Title: Message
Sori klo dah pernah dapet
 
Cheers
@ji
 
 
The Devil Wears Nothing

Oleh: Samuel Mulia Penulis mode dan gaya hidup
Nah, itu kira-kira adalah judul yang akan saya pakai bila suatu hari
saya mampu membuat film layar lebar. Sekarang ini masih belum mampu.
Belum mampu punya uang maksudnya. Kalau mampu menyontek dan ikut-ikutan,
wah. itu bakat terpendam. The nature born copy cat.
Kisah film itu akan diambil dari kisah hidup saya sendiri sebagai
"setan". Tak perlu pakai barang bermerek karena tanpa itu saja saya
sudah jadi setan. Bayangkan kalau masih memakai barang bermerek. Tak
hanya jadi setan, malah bisa jadi kesetanan barang bermerek.
Kesetanan barang bermerek itu tak hanya saya dan juga salah satu teman
saya, yang hanya untuk barang-barang kecil saja-seperti gantungan kunci
dan sandal jepit-harus berlabel nama kondang. Ada juga teman saya yang
bahkan membeli sepatu bermerek beberapa tahun lalu dan label harganya
masih saja melekat di sol sepatunya. "Sepatu gue yang ini dah lama
banget," katanya tenang.
Berdasarkan pengalaman saya pribadi, menjadi setan dengan perilaku
menjengkelkan banyak orang adalah karena saya memang dasarnya sombong.
"Dan memang dasarnya juga setan," kata teman saya.
Sifat yang sombong itu akan memuncak bila si sombong yang seperti saya
itu mendapat kedudukan di puncak. Maksudnya kedudukannya tinggi, bukan
karena kantor saya di daerah Puncak. Ditambah lagi, kalau perusahaan
yang saya pimpin bisa dikatakan di atas angin alias dibutuhkan.
Memang berputar
Di atas angin maksudnya mampu menguasai angin, bukan masuk angin. Lha
wong di atas, ya itu artinya telah mampu menguasai yang di bawah, bukan?
Seperti saat saya sedang di atas ranjang, berarti saya telah menguasai
ranjang. Apakah ranjangnya ada orang atau tidak di bawahnya, itu urusan
belakang. Yang jelas, saya telah menguasai seprai, bantal, dan gulingnya
yang bisa dipakai sebagai bawahan.
Setelah saya pernah menjadi setan di atas, datanglah waktunya saya
memiliki kedudukan yang sama sekali di bawah. Itu waktu saya pindah
pekerjaan baru yang mau tak mau harus dimulai dengan segala kemelutnya,
termasuk mendatangi klien-klien saya yang dahulu pernah saya sakiti.
Waktu itulah saya merasa roda itu berputar. Saya sudah mengecap
kedudukan di atas dan membuat saya jadi setan, sekarang giliran saya di
bawah dan jadi anak setan.
Waktu saya mengakui hal itu kepada teman saya, Anda pasti sudah bisa
menebak apa yang dikatakannya. Kalau Anda tak mampu menebaknya, saya
beri tahu sekarang. "Lo sudah sepantasnya dibegituin. Rasainnn," kata
teman saya.
Beberapa waktu lalu teman yang bekerja juga di salah satu media cetak
menelepon saya. Ia menanyakan nomor telepon salah satu manajer
komunikasi sebuah toko berlian kondang. Saya langsung memberi nama dan
telepon lengkapnya.
Tepat dua puluh empat jam setelah itu, teman saya menelepon kembali. Ia
menjerit, "Aduuuh Mas, itu perempuan belagu-nya setengah mati, ketusnya
ampunnn," katanya.
Saya menjawab, "Masyak syih?"
Dia menumpahkan kembali kekesalannya. "Ya benar, Mas. Aduh. kalau enggak
harus mikir pekerjaan, sudah saya damprat habis. Terus saya menyebut
saja nama bosnya yang kebetulan saya kenal. Tahu enggak, Mas?" katanya.
Saya jawab saja, "Enggak tahu."
Ia bercerita lagi. "Si Mbak belagu itu langsung menjadi baik setengah
mati. Makanya., jadi orang itu enggak usah sok," katanya dengan emosi
meluap.
Nyaris jadi Sumanto
Mendengar cerita itu saya malu sendiri. Dulu saya seperti itu. Saya
hanya menghakimi orang dari pandangan atau suara pertamanya. Karena
sifat saya yang sombong itu, saya memperlakukannya dengan semena-mena.
Ketika secara tak sengaja bertemu dengan manusia yang saya hakimi tadi
di sebuah acara, dan orang yang saya zalimi itu datang dengan
teman-temannya yang berpredikat si kondang dan si kaya, saya bisa
seperti iblis yang tiba-tiba berubah jadi malaikat.
Mungkin itu sama saja dengan setan yang terbungkus baju bermerek. Saya
pun bisa mencium pipi manusia yang telah saya sakiti dengan sapaan yang
hangat dan tentunya jauh dari ketulusan. Semua adegan itu seperti
tindakan melunasi permintaan maaf untuk sesuatu yang sudah saya lakukan
sebelumnya.
Tentu orang seperti saya tak punya keberanian mengatakan saya keliru
menghakimi. Masalahnya, saya suka lebih menghormati orang yang punya
kedudukan daripada manusia biasa yang tak bisa membantu saya di dalam
menaikkan citra atau membantu saya suatu hari bila saya kesusahan.
Cerita teman saya yang sempat dizalimi mbak-mbak sombong dan angkuh itu
mampu membuat kepala saya sedingin kulkas. Kemudian saya mengajukan dua
pertanyaan kepada diri sendiri.
Pertama, mengapa saya perlu sampai menjadi sombong dan menjadi seperti
"setan", seperti si mbak itu? Kedua, apakah manfaat yang saya dan lawan
bicara saya dapatkan dari berlaku seperti itu? Angkuh dan berbicara
pedas sehingga mulut saya bisa menjadi pisau, atau silet, atau parang
yang tajam menghunjam dan siap membuat lawan bicara saya tak hanya
menjadi kesal dan "berdarah", tetapi juga sering kali terpenggal menjadi
beberapa bagian.
Selamatnya, saya tak jadi Sumanto. Coba saya seperti dia dan berteman,
nanti malah dia mengajak saya buat toko roti isi "daging". Lalu, dia
mengatakan, "Kita buka di mal saja."
Suatu hari, seorang model pria mengaku kepada saya dan di hadapan banyak
orang bahwa ucapan-ucapan dan tulisan-tulisan saya pernah menyakiti
dirinya bertahun lamanya. Kesakitan itu menempel dan terngiang bak
sebuah sound system yang tak pernah berhenti mendendangkan kepahitan di
hatinya. Saya pun angkat topi, padahal hari itu saya tak memakai topi,
model tampan itu memaafkan saya.
Malam itu, saya diserang gelombang besar berupa perasaan malu. Padahal,
biasanya saya tahan malu. Tetapi, kali ini gelombangnya luar dari
biasanya.
"The Most Humble People in Indonesia"
1. Saya baru membaca majalah Forbes versi luar negeri dengan artikel
menariknya, daftar manusia kaya di bumi Pertiwi ini. Saya terpesona
dengan uang yang mereka miliki sampai saya mengatakan, "Weleh-weleh...
Gusti Allah, kapan saya bisa sekaya itu?"
Entah angin dari mana, apakah itu suara Sang Pencipta, saya tak tahu,
tiba-tiba bukan jawaban atas pertanyaan itu yang saya dapati, tetapi
malah ada pikiran melintas di kepala saya. Bagaimana kalau lain kali ada
yang membuat daftar orang-orang kaya yang paling rendah hati di
Indonesia. Teman saya nyeletuk, "Bagaimana kalau elo membuat daftar
orang miskin, tetapi sombong kayak lo."
2. Buat mereka yang punya mulut seperti saya, maksudnya suka menyakiti
lawan bicara, jangan pernah sekali-kali mengatakan Anda tidak bermaksud
demikian. Itu memang gaya Anda berbicara.
Coba sekarang tempatkan terbalik. Bila lawan bicara Anda punya konsep
berpikir seperti itu, maukah Anda dikatai dengan kalimat menyakitkan
yang Anda pikir bisa terlupakan sekejap, tetapi ternyata seperti
pengalaman saya mereka malah sakit hati sepanjang masa? Mari dijawab
sambil minum teh dan kue-kue basah. Kue yang kecelup air, maksudnya.
3. Apabila Anda adalah manusia yang masuk ke dalam kategori tak punya
kepercayaan diri besar, self esteem rendah, belajarlah menaikkan yang
rendah itu dan jangan melemparkan beban ke orang lain dengan memakai
jalan pintas menjadi angkuh.
Misalnya, apabila bertemu orang selalu tak pernah mau menyapa terlebih
dahulu, selalu pura-pura lupa nama dan setiap saat harus diperkenalkan
ulang, atau pura-pura tidak melihat ketika berpapasan. Jangan sampai
suatu hari Anda benar-benar tidak bisa melihat.
4. Jangan pilih-pilih bulu saat berteman. Saya punya teman yang tak
terlalu dekat, tetapi sangat dikenal dengan sikapnya yang hanya ingin
berteman dengan orang-orang yang masuk ke dalam kategori sophisticated
society, datang dari keluarga kaya yang bukan OKB, maunya bermain dengan
yang punya rumah di "langit ke tujuh", bukan di lantai tujuh. Saya juga
pernah demikian.
Saya hanya mau mengingatkan, hidup Anda esok hari tak kan pernah Anda
tahu. Jangan sampai Anda menjadi malu seperti saya karena suatu hari
Anda menemukan yang menolong Anda adalah orang yang tak pernah Anda
masukkan dalam daftar utama. Ingat, roda itu ternyata berputar. Bukan
hanya Bumi! ***
 

Noverto Aji Praseto
Trade Marketing Cost Controller

PT Frisian Flag Indonesia
Jl. Raya Bogor Km. 5 Pasar Rebo
Jakarta 13760
 
Phone  +62 (21) 8410945, 8400611 (ext. 245)
Fax     +62 (21) 8410895, 8400225

mailto:[EMAIL PROTECTED]
www.frieslandfoods.co.id

 

This e-mail message has been scanned for Viruses and Content and cleared by NetIQ MailMarshal
__._,_.___

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]





SPONSORED LINKS
School education Pre school education Classmate search
Classmate finder High school classmate

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke