parahhhhh....
lagian percuma juga nyantumin "BO" atau peringatan2 supaya adegan nggak
ditiru.
faktanya.... apa semua orang tua ngedampingin anak klo lagi nonton TV????
NGGAK.
apa efek behavioral dari tayangan TV bisa dicegah Hanya dengan mencantumkan
peringatan di layar TV???? ENGGAK.
aman nya mah.... anak2 nggak usah "diperkenalkan" sama TV ;p ;p ;p
jadi inget, salah satu dosen saya bikin percobaan sendiri.
anaknya yg paling besar, dari kecil nggak pernah nonton tv (karna sengaja
nggak beli TV). sampe tu anak umurnya 5taun, bener2 cuma "dicekokin" bacaan.
dari mulai komik, buku, koran, majalah, DLL.
walhasil, di umur 5 taun, tu anak udah "gila baca" dan nggak suka nonton TV.
pas dosen sy punya anak ke 2, baru deh beli TV. anak pertamanya yg udah gila
baca itu, tetep aja nggak suka nonton TV. dan tetep gila baca. sedangkan anak
keduanya, karna dari kecil udah dibiasakan nonton TV. jadi gila nonton tv n gak
suka baca.
hmm... boleh juga tuh di praktekin klo punya anak. lagi pula, bagus juga kan
klo anak2 Indonesia lebih suka baca ketimbang nonton TV.. ;p
Dicky Kurniawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
It's only a transition...
Dicky Kurniawan
News Camera Person
NEWS DIVISION
PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV)
Gd. Trans TV 3rd Fl.
Jl. Kapt. Tendean Kav. 12-14A
Jakarta Selatan 12790
+628174964705
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
http://tukangceritapagi.blogs.friendster.com/tukang_cerita_pagi/
----- Forwarded Message ----
From: rieka riananda <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, November 24, 2006 12:16:37 PM
Subject: [news] Fw: [iaitbjakarta] FW: Dengan 'SmackDown', Bocah Bergadai Nyawa
Best Regards,
Rieka Riananda H
News-RCD
riananda.blogspot. com
----- Forwarded Message ----
From: "Heryanto, Adjie" <Adjie.Heryanto@ conocophillips. com>
To: iaitbjakarta@ yahoogroups. com
Sent: Friday, November 24, 2006 11:48:15 AM
Subject: [iaitbjakarta] FW: Dengan 'SmackDown', Bocah Bergadai Nyawa
rekans,
mudah2an bisa jadi pelajaran untuk yg bergelut di bidang industri media
televisi,
untuk lebih selektif dalam memilih acara.
salam,
Adjie Heryanto
(62-21-5241860)
(62-812-1031497)
-----Original Message-----
From: Wibisono, Nugroho
Sent: Friday, November 24, 2006 11:43 AM
To: GRP:COPI IA ITB
Subject: Dengan 'SmackDown', Bocah Bergadai Nyawa
Dear all,
Tragedi dibawah adalah sebuah pelajaran buat kita untuk lebih memperhatikan
tontonan televisi/hiburan bagi anak-anak.
Thanks.
Regards,
Weby
Republika, Rabu, 22 Nopember 2006
Dengan 'SmackDown', Bocah Bergadai Nyawa
http://www.republik a.co.id/koran_ detail.asp? id=272629&kat_id=3
Tubuh pria kekar itu dihiasi tato. Panggilannya, The Undertaker. Lawannya tak
kalah kekar. Otot-otot menyembul di hampir seluruh bagian tubuhnya. Lelaki yang
memiliki sebutan Triple H itu bergumul dengan si Undertaker.
Adu jotos, saling banting dilakukan kedua pegulat itu di atas ring.
Tiba-tiba, tangan Undertaker menggenggam leher lawannya. Bak kapas, badan
Triple H diangkat dengan satu tangan. Tak lama kemudian, tubuh Triple H
dihempaskan ke atas kanvas ring. Penonton pun bersorak riang.
