Dari Millis tetangga

 

 

Sebagai orang yang hidup di rantau, maka sarana berkomunikasi dengan
orangtua umumnya dilakukan dengan surat atau kalau tidak ya melalui
percakapan telpun .. long distance call. Terkadang sebagai pengobat rindu
rasanya percakapan melalui pesawat telpon sudah lumayan.

 

Barangkali benar adanya hal di atas bila dalam keadaan normal atau
biasa-biasa saja. Tetapi ketika tiba-tiba datang perasaan sangat ingin
bertemu orangtua terutama Ibu, orang yang melahirkan kita, maka banyak orang
bilang itu akibat rindu.

 

Nah, akibat perasaan rindu itulah, maka saya yang masih memiliki seorang Ibu
lalu teringat kejadian beberapa tahun yang lampau. Suatu saat ketika sedang
duduk-duduk di teras lalu tiba-tiba datang beberapa anak tetangga seusia SD
dengan tergopoh-gopoh.

 

"Om ....!" kata yang berada paling depan masih sambil ngos-ngosan.

 

"Ada apa, Bud?!" tanyaku penuh selidik.

 

"Kata saya yang terpanjang di dunia ini adalah Sungai Nil di Mesir!" sambung
si Budi.

 

Belum sempat saya berkomentar atau menanyakan apa maksudnya tiba-tiba Eko
sudah menyusul.

 

"Kalau menurut saya yang terpanjang itu Tembok China, Om!" Begitu kata Eko
dengan mantap.

 

"Ohh, rupanya kalian datang ke sini ini ingin mendapatkan pembenaran atas
pernyataan kalian .. apa yang terpanjang di dunia ini?!" Sahutku sambil
manggut-manggut.

 

"Iya Om, saya sudah bilang yang terpanjang itu ialah jalan dari Anyer sampai
Panarukan, tapi teman-teman tidak percaya!" Kata Bambang kemudian dengan
yakin.

 

"Baiklah kalau begitu, masih ada satu lagi, Edo .. apa menurut kamu yang
terpanjang, Edo?!" Tanyaku kepada Edo sebelum memberikan jawaban kepada
anak-anak tersebut.

 

Edo yang aku tanya itu tidak langsung menjawab. Ia masih perlu berpikir
beberapa saat sebelum menjawab.

 

"Itu Om, yang terpanjang di dunia itu menurut saya route Rally Paris-Dakar!
"

 

Gerrrrrr ... kami semua hampir bersamaan tertawa kecuali Edo. Dan karena si
Edo malah heran, maka ia lalu bertanya.

 

"Kok, pada ketawa .., jadi apa dong yang terpanjang itu, Om?!"

 

"Begini adik-adik ..!" kataku mengawali jawaban yang hendak saya sampaikan
kepada mereka ber-empat itu.

 

"Kalian lahir ke dunia ini hingga tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak
yang manis serta sudah bersekolah, dan dari bangku sekolah itu lalu
mengetahui adanya Sungai Nil, Tembok China, jalan panjang dari Anyer sampai
Panarukan dan juga route Rally Paris-Dakar itu melalui siapa?" tanya saya
kemudian.

 

"Ibuuu ..!!!!" jawab ke-empat anak hampir bersamaan.

 

"Nah, karena kalian mengetahui bahwa semua itu terjadi dan diawali melalui
Ibu, maka sekarang Om akan memberikan jawabannya.

 

"Apa Om jawabannya?! " tanya anak-anak itu penasaran dan mulai tampak tidak
begitu yakin bahwa pernyataannya akan saya jawab benar.

 

"Jawaban kalian semua tadi benar adanya!"

 

"Uuhhh, masa' nggak ada yang paling benar?!" sahut Budi agak kecewa.

 

"Ada yang paling benar, yaitu : kasih sayang Ibu!"

 

"Lho, masa' yang terpanjang kasih sayang Ibu?!" sahut Edo juga dengan
sedikit kecewa.

 

"Ya, sebab kasih sayang Ibu itu sangat panjang. Dan karena sangat
panjangnya, maka banyak orang bilang bahwa kasih sayang Ibu itu sepanjang
masa. Nah, adakah di dunia ini yang panjangnya sepanjang masa sebagaimana
kasih sayang Ibu?"

 

"Wah, ya nggak tahu Om, kalau itu yang dimaksud!" sahut Bambang sambil
cemberut.

 

"Nah, adik-adik .. baiknya kalian pulang dan kalau masih belum jelas, maka
tanyakan perihal kasih sayang Ibu yang sepanjang masa ini kepada Ayah. Ingat
jangan tanyakan kepada Ibu tetapi tanyakan kepada Ayah!"

 

Dan ke-empat anak itu pun pulang dengan teka-tekinya masing-masing.

 

 

Yathie 
(Dalam seribu temen belum tentu wujud seorang sahabat, karena PERSAHABATAN
itu memerlukan kejujuran yang merupakan kebahagiaan dalam kehidupan)

 

Kirim email ke