Buat
yang ga baca di kompas, Nice to read
sori
klo dah pernah dapet
cheers
@ji
Teror di Lingkungan Sekolah ...
Jakarta, Kompas
Bembi (48) seperti terkesima ketika melihat putri bungsunya yang berusia 14 tahun berusaha keluar rumah lewat jendela apartemen. Lebih kaget lagi ketika melihat si anak menyapa hampir semua anak sebaya seakan-akan mereka adalah teman sekolahnya.
Peristiwa yang nyaris merenggut nyawa anaknya itu seperti merupakan puncak dari banyak peristiwa lain yang luput dari perhatiannya sebagai orangtua. Tetapi peristiwa itu menyadarkannya tentang sesuatu yang tidak beres pada putrinya, dan membutuhkan bantuan ahli untuk jalan keluar.
Dari pertemuan dengan psikiater, Bembi baru tahu anaknya mengalami depresi berat. Anak itu menjadi korban bullying (teror berupa pengucilan, pelecehan, pemalakan, intimidasi, ejekan, gosip, fitnah, kekerasan fisik atau mental secara luas) teman sekelas. Bembi terenyak dan merasa bersalah karena tak mampu menengarai pertanda yang dibawa si anak.
"Selama ini semuanya tampak baik-baik saja. Dia sekolah seperti biasa. Les juga jalan dan nilainya lumayan," lanjutnya.
Bembi lalu membicarakan persoalan itu dengan pihak guru, yang kemudian lebih memerhatikan interaksi sosial murid-muridnya. "Mereka baru sadar anak saya korban bullying," kata ayah dua anak ini.
Kasus tersebut bisa dikategorikan berat karena anak sampai tak mampu berbicara dengan baik, tak bisa menjawab pertanyaan sederhana sekalipun.
"Ngomongnya kacau, kami tidak tahu maksudnya. Jadi kami biasakan dia menuliskan apa yang dikatakan. Kami latih dia membaca koran, buku cerita, majalah, lalu menuliskan kembali isinya. Ini latihan agar dia kembali bisa fokus, konsentrasi," tuturnya.
Setelah peristiwa itu, Bembi memerhatikan pola sehari-hari si bungsu. Selain interaksi sosial yang menyakitkan-membuat korban bullying tak tahu ke mana mencari pertolongan-dia menemukan fakta lain, bahan permenungan sebagai orangtua.
"Beban pekerjaan rumah, tugas, dan kurikulum bagi anak luar biasa beratnya. Ini masih ditambah godaan konsumtif dari mal, televisi, dan internet. Sementara kami, ayah ibunya, terus bekerja sampai tak punya cukup waktu untuk memerhatikan anak- anak," ucap Bembi.
Pada semua tingkatan
a.. Bullying terjadi pada semua tingkatan sekolah, dari SD sampai
SLTA.
Kalau anak Bembi mengalaminya di bangku SMP, Wiwik yang tinggal di Jakarta Selatan berkisah, anak lelakinya mengalami saat duduk di kelas I SMA.
Anaknya yang berperawakan kecil kerap jadi bahan ejekan teman-temannya. Dia diejek sebagai banci. Pernah karena tak tahan, si anak melawan. Lalu terjadi perkelahian tak seimbang karena yang mengeroyok adalah sekelompok anak berbadan besar.
Peristiwa itu membuat guru dan orangtua turun tangan, kasus bullying pun terungkap. Di depan guru dan orangtua, semua murid sepakat tak akan menjadi pelaku maupun korban bullying. Janji tinggal janji. Faktanya si anak dikucilkan dari pergaulan. Padahal, pada usia 15-17 tahun kebutuhan rasa diterima lingkungan amat besar. Selain tak diterima di lingkungan murid kelas I, anak itu masih harus menerima
bullying dari murid kelas II dan III.
"Itu dilakukan pada semua murid kelas I. Mereka diharuskan memanggil dengan sebutan 'kak', mengucapkan salam kalau ketemu di mal atau tempat umum sambil menundukkan kepala," cerita Wiwik.
Ancaman fisik bagi anak lelakinya teratasi. Namun, bullying tetap berlangsung di lingkungan sekolah. Wiwik menceritakan teman anaknya yang disebut homo, gendut, sampai si anak sakit akibat tekanan psikis. Teror verbal tersebut tak terperhatikan oleh guru karena di sekolah itu ada lebih dari lima kelas I yang masing-masing diisi
sekitar 40 murid.
