Syukur kalau internet nya udah bisa .....

 

 

 

Best regards,

Vanda

  _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
Nadiah Abidin
Sent: Tuesday, 27 February, 2007 7:51 PM
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[email protected]
Subject: [sma1bks] Kawin Lari (cerpen)

 

Sejak Januari, aku cuma mengirim tulisan ke blog. Hari ini aku kangen
berbagi cerita dengan teman-teman. Jadi, kukirim tulisan iseng ini ke kalian
juga. Tema sama sekali nggak penting. Teknik penulisan pun terlalu biasa.
Tapi, seperti apapun bentuknya, tetap terhitung tulisan. Ya, nggak? :D Met
baca aza deh bagi yang lagi kurang kerjaan dan bela-belain membacanya.

Thx. Nadiah

 

---

 

KAWIN LARI

 

"Kita kawin lari..." 

"Mana bisa..."

"Tentu bisa"

"Tidak, aku nggak mungkin melakukannya"

"Kenapa?"

"Bagaimana dengan ibuku? Tentu patah hatinya kalau dia tahu aku pergi begitu
saja"

"Kita bawa beliau bersama kita"

"Dia takkan mau"

"Harus mau"

"Rendi..."

"Anya..."

"Idemu terlalu gila"

"Tidak bagiku"

"Bagiku ya. Coba pikir. Andai kita kawin lari, terus kita hidup dari apa?"

"Aku akan cari kerja"

"Apa semudah itu? Sarjana saja kesusahan ngisi lowongan, apalagi kalau cuma
lulusan SMP" 

"Kamu meragukan intelektualitasku?"

"Tentu tidak. Tapi kita nggak bisa naif. Jaman sekarang secarik kertas
ijasah penting banget. Tanpa itu, jangan harap bisa memenangkan kompetisi.
Istilahnya, dilirik saja mungkin nggak"

"Jangan pesimis gitu dong. Bikin aku down"

"Maafkan aku. Aku pikir kamu brilian, Rendi. Tapi orang nggak mungkin tahu
itu kalau nggak ngasih kamu kesempatan ngomong. Dan kamu ngerti kan proses
wawancara kerja? Orang-orang menimbang CV dulu, baru bikin opsi apakah
bersedia ketemu dengan kita atau nggak"

"Memang masalah. Lebih baik wiraswasta"

"Modalnya?"

Hening. 

"Aku punya tabungan"

"Jangan, Anya. Biarkan tabunganmu untukmu"

"Katanya mau kawin lari"

"Memang"

"Lha, lantas tanpa uang, mau lari ke mana? Jalan kaki pun mungkin nggak
bakal sampai ke mana-mana"

"Benar juga. Baiknya bagaimana?"

"Kita menetap di sini"

"Orangtuamu nggak bakal merestui kita"

"Aku tahu. Tapi kawin lari juga bukan solusi"

"Nggak ada jalan, yah?"

"Coba sekolah lagi"

"Aku ingin, tapi terbentur biaya"

"Ya, aku ngerti. Dan jika aku menunggumu lulus SMA, terus lulus S1, S2, S3,
aku mungkin sudah 40-an atau bahkan 50-an"

"Memangnya kenapa?"

"Aku bakal terlalu tua bagimu"

"Menurutku tidak"

"Rendi..."

"Anya..." 

Hening.

"Jangan cemas. Meski cuma tamatan SMP, aku akan bekerja mati-matian supaya
punya uang banyak"

Anya tersenyum.

"Iya, Rendi mesti semangat. Kamu pasti bisa"

"Pasti..."

"Nanti uangnya bisa buat usaha"

"Benar"

"Dan memulai hidup yang lebih baik" 

"Bersamamu"

"Bersama seseorang"

"Anya..."

Anya memalingkan muka, diam terbalut gundah dan bingung.

[...]

 

Yah, begitulah Anya dan Rendi. Dua sahabat yang perlahan mencinta. Anya
seorang gadis di usia 30-an, petinggi instansinya, idola, lulusan S3
Harvard. Rendi 20-an, penggangguran kebanyakan gaya, dengan nilai SMP
pas-pasan yang sering dicemooh banyak orang sebagai pecundang. 

 

Terpaut usia, terpaut status, terpaut begitu banyak hal. Entah apa jadinya
hubungan mereka. 

 

Mungkin benar kata Anya. Rendi perlu mencari seseorang yang lain karena jika
dipaksakan, sanggupkah mereka menghadapi tekanan lingkungan? mampukah mereka
menanggulangi segala perbedaan? 

 

Dilihat dari segala sisi, rasanya mereka tak memiliki harapan. Ataukah aku
keliru? 

Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

 

(Nadiah Abidin, 27 Februari 2007, pukul 19:08:32, setelah sukses mengubah
setting security internet laptop, di Jurusan Ilmu Komunikasi Unisma Bekasi) 

 

  _____  

Sucker-punch spam with award-winning protection.
Try the free Yahoo! Mail Beta.

 

Kirim email ke