--- Begin Message ---
---------- Forwarded message ----------
From: Agus Burhan <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 7 Des 2007 08:33
Subject: [Bicara] Jilbab Di Pelukan Bendera Amerika
To: [EMAIL PROTECTED]
Surtiwa < [EMAIL PROTECTED] <surtiwa%40gmail.com>> wrote:
Ti milis tatanga kisah gadis alit Cianjur di NAGARA
KAPITALIS....kulantaran kamiskinan di Ibu Pertiwai RI......
[EMAIL PROTECTED]
*Jilbab Di Pelukan Bendera Amerika*.
Oct 19, '07 12:42 PM
for everyone
(Catatan suka-duka dunia kerja di USA)
Menapakkan kaki yang entah ke berapa puluh kalinya di sana – selalu ada rasa
itu. Rasa yang sulit untuk dijabarkan
seperti ketika membaca tulisan Office of the Immigration Judge tertatah di
marmer hitam itu. Marmer dingin itu pernah aku duduki sampai petugas
keamanan menghampiriku, melarangku duduk di sana.
Tersipu malu ketika menyadarinya, dengan kata maaf kuseret tas kerjaku
dan pindah duduk ke kursi taman. Beberapa perahu cantik dengan tenang
melintas di sungai besar di tepi gedung pengadilan imigrasi Miami di pojokan
One River View Square itu, seolah tak perduli pada sibuknya
wajah-wajah lalu lalang yang silih berganti melewati pintu penjagaan.
Wajah-wajah itu tak beda banyak dengan wajahku,
berkulit coklat hangat - juga seperti kulitku. Wajah-wajah Hispanic seperti
wajah-wajah anak negeriku itu terasa begitu dekat di hati.
Kuhabiskan
Cuban coffee yang kubeli dari café di dalam ruang tunggu dan kulirik jam
tanganku. Sudah waktunya untuk masuk ke ruang sidang.
Di lantai tujuh ada satu ruang besar khusus untuk para penerjemah, tapi
setiap aku menengok ke ruangan itu selalu saja
gelap dan sepi. Akupun jadi lebih suka menunggu di luar gedung pengadilan di
tepian sungai sambil minum kopi khas Miami
dan memandangi perahu yang lewat, melamun dan mereka-reka apa kiranya
kasus yang akan disidangkan pada hari itu.
Kebanyakan kasus
orang Indonesia adalah over stay karena masa berlaku visa yang sudah
kadaluwarsa. Banyak orang yang bertahan untuk berada di Amerika sampai
melewati batas waktu yang diberikan. Krisis moneter yang menggoncang ibu
pertiwi
beberapa tahun silam adalah salah satu penyebab utama kenekatan mereka.
Banyak yang mati-matian mempertahankan
kenyamanan bekerja di negeri Paman Sam ini meski itu secara illegal.
Meski itu harus kucing-kucingan dengan FBI dan petugas negara lainnya.
Akibatnya, ketika harus duduk di ruang pengadilan imigrasi, sebagian besar
dari mereka dideportasi karena melanggar
hukum dan aturan yang berlaku di negeri ini.
Untuk menghindari
kemungkinan dipulangkan itu, banyak yang meminta suaka politik dengan
mengacu pada rentetan tragedi 1998 antara lain pemerkosaan wanita-wanita
keturunan Cina, pembakaran gereja-gereja, diskriminasi
terhadap kaum minoritas, penembakan mahasiswa universitas Trisakti dan
reformasi yang mengawali lengsernya kepemimpinan pemerintah orde baru.
Sementara itu
dari sudut Amerika sendiri tragedi 911 telah meluluh lantakkan kepercayaan
Amerika pada dunia luar dan khususnya pada negara-negara berbasis Islam.
Bila keadaan ini dihubungkan dengan politik luar negeri dan situasi keamanan
Indonesia, maka peristiwa pemboman yang beruntun dari bom di Bali, bom di
hotel Marriott, bom di kedutaan Australia, dan
bom di Bali yang lebih besar lagi – dan entah daftar perilaku kebiadaban
yang
menewaskan orang tak bersalah yang mana lagi - mengakibatkan negeriku masuk
daftar 25 negara yang dicurigai sebagai "sarang" teroris.
Sungguh fakta sejarah kelabu negeriku yang menyesakkan hati.
