--- Begin Message ---
Komentar rekan saya, Ahmad Munjid, seorang kandidat doktor dalam bidang
Religious Studies dari Temple University, Philadelphia.
Semoga bermanfaat,
Indah
>
>
> Ahmad Munjid <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Assalamu'alaykum,
> Teman-teman, karena Aa Gym ini adalah salah seorang
> da'i kita yang terkemuka dan baik ucapan mau
> tindakannya banyak dijadikan panutan ummat Islam di
> tanah air, saya merasa perlu memberikan tanggapan.
>
> Karena posisi yang telah dimainkannya selama ini,
> betapapun Aa Gym adalah bagian dari trend setter
> publik Muslim (audiensnya mungkin lebih banyak
> kelas
> menengah urban). Ia adalah tokoh idola yang
> perilakunya diikuti applaus atau helaan nafas para
> pengagumnya, sesuai dengan medan dan manuver hidup
> yang dilalui. Ia adalah penghibur mata, penghibur
> telinga dan lebih-lebih dengan "Manajemen
> Qalbu"-nya,
> ia terutama penghibur qalbu, pelipur jiwa banyak
> orang.
>
> Tapi marilah kita ingat, betapapun, ia adalah
> seorang
> manusia. Bukan dewa, bukan malaikat. Kadang kita
> lupa,
> jika seseorang telah menjadi idola, s/he can do no
> wrong. Ia harus sempurna, apapun tindakan dan
> perilakunya. Terhadap tindakan dan perilaku sang
> tokoh, karena ia terlanjur menjadi idola, kitalah
> yang
> berkewajiban menyesuaikan diri dalam hal pemahaman
> atau tafsir atas kenyataan. Itu terjadi pada
> Soekarno,
> Soeharto, Gus Dur dan banyak figur idola lainnya.
> Dan
> kini saya melihat hal yang sama sedang berlangsung
> di
> sekitar Aa Gym.
>
> Buat saya, apa yang dilakukan Aa Gym, with all due
> respect, secara moral amat menyakitkan. Dalam
> istilah
> linguistik, paling banter, perhaps he is
> linguistically OK, but doesn't make sense.
>
> Dalam soal fikih, mari kita ingat kembali bahwa
> konteks pembolehan poligami dalam Islam dahulunya
> sebetulnya bertujuan justru untuk membatasi,
> bukannya
> menambah jumlah istri. Sebab, dalam masyarakat Arab
> ketika itu, perempuan ibarat 'barang' yang boleh
> diapasajakan oleh kaum laki-laki. Itulah sebabnya,
> banyak orang yang tega mengubur anak bayinya yang
> terlahir perempuan. Orang bisa beristri berapa
> saja,
> siapa saja. Asal mampu, asal bisa. Terserah
> bagaimana
> caranya.
>
> Lalu Islam datang dengan "Kalau memang terpaksa,
> sudahlah, empat saja". Tapi--silakan baca kembali
> terutama bagian-bagian awal surat an-Nisa--"adil"
> menjadi kata kunci di sana. Sembari ditegaskan di
> tempat lain bahwa karena adil is almost impossible
> dicapai seorang suami beristri lebih dari satu,
> pada
> intinya monogami jelas adalah bentuk pernikahan
> paling
> ideal dalam Islam.
>
> Artinya, dengan pesan universal yang bisa diterima
> pemahaman manusia dari berbagai latar budaya dan
> sejarah yang berbeda, dengan ketentuan "empat saja"
> itu, al-Qur'an sebenarnya sedang meletakkan fondasi
> penting buat kesedarajatan laki-laki dan perempuan.
> Dengan konsep "adil" sebagai hakikat pesannya, soal
> pencapaian bentuk pernikahan dalam masyarakat
> kemudian
> diserahkan kepada kematangan ummat Islam sendiri
> dalam
> mewujudkannya.
>
> Jadi, apakah kalau al-Qur'an menyediakan prinsip
> "roda", setelah sekian lama, kita ya cuma berkutat
> dengan cuma "roda" saja? Kita samasekali tidak
> terpikir, atau malah haram hukumnya, buat bikin
> sepeda, motor, mobil, pesawat dst yang berangkat
> dari
> prinsip "roda" itu?
