nugon19 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  --- In [EMAIL PROTECTED], "abd el-aziz"
wrote:

Hidup Sederhana
Oleh: Muhammad Nuh
---------------------------------------------------------------------



Nafsu manusia kadang seperti air. Tak pernah henti untuk selalu
mengalir. Selama masih ada celah, di situlah air mengalir. Bedanya
dengan air yang mengalir ke tempat lebih rendah, nafsu terus
mengalir ke arah sebaliknya.

Manusia bisa dibilang makhluk yang jarang cepat puas. Selalu saja
ujung dari sebuah pencarian lagi-lagi bertemu pada satu titik:
kurang. Keadaan itu persis seperti orang yang selalu mendongak ke
atas. Dan lengah menatap ke bawah. Itulah kenapa orang tanpa sadar
kehilangan daya peka. Kepekaannya dengan lingkungan sekitar menjadi
tumpul.

Bahkan mungkin, di tengah hiruk pikuknya mengejar yang atas,
tanpa terasa kalau yang di bawah terinjak-injak. Jadi, pisau
kepekaan bukan sekadar tumpul, bahkan berkarat sama sekali.Orang
menjadi tidak mampu menyelami apa yang terjadi di sekelilingnya.

Sulit merasakan kalau di saat kita terlelap dalam keadaan kenyang,
sejumlah tetangga terus terjaga karena menahan perut yang lapar.
Sulit menangkap keinginan anak-anak tetangga untuk tetap bersekolah,
ketika sebagian kita tengah sibuk mencari sekolah top buat anak-
anak, berapa pun mahalnya.

Ketidakpekaan itu akhirnya menggiring diri untuk tampil tak peduli.
Kesederhanaan menjadi barang langka. Ada semangat tampil serba wah.
Ada bahasa yang sedang diungkapkan, "Saya memang beda dengan kalian!"

Ketika terjadi proses melengkapi kebutuhan pokok seperti makanan,
pakaian, perumahan, pendidikan, dan mungkin hal-hal lain seperti
alat komunikasi; ada pergeseran yang nyaris tanpa terasa. Sebuah
pergerseran dari nilai fungsi kepada nilai gengsi. Pemenuhan
kebutuhan-kebutuhan pokok itu tidak lagi menimbang sekadar fungsi,
tapi lebih kepada gengsi.

Ada sesuatu yang sedang dikejar dari proses pemenuhan itu: trend dan
gengsi. Biasanya, nilai gengsi jauh lebih mahal dari nilai fungsi.
Bahkan, bisa berkali-kali lipat.

Di sisi lain, ada semacam ketergantungan dengan penampilan mode yang
tentu saja datang dari negeri pedagang budaya. Mereka begitu pintar
mengemas barang dagangan dalam bentuk yang sangat menarik. Halus,
tanpa kesan menggurui. Kemasan bisa melalui film, berita mode dan
sebagainya.

Tanpa sadar, orang sedang terhipnotis dalam cengkeraman para
pedagang budaya. Repotnya, ketika pedagang budaya sebagian besar
menuhankan hidup materialistis. Semua tanpa sadar menuhankan gengsi.

Mungkinkah perilaku konsumsi seperti itu hinggap dalam diri umat
Islam? Masalahnya memang bukan sekadar muslim atau bukan. Tapi
sejauhmana umat Islam memahami nilai budaya Islam.

Dan membumikannya dalam kenyataan hidup sehari-hari. Mereka
yang tidak paham dengan Islam biasanya memang tidak peduli dengan
urusan orang lain.

Walaupun itu satu keyakinan. Tidak ada ajaran yang menyentuh hati
mereka untuk mau memperhatikan nasib saudaranya. Hidup bagi mereka
adalah diri mereka sendiri. Tidak ada hubungannya dengan orang lain.

Sementara Islam, sangat menjunjung tinggi nilai persaudaraan. Bahkan
nilainya bisa sama dengan keimanan kepada Allah dan hari akhir.
Rasulullah saw. bersabda, "Tidak beriman seorang di antara kamu
sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya
sendiri." (HR. Bukhari Muslim)

Selain tumpulnya kepekaan dan kungkungan trend budaya orang lain,
ada sebab lain yang membuat orang jauh dari sederhana. Itulah
imperiority, atau merasa rendah di hadapan orang lain. Rasa rendah
diri itu memompa segala daya yang dimiliki untuk tampil melebihi
orang yang dianggap lebih. Paling tidak, ada kepuasan diri jika
tampilan bisa dianggap lebih.

Penyakit seperti itu biasa hinggap di negeri-negeri jajahan.
Mereka biasa hidup susah. Sementara para penjajah hidup mewah.
Ketika kesempatan hidup mewah terbuka lebar, sifat rendah diri
berubah menjadi jiwa eksploitasi. Apa pun yang bisa diraih, diambil
sebanyak-banyaknya demi kepuasan tampil lebih.

Hal itulah yang diwaspadai Khalifah Umar bin Khaththab ketika
mencermati para gubernurnya. Ia khawatir, di saat kesempatan terbuka
lebar, para gubernur hilang kesadaran. Umar pernah menghukum Amru
bin Ash, sang gubernur Mesir kala itu yang berbuat semena-mena
terhadap seorang rakyatnya yang miskin. Seorang gubernur yang
bertugas di Hamash, Abdullah bin Qathin pernah dilucuti pakaiannya
oleh Umar. Sang khalifah menyuruh menggantinya dengan baju gembala.
Bukan itu saja, si gubernur diminta menjadi penggembala domba
sebenarnya untuk beberapa saat. Hal itu dilakukan Umar karena sang
gubernur membangun rumah mewah buat dirinya. "Aku tidak pernah
menyuruhmu membangun rumah mewah!" ucap Umar begitu tegas.

Teladan lain pernah diperlihatkan sahabat Rasul yang bernama Mush'ab
bin Umair. Pemuda kaya ini tiba-tiba berubah drastis ketika memeluk
Islam. Ia yang dulu selalu tampil trendi, serba mewah, menjadi
pemuda sederhana yang hampir seratus persen berbeda dengan
sebelumnya. Bahkan Mush'ab rela meninggalkan segala kekayaannya demi
menunaikan dakwah di Madinah.

Ada yang menarik dari seorang mantan duta besar Jerman untuk Al-
Jazair. Beliau bernama Wilfred Hoffman. Setiapkali mengunjungi pesta
kalangan diplomat atau pejabat negara, isterinya selalu menjadi
pusat perhatian.Pasalnya, di acara-acara bergengsi seperti itu,
isterinya tidak pernah mengenakan busana dan perhiasan mewah. Sebuah
kenyataan di luar kelaziman buat kalangan petinggi negara seperti
Jerman. Bagaimana mungkin seorang duta besar negara kaya bisa tampil
ala kadarnya. Padahal, para pejabat dari negara miskin saja bisa
tampil gemerlap. Ada apa? Ternyata, Hoffman dan isterinya memang
sengaja seperti itu. Ia lebih memilih hidup sederhana, ketimbang
tampil mewah. Justru, dengan tampilan seperti itulah, Hoffman dan
isterinya lebih dianggap daripada dubes dan pejabat lain yang hadir.

Meraih segala kemampuan materi memang sulit. Tapi lebih sulit lagi
mengendalikannya menjadi tampilan sederhana. Karena nafsu memang
tidak pernah berhenti mengalir ke segala arah.

dakwatuna.com

--- End forwarded message ---





Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!

http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/
http://nugon19.multiply.com/journal
       
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting  gifts for grads at Yahoo! Search.

Kirim email ke