--- Begin Message ---
Best Regards
Karina Dita Megasari
Relationship Manager SME Banking
PermataBank Hayam Wuruk Lt. 4
Ph : 021- 2601006/2601050 ext 4711
Hp : 0813 80 23 78 79
Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah tidak "ndeso"
BERAGAMA YANG TIDAK KORUPSI
Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun.
"Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba
sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke
masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang
becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"
Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan."
"Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya.
"Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun.
"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak
ngajak-ngajak," katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke
surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi."
Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong,
Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan
itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.
Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit,
Akulah yang sakit itu.
Kalau engkau menegur orang yang kesepian,
Akulah yang kesepian itu.
Kalau engkau memberi makan orang kelaparan,
Akulah yang kelaparan itu.
Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari
tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran,
membangun masjid, tapi korupsi uang negara.
Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan
hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan
semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca
al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"
Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga.
Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka,
bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat,
itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya.
Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang,
tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal,
tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang
sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.
Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya.
Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir
di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output
sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan
dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu
mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan
memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.
Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap.
Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih
sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa,
datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama.
Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir
miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang
beragama.
Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan
personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya.
Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang
yang bisa menggembirakan tetangganya.
Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama.
Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin
(kaum tertindas).
Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya.
Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial
tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid,
sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.
Ekstrinsik Vs Intrinsik
Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar
berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari,
tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab
singkat, "Ia di neraka." Hadis ini memperlihatkan kepada kita
bahwa ibadah ritual saja belum cukup.
Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang
tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.
Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng
memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal ini sejalan
dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport. Allport, psikolog,
membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik.
Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan.
Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia
puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih
keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia
beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam
dirinya.
Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan
nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke
dalam jiwa penganutnya.
Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya
praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya
sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara
beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih
dan penuh kasih sayang.
Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan
egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari
kebahagiaan, kata Leo Tolstoy.
Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri.
Kebahagiaan terletak pada kebersamaan.
Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan.
Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan
sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.
Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan
ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit;
kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut
tentang bid'ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid'ah
dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan
korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.
Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh
pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan
17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala.
Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang
memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai
memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi
contohnya. Ironis.
Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat
Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan
kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan
hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam
yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di
sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.
Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan,
di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan
sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah,
di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi.
Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang
sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah
sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak
beragama.
The contents of this e-mail and attachments are confidential and subject to
legal privilege. If you are not the intended recipient, you are strictly
prohibited and may be unlawful to use, copy, store, distribute, disclose or
communicate any part of it to others and you are obliged to return it
immediately to sender or notify us and delete the e-mail and any attachments
from your system. PT BANK PERMATA TBK and subsidiaries do not accept liability
for loss or damage resulting from computer viruses. The integrity of e-mail
across the internet cannot be guaranteed and PT BANK PERMATA TBK will not
accept liability for any claims arising as a result of the use of this medium
for transmissions by or to PT BANK PERMATA TBK.
--- End Message ---