>
> Sebab, untuk masyarakat yang demikian promiscuous
> dan
> di mana perempuan samasekali tidak berharga seperti
> dalam dunia Arab waktu itu, kalau al-Qur'an
> langsung
> bicara "jangan poligami", ya jelas nggak tinemu
> nalar.
> Jangankan ada yang mau terima, mau dengar pun
> mungkin
> sekali tidak.
>
> Bukankah hal yang sama juga terjadi pada perkara
> "perbudakan"? Islam tidak pernah terang-terangan
> melarang budak (Bandingakan dengan Thomas Jefferson
> si
> penulis Konstitusi Amerika yang katanya menjunjung
> tinggi hak asasi manusia, tapi dia sendiri juga
> punya
> banyak budak). Tapi, dengan konsep kesederajatan
> manusia dalam Islam, dengan "membebaskan budak"
> sebagai bentuk penebusan kesalahan tertentu,
> misalnya,
> dan treatment lainnya yang menyangkut soal
> perbudakan
> ini, jelas sekali arah yang ditempuh pada akhirnya
> adalah: penghapusan perbudakan. Setelah lebih 14
> abad
> ditinggal Rasulullah, masihkah kita akan
> menghalalkan
> perbudakan? Lari di treadmill bisa menyehatkan,
> tapi
> beragama seperti lari di atas treadmill saya kira
> amat
> mengenaskan.
>
> Karena itu, secara moral, bagi saya, poligami Aa
> Gym
> ini amat menyakitkan. Dengan mengetahui bahwa istri
> keduanya itu adalah perempuan yang jauh lebih muda
> dari istri pertama dan mantan model pula, rasanya
> alasan menikahi dia karena buat membantu mengurus
> anaknya, misalnya, tidaklah bisa diterima.
>
> Dengarlah apa yang tidak
> terkatakan di balik 'pengakuan' istrinya. Dengarlah
> baik-baik banyak komentar kecewa para jama'ah
> pengagumnya (kalau komentar dari kalangan yang
> bukan
> pengagum sih sudah jelas). Betapapun, dari sisi
> hukum,
> minimal, poligami selalu diperdebatkan. Ingat,
> betapa
> tidak berkenannya Nabi saat Ali r.a., sang menantu,
> menunjukkan isyarat hendak memadu Fatimah, putri
> kesayangannya. Satu-satunya yang jelas di seputar
> poligami hanyalah bahwa bagi laki-laki ia
> menguntungkan, sedang bagi perempuan ia merugikan.
>
> Sebagai penutup, saya teringat kisah seorang ulama
> yang kebetulan kaya tapi selalu bersikeras
> mendisiplinkan keluarganya untuk berpenampilan amat
> sederhana. Seorang anaknya, karena dilarang
> berpakaian
> bagus yang terlanjur dibelinya, suatu hari protes:
> "Kenapa? Bukankah, dengan keadaan kita, apa yang
> saya
> pakai samasekali tidak berlebihan? Ini harta halal
> kita dan kita tidak mengada-ada."
> "Betul anakku; jika kita hanya mau melihat diri
> sendiri semata," begitu jawab sang ayah. "Tapi
> sebagai
> pemimpin di tengah ummat yang dibelit demikian
> banyak
> persoalan, hendaklah kamu selalu ingat, kita adalah
> hiburan mereka yang amat langka. Apakah kamu tega
> merebut hiburan itu dari tangan mereka?"
> Sang anak tertegun dan kemudian menangis tersedu.
>
> Ketika saya mendengar banyak jama'ah Aa Gym yang
> menangis sedih atas berita poligami ini, saya
> seperti
> menyaksikan hati jutaan ummat yang terluka karena
> penghibur ruhani yang menyejukkan hati mereka
> tiba-tiba terenggut. Atas nama agama pula.
>
> Mereka menangis sedih sekaligus takut. Betapa
> menyakitkan bukan? Bahkan untuk menangisi hal yang
> buat mata batin banyak orang jelas-jelas
> menyedihkan
> pun masih diancam dengan amang-amang membantah
> ketentuan Allah pula?
>
> Maaf jika terlalu panjang. Semoga
> ada yang bermanfaat.
>
> Wassalam,
>
> Munjid
>
=== message truncated ===
__________________________________________________________
Yahoo! Music Unlimited
Access over 1 million songs.
http://music.yahoo.com/unlimited
test'; ">
---------------------------------
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
[Non-text portions of this message have been removed]
--- End Message ---