ada-ada aja kelakuan anak angkatan 93 berarti waktu ada pelajaran masak dulu...siapa ya yang masak :))
Jadi Pengen Tahu..... SALAM JUGA UNTUK SEMUA ANGKATAN 93..... DAN JADILAH PARA SUAMI DAN ISTERI YANG SETIA..... ARIEF Y. 3A23-93 --- komar udin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Kopi Asin dan Pahitnya Isi Ampela > > > Sebuah siang delapan tahun silam. Mentari panas. > Angin > kering. Udara meresahkan. Suasana makin resah > setelah > beberapa kali kucoba membuat rak buku, beberapa kali > pula gagal. Rak itu bukannya berdiri dengan tegap. > Malah, doyong dan, pasti, ambruk bila diisi buku. > Huh, > berulang kali kucoba, berulangkali pula tidak jadi. > Menyesal mulai menyelimuti. Seandainya saja Aku dulu > belajar hal-hal yang teknis seperti ini, mungkin > keadaannya akan jauh berbeda dengan saat ini. > Sebagai > aktivis, aku cenderung meremehkan pekerjaan itu. Aku > lebih suka melahap waktu berjam-jam di depan buku. > > Persoalan muncul setelah menikah. Aku dipaksa > keadaan > untuk membuka sebuah toko buku. Jadilah kemudian, > aku > mulai mengecat dan membuat rak buku. Begitulah > jadinya. Cat hasil polesanku warnanya tak karuan. > Dan, > rak buku? Tak kunjung jadi! > > Peluh mulai membasahi. Dengan punggung tanganku > kuusap. Kutarik nafas sebentar memandangi tumpukan > kayu. Tiba-tiba, Assalamualaium. Seorang gadis > manis datang: kamu, istriku. > > Kedatanganmu mengusir semua resah. Maklumlah, > pengantin baru. Kira-kira baru sebulan kita menikah. > Seperti biasa, kamu datang membawakan makan siang > untukku. > > Walaikum salam. Aku menyambutmu dengan uluran > tangan. Kau sambut dengan mencium punggung tanganku. > Ah, kamu. Aku tersenyum sumringah. Begitu juga kamu. > Pernikahan kita yang tanpa diawali pacaran membuat > beda. > > > > > > > > > > > > > Masih serasa seperti pacaran. Pun, hingga delapan > tahun berselang. > > Gimana Bang? Beres? > Yah, beginilah. Aktivis yang biasa ngisi training, > bingung ketika disuruh bikin rak. Aku membereskan > kayu-kayu yang berserakan. Mempersilahkanmu > menggelar > rantang berisi makan siang. Indahnya momentum itu. > Dan, sayangnya tak pernah terulang. Apalagi, setelah > kapal rumahtangga kita berlabuh berjalin tahun. > Kesibukanku akhirnya membunuh terciptanya > momen-moemn > indah saat kita bersama. > > Dari kresek hitam, rantang putih dikeluarkan. > Bersamaan dengan itu, dua buah plastik putih berisi > lauk. Yang pertama, warnanya hijau dan, bisa > ditebak, > sayur bayam. Yang kedua agak gelap. Nampak seperti > rendang daging agak kecoklatan. > > Kamu mengeluarkan tutup baskom yang kemudian > digunakan > sebagai piring. Dengan sendok, kamu keluarkan > segumpal > dua nasi ke tutup baskom. Sesuatu yang kukira daging > tadi kamu keluarkan, dan langsung menempatkannya di > atas nasi putih. Ternyata bukan daging. Terakhir, > wadah itu disiram sayur bayam. > > wuih, nampaknya enak. Apaan nih? Aku menerima > hidangan makan siangku bersamaan dengan dorongan air > liur dan perut yang memang tak berpenghuni sejak > pagi. > Keroncongan. > > Ternyata bukan daging. Itu ampela bang, katamu > singkat sembari merapikan nasi yang masih tersisa di > baskom. > > Aku perhatikan sebentar. Agak aneh. Ampela itu masih > bulat. Persis seperti segumpal batu berwarna > kecoklatan. Tapi, rasa laparku menepis keraguan itu. > Berdoa sebentar. Tanganku langsung menyambar nasi. > Dilanjutkan dengan menggigit sedikit ampela itu. > Anehnya, bekas gigitan itu nampak seperti bumbu. > Agak > kehitaman. Lalu, rasanya koq aneh. Agak pahit. Tidak > seperti daging ayam pada umumnya. > > Ini apaan Nda? Aku menghentikan kunyahan dan > memandang ampela yang sudah tergores. Kamu pun > memandang serupa. > > Iya yah, apaan tuh. Kamu malah balik bertanya > lagi. > Kamu terlihat sedikit grogi. > > Aku jadi nggak tega. Ah, sudahlah, untuk tidak > menyakiti perasaanmu aku melanjutkan makan siangku. > > Bumbu kali. Katamu memberikanku semangat untuk > melanjutkan santap siangku. Walau, rasanya aneh. > > Terlihat sekali kamu bingung. Tak mengerti. Aneh > juga > yah, kamu yang masak. Tapi, kamu juga tak mengerti. > Aku pun mulai ragu. Kunyahanku melambat. > > Kamu segera mencubit bagian dalam ampela itu. Dan, > mencicipinya. Kamu langsung berlari keluar dan > muntah. > > Aku berlari mengejarmu. Memegang lehermu. Kenapa > Nda? > > Dengan mata berair, kamu memandangku dan berkata, > Itu > bukan bumbu bang .! > > > Astagfirulllah, Aku terkejut bukan kepalang. Ups, > aku > baru sadar bahwa di dalam ampela ayam itu bukan > bumbu > tapi kotorannya. Tapi, satu suapan sudah melewati > kerongkongan. Aku langsung berlari meraih gelas dan > berkumur-kumur. > > Aku lihat, kamu memandangku dengan perasaan bersalah > sembari menutup mulut. Maaf terdengar kamu > berdesis. > Kita bertatapan. Ada embung bening terlukis di > matamu. > > > Aku bukannya marah. Malah, tertawa > terpingkal-pingkal. > MasyaAllah, seumur hidup baru kali ini aku mengalami > makan kotoran ayam. > > Memangnya kamu nggak bongkar dulu? > Aku nggak tahu. > > Dasar anak kuliahan. Bisanya masak air dan mie > rebus. Aku memegang kepalamu. > > Kenangan manis yang selalu menyibak tawa saat > kukenang. > > > Sayang, aku pun teringat forward seorang teman. > Begini > ceritanya : > > > Dia bertemu dengan gadis itu di sebuah pesta, gadis > yang menakjubkan. > Banyak pria berusaha mendekatinya. Sedangkan dia > sendiri hanya seorang > laki-laki biasa. Tak ada yang begitu > menghiraukannya. > Saat pesta telah > usai, dia mengundang gadis itu untuk minum kopi > bersamanya. Walaupun > terkejut dengan undangan yang mendadak, si gadis > tidak > mau > mengecewakannya. > > Mereka berdua duduk di sebuah kedai kopi yang > nyaman. > Si laki-laki begitu gugup untuk mengatakan sesuatu, > sedangkan sang gadis merasa sangat tidak nyaman. > > "Ayolah, cepat. Aku ingin segera pulang", kata sang > gadis dalam hatinya. Tiba-tiba si laki-laki berkata > pada pelayan, "Tolong ambilkan saya garam. Saya > ingin > membubuhkan dalam kopi saya." Semua orang memandang > dan melihat aneh padanya. Mukanya kontan menjadi > merah, tapi ia tetap mengambil dan membubuhkan garam > dalam kopi serta meminum kopinya. > > Sang gadis bertanya dengan penuh rasa ingin tahu > === message truncated === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Check out the new improvements in Yahoo! Groups email. http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/4tWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> -------------------------------------------------- Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....]. Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
