak mudah
termakan rayuan/jerat iklan. Pasalnya, lanjut dokter spesialis anak yang antara
lain berpraktek di RS International MH. Thamrin, Salemba, Jakarta Pusat ini,
mahal tidaknya harga sekaleng susu formula tidak bisa dijadikan patokan untuk
menilai baik tidaknya kandungan zat-zat gizi yang sangat dibutuhkan bayi.
/fontfamily>SESUAIKAN DENGAN KEBUTUHAN
/center>Secara garis
besar komposisi susu berdasarkan asalnya dibedakan menjadi dua, yakni hewani
semisal susu sapi dan susu yang diolah dari bahan nabati, seperti susu kedelai.
Dari mana pun asalnya, Soenanto mengingatkan agar penggunaannya disesuaikan
dengan kebutuhan dan kondisi si bayi. Konkretnya, kalau ingin memberikan susu
nabati, perhatikan apakah pencernaan si bayi bermasalah atau tidak?" Pasalnya
buat anak yang memang tidak tahan, lemak nabati acapkali menyebabkan mencret.
Begitu juga dengan susu hewani akan menimbulkan masalah bila diberikan pada bayi
yang mengalami alergi/tidak tahan terhadap protein susu jenis ini.
Ada
satu hal yang juga harus diketahui bersama, yakni susu manis dan susu asam yang
masing-masing bisa dibedakan dari rasa, meski komposisinya tetap sama. Sedangkan
pengolahan susu mungkin saja berbeda untuk tiap merek. Semisal ada yang
menambahkan laktoferin yang diyakini bisa menghambat pertumbuhan kuman patogen
khusus dalam tubuh bayi. "Ini cuma variasi dari kemajuan teknologi yang tidak
terlalu penting. Sebab tidak ada campuran zat itu pun tidak apa-apa, kok,
sepanjang nutriennya lengkap dan kualitas susunya baik."
Sedangkan
komponen pembentuk susu, baik hewani maupun nabati, pastilah mengandung nutrien.
Yang dimaksud di sini adalah zat-zat dasar yang terdapat dalam susu itu sendiri,
seperti air, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Artinya, semua
produk susu formula berapa pun harganya pastilah memiliki kandungan zat-zat
tersebut. Kalau salah satu komponen itu tidak ada, ya namanya bukan susu. Itulah
mengapa Soenanto kembali mengingatkan agar sebagai konsumen orang tua mesti jeli
melihat kandungan 6 komponen utama tadi dalam susu formula apa pun yang jadi
pilihannya. Selain bahan dasar susu yang harus berkualitas baik, semisal dari
sapi yang sehat.
CERMATI
PERBEDAANNYA
/center>Yang tak kalah penting untuk
dicermati adalah kandungan nutrien susu formula yang jauh berbeda dengan
kandungan nutrien dalam susu yang diperuntukkan bagi anak di atas usia setahun,
terlebih susu bagi kalangan dewasa. Bahkan susu formula sendiri dibedakan
menjadi dua, yakni susu formula untuk 6 bulan ke bawah dan susu formula untuk 6
bulan ke atas. Mengapa? Karena bayi yang berusia 6 bulan ke bawah, ususnya belum
mampu mencerna nutrien susu dengan baik. "Makanya, susu untuk bayi usia ini
haruslah susu formula adaptif. Artinya, susu formula yang komposisi nutriennya
sudah disesuaikan dengan kemampuan bayi usia ini. Di antaranya rendah lemak dan
karbohidratnya tidak mengandung laktosa."
Khusus untuk kelompok usia 6
bulan ke bawah ini pun harus dibedakan lagi antara mereka yang lahir
cukup
bulan dengan bayi-bayi yang lahir kurang bulan ataupun yang lahir dengan BBLR
(berat badan lahir rendah). Untuk bayi enam bulan ke bawah yang lahir kurang
bulan atau BBLR, komposisi nutriennya diformulasikan lebih rendah dari susu
formula untuk bayi enam bulan ke bawah yang cukup bulan. Ini dimaksudkan
sebagai penyesuaian pada kondisi bayi yang kemampuan daya serapnya terhadap
nutrien masih kurang alias belum optimal, terutama ginjalnya (lihat tabel).
Jika orang tua tidak mencermati hal ini, bisa saja terjadi salah
memberikan susu formula. Akibatnya, bisa dipastikan bila si bayi yang lahir
tidak cukup bulan atau BBLR akan mengalami gangguan fungsi ginjal, semisal jumlah
urin berkurang.
