nice to read

klo dah pernah dapet sori yach

 

Cheers

@ji

 

 

ALASAN ITU SELALU BISA DIBUAT, KAN?

Akan selalu saja ada alasan untuk melogiskan sebuah penolakan.
Akan selalu saja ada alasan untuk melakukan sesuatu yang tidak baik.
Akan selalu saja ada alasan, untuk sebuah kejahatan... jadi
"seolah-olah"
benar. Yah jadi "seolah-olah" tepat.

Kenapa kamu kok ga dateng ke meeting ini?
Duuuh sibuk, kurang enak badan, kecapean, de el el...
Kamu ini nampaknya bener2 sibuk kerja sekali ya?
Yah begitulah... Tapi kok masih sempet jalan2, chatting, ngobrol?!?

Contoh lain....
Kenapa kok kamu ga masukin orang ini dalam teammu?
Dia ga punya pengalaman apa2, kita kan perlu orang yang memenuhi
kualifikasi dong. Orang yang ini sangat capable kok, kenapa kamu ga
terima?
Yah qta kan mau berikan kesempatan pada orang2 baru.

Kenapa kok kamu berbuat begitu "kejam" ke orang itu?
Ini demi kebaikan dia kok. Supaya dia sadar akan kesalahannya...

Kenapa kok kamu sering banget datang telat?
Bus macet, kesiangan banyak kerjaan jadi begadang sampai pagi, dan
beraneka alasan lainnya.

Sebuah alasan bisa saja logis dan bisa diterima akal sehat ketika sekali
dua kali alasan itu disampaikan. Setelah itu jika kesalahan serupa masih
terjadi 

berarti masalahnya bukan alasan. Masalah dah ada di tingkat karakter...

Bahkan untuk hal2 yang jelas salah, mungkin aja kalo mau dirasionalisasi
dan dilogiskan bisa kok...

Kenapa kok kamu mencuri barang orang? Itu kan dosa...
Dia terlalu kaya. Saya melakukan ini demi pemerataan pendapatan dan
keadilan sosial.

Kenapa kok kamu membunuh?
Saya tolong orang itu supaya cepat bertemu dengan Tuhan-Nya.

Kenapa kamu berpoligami?
Ini untuk mengetes kesetiaan dan kemurnian hati pasangan saya.

dan lain-lain... dan lain2...

Semuanya relatif... Meski sesungguhnya untuk sesuatu yang salah tetap
haruslah salah adanya...

Sikap yang tidak komit tetaplah tidak komit. Itu ada di masalah 
karakter...
Masalah ada di dalam diri orang, bukan di luar...

Perkara menolak tetaplah menolak...
Betapapun kita mencoba merasionalisasi segala sesuatu menjadi terasa
logis.
Mencari-cari alasan sedemikian rupa sehingga kelihatan valid dan
objektif.
Tetap saja sisi subjektivitas pastilah ada... Tidak mungkin dipungkiri,
itu wajar dan itu normal kok. Bukan untuk disembunyikan... tp faktor itu
toh masih mungkin untuk ditekan.

Ketika kamu berpikir bahwa kamu sudah cukup objektif dalam menilai
orang, yah biasanya saat itulah kamu sama sekali bersikap tidak
objektif.

Terkadang saya bertanya kenapa yah ngga banyak orang mau mengakui
kelemahan diri... dan berkata... 

Ini salah saya, saya akan memperbaiki diri dari posisi yang ada
sekarang..
Saya keliru, maafkan saya. Yah memang jarang ada kata2 semacam itu yang
diucapkan dengan tulus, 

bukan sekedar basa-basi untuk menarik simpati.

Kenapa sih ya manusia harus mencari alasan?

Yah, mungkin saja karena memang manusia itu tak pernah mau disalahkan...
Lagian, untuk setiap kesalahan... alasan itu selalu bisa dibuat, kan??
seperti keadaan kepemimpinan dan masyarakat indonesia saat ini sering
membuat alasan untuk membenarkan yang salah... 

ayo kita mulai gerakan kembali ke hati nurani, untuk diri sendiri,
masyarakat, dan bangsa indonesia....mari sukses bersama...

"lebih baik mengakui kelemahan dan kesalahan untuk diperbaiki, daripada
menutupi yang akan membodohkan kita terus...."

" Ayo akuilah kelemahan kita untuk kebaikan kita, Beranilah berkata
jujur walau itu menyakitkan

 
 

#####################################################################################
This e-mail message has been scanned for Viruses and Content and cleared 
by NetIQ MailMarshal
#####################################################################################

Kirim email ke