Ketika si anak mogok sekolah, Wiwik langsung menyadari anaknya kembali menjadi korban bullying. Dia membawa anaknya ke psikiater.
"Kami bicara. Anak saya dimintai pendapat juga dan dia memilih pindah sekolah. Saya membawa dia ke beberapa sekolah. Dia memilih sekolah dengan jumlah murid tak lebih dari 30 orang sekelas," ujar Wiwik.
Sementara Dina baru menyadari anaknya menjadi korban bullying setelah terjadi peristiwa yang melibatkan guru.
Pelaku bullying, anak perempuan bertubuh besar di kelas III SD, berhasil membawa empat teman sekelasnya keluar pagar sekolah saat berlangsung pelajaran dengan mengelabui satpam.
Padahal sekolah itu terkenal sangat disiplin.
Guru di kelas sempat kelabakan karena lima muridnya tak ada. Ia baru tahu apa yang terjadi setelah empat anak tersebut kembali ke kelas dan menceritakan peristiwa yang menimpa mereka.
"Itu puncaknya," ujar Dina. Ia mengaku tidak menyadari anaknya menjadi korban bullying sejak kelas I SD.
"Temannya itu seperti melindungi, tetapi sebenarnya selama tiga tahun itu ia menguasai Runa, sampai anak saya kehilangan rasa percaya diri. Teman-teman yang bergaul dengan Runa diseleksi. Runa terus diawasi dan harus melakukan apa yang diperintahkan. Tak jarang ia dicubit dan diejek. Runa berusaha tampil seakan semuanya baik-baik, karena takut ancaman temannya itu," sambung Dina.
Setelah peristiwa itu, Dina berbicara dengan pihak sekolah. Ia minta anaknya pindah kelas. Permintaan itu dikabulkan setelah Dina mengancam akan memindahkan anaknya ke sekolah lain. "Ketika sudah pindah kelas, kepercayaan dirinya tumbuh dan Runa tampak lebih ceria." ujarnya.
Bergaul dengan murid
a.. Untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya bullying antarsiswa, seorang guru di sebuah sekolah di Jakarta Selatan menganjurkan agar pihak pengajar berusaha bergaul dengan murid. Sekat posisi antara guru dan murid di kelas harus diupayakan cair di luar kelas.
"Dengan mendekatkan diri kepada murid, kita langsung tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres. Tapi ini pun tidak mudah karena anak-anak biasanya langsung bungkam kalau gurunya nimbrung," ujarnya.
Dari pengalamannya ia tahu efek bullying biasanya baru tampak setelah hal itu terjadi sekitar satu semester. Ini bisa diketahui dari percakapan si korban maupun pelaku dengan guru konseling saat curhat dengan teman, atau ketika anak tampak selalu menyendiri, bahkan mogok sekolah.
Dia mengakui banyak guru masih tak peduli dengan masalah bullying karena menganggap akan berlalu seiring waktu. Namun banyak pula guru yang telah berusaha mengatasi, bahkan mencegahnya.
"Wali kelas menyediakan jam-jam khusus untuk mendengarkan apa saja cerita anak-anak. Ini juga untuk memantau apakah ada bullying," ujarnya.
Selain itu, murid juga dibekali pengetahuan yang berhubungan dengan interaksi sosial, seperti saling menghormati, tanggung jawab, kemampuan komunikasi interpersonal, dan pemahaman mengenai pengaruh tindakan satu orang terhadap yang lain maupun lingkungannya.
"Kami melakukannya lewat pembahasan materi pelajaran bahasa Indonesia sampai sejarah. Juga lewat nonton film bersama dan main drama. Bahkan lirik lagu pun bisa menjadi bahan bahasan yang mengarah ke soal bullying," sambungnya.
Persoalan lain yang muncul: bagaimana kalau guru melakukan bullying di sekolah sebagai cara "menghukum" atau "mendisiplinkan" murid?
Seperti dikatakan Dr Andrew Miller dari Jaringan Anti Bullying di Skotlandia, tindakan (termasuk ucapan) apa pun bisa dianggap sebagai bullying kalau ada efeknya terhadap anak. Efek itu antara lain berupa rasa malu dan takut!
