Karena bang komar nyebut Anjalis, aku mau ikut komentar. Mereka keren banget.
Bayangin aja. Anak-anak jalanan yang dulunya biasa ngelem, luntang-lantung,
susah ngaji, berkat jerih payah Kang Ujang (kepala suku Anjalis), akhirnya
semangat shalat, dakwah, dan anti narkoba.
Kebetulan Kang Ujang kakaknya Andi, mahasiswaku. Andi masuk uni karena dukungan
penuh kakaknya itu. Waktu mau daftar, uangnya nggak cukup. Jadilah mereka
ngamen dulu seharian dan menyerahkan uang dalam bentuk receh biar bisa diterima
di jurusanku.
Kang Ujang sendiri dulu semasa di Sukabumi punya 200 anak didik yang biasa ia
ajari ngaji di langgar.
Begitu pindah ke Bekasi, ia dan Andi membina anak-anak jalanan yang notabene
jauh dari dunia pendidikan. Mereka diajari membaca, menulis, dan berkreasi.
Antara lain lewat Anjalis.
Personil Anjalis memang ngga banyak. Mereka cuma berempat, termasuk Kang Ujang.
Tapi, teman-teman anak jalanan mereka yang tinggal satu atap cukup banyak.
Seorang ustadz yang baik hati telah berkenan menampung mereka.
Setiap keping penjualan CD Anjalis sangat berarti. Mereka melimpahkan seluruh
harta dan tenaga pada proyek ini. Andi, mahasiswaku sekaligus adik Ujang,
sangat berbakat dan cerdas. Sayang jika ia pupus kuliah karena kekurangan
biaya.
Suatu saat nanti, aku mau angkat kisah utuh mereka - entah Anjalis, Kang Ujang,
atau Andi - ke dalam film atau tulisan yang lebih mendalam.
Ini hanya sekadar menyambung ucapan Bang Komar. Orbitkan saja Anjalis. Mereka
layak untuk didukung.
Selain itu, untuk genre pop, ada mahasiswaku yang lain bermusik juga. Mungkin
aku ceritakan juga soal dia dan kelompoknya jika sempat di waktu depan.
Sekian dulu dari aku. Hidup pendidikan! Hidup Indonesia! Hidup indie label kita!
(Indie label Anjalis merupakan PH teman dan mereka sendiri subhanallah banget).
Salam manis,
Nadiah
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.