Cape Deh.....
Marah itu perlu tapi bukan untuk menghina atau merendahkan Orla.
Marah agar Orla tau kesalahannya & tidak mengulanginya lg.
So selama bisa menjaga harga diri Orla yg dimarahi, Marah jg harus bermanfaat
bukan malah tambah masalah baru !
Salam Puasa
Saprudin Ade M (3 Ipa 2 '97)
Agus Firmansyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Marahlah secara benar .... Apa pula ini? Masak marah aja ada
aturannya. Emang sih kamu berhak meluapkan amarah, tapi dalam banyak situasi
ada batasan-batasannya.
Misalnya, kurang menguntungkan bila kamu marah-marah di depan kelas. Bahkan
meskipun kamu merasa benar dan dapat menunjukkan semua bukti dan argumen yang
mendukung. Soalnya, orang lain akan cenderung berisikap defensif dan parahnya
bisa berkembang pada keinginan balas dendam. Demikian dituturkan Dr. Sandra
Thomas, R.N, Ph.D seorang peneliti perihal amarah dan direktur Center for
Nursing Research di University of Tennese, Knoxville.
Asal tahu aja, tidak hanya etika sosial budaya menyebabkan kita kudu membatasi
rasa marah tapi masalah kesehatan juga ikut berperan. "Ketika marah, tubuh kita
mengalami berbagai perubahan fisiologis, karena amarah memicu reaksi melawan
atau lari," kata Christopher Peterson, PhD, pengarang Health anda Optimism dan
dosen psikologi di University of Michigan, Ann Harbor.
"Kadar adrenalin meningkat, jantung berdegup lebih kencang, napas memburu dan
dangkal, pencernaan berhenti," imbuhnya. So, sering marah-marah bisa
mengingkatkan reriko pernyakit jantung, tekanan darah tinggi dan
penyakit-penyakit mematikan.
Malah dalam penelitian terakhir para dokter di Universitas of North Carolina,
mereka menemukan orang yang temperamental (pemarah) memiliki tiga kali resiko
terkena penyakit jantung yang akut dan fatal. Hasil ini didapat sewaktu mereka
meneliti sebanyak 13 ribu orang di North Carolina selama enam tahun.
"Semua emosi mempunyai pengaruh tertentu kepada cara berpikir kita. Tapi
emosi-emosi yang kuat dapat memperlambat kemampuan penalaran, kemampuan
pemecahan masalah dan pengambilan keputusan kita," kata Dr. Mara Julius, Sc.D,
ahli ilmu epidemi psikososial di Univesity og Michigan School of Public Health
yang telah lebih dari 20 tahun mempelajari cara mengatasi marah yang
berpengaruh pada kesehatan laki-laki dan perempuan.
"Ketika kamu merasa marah atau terbelenggu oleh dendam, semua itu menjadi
beban. Pada sebagian orang , ini memperlambat proses berpikir dan pada sebagian
yang lain bakal menghentikan proses berpikir sama sekali," sambungnya.
Cara Marah yang Benar
Bila perasaan marah kamu ditangani secara benar, menurut Dr. Julius, kamu bakal
terhindar dari masalah-masalah hubungan sosial dan kesehatan. So, di bawah ini
adalah cara marah yang bener.
1. Cari tempat aman.
Carilah tempat "aman" untuk meluapkan marah kamu. Caranya, sebelum kamu ngomong
ama orang yang bikin kamu jengkel, bicarakan dulu ama orang yang kamu percaya.
Pilih teman dekat, pacar, atau seseorang yang kamu percayai untuk mengungkapkan
perasaan marah Anda. Soalnya, kalau kamu nekat nglabrak malah bisa nambah
masalah. Dan ujung-ujungnya kamu tambah mangkel, jengkel dll.
2. Dekati orang yang bikin kamu marah
Setelah rasa marah kamu reda, bicaralah pada orang yang menjadi "sumber
masalah". Ini penting untuk membuat jernih semua permasalahan. Awali
pembicaraan, misalnya dengan, " Tindakan atau perkataan kamu, mengganggu
perasaanku. Ada yang kudu diluruskan dan dibicarakan. Apa kita bisa
membicarakan ini dengan baik?"
3. Kenali hal-hal yang jadi penyebab kemarahan kamu.
Temukan akar masalah untuk menemukan faktor pemicunya. Pasti ada hal-hal
tertentu yang biasanya mendasari reaksi marah kamu. Bila tidak berhasil,
mulailah mencatat ketika reaksi-reaksi marah itu timbul dan menulis
pengalaman-pengalaman amarah kamu. Cara ini bakal memberikan kamu kesempatan
untuk mempelajari segala sesuatunya dan bereaksi lebih rasional. Akhirnya, kamu
bakal merasa mampu mengendalikan diri dengan menghentikan konfrontasi langsung.
4. Temukan cara melepaskan diri.
Kalau kamu mudah naik darah, ada anjuran agar menggunakan energi yang
meluap-luap itu secara positif. Misalnya menggunakan energi itu untuk kegiatan
fisik. Seperti jogging atau olah raga lainnya. Soalnya olahraga menyalurkan
adrenalin lebih positif ketimbang membiarakannya larut sendiri. Dan kamu pun
dapat menjernihkan pikiran untuk sementara.
5. Atur Nafas
Ketika diselimuti kemarahan, cobalah mengulur waktu untuk menenangkan diri.
Kamu bisa pergi sejenak dari situasi tersebut. Carilah tempat sepi dan lakukan
semacam meditasi dengan menarik nafas dalam-dalam. Setelah pikiran tenang, baru
kamu kemukanan apa yang ingin kamu katakan. (dari berbagai sumber)
---------
percikan-iman.com
---------------------------------
Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect. Join Yahoo!'s user panel
and lay it on us.