Seperti walet belajar terbang
“...But who ever tracers a freedom, like a swallow has
learn to fly” 
(Joan Baez: Donna Donna)

Kebebasan pastilah anugerah tertinggi yang dimiliki
manusia, setelah keimanan. Bahkan dalam perspektif
Islam, keimanan sejatinya adalah upaya untuk
membebaskan seluruh manusia. Islam membebaskan manusia
 dari belenggu kebodohan, keterpurukan moral serta
penghambaan manusia atas manusia lainnya.
Kebebasan sejatinya adalah lepas dari keterkukungan
dan keterbatasan, meski tidak selalu identik dengan
melanggar pelbagai aturan yang berlaku. Manusia akan
mempertaruhkan  segalanya untuk meraih kebebasan ini.
Sebuah bangsa jajahan misalnya, tanpa ragu akan
mempersembahkan nyawa diri dan kerabatnya, demi
mengecap hawa kebebasan (baca: kemerdekaan -pen).
Sebab selamanya penjajahan berisikan penindasan dan
penistaan terhadap hak paling azas yang dimiliki
secara melekat oleh manusia, yaitu kemerdekaan.
Telah bebaskah kini manusia dari penjajahan? Saya
ingin menjawab belum. Meski secara fisik, nyaris tidak
ada lagi penjajahan suatu bangsa atas bangsa yang
lain, tentu dengan pengecualian di Iraq dan Palestina,
sejatinya penjajahan masih terus berlangsung atas
negara-negara dunia ketiga. Bukankah dibalik program
bantuan dana dan dengan mengatasnamakan demokrasi,
Amerika dan sekutunya kerap memaksakan kepentingannya
atas negara-negara miskin? Indonesia adalah contoh
nyata tentang ini. 
Belum lekam dari ingatan kita ketika negeri jamrud
katulistiwa ini diterpa oleh badai krisis ekonomi pada
penghujung  tahun 1997. Sebagian besar sendi
perekonomian kita yang dibangun atas prinsip
konglomerasi, kolaps. Negeri berpenduduk sekira 200
juta jiwa ini menjadi amat bergantung pada bantuan
asing yang tergabung dalam IMF untuk memulihkan
kondisi perekonomiannya. Setelah itu, mulailah IMF
mendiktekan  program-program serta memaksakan
kepentingannya kepada bangsa Indonesia. 
Para ekonom senior negeri ini bertekuk lutut dihadapan
hegemoni IMF. Bangsa ini tak ubahnya seperti kerbau
yang dicucuk hidungnya saat itu. Lepasnya kepemilikan
beberapa aset strategis (blue chips -pen) bangsa ini,
adalah konsekuensi logis dari penjajahan dan
penjarahan ekonomi yang terbungkus  topeng dana
pinjaman internasional.    
Tak  ayal, seruan untuk berlepas diri dari cengkraman
lintah darat kelas dunia itu terus digaungkan oleh
masyarakat. Sebab kemerdekaan bangsa ini adalah jauh
lebih bernilai dibandingkan dengan sejumlah nominal
bantuan asing. Dan semestinya pengalaman masa lalu
yang kelam ini membuat bangsa kita belajar untuk tidak
selalu bergantung pada bantuan asing.
Kini kita perlu belajar terbang. Meraih kebebasan
sejati yang selalu kita impikan. Untuk itu kita
memerlukan sayap yang memungkinkan kita mengangkasa.
Saya ingin mengatakan bahwa sayap itu identik dengan
kekuatan intelektualitas bangsa Indonesia.
Belajarlah dari negeri jiran Malaysia. Bukankah pada
era 80-an Malaysia  banyak belajar dari negeri ini?
Petronas merupakan bukti tak terbantahkan tentang ini.
Produsen minyak kelas dunia itu dulu merupakan anak
didik Pertamina. Kini  kita harus mengakui bahwa
Petronas jauh lebih maju dari Pertamina. Petronas
adalah potret murid yang melampaui gurunya.
Semua bermula dari keseriusan negeri jiran itu dalam
memperkuat basis intelektualitasnya. Alokasi anggaran
yang besar di sektor pendidikan kini membuahkan
kemajuan yang nyata. Mereka telah belajar terbang, dan
tidak lagi menggantungkan diri pada kekuatan asing.
Malaysia dibawah kepemimpinan Mahatir adalah potret
negara berdaulat yang tengah menapaki era
kemajuaannya, dan proses itu masih berlanjut hingga
kini, pasca kepemimpinan doktor honoris causa Unpad
itu. Bagaimana dengan Indonesia?


Genis Ginanjar Wahyu, dr
Dokter umum, tinggal di Bandung 

d.a Jalan Ahmad IV. No 28 Kelurahan Pamoyanan, 
kecamatan Cicendo, Bandung 40173
Telp: 0817825212
Bank Muamalat Indonesia Capem Cihampelas, Bandung
a.n Nugria Fitriana 
Nomor rekening: 103.03470.22 



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk 
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, 
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke