Title: Message
Klo dah pernah dapet ato baca di kompas
sori yach
 
Cheers
@ji
 
 
Sahabat atau Keluarga

Oleh: Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup
Sambil menyeruput sup kepala ikan yang nikmatnya luar biasa, teman saya
berkeluh kesah. Ia berkeluh kesah saat jam makan siang dan perut saya
sedang keroncong-keroncongnya.
"Gue sebal sama nyokap dan sodara-sodara gue. Gue sebagai anaknya
sendiri lagi kesusahan, enggak ada satu pun yang ngebantuin gue. Waktu
mereka kesusahan, mereka minta tolong gue," katanya sambil memasukkan mi
goreng ke dalam mulutnya.
"Kakak gue apa lagi. Enggak pernah menelepon gue. Sekalinya telepon
minta tolong ini-itu. Sekarang gue lagi kesusahan enggak ada duit,
telepon juga enggak, ditelepon enggak diangkat-angkat," katanya lagi
sambil memasukkan mi goreng berikutnya.
Saya sedang menikmati sup kepala ikan itu sambil menganggut-anggut dan
berkomentar singkat, "Ya, ya, ya gue mengerti perasaan lo."
Padahal, saya mengerti saja tidak karena sedang enak-enaknya mengisap
kepala ikan. Saya paling senang mengisap bagian kepalanya.
"Ya lo kan memang doyan mengisap semua kepala," kata teman saya suatu
hari. Menurut saya memang bagian kepala itu enaknya setengah mati.
Kepala ikan, maksudnya. Namun, kalau sudah kepala habis diisap dan
digerogoti, lalu yang tinggal hanya sepasang mata bolanya, saya sering
malu sendiri sama ikannya. Mata ikan tak bersalah itu seperti berkata,
"Isaaap terus sampai kering." Jadi, saya selalu menyisakan kedua
matanya.
Kadang saya berpikir, matanya mungkin sebaiknya ditutup saja sehingga
saya lebih enak mengisap tanpa merasa bersalah.
"Ego is."
Kemudian teman saya itu bercerita lagi, ia malah mendapat bantuan
keuangan justru dari temannya.
"Gue bilang ke nyokap gue, keluarga kita bisanya cuma merintah suruh
baik sama semua orang, suruh bantu semua orang. Giliran gue kesusahan,
peraturan maha mulia itu enggak ada yang mematuhi," katanya.
Ia bersuara lagi masih dalam nada tinggi. "Gue tunjukkin uang yang
dikasih teman gue itu. Nyokap gue diam saja."
Dalam hati saya berpikir, ibunya diam saja karena lega ada yang membantu
anaknya sehingga keuangan keluarga tak terganggu, atau merasa malu
karena sudah melanggar aturan main yang dibuatnya sendiri. Saya tak tahu
sama sekali.
Kemudian dia menyimpulkan, teman itu bisa lebih dipercaya daripada orang
dalam sendiri. Ceritanya itu membuat saya melek setelah keenakan makan
sup kepala ikan. Saya adalah teman yang bukan seperti yang dia
gambarkan. Saya adalah teman yang mungkin seperti ibunya itu. Baik kalau
semua baik, lari kalau semua tidak baik. Dan sebagai teman, saya sangat
egois.
Tanyakan teman-teman saya saat saya sedang perlu sesuatu. Tak pakai ba,
bi, bu, langsung minta tolong ini dan itu. Pernah suatu pagi saya
membutuhkan nomor telepon seorang selebriti yang mana salah satu sahabat
saya mengenalnya dengan baik.
Saya SMS langsung pagi hari itu tanpa kalimat pembuka apa pun, langsung
menanyakan nomor telepon sang selebriti. Tak lama kemudian ia membalas
dengan SMS dan balasannya langsung menampar saya. "Selamat pagi dulu
dong Pak Samuel."
Kembali pada cerita teman tadi, saya kemudian teringat akan persahabatan
saya dengan beberapa teman masa remaja hingga dewasa sekarang.
"Dewasa?" kata teman saya. "Muke lo saja dewasa, otak lo enggak pernah
dewasa, bo," lanjutnya lagi. Kemudian ia mengingatkan saya pada sebuah
iklan rokok yang berbunyi "menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu
pilihan".
Celaka tiga belas
Persahabatan saya selalu didasari dengan sebuah tujuan. Selalu
berkondisi. Itulah yang membuat saya kemudian seringkali cemburu, sakit
hati, ketika persahabatan itu memudar gara-gara apa saja. Misalnya,
teman saya punya pacar sehingga waktu untuk bersama saya berkurang.
Kemudian karena berkurang, saya merasa seperti dicampakkan dan menjadi
kesepian. Kemudian merembet dengan perasaan, kok gue enggak laku ya?
Kalaupun sahabat saya punya pacar, kadang saya masih bisa menerima
karena masih saja ada waktu yang disediakan sahabat saya itu untuk saya.
Tetapi, ketika tiba masanya ia akan menikah dan kemudian punya anak,
kebencian saya semakin dalam karena artinya waktu untuk saya hilang
begitu saja. Ada saja alasan dia untuk tidak bertemu saya, yang anaknya
sakit, yang mertuanya perlu ditemani ke rumah sakit, yang suaminya
mengajak ke pesta kantor, dan sejuta alasan lain.
Saya lalu menjadi seorang yang senang menyakiti karena senantiasa
dicampakkan orang. Lama kelamaan, kalau saya membuat persahabatan lagi,
maka saya berusaha menguasai sahabat-sahabat saya. Saya marah ketika
mereka lebih mementingkan kepentingan mereka dibandingkan persahabatan
dengan saya.
Saya memberi nasihat ketika mereka kesusahan dengan tujuan supaya mereka
tak lari dari saya. Dengan kata-kata bijak saya mengatakan, "Sudah deh.
laki-laki kayak begitu mending ditinggal saja daripada lo sakit hati."
Padahal sahabat saya tak pernah sakit hati dengan pacarnya, hanya
menanyakan pendapat saya mengapa pacarnya itu melakukan tindakan yang
buat dia tak masuk akal. Jadi, saya memanipulasi sebuah keadaan. Kalau
ada yang disebut koruptor, maka saya adalah manipulator.
Keadaan itu juga terjadi pada masa menjadi mahasiswa dulu. Saya punya
teman pria yang kemudian menjadi sahabat saya. Kami belajar bersama,
pulang bersama, pokoknya di mana ada saya, di sana ada teman saya. Kalau
duduk di ruang kuliah selalu bersebelahan.
Kami sudah seperti kembar dempet, bahkan beberapa perawat mengatakan
kami seperti pasangan homoseksual. Sampai pada suatu hari ia punya pacar
perempuan. Waktu belajar bersama berkurang dan berakhir dengan belajar
sendiri-sendiri. Keadaan itu membuat saya sakit hati.
Jadi, kalau mengingat keluh kesah teman saya tadi, seandainya dia punya
prinsip teman atau sahabat umumnya lebih baik atau menyenangkan daripada
keluarga sendiri, tak selalu kejadiannya akan serupa itu. Bayangkan
kalau ia menemukan teman atau sahabat seperti saya, bukankah itu namanya
celaka tiga belas? Jadi celaka dengan angka tiga belas dan menjadi
sahabat saya celaka juga.
Menjadi Teman?
1. Teman atau sahabat adalah seseorang yang cocok dan dapat menikmati
sebuah atau beberapa minat yang sama. Maksud saya bukan minat memakai
dan menjual narkoba atau DVD porno. Teman adalah seseorang yang
mendukung Anda bilamana diperlukan. Bukan mendukung Anda jadi gigolo
atau menjadi simpanan suami orang, maksudnya.
Menjadi teman memungkinkan seseorang bebas memilih dan terbang ke
sana-kemari dan menemukan pengalaman baru. Bersahabat merupakan bentuk
pertemanan yang lebih dalam dengan memiliki sebuah ikatan yang bila
persahabatan itu tidak sehat, acapkali membuat Anda tak bisa terbang.
Kalaupun bisa terbang, terbangnya tak bisa tinggi karena satu kakinya
terikat. Dan itu akan menyengsarakan kedua pihak. Yang mau terbang dan
yang mau mengikat kaki yang terbang.
2. Semua di dunia ini tak ada yang abadi. Kunci untuk mampu menerima
semua yang tak abadi itu adalah dengan kata acceptance. Anda mau
menerima bila teman Anda terbang tinggi, menerima bila teman Anda ingin
berteman di tempat lain, menerima bila keluarga Anda sering khawatir
soal ini, soal itu.
Buat para pemimpin dan wakil pemimpin rumah tangga, terimalah bila anak
tak sepaham dengan Anda tanpa Anda berprasangka buruk. Terimalah bila
anak menjadi dewasa dan kemudian pacaran dan Anda tak bisa lagi pergi
bersama mereka sesering dahulu. Terimalah bila pacar anak Anda tak cocok
dengan selera Anda. Mungkin pemimpin keluarga sekarang harus lebih
berfungsi sebagai teman ketimbang mempunyai pendekatan seperti Belanda
saat menguasai Indonesia.
3. Jangan pernah mengatakan nasihat Anda manjur untuk masa depan anak
Anda. Karena apa yang manjur untuk Anda pada zaman sebelum iPod ada
belum tentu manjur untuk anak Anda. Alasannya, selain iPod, ada Eminem
yang bicara seperti ini dalam lagu Cleaning out My Closet: See what
hurts me the most is you won't admit you was wrong. B***h do your song
keep tellin yourself that you was a mom! But how dare you try to take
what you didn't help me to get. You selfish B***h, I hope you f*****
burn in hell for this s**t.
By the way, Anda tahu Eminem, bukan? Bila Anda pernah membuat kesalahan
pada masa lalu, jangan itu dilimpahkan kepada anak Anda dan kemudian
menjadi tanggung jawab anak Anda. Nanti Eminem datang kepada Anda dan
menyanyikannya di telinga Anda. ***

Noverto Aji Praseto
Trade Marketing Cost Controller

PT Frisian Flag Indonesia
Jl. Raya Bogor Km. 5 Pasar Rebo
Jakarta 13760
 
Phone  +62 (21) 8410945, 8400611 (ext. 245)
Fax     +62 (21) 8410895, 8400225

mailto:[EMAIL PROTECTED]
www.frieslandfoods.co.id
www.pointdexter.photoblog.com

 

This e-mail message has been scanned for Viruses and Content and cleared by NetIQ MailMarshal
__._,_.___

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]





SPONSORED LINKS
School education Pre school education Classmate search
Classmate finder High school classmate

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke