Note: forwarded message attached.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk 
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, 
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 
--- Begin Message ---

Mas Tomi, saya pikir penjelasannya tidak sesederhana itu. Mungkin ini kesalahan saya yang hanya mengajukan gambaran sepintas. Tapi memang sulit untuk komprehensif, karena seperti sudah saya katakan, ini kan cuma PENGAMATAN KASAR dari seseorang yang sehari-hari menggeluti masalah human resources (SDM) di sebuah media TV. Pengamatan ini juga mungkin tidak berlaku di stasiun-stasiun TV lain.

Saya pikir, cukup banyak orang yang percaya diri di media TV yang tidak pindah ke tempat lain karena banyak alasan. Bisa karena ideologis, politis, idealisme, atau karena alasan pribadi. Saya, misalnya, bertahan di Trans TV karena memang senang dengan suasana kerja di Trans TV. Bukan berarti Trans TV itu sempurna (Bung Tomi pasti juga tahu!), tetapi berdasarkan taste saya sejauh ini saya merasa Trans TV pas buat saya.

Saya tidak mudah tergiur dengan gaji tinggi, karena saya sudah pengalaman di berbagai media sebelumnya, dan saya menyimpulkan: gaji bukan segala-galanya. Ada tempat yang gajinya lebih besar, tapi potensi konfliknya lebih tinggi dan lebih kasar.

Mayoritas anak buah saya di semua program Trans TV yang pernah saya bawahi adalah orang yang (menurut pengamatan saya): capable, bertangung jawab, punya semangat kerja tinggi, confident, cukup punya integritas. Ada satu-dua (reporter) di antara mereka, yang mengaku ditawari kerja dengan gaji lebih di TV lain, tapi FAKTA-nya sampai detik ini mereka masih bertahan di Trans TV. Padahal saya lihat dia bukan tipe orang yang minder atau tak punya rasa percaya diri.

Sekali lagi, pada dasarnya posting saya sebelumnya itu cuma pengamatan kasar. Jadi, kalau mau komprehensif, ya harus survey atau bikin penelitian lebih mendalam.

Makasih,
Satrio

----- Original Message ----
From: Tomi Satryatomo <[EMAIL PROTECTED]com>
Subject: [pantau-komunitas] Re: Kecenderungan Pindah Kerja bagi Pekerja di Stasiun TV Swasta

Mas Satrio,

Analisa ini menarik --saya belum pernah mendengar hal seperti ini sebelumnya, tapi saya melihat ada kalimat lain yagn implikasinya mungkin berbeda.

Tentang orang-orang yang pindah, mas Satrio, mengutip rekan Human Capital TransTV (pak Latief Harnoko?), menulis, "Mereka punya ekspektasi lebih tinggi tentang pekerjaan dan gajinya... Mereka juga merasa cukup percaya diri untuk diterima bekerja di media lain, yang dianggap bisa memberi penghasilan lebih baik."

Soal percaya diri ini hanya saya temui pada bagian orang-orang yang pindah, tapi tidak pada bagian orang-orang yang bertahan, baik yang berasal dari kalangan menengah ke bawah maupun ke atas.

Dengan kata lain, kalimat ini mengimplikasikan bahwa hanya orang yang percaya diri, karena merasa memiliki kompetensi untuk bersaing di pasar, yang kemudian pindah (kelompok tidak stabil). Konsekuensi logikanya kemudian adalah mereka yang tidak pindah (kelompok stabil), berarti tidak punya cukup percaya diri karena merasa tidak kompeten untuk bersaing.

Apakah ini maksud yang tersirat dari kawan Human Capital ini? Jika iya, maka sesungguhnya ia harus bekerja lebih keras karena ia harus mengelola orang-orang yang tidak percaya diri yang tersisa di kantornya. Tapi jika tidak, mungkin ia harus sedikit lebih komprehensif menganalisa trend perpindahan karyawan sehingga kita bisa memperoleh gambaran yang lebih utuh.

Mungkin menarik jika kita bisa memperoleh analisa yang lebih lengkap, dengan data yang akurat. Sebagai orang Human Capital, tentunya kawan mas Satrio ini bisa mengakses banyak data dan membuat analisa yang lebih rinci.

Saya tunggu.

Wassalam
--
Tomi Satryatomo
http://www.trekearth.com/members/wisat
http://wisat.multiply.com

"We shall build good ship here,
at a profit if we can,
at a loss if we must,
but... always a good ship."

On 10/14/06, Satrio Arismunandar <satrioarismunandar@yahoo.com> wrote:
Latar belakang mereka yang baru masuk dan bekerja di industri media massa, khususnya media televisi, bermacam ragam. Ada yang berasal dari kalangan ekonomi lemah, atau dari keluarga yang betul-betul susah. Sebaliknya, juga ada yang berasal dari kalangan ekonomi atas, atau dari keluarga yang betul-betul kaya dan berkecukupan.

Di antara dua ujung ekstrem ini, banyak pekerja di media TV yang berasal dari keluarga tingkat ekonomi menengah. Kalau mau dibilang susah, ya hidup mereka sebenarnya tidak susah-susah banget. Tetapi, kalau mau mengaku kaya, ya tidak pas juga.

Menurut seorang praktisi Human Capital Trans TV, yang dituturkannya kepada saya, pada 3 Oktober 2006, persentase tertinggi kelompok karyawan yang "tidak stabil" alias cenderung mudah pindah kerja ke perusahaan lain umumnya berasal dari kalangan menengah ini. Mengapa demikian? Ada beberapa asumsi.

Mereka yang berasal dari kalangan bawah, cenderung bertahan karena kebutuhan ekonomi yang besar. Mereka cenderung tidak mau ambil risiko dengan melepas pekerjaan di media TV yang sudah pasti di tangan, sementara belum tentu bisa mendapat tempat kerja lain yang lebih baik.

Sebaliknya, mereka yang berasal dari keluarga mampu, sebetulnya mereka bekerja di media TV bukan karena pertimbangan gajinya. Mereka tahu, ada tempat-tempat kerja lain yang bisa memberi gaji lebih baik dan mereka mampu meraihnya, kalau memang mau. Kasarnya, di media TV ini mereka tidak mencari gaji, tetapi lebih mencari status. Bekerja di media TV memberi status yang cukup baik, menikmati kerja yang penuh tantangan, serta lingkungan kerja yang dinamis, kreatif, dan menyenangkan. Jadi, mereka juga cenderung bertahan, tidak mudah pindah.

Nah, mereka yang cenderung mudah pindah itu umumnya adalah yang berasal dari kalangan ekonomi menengah, karena mereka punya ekspektasi lebih tinggi tentang pekerjaan dan gajinya. Mereka sering membanding-bandingkan gajinya dengan gaji di perusahaan-perusahaan lain. Mereka juga merasa cukup percaya diri untuk diterima bekerja di media lain, yang dianggap bisa memberi penghasilan lebih baik.

Asumsi di atas tentu hanya berdasarkan pengamatan kasar, itu pun hanya melihat di lingkungan Trans TV. Kalau mau mendapat gambaran yang lebih utuh dan bisa dijadikan pegangan, mungkin perlu survey atau riset tersendiri.

Satrio Arismunandar
News Producer, Trans TV

[Non-text portions of this message have been removed]


--- End Message ---

Kirim email ke