(Tidak) Melupakan Sejarah
Lupa adalah karakteristik yang manusiawi. Manusia
adalah tempatnya salah dan lupa, begitu sabda sang
Nabi. Karena itu, dalam batas-batas tertentu, sifat
lupa adalah wajar dan dapat ditoleransi. Namun
bagaimana jadinya, jika sifat lupa menjadi begitu
dominan dan melekat pada suatu bangsa?
Bangsa Indonesia barangkali adalah salah satu bangsa
paling pelupa, terutama pada sejarahnya. Di titik
inilah tragedi bermula. Bung karno, dalam salah satu
pidato politiknya yang terkenal ”Jas merah”,
mengingatkan bangsa ini agar tidak sekali-kali
melupakan sejarah. Sebab kata ”melupakan” seringkali
berarti mengabaikan dan tidak mau dan mampu menarik
pelajaran dari sejarah. 
Sejarah suatu bangsa adalah cerminan masa lalu tempat
bangsa itu mematut diri, menilai secara jujur segala
kekurangan serta keunggulan yang dimilikinya. Sebab
kita tahu bahwa sebuah cermin berfungsi reflektif,
memantulkan bayangan secara apa adanya, tidak ada yang
disembunyikan. 
Sejarah bukanlah sebuah realitas masa lalu an sich.
Sejarah rentan mengalami distorsi dan penyelewengan.
Fenomena itulah yang kerap terjadi di Indonesia.
Sejarah seringkali  dicoba dilupakan bahkan
dimanipulasi dan disesuaikan dengan selera para
penguasa negeri ini. Alhasil, bangsa Indonesia
seringkali mengalami kesulitan memahami sejarah dalam
perspektif yang sahih dan proporsional.
Bangsa ini memiliki banyak catatan buram tentang
tragedi kemanusiaan, baik yang terjadi pada masa Orde
Lama maupun Orde Baru. Tulisan ini dibuat tidak untuk
maksud politik apapun. Sama sekali tak ada tendensi ke
arah itu. Ini  sekedar upaya untuk saling
mengingatkan. 
Pada masa Orde baru misalnya, umat Islam pernah
mengalami suatu periode yang sulit sebagai mayoritas
yang tertindas. Tragedi pembantaian Tanjung Priok,
maraknya kasus pelarangan Jilbab di sejumlah daerah di
Indonesia, pelaksanaan Daerah Operasi Militer (DOM) di
Aceh yang ternyata lebih banyak menghadirkan kerusakan
bagi penduduk setempat, hanyalah sebagian contoh yang
dapat kita hadirkan kembali dalam ruang ingatan
kolektif bangsa ini. Ada beberapa pelajaran berharga
dari serngkaian tragedi kemanusiaan yang pernah
dialami oleh kaum muslimin di Indonesia.
Pertama, peritiwa-peristiwa diatas semestinya
menyadarkan kaum muslimin bahwa mereka tidak boleh
terlena dengan jumlahnya yang mayoritas. Sebab
realitas menunjukkan, meski mayoritas dalam jumlah,
kaum muslimin hingga hari ini masih belum mampu
memainkan peran sentral dalam penyelenggaraan negara
yang bersih, adil dan mensejahterakan masyarakat.
Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa kaum
muslimin memiliki misi menjadi pandu bagi semesta
alam, menebar rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh
umat manusia.
Kedua, bahwa kepemimpinan yang berpihak pada
nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang bersifat
universal, amat kita perlukan saat ini. Sehingga para
pemimpin bangsa ini pada tingkat apapun, mampu
mengahadirkan kedamaian, keadilan serta kesejahteraan
bagi seluruh bangsa Indonesia. 
Namun yang tidak boleh diabaikan adalah kompetensi
yang dimiliki para pemimpin dalam penyelenggaran
negara. Sebab, meski memiliki integritas kepribadian
yang baik, tanpa disertai kecakapan mengelola negara,
maka kesejahteraan bagi bangsa ini bersifat utopis. 
Ketiga, perlunya terbangun kontrol sosial yang kuat
dari masyarakat atas pemerintahan. Adalah realitas
yang patut kita syukuri bahwa kondisi sosial politik
di Indonesia  saat ini jauh lebih terbuka dan
egaliter, dibanding era Orde Baru yang represif dan
otoriter. 
Di titik inilah masyarakat selayaknya mampu menjadi
kelompok kontrol sosial yang efektif bagi pemerintahan
yang berjalan saat ini. Upaya pemberdayaan dan
pencerdasan masyarakat perlu terus dibina, hingga
mereka mampu turut berkontribusi memuwujudkan
masyarakat madani; masyarakat yang gandrung akan
keadilan, tegak dalam kesetaraan serta sejarahtera
dalam aspek perekonomiannya.  
Bangsa Indonesia, dalam usianya yang ke-61, mestilah
menjadi bangsa pembelajar. Banyaklah bercermin pada
sejarah, dan berusaha menemukan telaga kearifan di
dalamnya. Agar langkah bangsa ini di masa depan tidak
lagi tersaruk dan terperosok pada lubang-lubang
kesalahan yang sama. Semoga. 

Genis Ginanjar Wahyu, dr
Dokter umum, tinggal di Bandung 

d.a Jalan Sukagalih 2 No. 11 
Sukajadi, Bandung
Telp: 0817825212

Bank Muamalat Indonesia Capem Cihampelas, Bandung
a.n Genis Ginanjar 
Nomor rekening: 1030363322

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk 
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, 
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke