Diskusi soal pendidikan tidaklah lengkap tanpa pembenahan mental para pelaku pendidikan di lapangan, baik pada tataran wacana maupun praksisnya. Namun menyalahkan pemerintah tampaknya juga tidak bijak, sebab bagaimanapun soal pendidikan ini adalah persoalan bersama antara pemerintah dan masyarakat. Kalau boleh dibilang, inilah lingkaran setan yang sesungguhnya, sulit mengurai benang kusut yang di buat si setan.
Coba kita reka-reka saja Daftar Isian Masalah-nya: 1. Kesejahteraan guru kurang, hingga memungkinkan guru "ngobyek". Akibatnya pendidikan siswa terabaikan. 2. Sekolah mahal, jadi cuma yang punya duit aja yang bisa sekolah. Yang miskin tidak bisa sekolah. 3. Buku-buku juga mahal. Semestinya buku-buku bisa menjadi sarana alternatif buat belajar, jika kita memang tidak punya dana untuk sekolah. Namun, kenyataannya harga buku paling tinggi di dunia ada di Indonesia, sehingga perpustakaan tidak memiliki stok buku. Kalo pun ada hanya syarat satu eks. 4. Jaringan perpustakaan yang masih langka. Perpustakaan daerah pun hanya ada di kota-kota besar, dan kalopun ada di kota kecil, sudah menyedihkan kondisinya. Perpusnas pun tidak mampu berbuat apa-apa, entah dimana masalahnya. 5. Rendahnya kesadaran orang tua akan pendidikan. Terutama di kota-kota kecil dan daerah terpencil. Contohnya di sebagian besar wilayah Indramayu, ortu lebih senang menikahkan anak gadisnya pada usia awal haid ketimbang menyekolahkan anak tersebut. Atau realitas pada film Denias, yang menekankan bahwa anak lelaki tugas utama bukan sekolah, melainkan membantu bapaknya di ladang. 6. Regulasi yang tidak pernah jelas yang dibuat pemerintah diakibatkan oleh rumitnya birokrasi. 7. Apalagi ya??? Ada yang mau nambahin DIM soal pendidikan?? Jadi bisa ketahuan mana yang kira-kira bisa dibenahi dari awal... It's only a transition... Dicky Kurniawan News Camera Person NEWS DIVISION PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV) Gd. Trans TV 3rd Fl. Jl. Kapt. Tendean Kav. 12-14A Jakarta Selatan 12790 +628174964705 [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] http://tukangceritapagi.blogs.friendster.com/tukang_cerita_pagi/ ----- Original Message ---- From: Ardian Pettrucci <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Friday, December 1, 2006 4:00:13 AM Subject: Re: [sma1bks] Gimana kalo kita diskusi soal Pengangguran? kalo saya punya ide bagaimana kalo kita mulai dengan masalah pendidikan.. .karena pendidikan di Indonesia saat ini sudah seperti barang mewah yang diperebutkan. jadi yang tidak punya cukup biaya, dia harus gigit jari.faktor inilah yang menyebabkan kepandiran massal, dan pemerintah seakan-akan apriori dengan hal ini....mereka malah sibuk mengurusi tender apa yang bisa diambil dari sistem pendidikan ini yang sudah dijalankan. dengan anggaran yang sekarang hanya 9,1 persen dari APBN ini, saya nilai tidak lah mencukupi untuk meningkatkan pendidikan. semestinya yang harus adalah 20 persen dari dana APBN, tapi pemerintah hanya menyanggupi 18,5 persen dan ini sesuai kemampuan pemerintah, padahal menurut konstitusi itu sudah melanggar konstitusi. Jadi menurut saya kita benahi sektor pendidikan negeri ini tanpa mengkesampingkan sektor kesehatan dan pembangunan daerah, perbaiki nasib guru, sejahterakan mereka...barulah kita bisa mulai berpikir maju, karena dengan pendidikan lah dapat memperbaiki sistem manajemen diri tiap individu, sehingga menghasilkan SDM dan tenaga-tenaga kerja yang mampu bersaing di era pasar bebas... tolong di perbaiki dan ditambahkan. ..tidak menutup diri untuk di kritik... Best Regards Are-The-And (Ardian) --- komar udin <komaibnumikam@ yahoo.com> wrote: > > dear sahabat, > Saya suka dengan diskusi soal-soal wacana seperti > itu. > Perkara ekslusif-inklusif, santri-abangan. Ada lagi > proletar. Islam egaliter. De el el – de el el. > Memang menggairahkan. Sungguh! [sampai di sini, saya > takjub dengan mas Dicky, Imbar, Qhidir, Opik..thank > you bro..kritikannya. .ho oh gue juga ngaku..gue > emosi..kesel aje liat orang yang mempermanen > kebencian > dalam sebuah puisi..nggak nyeni banget. gue ada buku > SABAR ATU buat loe pak..hub gue segera. buruan > keburu > abis] > > Tapi, sekarang saya koq – entah mengapa > – > gak suka bicara perkara semacam itu. Sekarang saya > lebih suka berbicara dan berbuat soal-soal > pragmatis. > Pengangguran yang bejibun. Kemaksiyatan yang ngampar > di seantero negeri. Kekerasan di pelupuk mata [smack > down!] kepandiran massal [ini untuk menyimpulkan > bahwa > kudu ada korban dulu baru pada rebut] Anak putus > sekolah. Soal orang-orang diseputar kita yang butuh > uluran tangan. Soal kesejahteraan dai. Yang harus > hidup pas-pasan. Padahal waktunya 24 jam untuk umat. > > Nah, saya tawarkan. Bagaimana kalo kita berdiskusi > soal-soal pragmatis aje. Terus soal-soal internal > umat > itu dibicarakan di ruang2 private. Soalnya banyak > juga > lho yang non islam di milis ini. Kalo mau ngaji hub. > Gue. Kayaknya gak sopan deh kita berbincang soal > ‘identitas’. Sekarang waktunya eksekusi > bung…umur udah tue neh. Gak doyan ama wacana > lagi. > > Hayo kita mulai dari mana? > > Pengangguran? Khususnya di Bekasi. Apa kiat kita > untuk > menanggulangi pengangguran. Eh, berbahaya lho pak > kalo > dibiarin meningkat. Sementara kita pergi pagi pulang > petang. Tetangga gak bisa makan kita gak > tahu….tetangga itu 40 rumah ke kiri, kanan, > belakang dan depan. Sementara pemerintah > daerah….? Gak tahu deh! > > > Mohon maaf kalo gak berkenan > > Komarudin Ibnu Mikam, yang beli rumah dari menulis > > > > > ____________ _________ _________ _________ _________ __ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam > protection around > http://mail. yahoo.com > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ Do you Yahoo!? Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta. http://new.mail. yahoo.com ____________________________________________________________________________________ Do you Yahoo!? Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta. http://new.mail.yahoo.com