Jangan Dianggap Wajar
a.. Mengatasi masalah bullying antarsiswa di sekolah, menurut psikolog Ratna Juwita, tak bisa diserahkan sepenuhnya kepada guru.
Diperlukan kerja sama semua orang di sekolah, orangtua dan lingkungan.
"Ini mudah dibicarakan, tetapi sulit dilaksanakan karena yang dibutuhkan adalah komitmen semua pihak," ujarnya.
Bullying, kata Ratna, berlangsung sejak TK saat anak berebut mainan dan memaksakan kehendaknya pada teman seusia lainnya.
"Anak seharusnya belajar dari sekolah dan orangtua, memaksakan kehendak bukan hal yang baik. Intervensi keluarga dan sekolah membuat anak tidak menjadi pelaku maupun korban bullying," sambungnya.
Sayangnya, sebagian orangtua masih beranggapan, anak sebagai pelaku bullying berpotensi menjadi jagoan. Ini membanggakan.
Menurut Ratna, "Sebagian guru pun menganggap biasa kalau kakak kelas mengintimidasi adik kelas. Alasannya, si adik kelas juga akan melakukan hal sama kalau dia sudah duduk di kelas yang lebih tinggi. Suasana seperti itu sangat kondusif memunculkan bullying."
Ketika si kuat seakan mendapat "restu" atau "izin" meneror si lemah, baik secara psikologis maupun kekuatan fisik, pengaruh, dan harta benda, bullying akan terus berlangsung. Ratna merasa prihatin karena hasil penelitiannya memperlihatkan, di kota besar bullying dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
"Contohnya, kakak kelas mengintimidasi adik kelas, guru dan orangtua menganggap itu sebagai tradisi. Kalau ada anak yang pembawaan atau fisiknya beda lalu menjadi bahan ejekan. Itu dianggap wajar karena sekadar guyonan. Bagi guru, orangtua, dan anak yang tidak mengalami, hal itu bisa tak berarti. Tapi untuk korban, ini merupakan tekanan hidup yang amat berat," tuturnya.
Kalau hal-hal seperti itu terus dibiarkan, dan bullying "disahkan" dalam tatanan kehidupan, itu akan mengakibatkan si korban menderita depresi atau kehilangan rasa percaya diri.
Sementara pelaku tumbuh menjadi kriminal atau sosok penguasa yang tak punya empati terhadap orang lain. Psikoterapis Dr Andrew Miller di Skotlandia yang meneliti masalah ini selama lebih 20 tahun juga memaparkan hal serupa.
Tumbuh subur
a.. Mengapa bullying tumbuh subur? Andrew Miller menyebutkan, secara umum bullying sangat terkait dengan relasi kuasa.Hasil penelitian Ratna menyebut budaya feodalisme merupakan salah satu faktor. Ketika orang muda harus menghormati mereka yang usianya lebih tua apa pun perlakuan mereka; ketika sebagian guru menganggap bullying di sekolah akan berlalu seiring waktu; dan ketika orangtua
melihat bullying sebagai "ujian" bagi anak agar menjadi pribadi tahan banting dan disiplin.
Kelas-kelas di sekolah dengan jumlah murid yang besar berpotensi menumbuhkan suasana bullying dibanding sekolah dengan jumlah murid terbatas.
Menurut Ratna, salah satu faktor untuk menghindari bullying adalah mempertimbangkan rasio ideal antara jumlah murid dan guru. Ini agar guru dan murid bisa saling mengidentifikasi diri dan pihak sekolah bisa mengawasi tingkah laku setiap murid.
Ratna juga mendapati anak yang tak mulus interaksinya dengan sang ayah, cenderung menjadi pelaku atau korban bullying. Ayah yang tak memberikan perhatian cukup pada anaknya-laki maupun perempuan-menyebabkan si anak tanpa sadar bertingkah laku apa pun untuk menarik perhatian.
"Mereka menularkan perasaan tak amannya di rumah ke sekolah. Kalau tidak cepat ditanggapi, pelaku bullying bisa tumbuh menjadi pribadi sewenang-wenang. Sementara korban bullying dapat berubah menjadi pelaku," kata pengajar Fakultas Psikologi UI yang meneliti bullying di beberapa sekolah ini.
---------------------------------
Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1¢/min.
[Non-text portions of this message have been removed]
Jakarta, Kompas
Bembi (48) seperti terkesima ketika melihat putri bungsunya yang berusia 14 tahun berusaha keluar rumah lewat jendela apartemen. Lebih kaget lagi ketika melihat si anak menyapa hampir semua anak sebaya seakan-akan mereka adalah teman sekolahnya.
Peristiwa yang nyaris merenggut nyawa anaknya itu seperti merupakan puncak dari banyak peristiwa lain yang luput dari perhatiannya sebagai orangtua. Tetapi peristiwa itu menyadarkannya tentang sesuatu yang tidak beres pada putrinya, dan membutuhkan bantuan ahli untuk jalan keluar.
Dari pertemuan dengan psikiater, Bembi baru tahu anaknya mengalami depresi berat. Anak itu menjadi korban bullying (teror berupa pengucilan, pelecehan, pemalakan, intimidasi, ejekan, gosip, fitnah, kekerasan fisik atau mental secara luas) teman sekelas. Bembi terenyak dan merasa bersalah karena tak mampu menengarai pertanda yang dibawa si anak.
"Selama ini semuanya tampak baik-baik saja. Dia sekolah seperti biasa. Les juga jalan dan nilainya lumayan," lanjutnya.
Bembi lalu membicarakan persoalan itu dengan pihak guru, yang kemudian lebih memerhatikan interaksi sosial murid-muridnya. "Mereka baru sadar anak saya korban bullying," kata ayah dua anak ini.
Kasus tersebut bisa dikategorikan berat karena anak sampai tak mampu berbicara dengan baik, tak bisa menjawab pertanyaan sederhana sekalipun.
"Ngomongnya kacau, kami tidak tahu maksudnya. Jadi kami biasakan dia menuliskan apa yang dikatakan. Kami latih dia membaca koran, buku cerita, majalah, lalu menuliskan kembali isinya. Ini latihan agar dia kembali bisa fokus, konsentrasi," tuturnya.
Setelah peristiwa itu, Bembi memerhatikan pola sehari-hari si bungsu. Selain interaksi sosial yang menyakitkan-membuat korban bullying tak tahu ke mana mencari pertolongan-dia menemukan fakta lain, bahan permenungan sebagai orangtua.
"Beban pekerjaan rumah, tugas, dan kurikulum bagi anak luar biasa beratnya. Ini masih ditambah godaan konsumtif dari mal, televisi, dan internet. Sementara kami, ayah ibunya, terus bekerja sampai tak punya cukup waktu untuk memerhatikan anak- anak," ucap Bembi.
Pada semua tingkatan
a.. Bullying terjadi pada semua tingkatan sekolah, dari SD sampai
SLTA.
Kalau anak Bembi mengalaminya di bangku SMP, Wiwik yang tinggal di Jakarta Selatan berkisah, anak lelakinya mengalami saat duduk di kelas I SMA.
Anaknya yang berperawakan kecil kerap jadi bahan ejekan teman-temannya. Dia diejek sebagai banci. Pernah karena tak tahan, si anak melawan. Lalu terjadi perkelahian tak seimbang karena yang mengeroyok adalah sekelompok anak berbadan besar.
Peristiwa itu membuat guru dan orangtua turun tangan, kasus bullying pun terungkap. Di depan guru dan orangtua, semua murid sepakat tak akan menjadi pelaku maupun korban bullying. Janji tinggal janji. Faktanya si anak dikucilkan dari pergaulan. Padahal, pada usia 15-17 tahun kebutuhan rasa diterima lingkungan amat besar. Selain tak diterima di lingkungan murid kelas I, anak itu masih harus menerima
bullying dari murid kelas II dan III.
"Itu dilakukan pada semua murid kelas I. Mereka diharuskan memanggil dengan sebutan 'kak', mengucapkan salam kalau ketemu di mal atau tempat umum sambil menundukkan kepala," cerita Wiwik.
Ancaman fisik bagi anak lelakinya teratasi. Namun, bullying tetap berlangsung di lingkungan sekolah. Wiwik menceritakan teman anaknya yang disebut homo, gendut, sampai si anak sakit akibat tekanan psikis. Teror verbal tersebut tak terperhatikan oleh guru karena di sekolah itu ada lebih dari lima kelas I yang masing-masing diisi
sekitar 40 murid.
