WORKING MOTHER: QUALITY OR QUANTITY?
   
  “Itu apa Bunda?”
  “Itu KOPAJA.”
  “Kalo itu?”
  “Itu bis PATAS AC”
  “Bedanya apa Bun?”
  “Kalo kakak naik PATAS AC, bisa cepet sampe, kalo pake Kopaja nggak 
nyampe-nyampe…hehehe” Lalu si Bunda menceritakan betapa nyamannya naik PATAS AC 
dan betapa sengsaranya naik Kopaja dengan cara yang fun dan ekspresi penuh. 
Nggak sampai lima menit si Bunda cerita, tapi karena begitu menyenangkan dan 
berkesan, di sekolahnya si anak menceritakan kembali hal yang sama ke 
teman-temannya dengan jauh lebih panjang dan detail, lebih dari lima menit!
  “Kata bundaku….bla..bla..bla…”
    Di jaman yang serba sibuk ini, belum lagi kalau jarak tempat kerja dan 
rumah yang makan waktu lebih dari dua jam, siapa sih diantara kita yang tidak 
kekurangan waktu? Sudah segitu sempitnya waktu, ketika ada tersisa, masih 
tercuri oleh macam-macam aktivitas seperti menjawab sms or telepon, janjian 
hang out sama teman-teman, membuka-buka file yang tak terorganisir baik di 
komputer rumah, ngobrol ngalor-ngidul, dll. Lalu, sempat kebayang nggak sih 
gimana ‘sepinya’ si kecil yang begitu sering anda tinggal?
        Hihihi, paragraf diatas bukan buat mancing ibu-ibu muda, nangis bombay 
lho ya.. Para pria, bapak-bapak dan calon bapak ini perlu tahu juga, kalau 
tidak pernah ada di dunia ini seorang ibu yang meninggalkan anaknya (yang masih 
kecil) untuk keluar bekerja, tanpa memiliki rasa bersalah. Lalu, apakah kembali 
ke rumah, jadi full time mother, bisa dipilih sebagai jalan keluar? Bisa aja 
sih, tapi setelahnya bisa jadi muncul masalah baru yang lain. Krisis 
keuangan…hehehe. So?
Seorang working mother mungkin perlu tahu bagaimana menyiasati masalah 
pemanfaatan waktu bersama si kecil. Kata Mbak Emi Sukresno, pakar pendidikan 
anak yang diundang mengisi pengajian di kantor kemarin, ibu sebaiknya 
menyiapkan diri untuk selalu siap untuk diajak berkomunikasi oleh anak, kapan 
saja, dimana saja, dan masalah yang dibahas apa aja. Mungkin persis seperti 
contoh dialog diawal tulisan ini. Kalau sudah begitu, Insya Allah, jiwa anak 
akan penuh, tidak kesepian dan sang ibu akan selalu bisa eksis di mata 
anak-anaknya meski dia selalu ngantor dari pagi sampai petang, Senin sampai 
Jumat.
    Nah jadi, jangan (lagi) merasa bersalah ketika kita memutuskan menjadi 
working mother, selama bisa memanfaatkan waktu saat bersama anak-anak di rumah. 
Selama our body, mind and soul ada, hadir, di sisi mereka. Buat apa jadi full 
time mother kalau ternyata Cuma body aja yang ada/hadir, mind and soul kita 
entah berada di mana saat bersama mereka. Gimana?
    I’m working MOTHER!!!
   







 
       
---------------------------------
Got a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.

Kirim email ke