Sedangkan untuk jenis susunya sendiri, sepanjang kondisi
si anak normal, Soenanto menganjurkan lebih baik memberikan susu formula hewani.
Pertimbangannya, selain rasanya lebih enak dan produknya mudah didapat, harganya
pun relatif terjangkau. Sebaliknya, susu nabati yang umumnya berasal dari kacang
kedelai biasanya kurang disukai bayi karena rasa dan aromanya yang kurang
enak/kurang disukai bayi. "Lain hal bila si bayi memang menyukai susu nabati dan
orang tua mampu mencukupinya, ya tidak masalah. Ini
hanya soal selera, kok."
Sementara untuk bayi yang lahir kurang bulan
atau BBLR, jika fungsi pencernaannya kurang baik amat dianjurkan untuk
memberikan susu formula nabati khusus untuk bayi dengan status ini. "Akan tetapi
kalau fungsi pencernaannya normal, tidak ada salahnya juga mengonsumsi susu
formula hewani yang khusus diperuntukkan untuk bayi dengan status kurang bulan
atau berat bayi lahir rendah."
IKUTI ATURAN PAKAI
/center>Untuk bisa
mengetahui susu yang cocok dan mana yang tidak untuk si kecil, menurut Soenanto,
sebenarnya tidaklah serumit yang kita bayangkan. Susu formula untuk bayi usia 6
bulan ke bawah dengan status normal, bisa dilihat di kemasan tiap produk.
Sedangkan susu formula bagi bayi 6 bulan ke bawah dengan status khusus amat
dianjurkan untuk bertanya langsung ke ahlinya. Soalnya, bisa jadi kandungan
nutrien yang bisa ditolerir masing-masing anak pun berbeda-beda.
Sementara susu formula bagi bayi 6 bulan ke atas nyaris tak ada
kesulitan apa pun mencarinya di pasaran. "Hampir semua merek susu, dari yang
murah sampai yang mahal memproduksi susu formula untuk anak usia ini yang
biasanya dinamai dengan susu tahap 1 dan seterusnya. Yang membedakan tahap 1 dan
lainnya pada susu, jelas Soenanto, hanyalah perbedaan banyak sedikitnya
kandungan nutrien, khususnya kalori. Biasanya semakin besar angka yang
ditunjukkan semakin besar juga kandungan nutriennya. Selain itu, orang tua pun
umumnya tak lagi terlalu dipusingkan oleh kandungan nutrien yang cocok untuk
anak usia ini. Soalnya, anak usia 6 bulan ke atas organ tubuhnya sudah mulai
kuat dan baik untuk mencerna apa yang ada, termasuk yang terkandung dalam susu.
Menurut Soenanto, yang penting untuk diperhatikan adalah kandungan
nutriennya tiap 100 gr kalori, apakah mencukupi kebutuhan tumbuh kembang si
anak atau tidak. Itulah mengapa, baik Soesanto maupun dokter anak pada umumnya
tidak merekomendasikan pemberian susu kental manis rasa apa pun pada bayi
mengingat kalorinya sangat rendah (lihat tabel).
Agar bisa memperoleh
hasil maksimal atau supaya kebutuhan nutrien, termasuk zat gizi lain anak
tercukupi, sebaiknya orang tua mengikuti segala hal yang telah
direkomendasikan produsen. Dari cara penyimpanan, batas ketahanan/masa
kedaluwarsa, hingga saran penyajiannya. "Kalau dalam kemasan ditulis 3 sendok
susu bubuk untuk 150 cc air, ya ikuti. Kalau tidak, semisal airnya lebih,
zat-zat penting tidak akan maksimal diperoleh anak. Sayang kan?"
/fontfamily>
JANGAN MUDAH TERKECOH IKLAN
/center>D alam memilih susu, orang tua tidak usah kelewat memusingkan
apakah susu tersebut mengandung asam lemak esensial atau tidak, ada kandungan
DHA-nya atau tidak, mengandung Omega 3 atau tidak. "Apa pun mereknya, semua susu
yang ada di pasaran pasti mengandung itu semua yang memang merupakan bagian dari
komponen nutrien susu." Hanya besar kecilnya kandungan masing-masing unsur tadi
pada setiap susu memang bisa saja berbeda. Toh sepanjang pemberiannya memenuhi
aturan penyajian, itu berarti sudah mencukupi kebutuhan komponen nutrien
yang harus diterima si bayi.