Ketika si anak mogok sekolah, Wiwik langsung menyadari anaknya kembali menjadi korban bullying. Dia membawa anaknya ke psikiater.
"Kami bicara. Anak saya dimintai pendapat juga dan dia memilih pindah sekolah. Saya membawa dia ke beberapa sekolah. Dia memilih sekolah dengan jumlah murid tak lebih dari 30 orang sekelas," ujar Wiwik.
Sementara Dina baru menyadari anaknya menjadi korban bullying setelah terjadi peristiwa yang melibatkan guru.
Pelaku bullying, anak perempuan bertubuh besar di kelas III SD, berhasil membawa empat teman sekelasnya keluar pagar sekolah saat berlangsung pelajaran dengan mengelabui satpam.
Padahal sekolah itu terkenal sangat disiplin.
Guru di kelas sempat kelabakan karena lima muridnya tak ada. Ia baru tahu apa yang terjadi setelah empat anak tersebut kembali ke kelas dan menceritakan peristiwa yang menimpa mereka.
"Itu puncaknya," ujar Dina. Ia mengaku tidak menyadari anaknya menjadi korban bullying sejak kelas I SD.
"Temannya itu seperti melindungi, tetapi sebenarnya selama tiga tahun itu ia menguasai Runa, sampai anak saya kehilangan rasa percaya diri. Teman-teman yang bergaul dengan Runa diseleksi. Runa terus diawasi dan harus melakukan apa yang diperintahkan. Tak jarang ia dicubit dan diejek. Runa berusaha tampil seakan semuanya baik-baik, karena takut ancaman temannya itu," sambung Dina.
Setelah peristiwa itu, Dina berbicara dengan pihak sekolah. Ia minta anaknya pindah kelas. Permintaan itu dikabulkan setelah Dina mengancam akan memindahkan anaknya ke sekolah lain. "Ketika sudah pindah kelas, kepercayaan dirinya tumbuh dan Runa tampak lebih ceria." ujarnya.
Bergaul dengan murid
a.. Untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya bullying antarsiswa, seorang guru di sebuah sekolah di Jakarta Selatan menganjurkan agar pihak pengajar berusaha bergaul dengan murid. Sekat posisi antara guru dan murid di kelas harus diupayakan cair di luar kelas.
"Dengan mendekatkan diri kepada murid, kita langsung tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres. Tapi ini pun tidak mudah karena anak-anak biasanya langsung bungkam kalau gurunya nimbrung," ujarnya.
Dari pengalamannya ia tahu efek bullying biasanya baru tampak setelah hal itu terjadi sekitar satu semester. Ini bisa diketahui dari percakapan si korban maupun pelaku dengan guru konseling saat curhat dengan teman, atau ketika anak tampak selalu menyendiri, bahkan mogok sekolah.
Dia mengakui banyak guru masih tak peduli dengan masalah bullying karena menganggap akan berlalu seiring waktu. Namun banyak pula guru yang telah berusaha mengatasi, bahkan mencegahnya.
"Wali kelas menyediakan jam-jam khusus untuk mendengarkan apa saja cerita anak-anak. Ini juga untuk memantau apakah ada bullying," ujarnya.
Selain itu, murid juga dibekali pengetahuan yang berhubungan dengan interaksi sosial, seperti saling menghormati, tanggung jawab, kemampuan komunikasi interpersonal, dan pemahaman mengenai pengaruh tindakan satu orang terhadap yang lain maupun lingkungannya.
"Kami melakukannya lewat pembahasan materi pelajaran bahasa Indonesia sampai sejarah. Juga lewat nonton film bersama dan main drama. Bahkan lirik lagu pun bisa menjadi bahan bahasan yang mengarah ke soal bullying," sambungnya.
Persoalan lain yang muncul: bagaimana kalau guru melakukan bullying di sekolah sebagai cara "menghukum" atau "mendisiplinkan" murid?
Seperti dikatakan Dr Andrew Miller dari Jaringan Anti Bullying di Skotlandia, tindakan (termasuk ucapan) apa pun bisa dianggap sebagai bullying kalau ada efeknya terhadap anak. Efek itu antara lain berupa rasa malu dan takut!
Jangan Dianggap Wajar
a.. Mengatasi masalah bullying antarsiswa di sekolah, menurut psikolog Ratna Juwita, tak bisa diserahkan sepenuhnya kepada guru.
