LIFE MAPPING
Masih inget pelajaran peta buta jaman SD dulu? Wuah bangga rasanya bisa
menunjukkan letak negara, ibu kota, danau, gunung dll di selembar peta tanpa
petunjuk nama alias peta buta di papan. Gara-gara pelajaran ini, sampe
mati-matian menghapalkan nama dan letak tempat-tempat itu :D
Selain menghapal, imajinasi kadang melayang membayangkan, tempat macam apa
sih. Misalnya saat kita menghapalkan nama dan letak Danau Toba yang di
tengah-tengahnya ada Pulau Samosir, langsung kebayang deh gimana kerennya
tempat itu. Atau waktu menghapal nama dan letak pegunungan Himalaya, pegunungan
tertinggi di dunia, atau ibu kota Thailand, Bangkok dengan pasar terapung dan
sungai Chao Phraya
.
Peta, dengan segala seluk beluknya, membuat kita bisa membayangkan dan
mengimajinasikannya secara kumplit. Coba, bayangkan andai peta Jawa aja kita
nggak pernah tau/liat, wadyuh gimana susahnya membayangkan di mana letak Jogya,
Semarang, Surabaya plus Porong Sidoarjo
.(bisa2 ngacak dan nggak tahu deketan
mana, ke Jogya or Surabaya dari Jakarta hihi)
Mungkin demikian juga halnya dengan apa yang diusulkan Ibu Marwah Daud
Ibrahim ketika menulis buku MHMMD (Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa
Depan). Dengan mengelola dan merencanakan, kita memetakan hidup kita. Mulai
dari usia 0-70 tahun misalnya. Di sana kita memetakan dan merencanakan kapan
kita sekolah/kuliah (SD-SMA, S1-S3, dll), kapan married, membangun karir (plus
bidangnya apa), kapan pergi haji, punya anak, punya bisnis, pensiun, dll. Peta
hidup saya sendiri, saya bikin mulai dari umur 0 sampe 80 *hihi pede banget
bakalan umur panjang yak..* di sana semua rencana hidup saya sih udah hampir
kumplit. Tinggal dilakoni, berjuang, berusaha, dan banyak-banyak doa juga. Yah,
meski kita merencanakan sebaik apapun, semuanya tetap di tangan Tuhan kan?
Peta hidup ini, dalam buku MHMMD (liat juga http://www.mhmmd.net) juga
dilengkapi dengan Dreamlist ala Goddards list (dreamlist saya ada 110, kalau
milik John Goddard ada 120an kalo nggak salah, lupa...;) dan setiap tahunnya
(sebaiknya) ada tujuan dan target yang ingin kita capai. Soal pencapaian target
hidup ini memang nggak segampang menuliskannya dalam dreamlist pastinya.
Mungkin di sinilah letak seninya, dan masing-masing orang pasti beda. Misalnya,
saya pengen bisa menguasai lima bahasa. Dan konon belajar bahasa efektif
sebelum usia 25 tahun, sementara sampe lewat sekian tahun (dari umur 25) aja
yang namanya bahasa inggris masih belepotan, gimana mau LIMA bahasa
hehehehe
(kagak ngaca lu Vit :p) Terus misalnya saya pengen keliling negara Asia
Tenggara/ASEAN. Nah ini serunya, ternyata saya udah sampe ke 3 negara (4 ding
kalo ngitungnya sama Indonesaia *hihihi*), ini jadi bikin semangat (moga-moga
tahun ini kalo nggak nambah 3 lagi, atau dapet satu aja udah
syukur
hehehe).
Peta hidup, dreamlist, target dan semacamnya membuat hidup bisa lebih fokus,
karena tahu tujuan dalam hidup mau kemana dan mau ngapain. Jangan seperti
layangan putus, kata salah satu Guru Besar di sini yang waktu itu menanyakan
(baca:nantangin) kapan saya sekolah S3. Hehehe, bikin tesis aja setengah mati :)
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.