Damai itu memang  indah banget

Alhamdulillah, segala puji bagi Mu Rabb, salah satu kenikmatan
terbesar yang saya alami sekarang adalah damainya bumi aceh. Mudah2an
kedamaian ini terus sampai akhir jaman. Amin

Saya mengalami masa2 sulit itu, ketika konflik masih berkecamuk.
Tetapi saya tidak bisa mengelak dengan tugas yang saya emban. Bulak
balik Jakarta – Meulaboh, menjadi rutinitas saya sejak 2003. 

Ada keprihatinan mendalam ketika saya pertama kali tiba di Meulaboh
dan masuk hutan ke perkebunan kami yang jaraknya sekitar 60 km dari
Meulaboh, sepanjang jalan saya mengamati muka-muka yang ketakutan,
curiga dan kaku dengan kehadiran orang asing semacam saya.  Konflik
telah menghasilkan generasi yang mengalami depresi berat, ketidak
percayaan diri, kebodohan dan dendam. 

VOC menyerang aceh April 1873, dengan kekalahan tragis, setengah dari
pasukannya hancur dan pada penyerangan kedua tanggal 25 desember 1873
mereka berhasil menguasai kuta raja (nama banda aceh jaman dahulu).
Sejak itu kedamaian di bumi aceh hanya sekali-sekali menyapa. 

Pada perang kemerdekaan, aceh merupakan salah satu tulang punggung
dari republik muda ini. Dalam sejarah, agresi militer belanda di
nyatakan tidak berhasil setelah komisi 3 negara melihat bendera merah
putih masih berkibar di kuta raja. 

Dengan kekayaannya yang melimpah ruah, karena aceh dengan
kesultanannya mempunyai hubungan bisnis yang banyak ke eropa, sehingga
hampir di setiap pesisir berdiri pelabuhan-pelabuhan yang menjadi
pelabuhan ekspor langsung ke eropa. Saya pernah melihat satu dari
sekian banyak bukti sejarah di sana, seperti contoh peninggalan
"meriam seucupak" di daerah aceh barat daya, meriam ini merupakan
meriam dari khalifah usmaniyah di turki. Di ceritakan pada abad ke 17
sebuah kerajaan islam di aceh barat daya yang tunduk ke kesultanan
islam di kuta raja mencoba mencari sendiri jalan ke turki. Mereka
membawa berbagai macam rempah rempah di kapalnya. Karena lamanya
perjalanan mereka kehabisan perbekalan dan terpaksa menjual sedikit
demi sedikit rempah-rempah yang mereka bawa untuk persembahan ke
khalifah. Ketika sampai ke turki, rempah-rempah yang ada hanya tersisa
sedikit, karena sedikitnya mereka bilang tinggal "seucupak", artinya
segenggam tangan.  Tapi hal ini tidak menghalangi khalifah menerima
saudara seimannya yang datang dari jauh dengan tangan terbuka, penuh
haru, "ya Rasullah SAW syiar mu sudah sampai ke negeri yang jauuuh
sekali"…..Mereka diterima dan dijamu dengan besar-besaran. Dan ketika
mereka kembali ke aceh, mereka dihadiahi meriam-meriam. Sejarah yang
membuat saya terharu dan bangga. 

Ketika VOC menyerang aceh, ada 3 ultimatum yang mereka sampaikan,
pertama kesultanan aceh harus melepaskan loyalitasnya ke khalifah
utsmaniyah, kedua mengijinkan VOC mendirikan benteng perdagangan,
ketiga menghentikan perompakan di laut (yang sebenarnya hanya fitnah
belaka). Tapi itu tidak membuat mereka kecil hati, sebelumnya
Malahayati, mujahidah, sebagai laksamana laut, berhasil mengusir
portugis, dan sekarang VOC, siapa takut? The Times pada waktu itu
menyebut "Atjeh War" sebagai perang yang terbesar pada masa itu.
Belanda dengan susah payah mencoba mengontrol daerah tersebut sejak
abad 16, tapi tidak pernah berhasil. Ketika kekhalifahan utsmaniyah
melemah, mereka akhirnya berhasil menguasai sebagian meskipun harus
dengan mengharu biru. Pasukan elite mereka "Marsose", dibentuk khusus
hanya untuk invasi ke aceh, yang terdiri dari orang-orang Indonesia
bagian timur seperti menado, ambon dan dari jawa. Banyak muncul
mujahid-mujahid besar waktu itu dan salah satunya Teuku Umar, asli
anak Meulaboh.

Puisi-puisi dan nyanyian-nyanyian yang membakar semangat seperti
"Peurang Sabil", pada masa itu. Dan jika anda mengerti bahasa aceh,
saya pastikan akan berdiri buluk kuduk anda ketika hikayat ini di
dendangkan. 

Konflik yang berkepanjangan setelah kemerdekaan RI di bawah pimpinan
Daud Beureueh akibat dileburnya aceh oleh soekarno-hatta dengan
Sumatra utara menjadi Sumatra timur berakhir di tahun 60 an, tapi
akhir dari semua itu tidak menyentuh akar permasalahan yang ada,
sehingga benih-benih pemberontakan kembali muncul di tahun 70 an dalam
era soeharto, dengan diproklamasikannya aceh sebagai Negara terpisah
dari NKRI oleh Hasan Tiro dkk.

Kenapa sih orang aceh ini suka sekali memberontak? Anda bisa
bayangkan, ketika jaman soeharto, kekejaman militer terhadap rakyat
aceh banyak yang tidak bisa kita terima dengan nalar. Di beberapa
daerah ada desa-desa yang hanya berisi janda-janda saja, karena
suami-suami mereka hilang entah kemana, lagu yang popular ketika
tsunami "Aneuk Yatim" (saya menitikan air mata setiap dengan lagu
ini), adalah lagu yang terlahir dari kenyataan pahit ini. Sebagian
kita mungkin hanya tahu lagu itu dari tsunaminya saja. Dulu sebelum
tsunami lagu-lagu seperti itu dilarang untuk didendangkan.

Kehadiran militer yang ujung-ujungnya melahirkan DOM, adalah untuk
menjaga kepentingan pusat menjaga asset-aset multi nasional di aceh
seperti arun dan sejenisnya. Kehadiran perusahaan raksasa di aceh
tidak bisa mengangkat kesejahteraan rakyat aceh. Cerita yang membuat
miris sekali seperti adanya keluarga-keluarga aceh mendirikan gubuk di
samping tembok yang membatasi kompleks megah arun yang diterangi oleh
lampu2 supaya malam anak-anak mereka bisa belajar dengan lampu-lampu
penerangan itu. Atau cerita kekejaman tentara yang menyuruh muda-mudi
aceh berdendang bersama di bawah todongan senjata dipaksa telanjang
dan sesudah itu di suruh orgy massal. 

Saya pernah bertemu dengan anak yang menyaksikan hancurnya kepala sang
bapak yang ditembak di depan mata kepala dia sendiri. Saya
membayangkan, andaikan hal itu terjadi dengan saya, akan jadi apa saya?

Pada jaman soeharto api dalam sekam ini terus menjalar. Aceh terluka,
tapi kesan itu tidak muncul ke permukaan, dengan tangan besi rezim
yang ada. Pembunuhan, pemerkosaan, penindasan adalah kejadian yang
sudah menjadi keseharian mereka.
Ketika jaman reformasi, angin segar menjalar ke aceh, euporia masal.
Dan rakyat aceh yang mengangkat senjata makin mendapat simpati luas,
apalagi ketika pemerintahan Gus Dur. Meulaboh yang dulu di tahun 70
sampai 90an akhir  punya catatan kecil saja tentang pemberontakan GAM
tiba-tiba menjadi manakutkan. GAM di mana-mana, merata di bumi aceh,
tidak lagi hanya di aceh timur,lhokseumawe, pidie, bireun dan kawasan
lain yang memang mempunyai anggota militan. Banyak preman-preman yang
terrekrut menjadi anggota, seperti di Meulaboh ini. Sehingga
perjuangan GAM menjadi terkotori dengan orang-orang oportunis seperti
itu. Rakyat aceh tidak tahu harus kemana, GAM kejam, tentarapun kejam.
Pembunuhan, penculikan, pemerasan, pemerkosaan tidak jelas lagi siapa
yang melakukan. Kemana mereka harus mengadu?

Di masa sulit itu perusahaan tempat saya bekerja mengalami kerugian
yang cukup besar, banyak kebun kami yang terlantar, karena para
pekerja kami lari semua, pabrik kamipun tidak banyak beroperasi. Saya
waktu itu kalau berkunjung ke kebun dan pabrik selalu mememinta
bantuan tentara satu regu ( 9 -12 orang) untuk mengawal kami memasuki
kawasan kebun dan pabrik. Pokoknya sport jantung setiap saat. Saya
waktu itu berfikir, kalau saya diberi pilihan, ketemu GAM atau ketemu
kuntilanak? Saya milih ketemu kuntilanak saja.

Di perkampungan sekitar perkebunan dan pabrik banyak saya temui
anak-anak muda yang tidak bisa baca, akibat tidak bisa bersekolah,
karena begitu miskinnya mereka akibat konflik dan pembodohan yang
sistematis selama rezim soeharto. Dengan setapak demi setapak kami
sebagai perusahaan putra daerah mencoba memberikan kontribusi dengan
mengajak mereka bangkit dari keterpurukan, bekerja dan bekerjalah.
Dengan bekerja kita tidak banyak waktu untuk berfikir begitu pahitnya
kehidupan, atau begitu menakutkan konflik ini. Bekerja sampai lelah
lalu pulang, berdoa dan tidur. Kami meminta penempatan pos-pos tentara
di sekitar kebun dan pabrik sehingga ada rasa keamanan untuk mereka.
Dan Alhamdulillah hal itu menampakan hasil. (Catatan : Perusahaan kami
selain mengolah buah dari kebun sendiri juga membeli buah dari kebun
masyarakat, selain perusahaan kami yang mempunyai pabrik kelapa sawit
ada 5 perusahaan lain yang dimiliki oleh orang2 non aceh (belgia,
singapura, belanda, medan, jakarta), yang tidak membeli buah ke
masyarakat atau membeli hanya sedikit. Dan kebanyakan dari pekerja
perusahaan-perusahaan sebagian besar memperkerjakan orang-orang dari
luar aceh, orang jawa dari warisan jaman belanda, suku nias dari
tapanuli selatan dan daerah lainnya). 

Dan kunjungan-kunjungan terakhir saya, begitu nikmat, tidak ada lagi
kawalan tentara, tidak ada lagi rasa takut mencekam, tidak ada lagi
bunyi rentetan senjata di malam hari, tidak ada lagi pembakaran rumah,
tidak ada lagi apel-apel darurat warga kampong,tidak ada lagi
penculikan, tidak ada lagi muka-muka curiga tidak ada lagi kesedihan,
Ya Allah jagalah perdamaian ini, jauhkanlah kami dari tangan-tangan
kotor atau dari system yang mencoba mengusik kedamaian ini, ya Allah
enggkau maha Mendengar, Maha Pengasih dan Penyayang, kasihanilah kami,
lindungilah kami dan tunjukilah kami selalu ke jalanMu yang lurus. Amin


Apip Kamil

91 A1. 3

P.S. : Maaf kalau terlalu panjang....






--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk 
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, 
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke