The Power of Dreams
Saya punya sejumlah mimpi yang sekarang sudah menjadi
kenyataan. Barangkali buat orang lain ini mimpi kecil.
Remeh temeh. Gak ada artinya. Tapi buat saya ini suatu
anugerah terindah dari Allah. Bermimpilah, dan Allah
pasti akan mengabulkan semua mimpi itu. Kata Walt
Disney, If you can dream itu, you can achieve it.
Semasa SMA, sekitar tahun 1990-an, saya bermimpi nama
saya tertera di sampul buku. Tepat di Gramedia Bekasi,
di depan hamparan buku-buku Islam, hati saya berbisik.
Coba yah kalau ada buku saya di bawah ini. Langsung
terbayang sebuah buku kecil berwarna merah muda.
Setelah empat belas tahun. Ternyata
.saksikanlah,
Desember 2004 buku saya terbit. Judulnya Sekuntum
Cinta untuk Istriku. Saya pun bersyukur dan bergumam,
if you can dream itu, you can achieve it.
Mimpi ke dua. Sejak kecil saya tinggal di
perkampungan. Kampung Dua, Jakasampurna, Bekasi
Barat.. Yah, tahu sendiri khan lingkungannya berbeda
dengan perumahan. Tidak teratur. Jalan sempit
berkelok-kelok seenaknya bak jalanan tikus. Lubang
septi tank dan lubang sumur gak jelas jaraknya. Saya
merasa sumpek dan bete. Saya pun bermimpi punya rumah
di perumahan. Dengan ukuran seragam. Jalanan luas.
Cukup untuk jalanan dua mobil. Alhamdulillah
.tahun
2001 saya mampu beli rumah dan tanah di perumahan.
Luasnya tak banyak hanya 108 meter. Lebih dari cukup
untuk satu istri dan dua anak. Mimpi pun berwujud.
Mimi ke 3. Tanah seluas 108 meter juga bayar hutang
sebab ketika tahun 90-an saat saya mau kuliah, saya
harus jual tanah peninggalan orang tua, 100 meter.
Sebenarnya, tanah ini adalah asset untuk biaya nikah.
Maklum, orang Betawi. Kalau menikah tak cukup hanya
sekadarnya. Buat sewa kembang. Itu lho pelaminan,
sewa kostum dan singgasana pengantin. Buat bikin
dodol. Beli perabot. Wuuiiih
pokoknya ribet bin
ngejimet. Makanya, orang tua saya menyediakan tanah
untuk biaya nikah. Tapi dengan tekad sekeras baja,
saya jual untuk biaya kuliah. Setelah dijual ke
Engkong haji Sinur, saya pun bermimpi suatu saat saya
akan ganti. Alhamdulillah
sebelas tahun kemudian mimpi
itu terbayar lunas. Bahkan, ada bonusnya. Lebih luas
delapan meter. sebidang rumah dan badminton view.
The dream come true.
Tahun 2001 ketika masih menjabat sebagai Pimpinan
Redaksi Tabloid FIKRI, saya seperti punya istri dua.
Satu yang di rumah. Satu lagi pekerjaan sebagai
Pimred. Perkaranya, setiap malam Jumat hingga minggu
pagi saya harus stand by di kantor mengawal terbitnya
Tabloid mingguan keluarga tersebut. Sebagai ayah pun,
saya hanya separuh waktu. Munculah dari resah gelisah
itu sebuah artikel berjudul AKulah, Ayah Paruh Waktu.
Artikel ini Anda bisa dapatkan di buku Sekuntum Cinta
untuk Istriku (GIP). Saya pun bermimpi bagaimana dapat
menjadi ayah penuh waktu. Bisa di rumah. Menemani
anak-anak main bola, main layangan atau main PS. Tapi,
bisa tetap dapat uang untuk mempertahankan dapur
supaya terus ngebul
bul
bul.
Subhanallah
dua tahun kemudian saya ditakdirkan
banting stir jadi Manager Produksi penerbitan Khairul
Bayaan Press. Ini mengubah hidup saya dari seorang
wartawan menjadi seorang penulis. Ternyata, menjadi
penulis dapat mewujudkan mimpi saya untuk menjadi Ayah
full time. Dua tahun kemudian, saya menekuni profesi
sebagai penulis dan menjadi karyawan kontrak di
Penerbit Dian Rakyat. Saya bekerja hanya Selasa Jumat
ke kantor. Selebihnya dilakukan di rumah dan
mengirimkan pekerjaannya via email. Subhanallah
tahun
2004 mimpi saya untuk menjadi ayah penuh waktu
tercapai. Sekarang saya bisa mendapatkan senyum Aiz,
anak saya kelas 3 kalau ia pulang seolah dan melihat
ada saya yang menjemput. Ia tak bersedia dijemput
orang lain. Lagi-lagi mimpi saya terkabul.
Kalau saya ceritakan, saya bisa berikan contoh lagi
betapa banyak mimpi-mimpi saya terkabul. Aneh yah?
seakan semesta alam mendoakan saya ketika mimpi itu,
ting! Terbit di kepala saya.
Dua tahun terakhir ini saya gandrung dengan buku-buku
pengembangan diri. Di perpustakaan pribadi saya banyak
bertebaran buku yang mengangkat soal ini. Ups, baru
saya tahu. Bahwa kesuksesan-kesuksesan memang harus
diawali dengan mimpi dan rasakan the power of dreams
(kekuatan mimpi).
Dalam sebuah acara penganugerahan prestasi musik.
Maaf, saya lupa detilnya dan di channel berapa. Yang
jelas Anggun C. Sasmi mendapatkan penghargaan sebagai
penyanyi Indonesia yang sukses di luar negeri. Ketika
ia memberikan sambutan, ia bilang cerita begini.
Menurut bapak saya, kalau kita punya cita-cita maka
bermimpilah
.
Selain itu, lihatlah sekeliling Anda. Mulai dari
handphone hingga layar televise. Segalanya berawal
dari mimpi manusia. Ketika manusia susa berkomunikasi
dalam jarak yang jauh munculah telepon yang masih
pakai kabel. Lalu dirasakan tidak efektif, mimpi pun
menjalar jadi telepon yang mobile. Bisa dibawa ke
mana-mana. Kini bahkan bisa melihat wajah dari yang
menelpon dengan teknologi 3G-nya.
Akhirnya, buat Anda. Bila Anda akan mendapatkan
sesuatu. Cita-cita. Maka beranilah bermimpi. Jangan
hanya dikhayalkan. Berhenti baca tulisan ini. Ambil
kertas kosong dan tulislah mimpi Anda. Luangkan satu
menit untuk menulisan kira-kira berapa lama Anda akan
mewujudkan mimpi itu. Dan, rasakan kekuatan mimpi, the
power of dreams.
Bermimpilah dengan detil dan lengkap. Misalnya kalau
Anda bermimpi menjadi penulis best seller.
Bayangkanlah nama Anda di buku dan diletakan dibawah
tulisan Best Seller di Toko Buku Gramedia. Atau,
rasakanlah suasana ketika di Panggung Utama Islamic
Book Fair di Istora dan dari pengeras suara ada
panggilan, kepada Bapak Komarudin Ibnu Mikam,
seorang penulis best seller kami persilahkan naik ke
panggung. Buat Anda ganti nama saya dengan nama pena
Anda.
Bermimpilah dan biarkan mimpi itu berwujud di halaman
nasib Anda!
[komarudin ibnu mikam, Ketua Dewan Pembina FLP Bekasi]
komaribnumikam.multiply.com
____________________________________________________________________________________
Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=summer+activities+for+kids&cs=bz