Rasulullah mengatakan orang yang pintar adalah orang yang mampu melihat dirinya 
lalu berpikir bagaimana kelak dirinya setelah meninggalkan dunia.

Berbeda dengan definisi kata pintar lainnya, bagi umat Islam, definisi kata " 
pintar" seperti yang telah disabdakan rasulullah merupakan definisi akhir yang 
memiliki arti yang luas dan makna yang dalam. Hal ini tercermin dalam prilaku 
sehari-hari yang sejatinya selalu intropeksi dan berkaca diri apa yang telah 
dilakukan untuk bekal setelah meninggalkan dunia.

Dalam tradisi filsafat barat, perspektif ini dapat dikategorikan dalam 
perspektif idealism transcendental yang bersumber dari ilmu pengetahuan Islam. 
Bertolak belakang dengan perspektif materialism yang melihat dunia sebagai 
tujuan akhir, definisi kata pintar cenderung dikaitkan dengan keberhasilan 
materi yang dikumpulkan atau kebahagian selama di dunia. Dalam Islam, idealism 
tidak berseberangan dengan materialisme, tapi lebih merupakan naungan bagi 
materialism/realism seiring dengan ditemukannya berbagai ilmu pengetahuan yang 
semakin kaya dan dalam sesuai dengan perjalanan sejarah manusia atau 
transcendental realism mengutip pendapat immanuel kant.

Membangun masyarakat cerdas berarti membangun masyarakat pintar dengan melihat 
ruang dan waktu yang akan berbeda setiap zaman dan tempat. Membangun masyarakat 
cerdas, tidak cukup hanya ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat sebagai 
tujuan akhir, karena akan kehilangan keseimbangan, kedamaian atau naungan bagi 
kesejahteraan masyarakat itu sendiri, hingga pada akhirnya kesejahteraan itu 
sulit untuk terwujud. Kalaupun kesejateraan itu terwujud, akan tampak 
ketimpangan dan ketidakadilan dimana-mana, karena masing-masing pihak akan 
berusaha mencapai tujuan akhir itu dengan segala cara.




       
---------------------------------
Tonight's top picks. What will you watch tonight? Preview the hottest shows on 
Yahoo! TV.    

Kirim email ke