Kekerasan memang sarat dalam setiap adegan tayangan gulat luar negeri yang
biasa disebut SmackDown itu. Bahkan, bisa dibilang, kekerasan yang dilakukan
kerap bernuansa ekstrem. Sang lawan memang terlihat kesakitan. Tapi, dia tak
apa-apa --tak ada tandu yang diperlukan untuk melarikannya ke rumah sakit. Tak
jarang pula, beberapa alat seperti kursi, kayu, hingga palu juga digunakan oleh
petarung untuk segera memenangkan pertandingan. Banyak penonton tidak menyadari
bahwa semua ini hanyalah trik pertunjukan televisi untuk meraih rating tinggi.
Hal itu pula yang tidak disadari oleh Restu, Iyo, dan Ii, warga Kompleks
Banda Asri, Desa Banda Asri, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung.
Adegan-adegan dalam SmackDown itu oleh siswa-siwa SMP ini ditiru dan
dipraktikkan.
Sebagai lawan, mereka memilih Reza Ikhsan Fadillah (9 tahun), tetangga
mereka. Tubuh kecil siswa kelas III SD Cincin I itu mereka banting. Kepalanya
dihujamkan ke atas lantai. Tangannya ditekuk, meski Reza mengaduh kesakitan.
''Karena menirukan adegan SmackDown, anak saya meninggal,'' kata Herman
Suratman (53). Menurut Herman, satu pekan sebelum Hari Raya Idul Fitri lalu,
Reza mengeluhkan tangan kirinya terasa sakit hingga sulit digerakkan. Tapi,
Reza tidak mengaku penyebab sakit itu.
Tapi, selama satu pekan, rasa sakit itu semakin menjadi. Pada Rabu (25/10),
satu hari setelah Idul Fitri, Herman melarikan anaknya ke Rumah Sakit Daerah
(RSD) Soreang. Tapi, RSD Soreang mengaku tidak memiliki peralatan memadai.
Reza dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). Dari hasil rontgen,
diketahui tulang pangkal lengan kiri Reza terpisah. Urat di tangan kirinya pun
diketahui terjepit tulang. Selain itu, Reza juga mengalami cedera di bagian
dalam kepala.
Reza lalu dirawat di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) sebelum dipindahkan
ke ruang ICU RSHS. Selama sepekan hingga Kamis (2/11). ''Tapi, karena tidak
sembuh juga, saya memaksa membawa Reza ke Cianjur, ke tukang urut tulang,''
ujar Herman.
Kondisi Reza mulai membaik. Tapi, itu tidak lama. beberapa hari kemudian,
kondisi Reza kembali parah. Saat teman-teman Reza menengok ke rumah, Herman
baru mengetahui bahwa penyebab sakitnya Reza adalah adegan SmackDown yang
dipraktikkan Restu, Iyo, dan Ii.
Menurut Herman, ketiga anak itu sudah mengakuinya. Pada hari itu juga, Rabu
(15/11), Herman langsung melaporkan ketiga anak itu ke polisi. Tapi, dia tak
bisa terlalu memerhatikan hasil penyelidikan polisi. Pada Kamis (16/11),
kondisi Reza bertambah parah. ''Reza meninggal dalam pangkuan saya,'' ujar pria
ini dengan berlinang air mata.
Atas kejadian ini, Herman telah meminta kepada Ketua DPRD Kabupaten Bandung,
Agus Yasmin, dan Bupati Bandung, Obar Sobarna, untuk menyurati Lativi, yang
menayangkan tayangan SmackDown ini.
Dia mengaku enggan jika harus menuntut Lativi. Pasalnya, kalaupun gugatannya
dimenangkan pengadilan, dia hanya memperoleh ganti rugi. ''Sedangkan yang saya
khawatirkan, jangan sampai anak-anak yang lain mengalami nasib serupa seperti
Reza,'' kata dia.
