Mas Coen <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Date: Thu, 3 May 2007 04:10:36 -0000 (UTC)
Subject: [Fwd: [community-ans-asp] FW: Ada pembunuh lari dari penjara
menggunakan tape uli...]
From: "Mas Coen" <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
---------------------------- Original Message ----------------------------
Subject: [community-ans-asp] FW: Ada pembunuh lari dari penjara
menggunakan tape uli...
From: "Marcapada Sukardi"
Date: Thu, May 3, 2007 3:36 am
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------------------------------
-----Original Message-----
From: Setianingrum, Gitawati [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, May 03, 2007 10:11 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: FW: Ada pembunuh lari dari penjara menggunakan tape uli...
-----Original Message-----
From: Dianawati, Metty
Sent: Thursday, May 03, 2007 10:07 AM
To: B.C.R, Estianingtyas; Setianingrum, Gitawati; Wulan, Indah; Ain
Fatma; Hera Setianingrum
Subject: Ada pembunuh lari dari penjara menggunakan tape uli...
Yang pasti cerita ini bikin haru......
-----Original Message-----
From: Ramadhani, Yulia
Sent: Thursday, May 03, 2007 9:51 AM
To: Dianawati, Metty; Isadora, Sophia; Handayati, Nilam [nilam];
Ervinasari [FE&C]; Katrin Prasetyowati
Subject: FW: Ada pembunuh lari dari penjara menggunakan tape uli...
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, May 03, 2007 7:28 AM
To: undisclosed-recipients
Subject: Ada pembunuh lari dari penjara menggunakan tape uli...
Kalau menurut Anda, cerita ini bikin geli, bikin haru, atau malah bikin
miris ?
Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal
di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol
langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana.
Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira
gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka keji hanibal
lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala sinetron, dan
gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang sering saya temui
di cerita TV.
Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah
satu sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar seorang anak
berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan
wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik
yang sopan.
Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu. Sebelum
masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara
menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat
kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik
sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar
tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?
Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum
genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di
daerah bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar
belakangnya karena si ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang begitu
tinggi.
Berita
ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok harinya setelah ayahnya
dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman tersebut. Bermodalkan
pisau dapur ia menantang orang yang membunuh ayahnya.
"siapa yang bunuh ayah saya!" teriaknya kepada orang yang ada di tempat
itu.
"Gue terus kenapa?" ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil
disambut gelak tawa di belakangnya.
Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke
perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu
jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke rumah
setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke
kantor polisi.
"Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!" ujar kepala lapas yang
ikut menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum. Ternyata sejak di
penjara dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari
selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib.
Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun.
Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil
kebersihan.
Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam salah satu
kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari
penjara.
Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah
membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu
wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa
tape mengandung hawa panas yang bersifat destruktif terhadap benda
keras. Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua kali
dalam seminggu. Setiap disediakan tape, arif selalu berpuasa karena
jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya
setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah
liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya.
2-0
untuk arif. Ia keluar penjara ke dua kalinya.
Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang ditugasi
membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang
berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam kamarnya.
Tahu
bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat
persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala
Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun
penjaga berani memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia menyelinap
keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan
gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia sudah
di luar. 3-0 untuk Arif.
Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih
berada di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelariannya didorong dari rasa
kangennya terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke
rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia
menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki sekian
kilometer dengan satu tujuan, pulang!
Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas yang juga
seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Arif.
Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas sambil membawa
surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.
*Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif.* Tulisnya
singkat.
Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya tidak
lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus
dibebaskan.
Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya
hanya berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat menangkap
pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap si Arif) pastinya saat ini
anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di tempat seperti ini. Dan
kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna untuk hal yang lain.
Sayangnya si Arif itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara si
preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib
setempat. Itulah yang namanya keadilan!
[Non-text portions of this message have been removed]
@font-face { font-family: Book Antiqua; } @page Section1 {size: 612.0pt
792.0pt; margin: 72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; } P.MsoNormal { FONT-SIZE: 12pt;
MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: "Times New Roman" } LI.MsoNormal {
FONT-SIZE: 12pt; MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: "Times New Roman" }
DIV.MsoNormal { FONT-SIZE: 12pt; MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: "Times New
Roman" } A:link { COLOR: blue; TEXT-DECORATION: underline } SPAN.MsoHyperlink
{ COLOR: blue; TEXT-DECORATION: underline } A:visited { COLOR: blue;
TEXT-DECORATION: underline } SPAN.MsoHyperlinkFollowed { COLOR: blue;
TEXT-DECORATION: underline } P.MsoAutoSig { FONT-SIZE: 12pt; MARGIN: 0cm 0cm
0pt; FONT-FAMILY: "Times New Roman" } LI.MsoAutoSig { FONT-SIZE: 12pt; MARGIN:
0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: "Times New Roman" } DIV.MsoAutoSig { FONT-SIZE:
12pt; MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: "Times New Roman" } P { FONT-SIZE:
12pt; MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: "Times New Roman" } SPAN.EmailStyle20 {
FONT-WEIGHT: normal; COLOR: blue; FONT-STYLE: normal; FONT-FAMILY: "Book
Antiqua"; TEXT-DECORATION: none } DIV.Section1 { page: Section1 }
Kalau menurut Anda, cerita ini bikin geli, bikin haru, atau malah bikin
miris ?
Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal di
LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung
dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana. Dengan jantung dag
dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira gambaran orang yang akan
saya temui. Sudah terbayang muka keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat
berjenggot palsu ala sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah
dingin lain yang sering saya temui di cerita TV.
Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah satu
sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar seorang anak berumur 8
tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan wajah yang
diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang sopan.
Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu. Sebelum
masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara
menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat
kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik
sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar
tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?
Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum genap
berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah
bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar belakangnya
karena si ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang begitu tinggi. Berita
ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok harinya setelah ayahnya
dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman tersebut. Bermodalkan pisau
dapur ia menantang orang yang membunuh ayahnya.
"siapa yang bunuh ayah saya!" teriaknya kepada orang yang ada di tempat itu.
"Gue terus kenapa?" ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil
disambut gelak tawa di belakangnya.
Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke
perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu
jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke rumah
setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke
kantor polisi.
"Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!" ujar kepala lapas yang ikut
menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum. Ternyata sejak di penjara
dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari selnya. Dan
caranya pun menurut saya tergolong ajaib.
Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun.
Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil kebersihan.
Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam salah satu kantung
sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari penjara.
Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah membaca
artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu wawancara usianya
baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung hawa
panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras. Kebetulan pula di Lapas
anak ini disediakan tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan
tape, arif selalu berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding
tembok sel tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan, tembok penjara itu
menjadi lunak seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0
untuk arif. Ia keluar penjara ke dua kalinya.
Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang ditugasi
membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang
berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam kamarnya. Tahu
bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat persembunyian
paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala Lapas menjadi
pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun penjaga berani
memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan
menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan gembok. Jangan tanya
saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk Arif.
Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih berada
di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelariannya didorong dari rasa kangennya
terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke rumah sang
ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia menumpang-numpang mobil
omprengan dan juga berjalan kaki sekian kilometer dengan satu tujuan,
pulang!
Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas yang juga
seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Arif.
Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas sambil membawa surat
untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.
*Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif.* Tulisnya
singkat.
Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya tidak lantas
berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus dibebaskan.
Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya hanya
berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat menangkap pembunuh si ayah
(secepat polisi menangkap si Arif) pastinya saat ini anak pintar dan rajin
itu tidak akan berada di tempat seperti ini. Dan kreativitasnya yang tinggi
itu bisa berguna untuk hal yang lain. Sayangnya si Arif itu cuma anak
pedagang sayur miskin sementara si preman yang dibunuhnya selalu setia
menyetor kepada pihak berwajib setempat. Itulah yang namanya keadilan!
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.|
Kalau
menurut Anda, cerita ini bikin geli, bikin haru, atau malah bikin
miris ?
Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan
penelitian Kriminal di |
