Bekasi, Pukul 19.44
 
“Kata elo tempatnya deket. Kok kita nggak nyampe-nyampe sih?” tanya Eksi 
kepadaku saat kami bertiga melaju di jalan raya yang lengang. “Deket kok. 
Sebentar lagi,” tandasku sambil berusaha mencari pijakan untuk kaki. “Dari tadi 
elo bilang begitu. Nyatanya tempatnya belum kelihatan juga,” tanggap Naila yang 
duduk persis di belakangku dan sama seperti aku kelihatannya kesulitan mencari 
tempat berpijak di atas motor mio kecilku. 
            “Nah itu dia!” seruku seraya menunjuk ke sebuah gedung besar 
bertuliskan Shooters. Hati-hati Eksi membelok masuk yang disambut seringai 
satpam dan petugas parkir. “Wah, wah,” komentar sang satpam begitu melihat 
motor kami yang kelebihan beban. “Olahraga?” tanyanya. “Ya,” jawab kami hampir 
serempak. “Lapangan futsalnya di mana, ya?” tanyaku balik. “Persis sesudah 
kolam renang,” begitu jawabnya sambil mengulurkan tiket parkir kepadaku.  
            Dalam sekejap, kami sudah berada di dalam ruangan luas yang 
berisikan sekitar lima lapangan bulutangkis dan lapangan futsal. Kakakku, Kak 
Ida, ternyata baru sampai juga. Kami segera menyapanya dan bergabung dengan 
mereka yang sudah hadir: Kak Faisal, Kak Busan, dan Bang Komar.
            Tak butuh waktu lama hingga aku, Kak Faisal, Kak Busan, dan Bang 
Komar berada di lapangan. Kami melakukan pemanasan. Atau lebih tepatnya para 
kakak yang terhormat itu yang melakukan pemanasan. Aku lebih banyak merecoki 
kegiatan mereka. Setiap kali aku mendapat operan bola, bola itu tidak mau 
kompromi. Entah melintir, melenting ke atas, atau bahkan tak bergeming sama 
sekali alias tidak tertendang! Hiks...Bete deh. Untungnya semua pengertian 
dengan keamatiranku. Jadi, aku tetap dapat operan bola. Lama-lama sih lumayan 
juga, aku bertambah lincah. Hanya saja tendanganku begitu lemah hingga 
seringkali bola cuma bergulir beberapa senti dari ujung kakiku. Huh...Bisa 
nggak sih, Non, nendang lebih kencang, minimal sekuat yang lain? Bukan 
bermaksud mendiskreditkan atau menghina loh. Tapi, dilihat-lihat nih postur 
kakak-kakakku ini kini jauh lebih besar dibanding saat mereka sekolah dulu. 
Yah, boleh dibilang relatif tambun. Logisnya aku yang agak mungil bisa lebih 
lincah
 bergerak. Nyatanya aku kalah berat. Lihat saja gaya Bang Komar. Wow! Sudah 
layaknya pemain futsal profesional. Dia menggocek bola, mengayunkan langkah ke 
kiri dan ke kanan, fokus kepada target, dan...gol! Gila! Hebat...hebat. Kak 
Faisal dan Kak Busan pun tidak kalah hebatnya. Mereka saling mengoper bola, 
berpacu menuju gawang, dan dalam hitungan detik melesakkan bola ke gawang! Gol! 
Gol! (Plok! Plok! Plok!)
            Ketika lapangan mulai dipadati teman-teman cowok yang lain, aku 
memutuskan untuk berhenti. Bukan karena lelah. Aku masih bersemangat, tapi aku 
mengerti bahwa pertandingan sesungguhnya akan dimulai. Sebagai pemain amatir, 
aku sadar pada kemampuanku sendiri. Aku tak ingin menghambat pertandingan, 
terlebih ketika tim berseragam dari klub futsal setempat menantang kami untuk 
adu tanding. Selagi sempat, aku meninggalkan arena. 
            Dalam perjalanan keluar lapangan, kuperhatikan selintas raut wajah 
dan gaya para atlet futsal itu. Sebagian berkacak pinggang, sebagian 
menggosok-gosok tangan mereka, sebagian lagi tersenyum agak meremehkan. Dapat 
kubayangkan apa yang mereka pikirkan tentang tim futsal kami.  “Cincai...Mereka 
pasti lewat!” Wajar sih. Karena sebagai pemain-pemain terlatih, seluruhnya muda 
dan berbadan atletis. Sterk, man! 
            Tapi ternyata, saudara-saudara. Siapa sangka. Belum lagi lewat 2 
menit, Bang Komar berhasil memasukkan bola ke gawang lawan. Tak lama kemudian, 
melesak lagi gol kedua dari tim alumni berkat kerja sama seluruh pemain dan 
kaki ajaib Kak Fahmi. Kami para cewek di pinggir lapangan sontak bertepuk 
tangan histeris. Yuhuu! Kita menang! Kita menang! Hidup SMA 1 Bekasi!
             Aku sendiri kemudian karena ‘gatal’ ingin olahraga akhirnya 
memilih untuk bermain bulu tangkis bersama Naila. Kami sebetulnya tidak membawa 
raket. Tempat penyewaan lapangan dan raket pun sudah tutup. Tapi, seperti 
biasa. Sesuai salah satu falsafah hidupku: Tidak malu bertanya pasti ada jalan 
untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, saat aku melihat seorang bapak-bapak 
ganteng berkulit gelap dan berkacamata yang mirip banget sineas Rudy Sujarwo 
tengah stretching di pinggir lapangan, aku ikut-ikutan stretching. Dia 
menatapku dan aku menatapnya balik. “Mau main, Pak?” tanyaku ramah. Mengambil 
balsem lalu mengoleskan jelly pemulih di lengan dia menjawab, “tidak...tidak,” 
sambil menyunggingkan senyuman manis. “Oh...,” tanggapku. “Kalau begitu, apa 
boleh saya pinjam raketnya? Saya ingin main, tapi hari ini tidak bawa raket”.  
Tanpa pikir panjang dia menjawab lagi, “Boleh.” Wah, aku serta-merta dilanda 
kegembiraan. “Terima kasih, Pak. Tapi
 teman saya juga mau main dan dia sama kayak saya nggak bawa raket. Apa Bapak 
punya raket lain?” Kali ini dia menggeleng. “Sayangnya cuma bawa yang satu 
ini.” 
            Aku cepat-cepat menemui Naila. “La, gue udah dapet raket nih. Tapi 
Bapak kita yang baik nggak bawa raket lain.” Naila tampak kecewa. “Yah, kalau 
begitu tetap nggak bisa main kita.”
            Tidak mau menyerah, aku mengalihkan pandangan ke lapangan lain yang 
persis berada di hadapan kami. Pasangan dobel tengah beraksi, selagi satu orang 
lainnya menjadi wasit. Tanpa ragu aku berjalan mendekati wasit. Dia segera 
menyadari kehadiranku. “Malam, Pak,” kataku, berdiri persis di sisi tempat 
duduk tingginya. “Malam,” jawabnya dengan tersenyum. “Ngawas?” tanyaku. 
“Begitulah.” Aku mengangguk-angguk, mengedarkan pandangan ke lapangan, lalu 
sambil menatapnya berkata,”Saya niat main bulutangkis dengan teman saya. 
Sayangnya kami nggak bawa raket. Apa kami boleh pinjam raket Bapak?” Dia 
mengamatiku sesaat lalu berujar, “Boleh. Saya ambilkan yah.” Dan dia segera 
turun dari podium wasit ke arah bangku pemain, meraih sebuah raket bagus 
berwarna merah, menimbang-nimbangnya, lalu memberikannya kepadaku. “Ini,” 
katanya. Dan aku menerima dengan suka cita. “Terima kasih, Pak. Benar-benar 
terima kasih!” 
            Begitulah. Di saat tim alumni SMA tercinta masih bertanding, aku 
dan Naila bermain bulutangkis di salah satu lapangan yang kebetulan kosong. 
Patut diakui. Kami sama sekali bukan pemain yang baik. Bola sering keluar, 
tidak terkejar, dan masih banyak lagi. Aku jadi cemas. Jangan-jangan ini 
pertanda penuaan dini. Padahal dulu berlari rasanya begitu ringan. Di masa 
sekolah, terutama jaman aku masih SD, Pak Guru selalu memilihku sebagai salah 
seorang anggota tim dari cabang olahraga yang menurutku cukup berat seperti 
lari, kasti, renang, dan sepeda lintas alam. Anak-anak cowok pun tak jarang 
mengajakku bergabung bersama teman cewekku, Geby, yang memang terkenal tomboi 
dan punya kekuatan ganda melebihi sebagian lelaki (entah dari mana dia 
memperoleh tenaganya yang dahsyat itu). “Kalian nggak bikin pusing,” begitu 
komentar teman-teman cowok, meski kadang aku berkernyit tak mengerti mengapa 
kami sebagai kaum hawa dianggap bisa menimbulkan persoalan. Tapi, tak
 masalah. Dengan hepi aku mengikuti ajakan main mereka: kasti, bola gebok, 
bahkan satu permainan menyakitkan yang menuntut kekuatan punggung karena kita 
tanpa ampun diinjak-injak sampai badan terasa mau remuk (Permainan apa sih itu? 
Bikin punggung biru-biru saja).   
            Ini benar-benar menginspirasiku untuk kembali terjun ke dunia 
olahraga. Renang tampaknya pilihan yang bagus. Kebetulan aku sudah beli baju 
renang muslimah yang menurutku manis sekali karena mirip baju balerina yang 
dipadu jilbab motif bunga-bunga. Dan dansa. Salsa atau koreografi modern. Tari 
tradisional macam Ronggeng Blantek juga asyik. Ah, benar-benar deh. Kangen 
banget sama aktivitas gerak mengikuti irama! Terakhir kali aku menari di SMP 
kelas tiga ketika tim sekolahku ikut perlombaan tari daerah di Gedung Golkar. 
Meskipun kutahu kalau aku bukan penari yang handal, tapi alunan musik dan olah 
tubuh yang sedemikian rupa membawa ketenangan dan kepuasan luar biasa. Aku suka 
pada kostum yang kukenakan, suka kepada kolaborasi anggota tim, suka tepukan 
tangan dari penonton saat pertunjukan. Sekarang hobi itu hanya sekali waktu 
tersalurkan melalui permainan Dancing-Dancing Revolution. Dalam benak 
terlintas, mungkin nggak yah alumni SMA yang cewek mau olahraga atau
 latihan dansa bersama? Aku berangan jika aku sudah menjadi pedansa yang mahir 
nanti, aku akan buka kelas khusus untuk semua teman cewek. Dan aku dan kakak 
akan kembali melatih renang di rumah seperti waktu kami kecil dulu. Dan aku 
akan kembali bernyanyi nasyid atau lagu-lagu pop bersama kelompokku (Mbak 
Linda, ayo bentuk kelompok baru dan jadi tutor kami lagi!). Dan aku akan 
kembali bermain musik (lalu disodok pemain di sebelahku gara-gara kelupaan 
membunyikan angklung, gong, tamborin, atau bonang pada saat yang tepat :D)  
            Eh, kok aku melantur ke mana-mana? Maaf. Kebiasaan. Anyway, dengan 
bersimbah peluh para pemain kita yang tiada duanya akhirnya selesai menguras 
energi mereka di lapangan hijau. Tidak mau melewatkan kesempatan penting dari 
pertemuan perdana tim futsal kita, aku meminta semua pemain berkumpul untuk 
difoto bersama. Ini persoalan yang gampang-gampang susah. Gampangnya, semua 
kompromis dan cepat duduk di bangku panjang yang tersedia. Susahnya, karena 
jumlah mereka lumayan banyak (17 orang), sementara jarakku tak lebih dari satu 
meter, aku kesulitan menangkap seluruh imej mereka, terbentur pagar pembatas 
sampai-sampai aku mau naik ke atas tumpukan kayu yang ada di sisi kiriku. “Kak 
Mukhlis...coba geser sedikit! Oke...Yak! Bang Komar nggak kelihatan nih. 
Mendekat...lagi....lagi...terus...” Begitu komandoku meniru fotografer kelas 
wahid. Dengan kecemasan membuncah karena baterai kamera yang sudah menunjukkan 
tanda habis, aku mengambil kesempatan terakhir untuk
 mengabadikan mereka. Klik! Dalam sekejap, imej di hadapanku berubah menjadi 
sebuah foto yang sekalipun berlatar sangat gelap, namun sanggup menunjukkan 
dengan jelas profil dari seluruh pemain kita yang keren. Alhamdulillah. 
            Hari semakin larut saja. Aku, Eksi, dan Naila berpamitan. Kami 
masih ada niat pijama party di rumahku, jadi tidak mau berlama-lama menanti 
semua pulang ke kediaman masing-masing. 
            Meski pergi duluan, dalam hati aku bersyukur atas setiap momen yang 
memungkinkan bertambahnya kedekatan alumni, menghangatkan silaturahmi yang kian 
terjalin di antara individu-individu yang telah melewati begitu banyak 
peristiwa berbeda, namun tetap berkenan bergabung dalam serangkaian agenda yang 
kuharap takkan pernah habisnya. Aku bersyukur memiliki keluarga sedemikian 
besar yang di tengah kesibukan masing-masing meluangkan waktu dan tenaga yang 
tersisa. 
            Penghargaan khusus ingin kusampaikan kepada Kak Busan yang telah 
mengkoordinir dan mensponsori lapangan futsal seharga 150 ribu/jam di Taman 
Harapan Baru Sport Center (Besok-besok kita bantu bayar yah 
teman-teman...Patungan begitu) dan para anggota IWP mengingat sebagian besar 
pemain futsal yang datang berasal dari komunitas IWP (Benar-benar bikin 
iri...Persaudaraannya itu loh...Kompak banget. Nyesel deh pas SMA nggak ikutan 
gabung. Kalo gabung sekarang masih bisa nggak? :p Bagaimana nih eks anggota PMR 
dan Kisma? Still love you all though) 
            Oke, sampai di sini dulu laporan dari ajang futsal rutin perdana 
alumni SMA 1 Bekasi tercinta. Sekian dan terima kasih. 
 
Salam olahraga dari pemain futsal amatir yang pengen berguru kepada para 
‘suhunya’ yang luar biasa, 
Nadiah Abidin (Bekasi, 27 November 2006, pukul 11:44)
 
*Yang kemarin hadir 17 cowok dan 5 cewek (22 orang). Pertemuan berikutnya coba 
kita pecahkan rekor melewati 30 orang. Pasti bisa.


 
____________________________________________________________________________________
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
http://new.mail.yahoo.com

Kirim email ke