...Karena kuatir dengan keselamatanku Cerinay memberi kursus singkat sebelum ia pergi, memberi aku tombak, dan memeragakan bagaimana cara menikam kalau ada beruang datang. Ada parang besar dan ranting kayu untuk membunuh ular, termasuk cara membela diri kalau ada manusia jahat yang datang kepadaku atau kalau ada hantu yang memanggil namaku. Malam itu sudah pukul 19.30.....Masih teringat tadi siang aku berpapasan dengan beberapa pencuri kayu. Bagaimana kalau mereka berkeliaran di sekitar sini, dan tahu aku sendirian? Ohh, mana ilmu menghilang itu? Benarkah ada? Aku ingin belajar... Aku mencoba tidur sambil menggenggam tombak, dan berdoa..... Fantasiku menerawang di suasana ketakutan ini, bagaimana jika aku tertidur dan dimakan beruang atau macan? Mana yang lebih tidak sakit, digigit beruang atau macan? Itu adalah cuplikan dari buku memoarnya. Bontet adalah panggilan anak-anak Orang Rimba pada Butet Manurung. Sebelum kemudian ia menjadi guru, anak-anak itu biasa langsung memanggilnya dengan nama. Tidak ada istilah tidak sopan. Jangankan langsung panggil nama, dengan orang tua saja mereka bebas mengekspresikan kemarahan. Kemarahan seorang anak-anak tentunya, dan bagi para orang tua, mereka tidak akan marah atau kesal menganggapnya itu tidak sopan. Setelah mendidik mereka dengan baca tulis hitung, anak-anak kemudian memanggilanya dengan sebutan Ibu. Wah, saya sangat terpesona membaca kisahnya di buku : SOKOLA RIMBA: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba (INSIST, Juni 2007). Isinya merupakan catatan harian Butet selama kurun waktu 1999 -2003. Membacanya sama sekali tidak membosankan, kaya cerita, makna dan emosi. Siapapun yang membacanya seolah-olah ikut mengalaminya juga. Menjelang Lebaran lalu, kami juga mendapat cerita seru secara langsung dari pelakunya. Adik saya mudik, dia membawa foto-foto serta film singkat kehidupan Orang Rimba. Empat bulan dia di sana. Pencetak rekor karena termasuk sukarelawan yang berhasil nggak kena malaria selama kurun waktu itu. Mungkin karena dia rajin minum pil kina. Kami sekeluarga suka bingung, apa bener dia serius menggarap orang rimba dan bergabung memperjuangkan pendidikan alternatif bersama Butet? Dan setelah membaca buku itu, saya jadi sedikit mengerti. Kalau sedang mumet dan jenuh, saya jadi sering membayangkan kalau di luar sana ada berbagai jenis pekerjaan dan kehidupan yang dilakoni orang-orang. Dan ada seorang seperti Butet, dan teman-temannya, yang dengan penuh kesabaran mendidik anak-anak Orang Rimba hingga bisa baca tulis hitung, memahami identitas diri, serta sanggup melakukan advokasi demi menjaga hutan mereka agar tetap lestari. Waaah, pasti butuh waktu yang lama tuh. Saya juga jadi sering membayangkan bertemu dengan anak-anak itu. Anak-anak yang memiliki nama-nama yang unik: Pengendum, Penguwar, Nyungsang Bungo, Becayo, Gentar, Miti, Bemulo, Bekilat, Sertu, dll. Mengenal mereka, saya jadi merasakan betapa hidup ini sesungguhnya sederhana saja. Bahwa persoalan itu jadi susah karena kita bikin susah sendiri (iya nggak sih..). Ah nggak tau deh.. Yang jelas buku ini bagus banget, kadang tegang, kadang sedih kadang kita bisa juga tertawa terpingkal-pingkal. Hiks, jadi pengen alih profesi nih ikut adik saya masuk ke Hutan Bukit Duabelas...hehehe (emang brani?? Sama gelap aja takut..:D) Have a nice day!
__________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