Pemikiranku
tentang kekalutan politik Indonesia dan terorisme langsung lenyap
ketika mataku tertuju pada kursi di sebelah kursi pengacara. Seorang wanita
muda, kurus kecil dan tampak pucat sepucat jilbabnya, duduk di kursi itu.
Kepalanya tertunduk memandangi jari-jarinya yang berkaitan satu dengan
lainnya. Dari bahasa tubuhnya yang resah dan gelisah, ia kelihatan takut dan
tak nyaman duduk di kursi kulit warna merah marun gelap dan berada di
ruangan pengadilan yang dingin itu.
"Nama saya
Neneng, asal dari Cianjur. Usia tujuhbelas tahun. Orang tua saya miskin dan
tidak punya pekerjaan.
Waktu saya umur 12 tahun saya dijual oleh orang tua saya kepada tetangga
dengan bayaran limapuluh kilogram beras.
Lalu saya dibawa ke agen tenaga kerja di Jakarta.
Setelah training bahasa Arab dan pekerjaan rumah tangga lainnya saya dikirim
ke Arab Saudi untuk menjadi pembantu sebuah keluarga dengan lima anak
kecil-kecil. Tadinya saya senang karena saya kira saya akan
punya kesempatan untuk menunaikan ibadah haji. Tapi ternyata majikan saya
mendapat pekerjaan di sini maka sayapun dibawa ke negeri ini."
Ruangan hening.
Semua pertanyaan dari hakim dijawabnya dengan suaranya yang
pelan dan terdengar gemetaran.
"Majikan saya
punya adik yang berdekatan apartemennya. Mereka juga punya
anak lima yang seusia dengan anak-anak majikan saya. Tiap hari mereka datang
ke apartemen kami, dan saya harus mengasuh dan menjaga semuanya. Total
sepuluh anak. Kalau ada anak yang berkelahi, jatuh atau terluka, maka saya
dipukuli,
ditendang, atau
ditampar oleh majikan saya. Kadang pakai sepatu, pakai kayu,
pakai tangan atau apa saja yang bisa dipukulkan ke badan saya.
Kadang anak-anaknya juga memukuli saya, meniru ibunya.
Sampai akhirnya saya tidak tahan lagi dan waktu mereka tidur saya
lari ke masjid di dekat apartemen mereka." Suara Neneng putus-putus menahan
isak. Sesekali ia mengambil nafas kala suaranya mulai menyesak di lehernya,
dan berulangkali mengusap mata basahnya
dengan ujung jilbab putihnya.
"Dan di masjid itu kamu bertemu dengan istri bapak ini?" Tanya hakim seraya
menunjuk pada seorang lelaki setengah
baya,
dokter anak dari Mesir - yang duduk di bangku panjang di belakang
ruangan, mengikuti jalannya persidangan dengan tenang.
"Ya.
Dan istri bapak ini membawa saya ke rumahnya, dan sampai sekarang saya
tinggal bersama mereka dan belum kembali ke rumah majikan saya.
Saya takut kembali ke sana lagi. Saya takut dipukuli lagi. Saya tahu saya
salah karena melarikan diri dari rumah
majikan saya. Saya mau dihukum penjara, tapi tolong jangan kembalikan saya
pada majikan saya." Tanpa bisa dihentikan,
Neneng menangis tergugu. Hakim sesaat terpaku sebelum memberikan waktu
istirahat setengah jam, lalu menyelinap ke luar ruang sidang.
Neneng adalah wajah dalam cermin kemiskinan negeriku. Refleksi bayangan
ketidakmampuan bangsaku untuk mengayominya dan keluarganya.
Ekonomi carut marut negara memaksa anak sebelia itu untuk jadi tenaga kerja
di negeri orang. Tanpa digaji, malah
disiksa. Ternyata jiwa perbudakan di mana-mana masih juga ada! Pikiran
Neneng sangat sederhana. Yang dia tahu orang tuanya sudah melakukan
transaksi jual beli atas dirinya.
Ada sebersit harapan sewaktu datang ke Arab Saudi untuk bisa menunaikan
ibadah haji. Meski seumur hidup hanya sekali.
Menginjakkan kakinya di tanah suci adalah hal yang sungguh tak ternilai
dalam hidupnya. Dan bila ketidakmengertianny a
bahwa kepergiannya ke Arab Saudi itu tak ada hubungannya dengan naik haji
karena
ia adalah pembantu rumah tangga yang tak punya hak diri, itu tanggung jawab
siapa?
