Hai all, lagi agak-agak bete nih. Udah susah payah nulis cerpen tentang gigolo, belum di-save, laptop error. Terus nyoba ganti topik ngelanjutin cerbung tentang Anya dan Rendi, salah pencet tombol, error lagi. Akhirnya asal bikin puisi ini. Seperti kemarin, puisi yang kubikin ini menurutku kurang penting, kurang 'nyastra', dan bisa disangka mengilustrasikan keadaan diri sendiri :)). Tapi karena nggak kena error, ya sudah, aku kirim saja. Silahkan dihapus begitu Anda membacanya :D CU
MENANTI CINTA Bosan aku menantimu detik demi detik hari demi hari sampai aku bertanya-tanya benarkah kau ada? ataukah kau hanya ilusi dari seseorang yang teramat istimewa? Banyak yang bilang jodoh sangat dekat sedekat urat nadi aliran darah yang mengalir di vena Nyatanya aku tak melihatmu kau kasat mata transparan laksana molekul di udara yang melayang terbawa angin entah ke mana Tidakkah kau tahu aku begitu letih mencari sebuah kejelasan dari dirimu yang bahkan tak kumengerti identitasnya hingga tak bisa kujawab: Siapa namamu? Di mana rumahmu? Adakah kau merindukan aku sama seperti aku merindukanmu? Jika boleh jujur aku mulai cemas jangan-jangan semua khayalan belaka bualan pikiran yang terus berkata: "Dia kan datang sebentar lagi sabarlah menanti" Ah, kata itu... MENANTI Sampai rasanya alergi mendengarnya Ya... Aku tahu tidak baik mengeluh pesimis apalagi berputus asa mempertanyakan kuasa dari Dia yang mencipta karena aku paham betapa Maha Kasih dan Maha Adil Dia Pemilik Alam Semesta tapi meski klise aku hanya manusia terkadang emosi yang bicara akal terpaku realita bahwa kau tidak setahun yang lalu seminggu silam kemarin sekejap tadi satu kalipun datang menyapa Andai kau tahu betapa aku berangan bisa mengenakan gaun terbaikku segera membuka pintu dan menyambutmu hangat dengan ucapan: "Selamat datang Kekasih, selamat datang di rumah kita" Ya... Aku mungkin takkan menjadi gadis terbaik yang mampu menjalankan segala dengan sempurna tapi aku kan mencoba memberi apa yang dapat kuberi agar tercipta harmoni dari dua hati dua pikiran dua opini di dalam satu bahtera Ya... Aku letih Sungguh-sungguh letih hingga nyaris koyak jiwa ini serasa terpukul palu godam sakit perih tak tertahankan Tapi... kumasih di sini duduk menanti terus menanti menanti dirimu menanti Cinta sampai kau siap menemuiku menemui Cinta (Nadiah Abidin, pukul 18:40:27, di Jurusan Ilmu Komunikasi Unisma Bekasi) ____________________________________________________________________________________ Any questions? Get answers on any topic at www.Answers.yahoo.com. Try it now.