Diperlukan kerja sama semua orang di sekolah, orangtua dan lingkungan.
"Ini mudah dibicarakan, tetapi sulit dilaksanakan karena yang dibutuhkan adalah komitmen semua pihak," ujarnya.
Bullying, kata Ratna, berlangsung sejak TK saat anak berebut mainan dan memaksakan kehendaknya pada teman seusia lainnya.
"Anak seharusnya belajar dari sekolah dan orangtua, memaksakan kehendak bukan hal yang baik. Intervensi keluarga dan sekolah membuat anak tidak menjadi pelaku maupun korban bullying," sambungnya.
Sayangnya, sebagian orangtua masih beranggapan, anak sebagai pelaku bullying berpotensi menjadi jagoan. Ini membanggakan.
Menurut Ratna, "Sebagian guru pun menganggap biasa kalau kakak kelas mengintimidasi adik kelas. Alasannya, si adik kelas juga akan melakukan hal sama kalau dia sudah duduk di kelas yang lebih tinggi. Suasana seperti itu sangat kondusif memunculkan bullying."
Ketika si kuat seakan mendapat "restu" atau "izin" meneror si lemah, baik secara psikologis maupun kekuatan fisik, pengaruh, dan harta benda, bullying akan terus berlangsung. Ratna merasa prihatin karena hasil penelitiannya memperlihatkan, di kota besar bullying dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
"Contohnya, kakak kelas mengintimidasi adik kelas, guru dan orangtua menganggap itu sebagai tradisi. Kalau ada anak yang pembawaan atau fisiknya beda lalu menjadi bahan ejekan. Itu dianggap wajar karena sekadar guyonan. Bagi guru, orangtua, dan anak yang tidak mengalami, hal itu bisa tak berarti. Tapi untuk korban, ini merupakan tekanan hidup yang amat berat," tuturnya.
Kalau hal-hal seperti itu terus dibiarkan, dan bullying "disahkan" dalam tatanan kehidupan, itu akan mengakibatkan si korban menderita depresi atau kehilangan rasa percaya diri.
Sementara pelaku tumbuh menjadi kriminal atau sosok penguasa yang tak punya empati terhadap orang lain. Psikoterapis Dr Andrew Miller di Skotlandia yang meneliti masalah ini selama lebih 20 tahun juga memaparkan hal serupa.
Tumbuh subur
a.. Mengapa bullying tumbuh subur? Andrew Miller menyebutkan, secara umum bullying sangat terkait dengan relasi kuasa.Hasil penelitian Ratna menyebut budaya feodalisme merupakan salah satu faktor. Ketika orang muda harus menghormati mereka yang usianya lebih tua apa pun perlakuan mereka; ketika sebagian guru menganggap bullying di sekolah akan berlalu seiring waktu; dan ketika orangtua
melihat bullying sebagai "ujian" bagi anak agar menjadi pribadi tahan banting dan disiplin.
Kelas-kelas di sekolah dengan jumlah murid yang besar berpotensi menumbuhkan suasana bullying dibanding sekolah dengan jumlah murid terbatas.
Menurut Ratna, salah satu faktor untuk menghindari bullying adalah mempertimbangkan rasio ideal antara jumlah murid dan guru. Ini agar guru dan murid bisa saling mengidentifikasi diri dan pihak sekolah bisa mengawasi tingkah laku setiap murid.
Ratna juga mendapati anak yang tak mulus interaksinya dengan sang ayah, cenderung menjadi pelaku atau korban bullying. Ayah yang tak memberikan perhatian cukup pada anaknya-laki maupun perempuan-menyebabkan si anak tanpa sadar bertingkah laku apa pun untuk menarik perhatian.
"Mereka menularkan perasaan tak amannya di rumah ke sekolah. Kalau tidak cepat ditanggapi, pelaku bullying bisa tumbuh menjadi pribadi sewenang-wenang. Sementara korban bullying dapat berubah menjadi pelaku," kata pengajar Fakultas Psikologi UI yang meneliti bullying di beberapa sekolah ini.
---------------------------------
Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1¢/min.
[Non-text portions of this message have been removed]
This e-mail message has been scanned for Viruses and Content and cleared by NetIQ MailMarshal
--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "sma1bks" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