Akan tetapi begitu muncul keyakinan anak
tidak cocok dengan susu yang diberikan, seperti jadi mencret, mau tidak mau
orang tua harus mengganti susu tersebut. Hanya harus diketahui terlebih dahulu
kenapa si bayi bisa mencret. Menurut Soenanto, mencretnya si bayi karena susu
bisa disebabkan si anak tak tahan terhadap lemak tinggi (malabsorpsi lemak),
intoleransi terhadap laktose/karbohidrat khusus. Kalau sudah ketahuan apa
penyebabnya, akan lebih mudah penyelesaiannya. Semisal jika karena malabsorpsi
lemak, ya tinggal diganti dengan susu yang kadar lemaknya lebih rendah.
Sedangkan jika BB si kecil tak kunjung naik atau tubuhnya lemah dan
kelihatan tidak bergairah, "Itu sih bukan salah susunya. Akan tetapi kemungkinan
besar volume susu yang diminumnya setiap hari kurang, hingga kalori yang
diperoleh untuk tumbuh kembangnya juga kurang."
/fontfamily>
TABEL KEBUTUHAN NUTRIEN PADA
BAYI
/center>1. Kebutuhan
Air
Umur
Air/kgbb/hari (ml)
0-3 hari
80-100
10 hari
125-150
3 bulan
140-160
6
bulan
130-135
9 bulan
125-145
1 tahun
120-135
2. Kebutuhan
Energi
Umur
Kebutuhan energi
(Kal/kgbb/hari)
FAO (1971)
Nelson (1969)
0-3 bulan
120
3-5 bulan
115
6-8 bulan
110
9-11 bulan
105
Rata-rata selama masa bayi
112
110 (110-120)
3. Kebutuhan
Lemak
Hingga sekarang masih terdapat anggapan bahwa susu
tidak perlu mengandung lemak dalam jumlah banyak kecuali asam lemak esensial
(asam linoleat dan arakidonat). Untuk masa pertumbuhan yang cepat, lemak dalam
makanan/susu mempunyai arti sebagai berikut:
* Jika lemak kurang dari 20% kalori, maka
jumlah protein atau karbohidrat perlu ditingkatkan. Hanya saja ini akan
menyebabkan ginjal jadi terbebani, selain mungkin akan menimbulkan diare.
* Lemak merupakan makanan
berkalori banyak yang sangat diperlukan sebagai kebutuhan bayi juga anak.
* Lemak mengandung asam
lemak esensial, tapi bila kurang dari 0,1% dapat menimbulkan gangguan kulit pada
bayi, seperti kulit bersisik, rambut rontok dan hambatan pertumbuhan. Karena
itulah minimal 1% kalori harus berasal dari asam linoleat.
* Lemak merupakan sumber gliserida dan
kolesterol yang tidak dapat dibuat dari karbohidrat oleh bayi hingga 3 bulan.
* Lemak adalah zat yang
memberi rasa sedap pada susu dan ini umumnya disukai bayi.
* Lemak mempermudah absorpsi vitamin yang
larut dalam lemak, yakni vitamin A, D, E, dan K.
4. Kebutuhan Karbohidrat
Kebutuhan karbohidrat belum diketahui secara pasti. Bayi menyusui pada
ibunya mendapat 40% kalori dari laktosa. Pada usia yang lebih tua, kalori dan
hidrat arang bertambah jika bayi telah diberi makanan lain, terutama yang
mengandung banyak tepung seperti bubur susu dan nasi tim.
/fontfamily>
5. Kebutuhan
Karbohidrat
Umur (bulan)
Estimasi
(g/hari)
Kebutuhan (g/kg/hari)
Anjuran (g/hari)
Asupan (g/kg/hari)
0-2
10
2,2
14
3,0
2
11
2,0
15
2,7
4
12
1,7
16
2,3
6
12
1,6
16
2,2
8
12
1,2
16
1,6
10
12
1,2
16
1,6
12
12
1,2
16
1,56
6. Kebutuhan
Vitamin dan Mineral
(angka kecukupan gizi menurut Depkes RI,
1968)
Gol. Umur
Ca (g)
Fe (g)
Vit. A Sebagai Karoten (meg)
Tiamin (mg)
Ribo flavin (mg)
Niasin (mg)
Vit. C (mg)
Vit. D
U.I
6-12
0,6
8
1200
0,4
0,5
6
25
(400)
Sumber: buku pribadi dr.
Soenanto Roewijoko, MS. SpA. (Ilmu Kesehatan anak; FKUI;Bagian ilmu kesehatan
anak)
Gazali Solahuddin.
/fontfamily>