Kamis, 25 Januari 2007

Virus Flu Burung Ada pada Lalat 
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=280189&kat_id=13



YOGYAKARTA -- Perhatian penularan virus flu burung tampaknya mesti diperluas 
bukan hanya pada unggas. Menurut guru besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof 
HR Wasito, hingga kini lalat dicurigai bisa menjadi vektor flu burung. 
''Sehingga, kalau lalat tidak menjadi perhatian pemerintah, maka flu burung 
menurut kami tetap ada terus, tidak akan berhenti,'' katanya. Awalnya, pada 
tahun 2003, Prof Wasito,PhD bersama isterinya Prof Hastari Wuryastuti curiga di 
daerah wabah flu burung banyak terdapat lalat. Saat itu Prof Hastari langsung 
menghubungi Profesornya di Michigan University State, tempat ia mengambil S2 
dan S3. 
''Profesornya, Roger Maes, berkata pada isteri saya bahwa barangkali lalat 
dapat menjadi vektor flu burung,'' ungkapnya. Kemudian, Prof Hastari dan Prof 
Wasito mengambil beberapa sampel lalat dari peternakan yang sejak tahun 2003 
ada wabah flu burung, di antaranya di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan 
(Maros), dan Jawa Barat Tangerang). Ternyata lalat-lalat tersebut positif 
mengandung H5N1. 
''Cara menelitinya, lalat-lalat tersebut digerus, kemudian diuji dengan RT-PCR 
(Reserve Transcriptase-Polymerase Chain Reaction) ternyata positif flu burung. 
Setelah itu kami cek H-nya saja dan N-nya saja, ternyata diketahui H-nya adalah 
H5 dan N-nya adalah N1,'' jelas ahli patologi hewan ini. 
Selanjutnya, pada tahun 2005, yaitu tiga bulan setelah outbreak di Maros, Prof 
Wasito dan Prof Hastari mengambil lagi sampel lalat. Pada tahun 2005 mereka 
juga mengambil sampel lalat di beberapa peternakan di Karanganyar dan di Jawa 
Timur (Malang, Kediri, Tulungagung, Tuban, Blitar). Di tempat tersebut sudah 
tidak ada kasus flu burung, ayamnya sudah bagus-bagus. Padahal dua tahun 
sebelumnya terjadi outbreak flu burung. 
Selain mengambil sampel lalat di daerah yang semula ada outbreak flu burung, 
Prof Wasito dan isteri juga mengambil sampel lalat di daerah peternakan yang 
tidak pernah ada kasus flu burung. Hasilnya, di daerah peternakan unggas yang 
sama sekali belum pernah ada kasus flu burung, lalatnya selalu negatif flu 
burung. ''Tetapi, di daerah yang pernah ada wabah flu burung tahun 2003, 
kemudian tahun 2005/2006 kita ambil sampel lagi, lalatnya ada yang positif flu 
burung dan negatif flu burung. Ini yang menarik,'' tuturnya.
Karena banyak didebat oleh berbagai pihak, lanjutnya, antara lain dikatakan 
karena lalat terkontaminasi, kemudian dilakukan penelitian lanjutan. ''Kita 
potong, kepala, kaki, dada, perut dan sayap. Pada bagian perut setelah 
dipotong-potong dan diuji dengan RT-PCR ternyata positif flu burung H5N1. 
Meskipun demikian hasil ini masih didebat, katanya masih bisa kontaminasi,'' 
katanya. 
Kemudian Prof Wasito melakukan uji imunokimia. Lalat dipotong membujur separuh 
tubuhnya. Kemudian, diproses histopatologis dan diberi antibodi monoklonal 
antinucleoprotein (antiflu burung), ternyata hasilnya tetap positif di dalam 
tubuh lalat yaitu mulai dari lapisan luar, otot dagingnya, sampai saluran 
pernapasan. 
Menurut dia, yang menarik adalah virus flu burung juga ada di dalam saluran 
reproduksi lalat (folikel ovarium) atau telur lalat. ''Inilah menurut kami 
menjawab kenapa virus H5N1 ada pada lalat? Ternyata, tiga tahun setelah 
outbreak (dari tahun 2003 kemudian tahun 2006), H5N1 pada lalat masih ada,'' 
kata dia. 
Padahal terbangnya lalat hanya sekitar 100 meter dan umurnya sekitar satu 
bulan. ''Kalau dihitung sampai tahun 2005 saja, berarti lalat yang masih ada 
H5N1 sudah 25 generasi, kalau H5N1 masih ada pada lalat sampai tahun 2006, 
berarti ada 36 generasi,'' ujarnya. nri
( ) 
 
It's only a transition...

Dicky Kurniawan
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
omongkosongku.blogspot.com


 
____________________________________________________________________________________
TV dinner still cooling? 
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.
http://tv.yahoo.com/

Kirim email ke