Ya kita harus hati-hati dengan hal-hal yang seperti ini, jangan mudah tergiur dengan iming-iming seperti ini
Best regards, Vanda _____ From: Arizaldi Ardal [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, 10 May, 2007 10:33 AM Subject: Asia Bersama Teman-teman, Karena belakangan saya sering menerima email ajakan untuk bergabung di program investasi Asia Bersama, padahal saya sudah lama tahu bahwa program-program semacam ini kebanyakan hanyalah tipuan piramida, maka berikut saya ambilkan posting di blog priyadi.net untuk lebih membuka mata dan pikiran kita agar tidak cepat silau dengan instant cash bodoh begini. Semoga bermanfaat. 19 April 2007 at 19:38 Sejak sekitar satu tahun yang lalu saya kerap kali menerima pertanyaan apakah program investasi AsiaBersama <http://www.asiabersama.com> benar-benar merupakan program investasi. Kabarnya, program ‘investasi’ ini cukup populer di kalangan pekerja kantoran. Tapi mari kita lihat bagaimana sebenarnya program ‘investasi’ ini. Untuk mengikuti AsiaBersama, calon anggota harus menyetorkan Rp 20 ribu masing-masing kepada empat orang upline-nya, dengan total Rp 80 ribu. Setelah itu anggota akan mendapatkan ’situs replika’ (misalnya http://www. asiabersama.com/foo untuk pengguna dengan nama ‘foo’). Untuk meraup keuntungan, anggota diminta untuk menyebarkan URL situs replika tersebut. Jika nantinya ada calon anggota lain yang mendaftar melalui situs replika tersebut, salah satu tujuan setoran Rp 20 ribu adalah sang pemilik situs replika. Pengguna Internet yang berpengalaman seharusnya sudah cukup hafal dengan trik seperti ini. Seluruh program ‘investasi’ yang mengharuskan anggotanya untuk merekrut sebelum mendapatkan keuntungan hanyalah sekadar permainan uang skema piramida semata. Termasuk AsiaBersama dan saudaranya, InvestasiMandiri <http://www.investasimandiri.com> . AsiaBersama adalah skema piramida murni. Artinya 100% dari uang yang disetorkan sampai pada anggota yang lain. Pengelola tidak mengutip apapun dari setoran ini, dan bahkan uang disetorkan secara langsung tanpa perantara. Pengelola tahu ini, dan memanfaatkan hal ini sebagai salah satu ‘kelebihan’ dari program ‘investasi ini’: Program ini adalah unik, karena pendiri/founder program justru tidak mendapatkan keuntungan apapun, sehingga sistem ini tidak bisa ditiru. Program Investasi Asia Bersama diciptakan semata-mata dengan niat ikhlas untuk membantu sesama. Pernyataan tersebut tentunya sangat menggelikan. Pengelola memang tidak mendapatkan apapun dari menjalankan situs ini, tetapi pengelola tetap mendapatkan keuntungan yang cukup signifikan karena mereka juga ikut sebagai peserta yang tentunya berada di puncak piramida. Untuk melakukan estimasi berapa jumlah uang yang dihisap pengelola dari korban, sekitar dua bulan yang lalu saya melakukan sedikit investigasi. Pertama-tama saya menghapus cookie dan kemudian melakukan pendaftaran ke AsiaBersama. Setelah itu melalui email saya diinstruksikan untuk mengirim Rp 20.000 ke empat rekening BCA: * Rekening 037 218 7199 atas nama HS. Yuliarti, S.Sos, email: [EMAIL PROTECTED] * Rekening 060 008 6821 atas nama MT. Ismail, email: [EMAIL PROTECTED] * Rekening 201 026 8462 atas nama T. Multini, email: [EMAIL PROTECTED] * Rekening 201 026 8535 atas nama H. Adi Joyo, MM., email: [EMAIL PROTECTED] Perkiraan saya keempat rekening dan alamat Yahoo! Mail tersebut adalah milik pengelola AsiaBersama karena saya tidak mendaftar melalui seorang downline. Dugaan saya diperkuat fakta bahwa seluruh akun Yahoo tersebut dibuat pada tanggal yang persis sama, yaitu tanggal 20 Oktober 2005 (1 <http://profiles. yahoo.com/zhoelycute> 2 <http://profiles.yahoo.com/panther_twentyone> 3 <http://profiles.yahoo.com/mrizkyboy> 4 <http://profiles.yahoo.com/andi_m821> ). Setelah itu, saya mengambil 39 sampel dari daftar <http://www.google.com/search?q=site:asiabersama.com+%22Selamat+Datang+di+Pr ogram+Investasi+Asia+Bersama%22&hl=en&safe=off&filter=0> korban yang saya ambil secara acak dari pencarian di Google dan kemudian melakukan pendaftaran di bawah 39 nama-nama tersebut. Hasilnya adalah sebagai berikut: * 10 akun ‘investor’ menyuruh saya untuk mengirim Rp 20 ribu ke empat orang yang salah satunya adalah rekening bank di atas. Upline saya ini tentunya tanpa disadari telah menyetorkan Rp 40 ribu ke pengelola AsiaBersama. * 6 akun ‘investor’ menyuruh saya untuk mengirim Rp 20 ribu ke empat orang yang dua di antaranya adalah rekening bank di atas. Upline saya ini tentunya tanpa disadari telah menyetorkan Rp 60 ribu ke pengelola AsiaBersama. * 11 akun ‘investor’ menyuruh saya untuk mengirim Rp 20 ribu ke empat orang yang tiga di antaranya adalah rekening bank di atas. Upline saya ini tentunya tanpa disadari telah menyetorkan Rp 80 ribu ke pengelola AsiaBersama. * Sisanya, 12 akun ‘investor’ menyuruh saya untuk mengirim Rp 20 ribu ke empat orang yang tidak satupun di antara mereka yang memiliki rekening bank di atas. Untuk kasus ini tidak dapat diketahui secara pasti apakah upline saya ini telah menyetorkan Rp 20 ribu ke pengelola AsiaBersama ataukah menyetorkan keseluruhan Rp 80 ribu tersebut ke sesama korban. Pada saat saya mengambil sampel tersebut, penghitung yang ada di situs AsiaBersama memberitahukan bahwa jumlah korban yang aktif adalah sebanyak 10282 orang. Dengan demikian secara statistik dapat kita estimasi berapa besar dana yang mereka hisap dari para korban ini: (10/39 * 10282 * Rp 40000) + (6/39 * 10282 * Rp 60000) + (11/39 * 10282 * Rp 80000) = Rp 432.366.325. Jumlah ini tentunya masih tidak termasuk ‘kelompok 12′ di atas. Rp 432 juta bukanlah angka yang kecil. Tentunya ini sangatlah jauh dari aksi filantropis seperti yang disebutkan pada situs AsiaBersama. Pada halaman cara kerja AsiaBersama dijelaskan bahwa korban berpotensi untuk mendapatkan Rp 3.368.400.000 dari ‘investasi’ ini. Yang tidak dijelaskan secara gamblang adalah bahwa untuk mendapatkan profit sebanyak itu dibutuhkan sub-korban sebanyak 168420 orang. Jangankan korban biasa, pengelola AsiaBersama pun tidak memiliki jumlah korban sebanyak itu! Bahkan, kalau kita cukup jeli, jumlah korban aktif keseluruhan hanyalah sebanyak 13011 pada saat artikel ini ditulis! Yang jelas, ini bukanlah program ‘investasi’. Ini hanyalah sebuah skema piramida biasa yang tujuannya hanya satu: mendapatkan keuntungan dari ketidaktahuan korban. Salam 165 A R I