Trauma tak hanya dialami Herman. Para pengajar di SD Cincin I langsung
melarang siswa didiknya untuk menirukan adegan-adegan SmackDown. ''Seruan itu
kami sampaikan setiap pagi di setiap kelas,'' kata Kepala Sekolah Cincin I,
Nendi Rohendi.
Untuk menghapus gambaran mengenai SmackDown, pihak sekolah juga merazia
pedagang yang kerap menjual gambar-gambar yang ada sangkut pautnya dengan acara
itu.
Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Bandung, Denni Rukada, mengatakan, program
acara SmackDown tidak layak ditayangkan lagi. Selain Reza, masih banyak
anak-anak di Kabupaten Bandung yang menjadi korban. ''Hampir setiap dua hari
sekali, tukang urut yang ahli membetulkan tulang, selalu mendapat pasien
anak-anak. Mereka juga menjadi korban karena bermain SmackDown,'' ujar dia.
Selain menuntut tayangan SmackDown itu dihentikan, Denni juga meminta petugas
kepolisian untuk menyita seluruh VCD ataupun DVD, serta CD playstation
SmackDown.
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat, Dadang Rahmat
Hidayat, mengaku sudah memberikan surat teguran keras kepada Lativi. ''Kami
akan berusaha lebih intensif lagi supaya tayangan ini dihentikan,' ' ujar dia.
Menurut dia, secara substansi acara ini memperlihatkan tayangan yang sadis.
Sedangkan secara isi, tayangan yang penuh dengan muatan entertainment ini
ditayangkan pada pukul 21.00 WIB. Harusnya, kata dia, acara yang hanya layak
ditonton orang dewasa, ditayangkan lebih malam lagi.
Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Sinansari ecip, mengaku sudah
mendengar perihal peristiwa menyedihkan itu. Untuk itulah, kata dia, KPI akan
memanggil pihak Lativi pekan depan.
Merujuk pada Undang-Undang Penyiaran, Ecip menyatakan, tayangan SmackDown
sebenarnya sudah melanggar pasal 36 tentang penayangan kekerasan di layar
televisi. ''Dalam tayangan tersebut terlihat darah, aksi menendang, hingga
menghantam lawan dengan kursi. Menurut saya semua itu sudah tergolong pada
penayangan kekerasan secara terbuka di TV,'' paparnya.
Manajer Humas Lativi, Raldy Doy, belum mendengar rencana pemanggilan KPI.
Namun, ia mengaku sudah mendengar kabar tewasnya bocah di Bandung yang diduga
tewas terkait dengan tayangan SmackDown itu. Menurut dia, Lativi pun berencana
mengecek kebenaran kabar tersebut. ''Kita akan melakukan investigasi bersama
juga.''
Sementara itu berdasarkan keterangan tertulis melalui surat elektronik yang
dikirimkan Raldy kepada Republika, tayangan SmackDown merupakan murni program
hiburan. Selanjutnya lagi, layaknya film atau telenovela, SmackDown ini
dilakukan sesuai skrip. Semua omongan dan gerakan, kata dia juga, berdasarkan
skrip yang mesti dihafal. ''Sedangkan gerakan-gerakan 'kasar' yang
diperlihatkan dilaksanakan terlebih dahulu oleh para profesional yang sudah
berlatih lama.''
Kemudian juga, Raldy mengatakan, sebagai tindakan preventif agar adegan di
SmackDown tidak diikuti maka host selalu menyampaikan agar jangan menirukan
semua adegan di rumah. ''Begitu juga kami menampilkan running text serta logo
'Bimbingan Orang tua (BO)' agar orang tua selalu mendampingi anak-anaknya saat
menonton tayangan ini,'' ujarnya.
(rfa/akb )
---------------------------------
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
---------------------------------
Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful email and
get things done faster.
---------------------------------
Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful email and get
things done faster.