Negeriku adalah
negeri yang konon bangga dengan jumlah Muslimnya yang terbesar di dunia.
Tapi apakah jumlah itu punya daya, mampu memberikan hak dan perlindungan
pada anak-anak seperti Neneng dan jutaan Neneng lainnya? Aku tercenung lama
dan terbersit tanya, kapan negeriku yang gemah ripah loh jinawi bisa
memberikan ketentraman pada
anak-anak bangsanya sendiri, sehingga tak perlu mereka mencari dan
mengais rejeki di negeri orang. Sebagai anak bangsa Indonesia aku
sungguh malu. Tapi sesungguhnya adakah pilihan itu? Andaipun ada,
Neneng tak pernah memiliki pilihan itu.
Amerika tak bisa
dipungkiri - adalah negara yang dibenci banyak negara lain di dunia.
Ia dikutuk! Dihujat! Dimaki!
Tapi seiring dengan itu Amerika juga adalah bangsa yang dicintai,
perlindungan dan keamanannya dicari, stabilitas ekonominya diingini.
Dan dengan seribu satu macam alasan dan tujuan, manusia dari seluruh
penjuru dunia berlomba untuk hijrah ke negara ini. Dan rasa yang kulihat di
wajah-wajah bertaburan keluar masuk di pintu
pengadilan imigrasi itu adalah rasa yang berkecamuk antara harapan untuk
menetap,
bekerja keras dan berpenghidupan yang lebih baik di Amerika atau harus
pulang dan tak
tahu kehidupan apa yang menanti di negara asalnya masing-masing.
Kasus Neneng, bukanlah kasus di mana orang yang ketahuan overstay lalu minta
suaka dengan merekayasa cerita tentang kebobrokan bangsa atau kebiadaban
manusia di tanah air. Kasus Neneng bukanlah kasus
di mana dia ingin mendapatkan green card dan visa kerja di Amerika –
sementara apa itu green card dan apa itu social security Neneng tak pernah
tahu dan dengar. Kasus Neneng, adalah akibat
penjajahan kemiskinan dan kebodohan yang makin merajalela di
negerinya, yang juga adalah negeriku. Dan Amerika pun dengan tulus memunguti
serpihan luka yang berhamburan di benuanya ini dan melindungi Neneng
ini dan
Neneng-Neneng lainnya dalam rengkuhan senyum tipis Lady Liberty yang
bersahaja tapi sarat makna: Give me your tired, your
poor…
Hakim kembali ke
ruang sidang siap dengan keputusannya, atas nama negara Amerika.
Kudengar suara lembut keibuannya yang tak pernah kubayangkan akan terdengar
dari sidang pengadilan seperti ini ketika Neneng
memberikan persetujuannya dijadikan anak negara. Neneng diberi hak
untuk bersekolah dengan biaya negara, diberikan pekerjaan dengan
gaji minimum,
mendapat tempat tinggal, diberi jaminan pelayanan kesehatan seumur
hidupnya. Dan
Neneng diberi kebebasan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan
agamanya. Terdengar dokter Mesir itu membisikkan puji
syukur, "Allahu Akbar"
Sore itu,
sementara menunggu taksi untuk kembali ke bandara udara, dengan hati
menyesak rindu pada kampung halaman kuguratkan tulisan di lembar kertas
kuning lagu yang
kuingat sebagai penutup acara televisi di masa
kecilku, "Tanah airku Indonesia . Negeri elok amat kucinta. Tanah
tumpah darahku yang mulia. Yang kupuja sepanjang masa. Tanah
airku aman dan makmur. Pulau kelapa yang amat subur. Pulau
melati pujaan bangsa sejak dulu kala… " dari tempat dudukku di tepian sungai
di sudut One River View Square.
Dan Neneng,
sekuntum melati bangsaku yang tak pernah hidup dalam negeri yang
aman dan makmur
itu kini jauh dari Indonesia, negeri elok yang hanya ada dalam lagu penutup
acara di tivi itu. Hari ini dan hari esoknya bergantung pada belas kasih dan
perlindungan negara ini. Ketika kulihat
taksiku datang aku segera beranjak. Sekilas kuletakkan tanganku di marmer
hitam di depan gedung pengadilan imigrasi itu.
Dan bayangan wajah bercahaya Neneng yang berjilbab putih mengenakan
toga dan merengkuh selembar diploma di tangannya, dengan latar belakang
bendera Amerika - melintas di mataku yang mulai berembun.
--- End Message ---