Eramuslim, 6 Sep 07 12:54 WIB

Oleh Lizsa Anggraeny

Namanya Ibrahim, berumur kira-kira 4 tahun. Lahir dari pasangan muslim 
Pakistan dan muslimah Jepang. Jika ditanya cita-cita "Kalau sudah besar mau
jadi 
apa?" Jawaban tegasnya selalu membuat bulu tangan berdiri. "Okikunattara 
Masjidil Haram no Imam ni naritai ! (Kalau sudah besar pengen jadi Imam di 
Masjidil Haram!). " Di usianya yang masih belia, Ibrahim hapal hampir
seluruh 
juz ke-30 Al-Quran. Sebuah prestasi yang menggembirakan bagi seorang anak
yang 
dididik dalam lingkungan negeri yang tidak mengenal agama seperti Jepang.

Namanya Ismail, berumur sekitar 4 atau 5 tahun. Lahir daripasangan muslim 
Afrika dan muslimah Jepang. Jika ditanya tentang cita-cita, jawabannya akan 
polos terdengar. "Okikunattara suika ni naritai (Kalau sudah besar ingin 
jadi buah semangka)" Jawaban khas anak kecil yang mungkin akan membuat orang

dewasa tersenyum geli. Namun tidak begitu jika ditanya "Ismail orang mana?" 
Sosok kecilnya akan tegas menjawab "Boku wa Isuramu jin da yo (Aku orang 
Islam). " Sosok kecil Ismail mungkin belum mengenal nama-nama negara di
dunia, 
yang ia tahu hanyalah kebangaan menjadi orang Islam - seorang anak muslim
yang 
lahir di negeri sakura.

Tidak hanya Ibrahim dan Ismail, ada si kecil yang bernama Aisha, Nurjanah, 
Sahar, Samar, Hasan, Jibril, Thalhahserta beberapa jundi cilik lainnya yang 
tinggal di negeri sakura. Umumnya mereka terlahir dari pasangan campuran
muslim 
asing dengan muslim Jepang. Tidak seperti anak-anak muslim di Indonesia,
mungkin 
mereka jarang sekali mendengarkan adzan di masjid, tidak bisa sering
berkumpul 
dengan sesama anak muslim lainnya, sulit mendapatkan buku cerita anak
tentang 
Islam serta kurang memiliki lingkungan kondusif untuk belajar agama.

Dengan kondisi seperti ini, tidak salah jika para orang tua mereka begitu 
giat ingin menanamkan jiwa mencintai Allah dan Rasulullah saw sejak masih
dalam 
buaian. Setiap dua pekan sekali ataupun dalam acara khusus, saya memiliki 
kesempatan bertemu dengan para jundi ini di sebuah masjid di sekitar kawasan

Tokyo. Jarak perjalanan yang jauh sepertinya tidak menjadi halangan. Semata 
semua dilakukan untuk menambah 'charge' ruhaninya tentang Islam.

Dalam keterbatasan waktu dan ruang, para jundi cilik ini tetap memiliki 
semangat. Mengikuti dengan mimik serius setiap mendengarkan cerita shirah
nabawi 
ataupun sahabat, tertawa-tawa riang ketika diajarkan huruf hijaiyah dengan 
permainan kotak dadu, serta kadang terbata-bata berusaha menghapalkan setiap

untaian ayat, surat-surat ataupun doa-doa pendek yang dilantunkan bersama di

antara kelincahannya sebagai anak-anak. Tak berlebihan rasanya, jika melihat

sosok mungilnya yang ceria dengan semangat menyala, ingatan saya selalu
melompat 
pada beberapa cerita tentang para pahlawan cilik di masa Rasulullah saw.

Rafi bin Khudaij pemanah cilik ulung yang pernah ikut dalam jihad di Uhud. 
Zaid bin Tsabit dalam usianya yang masih belia, diberi kehormatan membawa 
bendera pasukan muslim saat perang Tabuk karena memiliki hapalan Qur`an yang

baik. Salamah bin Akwa yang tekenal sebagai pelari cilik tercepat hingga
dapat 
menahan para perampok unta-unta Rasulullah saw dengan teknik berlarinya.
Aisyah 
binti As-Shiddiq gadis cilik cerdas banyak mengetahui tentang Al-Qur`an,
hadits, 
ataupun syair. Pahlawan cilik yang dalam usia belia, begitu bangga dengan
izzah 
sebagai muslim. Dengan gagah berani membela Islam. Memerangi kezaliman
dengan 
kecerdasan dan keahlian, meski terkadang musuh yang dihadang lebih besar 
daripada badanya.

Para jundi negeri sakura, mungkin belum tahu tentang cerita kehebatan para 
pahlawan cilik di atas. Dan mungkin pula kehebatan para jundi negeri sakura 
belum sebanding dengan para pahlawan cilik di zaman Rasulullah saw. Namun
tak 
berlebihan jika para orang tua termasuk saya, memiliki harapan yang sama.
Bahwa 
para jundi cilik tersebut suatu saat akan menjadi pahlawan pembela Islam di 
negeri sakura. Dalam jiwa kecilnya, akan tumbuh kebanggaan menjadi seorang 
muslim. Dapat gagah berani membela Islam. Memiliki sikap tegas berjuang
melawan 
kezaliman berupa serangan pemikiran barat. Tidak terimbas oleh lingkungan 
sekuler yang siap menghancurkan mutiara imannya.

Perlahan tapi pasti, jundi-jundi cilik di negeri sakura akan tumbuh menjadi 
generasi yang berjiwa kuat seperti para pahlawan cilik di zaman Rasulullah
saw. 
Mereka akan menjadipenegak panji Allah swt. Yang selalu bangga mengatakan
"Saya 
adalah muslim. " Yang dapat meluaskan syiar Islam hingga semakin menyebar
dan 
kokoh tegak di bumi sakura. Insya Allah.

Yakumo -Sepenggal catatan aishliz et FLP Jepang -

 

Kirim email ke